
Alika terdiam sejenak. Dia pikir pertemuannya dengan Danish kali ini akan menjadi hari penyatuan cinta mereka. Namun ternyata Danish sudah bertunangan dengan Isabel. Lalu ciuman tadi pagi itu apa artinya? Alika berfikir keras.
"Al kau tidak apa-apa?" Danish mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Alika.
"Eh iya mas. Selamat atas pertunangannya. Semoga lancar sampai hari pernikahan." Ucap Alika tersenyum palsu menutupi sakit di hatinya.
"Tidak Al jangan ucapkan selamat. Karena aku tidak mencintainya. Hingga saat ini aku masih mencintaimu." Ucap Danish dengan jujur. Danish kembali meraih tangan Alika.
Alika terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Ingin sekali dia membalas perkataan Danish dengan mengatakan juga mencintainya. Namun melihat keadaan saat ini, itu semua tidak benar. Danish sudah bertunangan dengan Isabel. Jika dia membalas cinta Danish, itu artinya sama saja dengan merusak hubungan orang lain.
"Al kau juga mencintaiku kan?" Tanya Danish dengan serius. "Kau tidak mungkin tidak mencintaiku, tadi saja kau membalas ciumanku. Bukankah itu artinya kau punya rasa yang sama sepertiku."
"Iya mas, saya juga cinta dengan mas Danish." Akhirnya Alika jujur dengan perasaannya terhadap Danish. Hal itu membuat Danish senang.
"Tapi kita tidak bisa bersama mas. Mas Danish tidak boleh membatalkan pernikahan, hanya karena bertemu kembali dengan saya." Sambung Alika dengan serius.
Danish hanya bisa diam. Yang di katakan Alika itu ada benarnya. Jika dia membatalkan pernikahan tanpa alasan, lalu menjalin hubungan dengan Alika, pastinya hal itu akan membahayakan Alika. Isabel tentunya tidak akan tinggal diam.
****
Di dalam kamarnya yang sempit, Alika terduduk lemas. Hari ini rasa bahagianya hanya sekejap saja. Dia membuka kotak yang berisi hiasan rambut berbentuk bintang. Dia masih menyimpan barang pemberian Danish itu.
Melihat itu dirinya langsung teringat betapa Danish selalu memperlakukannya dengan manis. Sejak awal pertemuan, Danish selalu membuatnya senang. Bahkan saat dirinya di terpa masalah, Danish selalu menjadi garda terdepan untuknya.
Alika kembali menatap foto pertamanya bersama Danish. Hari ini dia merasa menyesal karena terlambat menyadari rasa cintanya untuk Danish. Dia menyesal telah membuat keputusan menjauh dari Danish saat itu.
Alika meneteskan air matanya. Rasanya dadanya begitu sesak mengingat kenyataan Danish akan menikah dengan wanita lain.
"Kenapa aku menangis, ini kan salahku sendiri. Meski aku tahu mas Danish juga mencintaiku, aku tidak boleh berharap apapun." Ucap Alika kepada dirinya sendiri.
Ia mencoba untuk tidak bersedih namun rasanya begitu berat. Tangisannya malah semakin menjadi.
***
Merasakan hal yang sama dengan Alika, Danish pulang dengan perasaan tidak karuan. Dia memasuki rumah dengan langkah lesu.
"Kakak bagaimana?" Tanya Jenny sangat antusias ketika melihat Danish datang. "Pertemuanmu dengan mbak Alika lancar kan, dan kalian sudah jadian."
Danish tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh adiknya. Dia langsung memasuki kamarnya tanpa melirik atau mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ish,, dia kenapa ekspresinya begitu? Apakah semuanya tidak berjalan baik?" Jenny bertanya-tanya sendiri.
...****************...
Danish mengerjapkan matanya..Tak terasa pagi sudah tiba. Jam menunjukkan pukul 04:45 WIB. Danish segera beranjak dari tempat tidurnya. Pria dua puluh enam tahun itu mengambil handuk dan kemudian memasuki kamar mandi.
Selang sepuluh menit kemudian dia keluar dengan tubuh yang terasa segar. Seperti biasa dia memakai pakaian ibadahnya lengkap dengan sarung serta peci.
Setelah menjalankan sholat subuh, Danish duduk bersila sembari menengadahkan kedua tangannya. Ia berdoa memohon kepada Allah Swt agar di beri petunjuk tentang jodoh terbaik untuknya.
