
Tiba di hari persidangan kedua perceraian Alika dengan Alvino. Seperti sebelumnya, Alika di temani oleh Danish. Sedangkan Alvino terlihat datang sendiri. Alvino melempar senyum manis kearah Alika.
"Hai Al, sudah siap untuk persidangan hari ini?" Tanya Alvino berbasa-basi.
"Sudah mas." Jawab Alika singkat.
"Aku akan mengubah putusan perceraian kita hari ini. Aku sudah mengajukan permohonan untuk rujuk." Ucap Alvino dengan perasaan senang.
"Terserah mas, tapi aku tidak akan pernah merubah keputusanku." Ucap Alika dengan tegas. Kemudian dia melangkah memasuki ruang persidangan.
Danish menatap intens kepada Alvino. Dua pria itu saling beradu tatap.
"Jangan kira kau akan mendapatkan Alika dengan mudah. Dia akan kembali ke dalam pelukanku." Ucap Alvino dengan senyum seringainya. Setelah itu dia melangkah masuk menyusul Alika.
Danish tersenyum kaku menatap punggung Alvino. "Kita lihat saja hasilnya."
.
.
Di dalam ruang persidangan terasa suasana yang mencekam. Karena Alvino merubah keputusannya untuk bercerai. Dia juga membuat Alika terpojok untuk menerima keputusan rujuk. Alvino menghadirkan saksi untuk membuktikan bahwa dirinya dan Alika saling mencintai. Orang itu adalah Gea.
Gea memberikan keterangan, jika sebenarnya masalah dalam rumah tangga Alika dan Alvino hanya kesalah pahaman. Alvino itu pria yang baik yang menghidupi keluarga Alika juga. Jadi tidak ada alasan untuk mereka bercerai.
Karena pernyataan dari Gea itu membuat keputusan ditunda. Alika dan Alvino akan di jadwalkan mediasi sebelum sidang putusan minggu depan.
Alika keluar ruangan persidangan dengan raut wajah suram. Dia merasa kecewa dengan keputusan sidang hari ini.
"Al kau sudah resmi bercerai kan?" Tanya Danish
"Belum mas, lusa aku harus mediasi dulu dengan mas Alvino." Jawab Alika
"Kenapa harus ada mediasi lagi, bukankah perceraian ini sudah ada bukti jelas." Ucap Danish
"Sudahlah jangan komplain, kau itu jangan terlalu berharap dengan perceraian ini. Sudah kukatakan aku tidak akan melepaskan Alika dengan mudah. Karena aku mencintainya." Sahut Alvino menanggapi perkataan Danish. Di sebelahnya, Gea tersenyum senang.
"Cukup mas Alvino, bagaimanapun aku tidak mau rujuk denganmu." Ucap Alika dengan tegas. Kemudian dia menggandeng tangan Danish untuk pergi dari sana.
.
.
Danish yang sedari tadi bertanya-tanya, kini telah paham situasi yang terjadi. Dia mencoba menenangkan Alika yang perasaannya sedang kacau.
"Saya tidak tahu lagi apa maunya mas Alvino itu. Dia seenaknya meminta saya untuk kembali bersamanya. Apa dia akan kembali membuat saya menjadi tamengnya? Saya juga ingin bahagia." Keluh kesah Alika yang keluar dengan sendirinya. Danish masih diam saja tapi mendengarkannya secara seksama. Danish juga menghentikan laju mobilnya untuk mendengar curahan hati Alika.
"Gea mendukung mas Alvino, karena dia pasti takut kalau saya akan merebut kembali mas Adi. Padahal jika saya ingin melakukan itu, sudah dari dulu saya lakukan." Ucap Alika lagi.
"Saya masih ingat bagaimana kejamnya mas Alvino menuduh saya hamil dengan pria lain. Saya juga melihat sendiri dia bermesraan dengan Violla di dalam kamar kami. Tanpa rasa bersalah kini dia berkata ingin kembali, saya tidak mau mas." Ucap Alika merasa sedih mengingat kembali perlakuan kejam Alvino.
Danish menepuk-nepuk pelan bahu Alika. Dia juga memasang senyum kepada Alika. "Tenang Al, aku yakin perceraianmu akan di kabulkan nanti. Allah memang membenci perceraian. Tapi jika memang Alvino bukan jodohmu, bagaimanpun di pertahankan kalian akan dipisahkan olehNya juga." Ucap Danish
"Benar mas, takdir kita semua sudah di tentukan oleh Allah. Jika memang saya di takdirkan untuk rujuk, mau tidak mau saya akan menjalaninya. Tapi saya akan tetap berdoa dan juga berusaha agar bisa lepas dari belenggu mas Alvino." Ucap Alika setelah menghela nafas panjang.
