
Brakk ....
Pintu kamar hotel terbuka lebar. Arka datang bersama manager hotel. Kebetulan sekali Arka sedang ada di hotel yang sama. Arka melihat Alika dari cctv. Arka sedang melacak cctv untuk menemukan pelaku pencurian di kamarnya. Yang dia curigai dari salah satu karyawan di sana. Saat melihat cctv dia malah melihat Alika di tarik masuk oleh Gea. Arka mencurigai terjadi sesuatu pada Alika. Dia pun langsung menghubungi Danish. Kemudian meminta manager untuk membantunya masuk ke dalam kamar tempat Alika berada.
Terlihat Alika menangis tengah di himpit ke tembok oleh Alvino. Terlihat juga bibir Alika sedikit berdarah. Alvino memang baru saja menampar Alika dengan keras. Karena Alika terus mencoba menghindar darinya.
Arka pun menarik Alvino dan mendorongnya menjauh dari Alika. Tapi Alvino langsung terbangun dan malah menghantam wajah Arka.
"Mas Arka," Pekik Alika melihat Arka di pukul oleh suaminya.
"Itu akibatnya kalau kau ikut campur yang bukan urusanmu!" Seru Alvino
Arka itu tipe orang yang tidak suka berkelahi. Dia tidak membalas, dia mencoba mengajak Alvino berbicara baik-baik.
"Tidak perlu dengan kekerasan bro, aku tidak akan ikut campur jika Alika tidak dalam bahaya." Ucap Arka
"Banyak omong kau! Rasakan akibatnya." Alvino sudah bersiap kembali menyerang Arka. Namun Danish yang baru saja datang langsung mengambil alih posisi Arka. Dia lebih dulu menghajar habis-habisan pria yang dianggapnya brengsek itu.
"Mas Danish, mas Alvino sudah.." Teriak Alika
Arka dan manager hotel pun berusaha melerai mereka. Namun Danish tetap membabi buta sampai Alvino terkulai tak berdaya dengan penuh luka lebam.
"Itu akibat kau berani menyentuh Alika! Ayo al kita pergi dari sini. Arka terimakasih, tolong kau urus orang ini ya." Ucap Danish
"Iya Danish, aku akan mengurusnya." Balas Arka
"Mas Arka terima kasih, saya pergi dulu." Ucap Alika
"Iya Alika, sama-sama."
**
Di dalam mobil Danish langsung mengambil kotak obat untuk mengobati luka di bibir Alika.
"Tahan ya Al kalau sedikit sakit. Aku bersihin lukamu dulu." Ucap Danish
Awalnya Alika diam saja lukanya di bersihkan oleh Danish, tapi kemudian dia memegang tangan Danish untuk berhenti mengobatinya.
"Kenapa Al, apakah sakit sekali?" Tanya Danish
"Tidak mas, rasanya tidak sakit sama sekali." Ucap Alika sembari menaruh tangan Danish. Alika mengambil alkohol dan kapas di kotak obat.
"Yang seharusnya di obati itu kamu mas, lihatlah wajahmu penuh lebam seperti ini. Maafkan saya, ini semua karena saya." Ucap Alika sembari mengusap pelan luka Danish dengan kapas.
"Tidak, ini bukan salahmu Al. Jika saja tadi aku tidak lancang menci ..."
"Sudahlah mas, tidak perlu di bahas kejadian tadi." Ucap Alika memotong ucapan Danish.
"Duh mas di kotak ini nggak ada plaster lukanya," Ucap Alika setelah selesai membersihkan luka Danish.
"Ya sudah enggak papa nggak usah di plaster. Biar begini saja." Ucap Danish
"Eh jangan mas, tunggu bentar ya aku coba minta ke post satpam itu. Tunggu sini," Ucap Alika
"Eh nggak usah Al," Ucap Danish, tapi tidak di dengar oleh Alika.
Tak berselang lama Alika sudah kembali. Dia berhasil mendapatkan plaster luka untuk Danish, tapi plasternya berwarna pink bergambar hati.
"Mas aku dapetin plasternya, tapi warnanya pink begini. Nggak apa-apa ya," Ucap Alika memberitahu Danish sebelum dia memasangkannya. Tentu saja Danish tidak menolak. Bagaimana bisa dia menolak Alika yang tulus membantu. Danish pun mengangguk setuju.
...****************...
Keesokan harinya ...
Danish bangun dengan badan yang terasa sakit semua. Itu akibat dari perkelahiannya dengan Alvino semalam. Tapi saat masuk ke dalam kamar mandi dan berkaca, senyumnya langsung mengembang.
