Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 52


"Jadi kau mengira aku membencimu? Itu satu hal yang tidak mungkin aku lakukan Al." Ucap Danish seraya tertawa kecil.


Ternyata selama ini Alika beranggapan Danish membencinya. Maka dari itu dia berusaha untuk mengindari siapapun yang berhubungan dengan Danish. Bahkan dia sampai meminta Bibi Halimah merahasiakan keberadaannya jika Arka bertanya.


Alika sebenarnya juga sering melihat Jenny. Karena memang tempat tinggalnya saat ini dekat dengan kampus Jenny. Dia selalu menghindar dan bersembunyi saat tidak sengaja berpapasan.


Mereka tidak terlalu banyak mengobrol karena Alika harus bekerja. Mereka membuat janji bertemu malam nanti saat Alika selesai bekerja.


Masih banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Danish pada Alika. Terutama tentang perjalanan rumah tangganya dengan Alvino yang kandas.


Sebelum pergi Danish meminta Alika untuk memberikan nomor telefonnya. Danish berjanji akan menjemputnya nanti malam.


Rasa galau di hati Danish selama ini sudah hilang sirna. Dirinya tak bisa menutupi pancaran kebahagiaannya setelah bertemu Alika.


Namun ada satu masalah yang masih menghalanginya untuk menjalin berhubungan dengan Alika. Yaitu Isabel yang sudah menjadi tunangannya.


🌺🌺


Isabel masih bekerja di perusahaan Argantara grup. Saat ini dia tengah cemas menunggu Danish datang. Sejak kemarin Danish tidak menjawab telefonnya juga chat darinya.


Tadi dia juga mampir kerumah Danish berharap akan berangkat bersama ke kantor. Namun sayangnya Danish sudah tidak ada di rumah.


"Kemana sih Danish, jika dia sudah berangkat lebih dulu dariku harusnya dia sudah sampai. Tapi dia tidak ada di sini." Gerutu Isabel


Kriiett ...


Suara pintu terbuka, Isabel langsung menoleh mengira itu adalah Danish.


"Sayang akhirnya .. Kau!" Isabel langsung kembali kesal karena yang memasuki ruangan adalah Azel bukan Danish.


"Iya saya Azel dan saya mencari pak Danish. Karena pak Danish belum datang saya permisi Ibu Isabel yang ternyebelin eh terhormat maksud saya." Ucap Azel dengan sangat formal. Kini dia harus berbicara formal pada Isabel yang dulunya adalah rivalnya. Hal itu dia lakukan atas permintaan Isabel yang sudah berlagak menjadi penguasa perusahaan.


"Eh tunggu, jika memang penting coba saja kau telefon Danish. Tanyakan dia ada dimana sekarang." Ucap Isabel mencoba memanfaatkan keadaan. Dia harus tahu dimana keberadaan Danish sekarang.


Azel langsung menatap menelisik. Dia mencium adanya satu masalah dilihat dari gerak-gerik Isabel.


"Hmmm,, romannya ada yang di abaikan calon suami nih. Apa jangan-jangan pak Danish sudah sadar. Oh atau ilmu pelet yang anda berikan sudah luntur." Ucap Azel dengan penuh ekspresi.


"Kau ini bicara apa! Jika tidak mau menelefon ya sudah. Keluar dari sini dan kembali bekerja!" Seru Isabel yang merasa kesal dicibir oleh Azel.


Azel pun keluar seraya bergeming. Pandangannya juga terfokus pada berkas yang dia bawa.


Dubrak


Akibat tidak memperhatikan jalan, Azel bertabrakan dengan staff lain yang bertubuh sangat gemuk. Hal itu membuat Azel terpental. Beruntung Miko yang berada tak jauh dari sana dengan sigap berlari dan berhasil menopang tubuhnya. Azel pun tak sampai terjatuh ke lantai.


Kini Azel dan Miko berada sangat dekat. Mereka saling bertatapan terdiam dengan pemikiran masing-masing.


"Astaga kemana saja aku selama ini, bisanya aku tidak menyadari jika Miko tak kalah menawan dari pak Danish." Ucap Azel dalam hatinya.


Cukup lama mereka dalam posisi itu. Sampai akhirnya Danish datang mengagetkan mereka.