Danish hanya terasenyum dan mengusap-usap pundak Alika. Tapi dalam hatinya berkata tidak ingin takdir mengembalikan Alika pada Alvino.
"Apakah aku boleh egois pada takdir? Ya Allah takdirkanlah Alika untukku." Batin Danish
Hari ini Danish dan Alika lembur. Pukul delapan malam mereka baru keluar dari kantor. Sehabis dari persidangan siang tadi, mereka kembali ke kantor. Alika tetap profesional bekerja meski perasaannya sedang kacau. Danish sudah menawarkannya untuk tidak perlu ke kantor hari ini. Tapi Alika tetap ingin profesional bekerja. Karena dia juga masih dalam tahap pembelajaran.
Dua puluh lima menit perjalanan, mereka sampai di rumah. Alika hendak langsung turun tapi tangannya di pegang oleh Danish.
"Al tunggu sebentar," Ucap Danish
"Iya mas ada apa?"
"Jika putusan persidanganmu nanti kau kembali rujuk, apakah kita masih bisa sering bertemu seperti ini?" Tanya Danish dengan tatapan dalam.
"Hmm,, kenapa tiba-tiba mas Danish bertanya seperti itu?" Tanya Alika
"Karena aku sudah terbiasa selalu bersamamu Al. Jika kenyataannya aku tidak bisa memilikimu, setidaknya aku masih bisa menemuimu." Ucap Danish
"Mas Danish adalah pria baik yang selalu ada untuk saya. Jadi rasanya tidak mungkin saya tidak mau bertemu dengan mas Danish lagi. Lagipula saya yakin putusan sidang akan memihak saya." Ucap Alika
"Kalau begitu apakah itu artinya setelah bercerai kau mau menerimaku?" Tanya Danish dengan serius.
"Menerima, maksudnya apa mas?" Alika balik bertanya.
"Menerima pernyataan cintaku padamu," Jawab Danish dengan tatapan penuh harap.
Tapi Alika malah langsung mengalihkan pandangannya. Dia bingung harus menjawab apa.
"Kalau kau tidak bisa menjawab sekarang, tidak apa-apa. Masuklah ke dalam dan beristirahat." Ucap Danish
"Maaf ya mas Danish," Ucap Alika dengan suara sangat pelan.
"Iya tidak apa-apa Al, aku bisa mengerti." Ucap Danish dengan senyum khasnya.
Alika turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu Danish melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Sampai di dalam, Danish di sapa oleh Jenny yang sedang bersantai. Melihat wajah sang kakak yang tidak sesumringah biasanya, Jenny menjadi bertanya-tanya.
"Kak Danish tumben jam segini baru pulang," Sapa Jenny
"Iya lagi banyak kerjaan." Jawab Danish sembari membanting tubuhnya ke kursi sofa yang empuk.
"Tapi kan kerjanya bareng pujaan hati, harusnya tetap seneng dong." Ucap Jenny
"Iya senang," Balas Danish singkat.
"Kau kenapa sih kak, kok kayak lesu gitu?" Tanya Jenny, "oh iya hari ini sidang perceraian mbak Alika kan, Jadi mbak Alika udah resmi bercerai dong. Wah buruan sat set kak, lamar dia." Imbuh Jenny berantusias.
"Alika belum resmi cerai. Si brengsek itu minta rujuk. Jadi mereka akan mediasi lagi." Jawab Danish dengan lesu.
"Ribet banget si tuh suaminya mbak Alika. Dia kan jelas-jelas selingkuh, nggak tahu malu minta rujuk. Amit-amit deh punya suami kaya dia. Aku bejek-bejek sampai remuk kalau nemu yang kaya gitu." Ucap Jenny dengan penuh ekspresi. Tapi Danish malah meninggalkannya naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Danish mandi membersihkan diri. Sepuluh menit kemudian dia keluar dari kamar mandi. Dia mengambil baju koko dan sarung dari dalam lemarinya. Danish bersiap melaksanakan ibadah sholat isya.
Seusai sholat Danish berganti pakaian tidur. Tapi matanya tidak bisa terpejam padahal badannya sudah terasa sangat capek. Di dalam otaknya terus terpikirkan tentang Alika. Tentang bagaimana jika nantinya Alika jadi rujuk dengan Alvino.
"Jika saja suami Alika pria baik, aku rela melepasnya. Tapi suaminya itu pria brengsek. Aku tidak rela wanita sebaik Alika jatuh ke tangannya lagi." Danish bermonolog.