"Plaster ini, akan ku simpan." Ucap Danish yang melepas plaster luka di pipinya. Dia ingin menyimpan semua yang berhubungan dengan Alika.
Setelah mandi dan berpakaian rapi seperti biasanya, Danish keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama keluarganya. Baru duduk beberapa detik, semuanya sudah terfokus pada lebam di area wajah Danish. Karena semalam saat dia pulang tidak menemui siapapun di rumah.
"Kak kau kenapa? Kok wajahmu banyak bekas lukanya," Ucap Jenny sembari memegang pipi Danish dengan kasar.
"A aw,, sakit loh ini." Pekik Danish
"Sorry kak, tidak sengaja." Ucap Jenny tersenyum miris.
"Apakah kamu berkelahi Danish?" Tanya Papa Bima dengan tatapan tajam.
"Aduh biar mama lihat coba lukanya, kamu ini sudah dewasa kenapa berkelahi sih." Sahut Mama Vella yang khawatir melihat wajah putranya penuh luka.
"Ah aku tidak apa-apa mah, pah. Ini juga sudah di obati sama Alika semalam." Jawab Danish sembari menyiapkan roti sarapannya.
"Apa kamu berkehali dengan suami Alika?" Terka Papa Bima
"Iya papa benar sekali. Semalam aku di telefin Arka untuk datang ke hotel Grand. Ternyata di sana Alvino menyekap Alika dan ingin melecehkannya. Bahkan dia memukul Alika sampai pipinya memar, bibirnya berdarah." Ucap Danish memberitahukan kejadian semalam.
"Jadi mbak Alika terluka, aduh kasihan banget sih punya pasangan toxic banget." Ucap Jenny
"Iya gadis sebaik Alika kenapa harus berjodoh dengan orang yang kasar." Sahut Mama Vella
"Mereka itu tidak berjodoh mah, aku jodohnya Alika." Ucap Danish dengan percaya diri.
"Danish cukup, kamu jangan terus berharap dengan Alika. Ulah kamu yang mencampuri urusan rumah tangga mereka seperti ini, akan mendatangkan masalah bagimu." Ucap Papa Bima
"Apa sih pah, aku kan hanya menolong Alika. Tenang saja aku tidak akan mendapatkan masalah." Ucap Danish menenangkan papanya.
"Sudah pah jangan berdebat pagi-pagi, lanjutkan sarapannya saja." Ucap Mama Vella
Felix tiba-tiba masuk ke ruang makan. Padahal Jenny sudah menyuruhnya menunggu di depan. Jenny memang selalu di buat kesal oleh sopir sekaligus body guardnya itu.
"Aduh Felix ngerusak mood sarapanku aja deh. Ngapain sih menyusul kemari, kan sudah ku katakan. Tunggu saja di luar. Lagipula ini masih jam tujuh pagi. Ya ku akui memang kau pengawal terbaik dalam perihal waktu. Tapi aku itu ibarat bosmu, harusnya kau menurut padaku. Bukan aku yang harus menurut denganmu." Ucap Jenny panjang lebar. Dia tidak memberi Felix kesempatan untuk berbicara. Padahal Felix datang ke ruang makan bukan untuk menemuinya.
"Kau ini menyerocos saja. Belum tentu Felix kemari karena ingin memanggilmu. Katakan ada apa Felix?" Danish akhirnya membantu Felix agar dapat menyampaikan apa yang ingin di sampaikan.
"Sebelumnya maaf saya mengganggu Tuan, Nyonya, teruma mengganggu anda nona Jenny. Tapi saya kemari bukan untuk menemui atau memanggil nona Jenny. Saya ingin menyampaikan bahwa di depan ada polisi." Ucap Felix
"Polisi, ada apa polisi datang ke rumah kita pah," Ucap mama Vella merasa kebingungan. Mereka semua pun beranjak dari tempat makan untuk menemui polisi di depan.
"Apakah benar di sini rumah saudara Danish Putra Argantara?" Tanya salah satu polisi.
"Benar, itu nama anak saya." Jawab Bima
"Anak bapak di laporkan ke kantor polisi atas tuduhan penganiayaan. Ini surat penangkapannya." Ucap Polisi
Bima mengambil surat yang di sodorkan oleh Polisi. Dia langsung paham, jika ini ada hubungannya dengan pengakuan Danish tadi yang habis berkelahi dengan suami Alika semalam.