Setelah mengungkap seluruh keluh kesahnya, Danish terdiam termenung masih di atas sajadahnya. Hingga tak terasa matahari sudah terbit. Cahayanya mulai masuk melewati celah ventilasi kamar Danish. Dia pun beranjak dan melipat sajadah mengembalikan pada tempatnya.
Jegrekk ...
Pintu kamar Danish terbuka secara tiba-tiba. Jenny lah yang membuka pintu itu dengan dorongan cukup keras. Danish yang baru akan berganti pakaian merasa terkejut.
"Astaga Jenny! Tidak bisakah kau mengetuk pintu dahulu." Bentak Danish yang merasa kesal. Namun setelah melihat Jenny menangis, eskpresi marahnya berubah menjadi kekhawatiran.
"Papa.. Ma..ma kecela..kaan kak." Jawab Jenny terbata-bata karena menangis.
"Apa?" Pekik Danish merasa terkejut. Kedua orang tua mereka memang sedang ada urusan pekerjaan di luar kota. Entah apa yang terjadi pada mereka, yang pasti hati Danish hancur mendengar kabar buruk pagi ini.
"Lalu mereka dimana sekarang?" Tanya Danish dengan panik.
"Mereka ada di rumah sakit daerah Bogor kak. Ayo kita kesana kak." Jenny merengek.
"Iya kita kesana sekarang juga. Aku ganti baju dulu kau juga bersiaplah." Ucap Danish.
Felix datang dan melihat suasana kepanikan yang diciptakan oleh Danish dan Jenny. Mereka berdua terlihat berlarian menuruni tangga.
"Pak Danish ada apa, mengapa sepertinya terburu-buru sekali?" Tanya Felix penasaran, apalagi melihat Jenny yang terus menangis.
"Mama papa kecelakaan di Bogor, jadi aku dan Jenny akan kesana sekarang." Jawab Danish sembari tetap berjalan menuju garasi mobil.
"Saya ikut, biar saya saja yang menyetir mobilnya. Pak Danish dalam keadaan panik jadi tidak baik jika menyetir. Saya janji akan menyetir dengan cepat dan aman." Ucap Felix, sebagai anak buah Danish dia tidak mungkin membiarkan bosnya menyetir sendiri saat dalam kondisi seperti ini.
"Baiklah ayo." Ucap Danish menyetujuinya.
***
Kurang dari satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit di mana Mama Vella dan Papa Bima di rawat. Danish dan Jenny berlarian melewati koridor rumah sakit mencari keberadaan orang tua mereka. Sampai akhirnya mereka menemukan ruang perawatan yang di beritahu oleh suster tadi.
"Papa .." Jenny berlari memeluk Papa Bima yang terbaring di brankar. Terlihat papa Bima tidak terluka parah. Hanya luka gores-goesan di beberapa bagian tubuhnya.
"Jangan menangis sayang, papa tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil." Ucap Papa Bima kepada putrinya yang menangis di dadanya.
Danish sedikit lega melihat keadaan papanya. Namun disana dia tidak melihat mamanya.
Belum sampai bertanya, seorang perawat datang kesana. Memberitahu kondisi Mama Vella.
"Maaf apakah benar dengan keluarga Ibu Vella Mariska?"
"Iya suster saya anaknya." Jawab Danish
"Ibu Vella saat ini kritis."
Deg
Mendengar kabar itu, mereka semua langsung terkejut tak dapat berkata apa-apa. Danish yang sangat menyanyangi mamanya, seketika menitikkan air matanya.
" Bu Vella harus secepatnya di operasi, karena terdapat pembekuan darah di otaknya. Kami memerlukan persetujuan dari keluarga." Ucap suster
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya suster." Ucap papa Bima yang juga menangis.
"Baik, mari salah satu keluarga ikut saya untuk menandatangani berkas persetujuaanya." Ucap suster yang kemudian berlalu pergi.
"Jenny kau di sini jaga papa, aku akan mengurus berkasnya." Ucap Danish, di balas anggukan oleh Jenny.
Dengan langkah panjangnya Danish mengikuti suster. Ternyata kelegaannya hanya bersifat sementara. Papanya memang selamat dan tidak terluka parah. Namun mamanya sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Ya Allah, aku hanya meminta petunjuk untuk jodoh terbaik. Tapi mengapa Engkau malah memberi musibah seperti ini." Ucap Danish dalam hatinya.