Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP - Bab 22


Sosok wanita seksi sudah berdiri di depan rumah Danish. Wanita itu sangat senang melihat kedatangan pria yang sejak tadi ia tunggu. Isabel langsung berlari hendak memeluk sang pujaan hati. Namun sayangnya Danish menghindar membuatnya jatuh tersungkur.


"Aw," Pekik Isabel yang terjatuh akibat terlalu semangat ingin memeluk Danish. "Kamu kenapa menghindar sih, aku kan jadi jatuh." Ucap Isabel dengan mengerucutkan bibirnya. Kemudian dia mengulurkan tangan meminta bantuan pria yang sedang menatapnya dengan ekspresi jengah itu. Sayang sekali Danish enggan membantunya.


"Cepat katakan, mengapa kau datang kemari?" Tanya Danish, ia langsung saya to the point tidak peduli wanita dihadapannya sedang susah payah berdiri.


"Untuk apa lagi kalau bukan bertemu denganmu, aku kan calon istrimu." Ucap Isabel dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.


"Ck,, calon istri katamu?" Danish tersenyum kaku. "Jangan mimpi!" Tegas Danish.


"Enggak, aku nggak mimpi. Kita kan memang akan menikah. Ingat kan kata mama papamu jodohmu itu aku." Ucap Isabel lagi dengan kepercayaan diri yang tidak berkurang.


"Perjodohan kita itu sudah batal. Dan dari awal aku tidak pernah menganggap adanya perjodohan ini." Ucap Danish dengan jelas.


"No, aku nggak mau perjodohan ini batal baby." Ucap Isabel merasa tidak menerima perjodohan ini dibatalkan.


"Terserah kau saja. Segera pergi dari rumahku, dan jangan pernah lagi menginjakkan kaki disini." Ucap Danish sebelum dia melangkah masuk kedalam.


"Tapi Danish..."


"Telingamu masih normal kan," Ucap Danish sembari berlalu pergi masuk kedalam rumah.


"Awas kau Danish. Laranganmu adalah suatu perintah bagiku. Aku akan tetap berjuang mendapatkan hatimu." Gumam Isabel


...****************...


Alika masih berada di kamarnya, dia merasa tidak enak badan pagi ini. Terutama di bagian perutnya yang terasa sakit. Semakin lama rasa sakitnya bertambah. Dia pun mencoba bangun untuk pergi ke kamar mandi. Namun alangkah terkejutnya setelah melihat darah segar mengalir di sela kakinya. Sontak ia berteriak sekuat tenaga memanggil suaminya.


Beberapa kali Alika berteriak memanggilnya, tapi Alvino tidak kunjung datang juga. Jelas saja karena pria itu sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi.


Sementara Violla yang sedang berada di ruang makan mendengar teriakan Alika. Namun wanita itu enggan menghampirinya. Dia malah terus menikmati sarapannya. Memang kejadian yang dialami oleh Alika adalah bagian dari rencana jahat Violla.


Beberapa hari ini Violla mencampur susu Alika dengan obat keras yang bisa membahayakan kandungan istri kekasihnya itu. Violla memang berniat membunuh calon anak kekasihnya. Karena dinilai menghalanginya untuk mendapatkan Alvino seutuhnya.


Tak ada siapapun selain Violla dan Alika dirumah itu. Jadi sekuat apapun Violla berteriak tidak akan ada yang menolongnya.


"Teriak saja sepuasnya. Semoga penghalangku sudah benar-benar lenyap. Kalau bisa sih wanita itu ikut mati juga nggak papa." Ucap Violla merasa senang karena rencananya berjalan dengan lancar.


Alika yang kesakitan mencoba menelfon Alvino. Namun sudah sepuluh kali suaminya tidak menjawab telfon darinya. Kemudian hanya nama Danish yang terbesit dalam ingatan Alika. Akhirnya dia menghubungi Danish.


Tidak perlu menunggu lama Danish sudah sampai di sana. Danish berlari begitu saja melewati Violla yang sedang duduk di meja makan.


"Hei hei siapa yang nyuruh kamu masuk, Lancang sekali masuk tanpa permisi kerumah orang." Teriak Violla tapi tak dihiraukan oleh Danish.


