
Di kamar VVIP 05 rumah sakit Harapan Kasih, Vella terbaring pucat dengan selang infus yang menempel di tangan kanannya. Bima senantiasa berada di sebelah sang istri. Dia terus membujuk istrinya itu untuk makan.
"Sayang ayolah makan sedikit-sedikit." Ucap Bima
"Tidak mas, aku mau makan setelah putraku berada di sampingku. Aku ingin dia bebas." Ucap Vella sembari memalingkan wajahnya.
"Aku juga ingin Danish bebas. Aku juga sedang berusaha mah. Andai saja dia mau mendengarkan perkataanku untuk menjauhi Alika. Semua ini tidak akan terjadi." Ucap Bima kembali menyalahkan Alika atas di tahannya Danish. Vella hanya diam tak menanggapi ucapan suaminya itu.
"Ayolah mah makan sedikit saja, Danish pasti akan bebas sebentar lagi. Dia akan bersedih jika melihat kamu terbaring sakit di sini." Ucap Bima terus membujuk sang istri untuk makan.
"Iya mam, benar kata papa. Aku sangat bersedih melihat mama sakit." Sahut Danish yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang papanya.
Kedatangannya tentu sangat mengagetkan kedua orang tuanya. Danish bebas hari ini. Karena Alvino sudah mencabut tuntutannya.
Danish langsung mendekat dan memeluk mamanya. Mama Vella pun menangis bahagia, putra kesayangannya kembali kedalam pelukannya.
"Akhirnya sayang, mama sangat merindukanmu. Kamu pasti makan dengan tidak benar kan disana, badanmu terlihat lebih kurus dari sebelumnya." Ucap Mama Vella seraya mengamati Danish.
"Aku baik-baik saja kok mam. Aku kan sudah disini, jadi mama harus cepat sehat. Mama harus makan, aku suapin mama." Ucap Danish
Tanpa bujukan berlebih Mama Vella menurut saja dan makan dengan lahapnya. Papa Bima tersenyum semringah melihat istrinya akhirnya mau makan. Setelah itu mama Vella minum obat dan tak lama kemudian tertidur.
Danish berpindah duduk di sofa. Dia terduduk tak bersemangat. Danish sudah mengetahui alasan Alvino mencabut tuntutannya. Yaitu Alika menyetujui pembatalan perceraian mereka.
"Kamu di bebaskan oleh Alvino. Apa yang membuatnya akhirnya mau mencabut tuntutan itu?" Tanya Papa Bima penasaran. Karena sebelumnya Alvino kekeh tak mau mencabut tuntutannya.
"Papa sudah tahu apa alasan dia." Jawab Danish singkat.
"Alvino dan Alika tidak jadi bercerai," Ucap Papa Bima menebak. Danish hanya mengangguk sekali untuk mengiyakan.
"Inilah yang papa takutkan saat melihatmu terlalu berharap dengan Alika. Tapi ini memang yang terbaik. Jadi papa harap kamu bisa menerimanya dengan lapang dada." Ucap Papa Bima sembari menepuk pelan pundak Danish.
"Aku akan dengan mudah menerima kenyataan ini, jika memang Alika bahagia hidup bersama Alvino." Batin Danish.
*
*
Dengan kecepatan tinggi, Danish mengendarai mobilnya menuju rumah Alvino. Tidak ada alasan lain dia kesana, selain untuk bertemu Alika. Tadinya Danish berfikir akan berbicara empat mata dengan Alika di rumah. Namun ternyata rumah yang semula ditinggali Alika itu sudah kosong. Kunci rumahnya pun dititipkan ke pembantu rumah Danish.
"Aku harus dengar penjelasan langsung darimu Al. Jika memang kau di paksa oleh pria brengsek itu, aku akan melakukan apapun untuk memisahkanmu darinya." Ucap Danish bertekad.
Sepuluh menit perjalan, Danish sampai di kediaman milik Alvino Abraham. Danish memencet bel rumah itu beberapa kali. Tak berselang lama pintu terbuka. Orang yang ingin Danish temui sudah berdiri di hadapannya.
"Alika kita harus bicara berdua." Ucap Danish sembari mencoba meraih tangan Alika. Tapi di cekal oleh Alvino yang langsung merangkul sang istri.
"Jangan sentuh istriku. Pergi kau dari sini. Alika ini adalah istriku, kau tidak berhak menyentuhnya. Jika ingin bicara harus denganku juga." Ucap Alvino dengan tatapan tajam. Membuat Danish emosi dan ingin menghajarnya. Dengan segera Alika mencegah itu terjadi.
