
Mobil Alvino berhenti di sebuah rumah kosong yang jauh dari keramaian. Dia mendapat kabar jika Violla di sekap dan akan di bunuh karena tidak dapat membayar hutang.
Baru turun dari mobilnya, dua orang kekar sudah menyerang. Namun dengan mudah Alvino melumpuhkan mereka. Kemudian pria kekar berkacamata hitam keluar dari rumah kosong itu. Dia adalah Tuan Boy. Pria yang menjadi mucikari Violla.
"Kau pasti orang yang sudah menyekap Violla. Lepaskan dia sekarang juga!" Seru Alvino
"Ahahaha,, Jadi kedatanganmu kemari untuk wanita j*lang itu." Tuan Boy malah tertawa.
"Tidak usah banyak bicara. Bebaskan Violla sekarang juga atau kupanggil polisi agar menangkap kalian semua." Ancam Alvino
"Panggil saja, tapi sebelum polisi sampai kemari kupastikan wanita j*lang itu tidak lagi bernyawa. Bondan lakukan tugasmu sekarang juga." Tuan Boy mengaba-aba anak buahnya yang berada di sampingnya.
"Eh tunggu. Jangan berani kau sentuh Violla! Katakan apa maumu?"
Tuan Boy menyudutkan bibirnya. "Lunasi hutang Violla sebesar dua ratus juta."
Alvino sedikit terperanjat mendengar nominal yang diminta Tuan Boy. Tapi dia tidak mungkin membiarkan Violla dihabisi begitu saja. Bagaimanapun Violla pernah memiliki tempat spesial di hatinya.
"Baiklah, aku bayar dua ratus juta. Tapi aku mau lepaskan Violla sekarang juga. Bawa dia kemari." Ucap Alvino
Tuan Boy mengkode Bondan untuk melepaskan Violla. Dengan keadaan rambut acak-acakan dan beberapa luka di pipi dan memar di tangan Violla muncul di hadapan Alvino. Hati Alvino masih terasa sakit melihat Violla di perlakukan seperti itu. Dia pun mengambil cek di dalam mobilnya dan segera menyerahkannya pada Tuan Boy.
"Ini, sejumlah yang kau minta." Alvino menyerahkan ceknya. Tuan Boy menerimanya dengan tawa renyah. Kemudian Bondan mendorong Violla pada Alvino.
"Begini kan enak, kau bebas sekarang." Ucap Tuan Boy pada Violla yang sudah berada dalam pelukan Alvino.
**
Alvino membawa pergi Violla dari tempat itu. Di sepanjang jalan Violla menangis tersedu-sedu. Akhirnya Alvino meminggirkan mobilnya. Dia ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu selama ini, kenapa kau sampai terikat dengan mucikari brengsek itu dan punya hutang sebanyak itu." Ucap Alvino sembari mengulurkan tisu untuk Violla.
"Hikss ... Sebelumnya aku sangat berterimakasih padamu. Semua ini berawal dari kak Gio. Saat setelah kita putus kak Gio memaksaku untuk kembali ke dunia model majalah dewasa. Karena saat itu ekonomi kita sangat melemah." Ucap Violla
"Lalu kenapa kau sampai menjual diri dan berhutang sebanyak itu?" Tanya Alvino lagi.
"Itu semua karena aku harus menanggung hutang kak Gio yang sudah meninggal." Jawab Violla
"Jadi kak Gio sudah meninggal, astaga kenapa kau tidak mencariku. Aku bisa membantumu, kau tidak perlu sampai menjual diri." Ucap Alvino
"Maaf aku tidak mau menyusahkanmu. Lagipula saat itu hubungan kita sedang tidak baik. Mamamu selalu menghalangi kita. Dan aku juga minta maaf sudah berani kembali padamu saat sudah kotor." Ucap Violla diiringi isak tangisnya.
Alvino tiba-tiba memeluknya. "Sudah jangan menangis. Jika aku tahu keadaannya seperti ini, aku tidak akan marah padamu. Maafkan aku," Ucap Alvino, dia memang sangat plin plan.