"Dorrr ... Apa ini? Kalian cinlok?" Tanya Danish membuat keduanya salah tingkah. Azel yang tadinya mencari Danish ingin memberikan berkas, malah langsung pamit dengan membawa kembali berkasnya.


Sementara Miko berniat menjelaskan rentetan peristiwa yang terjadi sebenarnya. Namun Danish tidak ingin mendengar apapun. Danish sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Saat ini ada hal yang lebih penting yang harus mereka bahas.


"Aku ingin berkonsultasi penting denganmu. Ayo kita bicara di ruanganmu saja." Ucap Danish yang kemudian langsung menarik Miko agar mengikuti dirinya.


Miko menatap tajam atasan sekaligus sepupunya yang saat ini tengah duduk di hadapannya. Bukan hanya di bebani pekerjaan, kali ini Danish membebaninya dengan satu masalah yang cukup rumit.


"Sudah aku duga jika akhirnya akan seperti ini. Kau sih kak ngeyel! Coba saja kau mendengarkanku dari awal." Ucap Miko merasa frustasi. Padahal ini bukan masalahnya tapi dia juga di ajak berfikir.


"Issh,, aku kemari untuk meminta solusi padamu. Kau jangan membentakku. Bagaimanapun aku lebih tua darimu dodol. Jangan lupa aku juga atasanmu." Ucap Danish sembari menepuk pipi Miko.


"Hey my name is Miko bukan dodol." Sentak Miko dengan ekspresi ketidak sukaannya di panggil dengan sebutan itu.


Miko ingin angkat tangan dalam masalah ini, namun Danish terus merengek memintanya untuk membantu berfikir.


"Kalau kau ingin mengakhiri hubungan dengan Isabel kau harus cari keburukannya sebagai alasan." Ucap Miko memberi solusi yang sangat tepat. "Tapi tidak perlu di cari wanita itu sudah sering memunculkan sifat buruknya. Kau saja yang buta selama ini kak." Sambung Miko.


Danish pun mengangguk menyetujui perkataan sepupunya itu. Dalam satu bulan ini dia akan mengamati Isabel. Jika tidak ada keburukan yang menjadi alasan pembatalan pernikahan, ya terpaksa dia akan tetap menjalaninya.


Setelah mendapatkan solusi terbaik, Danish keluar dari ruangan Miko. Isabel yang sudah menguping sejak tadi langsung bersembunyi.


"Bagaimanapun pernikahanku harus tetap terlaksana. Aku akan menjaga sikapku dan aku harus menyingkirkan wanita itu." Gumam Isabel seraya mengepalkan kedua tangannya.


🌺🌺


Tepat jam sembilan malam Danish menunggu Alika di luar restoran Kenz Pizza. Tidak lama menunggu, Alika keluar dari sana menghampirinya. Mereka saling berbalas senyuman.


Danish melihat rambut Alika sedikit basah. Menandakan pekerjaannya itu cukup melelahkan.


"Kau pasti sangat lelah," Ucap Danish sembari membelai lembut rambut Alika.


"Hmmm, tidak juga kok. Lebih melelahkan jika menganggur dan tidak punya uang." Ucap Alika seraya tertawa renyah. Danish pun ikut serta tertawa. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil. Danish ingin mengajak Alika makan malam di sebuah restoran. Tapi karena sudah malam sepertinya semua restoran sudah akan tutup. Akhirnya Alika yang menentukan tempatnya.


Dan di sinilah mereka berada sekarang. Di halaman sebuah toko tutup yang sudah di sulap menjadi tempat duduk warung makanan, dengan beralaskan tikar.


"Di sini makanannya enak mas, tidak kalah dari restoran mewah. Di sini bersih juga kok tenang saja." Ucap Alika


Bagi Danish makan di tempat sederhana seperti itu pun tetap nyaman. Karena ada Alika di sisinya.


Danish menggenggam tangan Alika. Dia ingin mengungkapkan perasaannya sekarang. Dari sanalah Alika menyadari ada cincin tersemat di jari manis tangan kiri Danish. Alika melihatnya dengan detail.


"Mas Danish kok pakai cincin, mas Danish sudah bertunangan?" Ekspresi Alika terlihat kecewa melihat itu. Padahal sebelumnya dia cukup semringah. Seketika Alika melepaskan tangan Danish.


"Iya aku sudah bertunangan dengan Isabel." Danish akhirnya mengungkapkan statusnya saat ini.