
"Alika, apa yang terjadi di sini?" Tanya Miko saat melihat kepingan gelas pecah berserakan di pantry.
"Ee, tadi saya hanya tidak sengaja menjatuhkan gelasnya. Saya akan membersihkannya." Ucap Alika seraya meraih pecahan gelas dengan tangan. Membuat telapak tangannya tergores mengeluarkan darah.
"Sudah, sudah hentikan. Biar di bersihkan OB saja. Tanganmu terluka, wah sudah berdarah. Ayo sini ku obati." Ucap Miko sembari menarik Alika pergi dari pantry. Alika hanya diam saja dan menuruti Miko.
"Astaga, tidak ada pak Danish sekarang kau mencoba menggoda Miko. Dasar perempuan gatal." Ucap Azel dengan mulut pedasnya itu. Seketika itu Alika melepaskan tangannya dari Miko.
"Hei jaga bicaramu itu Azel. Aku hanya ingin mengobati tangannya yang terluka." Ucap Miko menyahuti ucapan Azel.
"Emm sudah mas Miko, biar saya obati sendiri saja." Ucap Alika yang kemudian berlari pergi begitu saja.
Alika tidak mengobati tangannya, dia mengambil tas dan langsung pergi dari kantor. Dia merasa tidak bisa terus-terusan berdiam diri saja. Besok adalah sidang perceraiannya. Dia berfikir mungkin kembali rujuk dengan Alvino adalah jalan terbaik.
**
**
Di ruang kerjanya yang berada di kantor Albara Tour and Travel, Alvino tengah duduk santai di kursi kerjanya. Dia sangat ingat bahwa besok adalah sidang lanjutan perceraiannya dengan Alika.
"Aku sangat yakin kau akan kembali ke dalam pelukanku Alika Dean Alkandra." Ujar Alvino seraya tersenyum penuh kemenangan. Padahal belum tentu Alika mau kembali rujuk.
Gubrakk ....
Pintu ruangan Alvino di buka dengan kencang sampai menimbulkan suara keras. Alvino sontak kaget dan langsung memutar kursi yang di dudukinya. Terlihat Isabel sudah berdiri disana.
"Kau. Huh,, apakah kau tidak pernah di ajarkan sopan santun oleh orang tuamu?" Tanya Alvino dengan ekspresi jengah.
"Itu tidak penting. Aku kemari karena aku ingin kau membebaskan Danish sekarang juga!" Seru Isabel dengan kuat.
Namun Alvino malah tersenyum tipis, dia tetap duduk santai di kursinya yang empuk.
"Kau itu jangan seenaknya sendiri. Kalau kau tidak mau membebaskan Danish, aku sendiri yang akan ke kantor polisi dan berbalik menuntutmu." Ancam Isabel
"Silahkan laporkan saja. Dalam rencana ini kau juga terlibat. Kalau semuanya terbongkar, kau juga akan tertangkap bersamaku." Ucap Alvino dengan santainya.
Isabel di buat terdiam dengan perkataan Alvino. Karena benar, jika dia membongkar semua di kantor polisi itu sama saja menyerahkan diri.
"Kau itu sabarlah sedikit, besok setelah persidangan aku akan membebaskannya." Ucap Alvino
"Bagaimana bisa aku sabar melihat pria emasku di penjara." Ucap Isabel dengan kesal.
"Pria emas? Oh,, jadi kau menyuakainya hanya karena hartanya." Ucap Alvino seraya tersenyum menyeringai.
"Sudahlah kau diam saja. Itu urusanku. Pokoknya Danish harus kau bebaskan secepatnya." Ucap Isabel yang kemudiam berlalu pergi.
Alvino hanya tertawa kecil menatap kepergian Isabel. Kemudian dia kembali sibuk memainkan ponsel dalam genggamannya. Tiba-tiba saja dia teringat tentang Violla. Wanita yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu menghilang bak di telan bumi.
"Ck,, Ngapain juga aku memikirkan wanita j*lang itu. Lebih baik aku ke kantor polisi untuk menemui pria sok cool itu. Sudah dua minggu dia mendekam di penjara, apakah dia masih berani sombong denganku?" Alvino bermonolog. Dia memakai kembali jasnya dan bergegas pergi. Namun langkahnya terhenti karena kedatangan Alika.
