Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 36


Danish cukup lama terdiam menatap Alika. Wanita pujaan hatinya itu terlihat cantik dan lebih fresh dengan gaya rambut barunya. Yang biasanya selalu di kuncir kuda, kini rambut indah Alika tergerai bebas. Di tambah pakaian yang di belikannya sangat cocok di kenakan oleh Alika.



Tampilan Alika benar-benar menggambarkan sosok wanita karir yang fashionable.


"Mas Danish," Sentak Alika karena Danish sudah lama terdiam menatap dirinya.


"Yes baby, em maksudku kau sudah selesai Al, ayo kita pergi sekarang." Ucap Danish yang awalnya kelepasan menyebut Alika dengan kata Baby.


Mereka pun keluar dari salon itu dan langsung menuju tempat parkir mobil Danish berada.


"Bagaimana Al kau suka bukan dengan baju pilihanku?" Tanya Danish saat sudah berada di dalam mobil.


"Suka mas, tapi ini pasti sangat mahal. Kenapa mas Danish melakukan ini semua, saya kan bisa pulang ke rumah saja. Biaya di salon dan harga baju ini kalau di total pasti berkali lipat dari gaji saya satu bulan. Mas Danish tidak perlu sampai seperti ini harusnya." Ucap Alika


"Tidak apa-apa Al, sudahlah jangan kau pikirkan. Anggap saja itu hadiah dariku. Lagipula kan daripada pulang kerumah akan memakan waktu yang lama." Ucap Danish seraya tersenyum. Sebenarnya sih lebih cepat jika mereka kembali pulang. Tapi ya namanya orang banyak uang nan royal, di tengah mall yang banyak sekali toko. Danish memilih membeli baju dan membawa Alika ke salon daripada harus mengantarnya kembali ke rumah.


"Terima kasih kalau begitu mas, mas Danish sudah banyak sekali membantu saya." Ucap Alika


Danish tersenyum dan mengangguk.


.


.


Di kantor, Isabel sedang menebalkan make upnya dan juga merapi-rapikan bajunya. Hari ini kantor akan kedatangan tamu dari Jepang. Isabel berpikir Danish pasti tidak bisa menemukan Alika. Karena waktu yang sudah mepet, pasti Danish meninggalkan Alika dan kembali ke kantor. Isabel juga sudah sangat percaya diri akan di pilih sebagai pengganti, untuk menyambut tamu menemani Danish.


"Kok Danish belum kembali juga sih, apa dia masih mencari Alika? Tapi kan sebentar lagi kliennya dari Jepang akan sampai." Gumam Isabel


Tak lama kemudian Danish muncul. Senyum langsung mengembang di bibir Isabel, melihat Danish datang sendiri. Tapi beberapa menit kemudian senyumnya hilang. Manik matanya membulat sempurna melihat sosok Alika. Ditambah penampilan Alika yang sangat cantik. Alika menyapa Isabel dengan mengangguk dan tersenyum.


"Ish,, ternyata wanita sialan itu berhasil keluar. Dan bajunya pasti di belikan oleh Danish. Arggh.. harusnya aku yang memakai baju brand mahal itu." Ucap Isabel merasa kesal.


**


Di dalam ruangan rapat, Danish berbincang tentang rencana kerjasamanya dengan kliennya. Satu jam berlalu, akhirnya meeting selesai. Klien dari Jepang merasa puas dengan presentasi Danish. Mereka pun resmi bekerjasama.


Sebenarnya meeting ini hanya lanjutan dari meeting di kafe beberapa waktu lalu. Pak Akio selaku klien dari Jepang sudah pernah melihat sosok Alika. Dia pun mengira jika Alika adalah istri Danish. Karena yang dia tahu sekretaris Danish adalah Azel. Penampilan Alika juga elegan, menggambarkan sosok istri CEO.


"Selalu semangat kerja ya pak Danish jika ditemani istri tercinta." Ucap pak Akio yang memang fasih berbahasa indonesia.