"Maaf mas Danish, yang dikatakan mas Alvino benar. Kita tidak bisa bicara berdua saja." Ucap Alika
"Al kenapa kau melakukan ini? Sudah kukatakan tunggu sebentar saja. Aku tidak apa-apa di penjara daripada melihatmu kembali dengan pria brengsek ini!" Seru Danish
Dakk..dak.. Dak.. Danish menggedor pintu rumah Alvino. Dia masih tidak terima dengan kenyataan ini.
"Buka pintunya! Aku belum selesai berbicara dengan Alika." Teriak Danish namun percuma saja.
Sementara di dalam, Alika menangis. Dia sendiri merasa berat berpisah dari Danish. Dia sangat menyadari bahwa cinta untuk Danish sudah tumbuh dalam hatinya.
"Untuk apa kamu menangisi pebinor itu? Apa jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padanya?" Terka Alvino
"Tidak mas, aku hanya kasihan dengan mas Danish yang sudah terlibat masalah kita. Aku ke kamar dulu." Ucap Alika yang kemudian pergi masuk ke dalam kamar.
...****************...
Dua bulan kemudian ....
Di dalam kamar, Alika duduk di depan kaca rias. Dia sedang menyisir rambut panjangnya lalu bersiap untuk tidur. Tiba-tiba Alvino memeluknya dari belakang.
"Al aku sudah memberimu cukup waktu. Hari ini saatnya kamu melayaniku." Ucap Alvino tepat di telinga Alika.
Memang sejak kembali bersama, Alika belum mau tidur sekamar dengan Alvino. Alika masih merasa risih ketika di pegang suaminya sendiri. Ingatan tentangnya yang bercumbu mesra dengan Violla masih lekat dalam otak.
"Sebenarnya aku tidak mau kamu sentuh mas. Rasanya masih sakit mengingatmu mengatai aku tidak enak dan tidak memuaskan. Sehingga kamu memilih dengan wanita lain." Ucap Alika dalam benaknya.
Alika langsug reflek menghindari Alvino saat payud*aranya di sentuh. Alvino hampir saja terjatuh karena mendapat sedikit dorongan oleh Alika.
"Kenapa Al? Kau tidak memperbolehkanku menyentuh tubuhmu. Aku ini suamimu Al." Ucap Alvino dengan kesal. Kemudian dia menarik Alika dalam pelukannya. Memegang tengkuk Alika untuk penyatuan bibir mereka.
Saat itu terjadi, Alika malah teringat ketika dirinya berciuman dengan Danish. Seketika Alika menghindar dari Alvino.
"Maaf mas, iya aku tahu kita suami istri. Tapi maaf aku belum siap." Ucap Alika yang langsung melenggang pergi keluar kamar. Disusul oleh Alvino.
Alvino menghadang Alika kemudian menghimpitnya ke tembok. Kesabarannya sudah habis. Senjatanya yang sudah lama berpuasa, karena masalah waktu itu sudah tidak kuat lagi.
"Pokoknya malam ini kamu harus melayaniku!" Ucap Alvino. Dia langsung mel*mat bibir Alika dengan kasar.
Alika mengeluarkan tenaga sekuat mungkin untuk melepaskan diri dari suaminya. Dengan nafas terengah-engah, akhirnya Alika berhasil mendorong Alvino. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena Alvino kembali menerkamnya.
"Lepaskan mas, jangan sekarang aku belum siap." Ucap Alika sembari berontak. Sedangkan Alvino terus menciumi wajah hingga lehernya.
Alvino merasa tidak dapat menikmati permainannya karena istrinya itu terus bergerak tak karuan. Hal itu membuatnya emosi dan memukulnya dengan keras hingga akhirnya Alika terdiam.
"Diamlah! Lakukan saja tugasmu sebagai istri."
Alika menangis tersedu-sedu mendapatkan perlakuan kasar dari Alvino. Kini dirinya hanya pasrah saja. Alvino langsung menarik dalaman yang di pakai Alika. Dia benar-benar sudah tidak sabar lagi. Dia tidak perduli dengan suara tangisan Alika.
Ting tung ....
Suara bel berbunyi membuat Alvino mau tidak mau harus menghentikan aktivitasnya. Merasa mendapat kesempatan, Alika pun berlari menghindari Alvino. Dia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
"Dua bulan kamu memperlakukanku dengan baik dan bersikap manis. Tapi hari ini teganya kamu memukulku mas." Alika menangis tersedu-sedu seraya memegangi pipinya yang memar dan terasa sakit.