"Mas ada yang ingin aku bicarakan, apakah kamu sibuk?" Ucap Alika
"Iya, aku tidak sibuk. Ayo duduk." Ucap Alvino mempersilahkan Alika duduk di kursi sofa yang ada di ruangannya.
"Langsung saja mas, aku mau kembali rujuk. Tapi tepati janjimu untuk membebaskan mas Danish." Ucap Alika dengan perasaan campur aduk.
Senyum lebar langsung terukir di bibir pria yang masih menjadi suami Alika itu. Kemudian dia memeluk erat Alika yang duduk di sebelahnya.
"Sebenarnya aku tidak sudi lagi di sentuh olehmu mas, tapi aku tidak mau orang lain sengsara karena aku." Batin Alika
"Aku akan mencabut tuntutannya. Papa dan mamaku pasti sangat senang mendengar kita tidak jadi bercerai." Ucap Alvino penuh ekspresi.
"Aku berharap dalam pernikahan kita, tidak akan ada lagi penghianatan yang kamu perbuat mas."
"Iya, maafkan aku dulu aku tidak menghargaimu sebagai istri bahkan aku tidak mengakui kehamilanmu. Waktu itu aku hanya terpengaruh oleh Violla." Ucap Alvino membela diri.
"Perselingkuhan itu dilakukan oleh dua orang, jadi kamu tidak bisa menyalahkan Violla. Dia masuk karena kamu yang mempersilahkan." Ucap Alika
"Iya aku memang salah. Tapi aku janji tidak akan mengulanginya." Ucap Alvino bersungguh-sungguh, dia menggenggam erat tangan Alika. Alvino baru menyadari tangan Alika terluka.
"Al tanganmu terluka." Ucap Alvino
"Iya mas, tadi tidak sengaja terkena pecahan gelas. Tapi tidak apa-apa, ini tidak sakit. Aku akan membersihkannya setelah ini. Kalau begitu aku pamit dulu. Sampai bertemu di pengadilan besok." Ucap Alika sebelum pergi.
Alika berjalan cepat keluar kantor Albara Tour and Travel. Perasaannya semakin kacau. Entah keputusan yang di ambilnya ini benar atau salah.
Alika terus berjalan hingga tanpa sadar dia sudah sampai di depan kantor polisi tempat Danish di tahan. Jaraknya cukup jauh dari kantor Alvino. Lumayan melelahkan saat di tempuh dengan berjalan kaki. Tapi hal itu tidak di rasakan oleh Alika.
"Ini seperti mobilnya mas Arka. Apa dia sudah berhasil mencari buktinya dan mas Danish bebas?"
Alika pun berlari masuk ke dalam kantor polisi untuk melihat keadaan di sana. Di ruang besuk terlihat Danish dan Arka duduk berhadapan. Ada pengacara yang di sewa oleh Papa Bima juga.
"Aku belum berhasil menemukan keberadaan manager hotel itu. Maafkan aku. Om Bima tidak bisa kemari karena mamamu di rawat di rumah sakit saat ini." Ucap Arka dengan raut wajah sedih. Dia sedih karena belum berhasil membantu sahabat dari kecilnya itu.
"Mama masuk rumah sakit, bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Danish dengan panik.
"Tadi waktu aku kesana tante Vella belum sadar. Dengar dari Jenny, tante Vella susah makan dan tidur sejak kau di penjara." Ucap Arka
Danish tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menghela nafas kasar dan menunduk. Rasa cemasnya tidak bisa di sembunyikan. Mama yang teramat dia sayangi jatuh sakit karena dirinya.
"Pak Danish sabar ya, saya akan bekerja semaksimal mungkin untuk membebaskan anda." Ucap pengacara
"Iya terima kasih." Jawab Danish
"Kalau begitu aku dan pak Randa pamit dulu. Kau baik-baik di sini. Aku akan terus berusaha mencari jalan untuk membebaskanmu." Ucap Arka, Danish hanya mengangguk.
Alika mendengar semuanya. Dia menjadi yakin bahwa keputusannya benar. Melihat Danish tertunduk cemas, rasanya itu sangat membuatnya sedih.
"Besok kamu akan kembali berkumpul bersama mamamu mas. Tante Vella lebih membutuhkanmu daripada aku. Maaf mungkin keputusanku ini akan menyakiti hatimu lagi, tapi ini yang terbaik." Lirih Alika yang melihat Danish dari luar ruangan besuk.