"Ah pak Akio bisa saja, tapi ini sekretaris saya." Ucap Danish dengan senyum khasnya. Dalam hatinya berkata senang jika kalimat itu menjadi kenyataan.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi, senang bisa bekerjasama dengan anda." Pamit pak Akio menjabat tangan Danish


"Iya pak sama-sama, mari saya antar sampai ke depan." Balas Danish


Seusai pak Akio pergi, Danish dan Alika kembali ke ruangan mereka. Ya, kini Danish berbagi ruangan dengan Alika. Sampai di meja kerjanya, Alika langsung sibuk saja dengan berkas yang ada di mejanya. Jam pulang kerja masih sekitar satu jam lagi. Danish menghampiri meja Alika dia berdiri tepat di sebelah Alika duduk.


"Al sepertinya kita memang cocok, bukan hanya satu orang loh yang mengira kita suami istri." Ucap Danish


"Mas Danish berbicara apa sih," Balas Alika dengan raut wajah malu-malu. Dia tetap fokus menatap berkas di mejanya, tidak berani menatap Danish.


"Bisakah suatu saat nanti kita menjadi seperti yang orang-orang kira?" Tanya Danish seraya menunduk mendekatkan wajahnya pada Alika. Karena Alika tidak mau menatapnya.


"Kita tidak tahu bagaimana takdir menggariskan nanti mas. Kalau memang kita ditakdirkan bersama ya itu akan terwujud." Jawab Alika dengan gemetar.


Senyuman penuh kebahagiaan langsung terukir di bibir Danish. Dia pun menjauhkan wajahnya dari Alika.


"Ya sudah mari kita pulang sekarang." Ajak Danish


"Haa,, pulang mas? Kan ini masih setengah empat sore." Ucap Alika merasa jam kerjanya masih cukup panjang.


"Iya, tapi pekerjaan sudah selesai semua kan. Itu pekerjaan buat besok ya kerjakan besok saja. Ayo kita pulang." Ucap Danish seraya menarik tangan Alika untuk beranjak dari duduknya. Karena belum siap Alika malah kesandung kaki kursi tempatnya duduk. Dia pun menubruk Danish.


Mereka terjatuh dengan posisi Danish terduduk. Karena tangannya menyangga di belakang. Sementara Alika dengan posisi memeluknya. Mereka berdua saling bertatapan mata. Dengan wajah mereka yang sangat dekat nyaris tanpa jarak.


Entah sadar atau tidak Danish mencium bibir Alika. Memang sudah sejak lama Danish menginginkan bibir itu. Alika pun sama sekali tidak memberontak. Wanita yang masih berstatus istri orang itu hanya diam saja dan menutup matanya.


"Permisi pak Danish saya ingin mengantarkan laporan ke.." Ucapan Azel terhenti saat melihat atasan sekaligus pria incarannya sedang berciuman, dengan wanita yang menjadi saingannya.


"Woaaah!" Otomatis Azel menganga terkejut melihat adegan itu. Cemburu dan kesal bercampur jadi satu. Dia langsung keluar setelah itu.


"Hei kau kenapa?" Tanya Isabel yang melihat Azel bak cacing kepanasan.


Tapi bukannya menjawab Azel malah langsung pergi dengan perasaan kesalnya. Dia saja yang sudah lama menginginkan Danish, tidak pernah sekalipun mendapatkan moment seperti itu.


"Dia kenapa sih, ah nggak penting juga. Lebih baik aku masuk dan melihat my Baby sedang apa, aku tidak akan membiarkan Alika menggoda-nggodanya." Ucap Isabel, dengan langkah percaya diri dia masuk ke dalam ruangan Danish. Sama seperti Azel, dia masuk tanpa permisi.


Sesi ciuman Danish dan Alika ternyata masih berlangsung. Refleks Isabel langsung berteriak histeris.


"Oh my God! Aaa.. apa yang kalian lakukan?"


Danish dan Alika pun saling melepaskan diri. Mereka berdiri dan Alika langsung pergi meninggalkan ruangan Danish. Menabrak Isabel yang berdiri menghalangi pintu.