Danish menggendong Alika menuju ke mobilnya. Violla terus menghalanginya untuk membawa Alika pergi.


"Kamu nggak bisa bawa dia pergi tanpa seizin suaminya." Ucap Violla sembari menghalangi pintu.


"Aw!" Pekik Violla yang terjatuh. Dia pun membiarkan mereka pergi.


"Semoga bayi dalam kandungan Alika tidak selamat." Ucap Violla dengan senyum menyeringai menatap kepergian mobil Danish.


Rumah Sakit


Alika mengalami keguguran. Padahal sebelumnya kandungannya baik-baik saja. Dia juga selalu rutin periksa ke dokte kandungan. Dia juga tidak pernah telat meminum vitamin yang diberikan dokter.


Dokter mengatakan kondisi ini terjadi kemungkinan karena Alika mengkonsumsi obat keras secara terus menerus hingga membuat janinnya melemah.


Namun Alika tidak pernah sekalipun meminum obat selain yang diberikan oleh dokternya. Aneh sekali rasanya, dengan tiba-tiba janinnya tidak berkembang lagi.


Alika sangat syok dengan apa yang dialaminya sekarang ini. Dia hanya bisa menangis. Sosok suami yang harusnya ada disampingnya untuk menguatkan, hingga kini tak kunjung terlihat. Alika sudah mencoba menghubunginya lagi tapi tetap sama, belum ada jawaban. Entah memang suaminya sedang sibuk atau enggan menjawab telfon darinya.


Kini tiba waktu dimana Alika harus masuk ke ruang operasi untuk dilakukan proses kuretase. Danish lah yang menemaninya disana. Pria itu menggantikan posisi Alvino sebagai sosok suami Alika. Sejak awal memang Danish mengiyakan saja ketika suster mengira dia suami Alika.


Kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya Alika keluar dari sana. Tapi dengan kondisi masih terpengaruh obat bius. Membuat wanita itu masih memejamkan matanya. Alika dibawa ke ruang ICU. Sementara Danish diminta menemui dokter.


"Istri bapak mengalami pendarahan setelah operasi dilakukan. Beruntung saja itu sudah bisa dihentikan. Namun perlu dilakukan transfusi darah untuk menyelamatkan nyawanya." Ucap dokter pada Danish.


"Iya lakukan saja apapun yang terbaik dok,"


"Tapi maaf pak, darah yang sesuai dengan bu Alika tidak tersedia di rumah sakit ini. Stoknya habis."


"Ambil darah saya saja."


"Baik, silahkan ikut suster untuk melakukan pengecekan kecocokannya pak."


Darah Danish pun diambil untuk dialirkan kedalam tubuh Alika. Kebetulan sekali golongan darah mereka sama.


"Al apapun akan kulakukan untukmu. Setelah ini kupastikan Albino tidak akan lagi bisa menyentuhmu. Pria brengsek itu sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaanmu." Batin Danish


Danish senantiasa berada di sebelah Alika. Wanita yang dicintainya itu belum juga sadar. Hari sudah berganti malam. Danish yang menemani Alika sejak pagi merasa mulai mengantuk. Akhirnya dia pun tertidur dengan menundukkan kepala di dekat tangan Alika.


Jam berputar dengan cepat. Suara adzan subuh pun terdengar. Danish terbangun. Dia melihat Alika masih belum juga sadar. Padahal dokter mengatakan Alika akan sadar 2-3 jam kemudian. Namun hingga kini wanita itu belum juga membuka mata.


"Sudah semalaman Alika dirawat disini, tapi ular Albino itu tidak juga datang kemari. Dasar pria brengsek." Umpat Danish dengan suara pelan. Dia sangat kesal terhadap Alvino yanh tidak perduli dengan keadaan Alika sekarang ini.


Danish keluar sebentar untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah selesai sholat, dia langsung kembali ke kamar dimana Alika dirawat.


"Al kau sudah sadar." Ucap Danish sumringah melihat Alika sudah membuka matanya.


"Kok mas Danish masih ada disini? Apa mas Alvino tidak datang kemari?" Tanya Alika dengan suara lemas. Danish menggelengkan kepalanya.


"Hmm, ya memang saya tidak penting untuknya." Ucap Alika seraya tersenyum kaku.