Di dalam pelukan, Violla tersenyum cerah. Rencananya sangat berhasil. Dia memang jujur dengan apa yang di ceritakannya. Tapi dia berbohong tentang penyekapan yang di lakukan oleh Tuan Boy. Ya, mereka tengah bersandiwara.
"Hutang lunas dan kau kembali kedalam pelukanku. Ternyata kau memang tidak bisa lepas dariku Alvino sayang." Ucap Violla dalam benaknya.
**
Di rumah sakit Danish tengah berada. Dia tidak sengaja menyerempet seseorang. Karena menyetir dengan tidak fokus. Beruntung orang yang di tabraknya tidak terluka parah dan tidak perlu berurusan dengan polisi.
Seusai di obati, pria itu pamit pulang pada Danish. Katanya rumahnya tidak jauh dari rumah sakit. Jadi dia tidak mau di antarkan oleh Danish. Sebelum dia pergi, Danish meminta maaf untuk kesekian kalinya dan memberi sedikit uang.
"Hufft ... Karena terus memikirkan Alika aku sampai tidak fokus menyetir. Beruntung orang itu tidak apa-apa." Ucap Danish sembari melangkah menuju mobilnya.
Hal tak terduga di lihatnya saat berada di parkiran rumah sakit. Danish melihat Alvino menuntun Violla masuk ke dalam mobilnya. Namun saat hendak menghampiri, sudah terlambat. Karena Mobil yang di tumpangi mereka sudah melaju keluar dari area rumah sakit.
"Aku tidak salah lihat. Brengsek! Dasarnya tukang selingkuh tetep aja selingkuh." Ucap Danish berdecak kesal. Dia merasa Alika harus tahu tentang ini. Tapi sebelum itu dia harus mempunyai bukti.
"Arrghh... Sial! Kemana perginya mereka?" Danish memukul-mukul setir mobilnya.
Danish meraih ponselnya, dia menelefon Victor untuk menanyakan apakah dia sudah berhasil mendapatkan alamat rumah Alvino yang baru.
"Halo Victor, apakah kau sudah mendapatkan alamat baru Alvino?"
"Sudah pak, saya baru saja ingin memberitahu. Alamatnya sudah saya kirim."
"Oh iya terima kasih."
"Pak ini saya barusan melihat mobil pak Alvino memasuki hotel."
"Kebetulan sekali, kau ikuti dia. Selidiki apa yang di lakukannya di sana. Jangan lupa bukti dokumentasinya."
"Siap pak."
Danish benar-benar merasa sangat geram. Alvino memang plin-plan dan tidak pernah bersyukur memilik istri seperti Alika.
Beberapa menit kemudian, Victor sudah mengirimkan Video dan foto-foto mesra Violla bersama Alvino. Danish merasa sangat geram melihat itu.
(Isi Video)
Alvino merangkul Violla menuju kamar yang sudah di pesannya.
"Violla, aku hanya bisa mengantarmu sampai di depan kamar saja. Aku tidak bisa menginap menemanimu. Aku takut Alika akan curiga." Ucap Alvino
"Tidak apa-apa, aku bisa memahami keadaanmu." Balas Violla
"Aku jadi merasa bersalah padamu sayang, karena emosi aku mengambil keputusan kembali bersama Alika. Harusnya aku tetap menikahimu." Ucap Alvino
"Emmh,, jangan bicara seperti itu sayang. Aku jadi sedih nih. Tapi yang penting sekarang kau sudah memaafkanku dan kita bersama lagi." Ucap Violla diiringi tawa bahagianya. (Video berakhir)
"Mereka berdua memang pasangan ya g serasi. Sama brengseknya!" Seru Danish merasa geram.
"Jika akhirnya dia kembali bersama Violla, kenapa dia tidak membiarkan Alika bahagia bersamaku. Dasar brengsek! Aku akan merebut Alika darimu brengsek. Lihat saja!" Seru Danish bertekad.
**
**
Jam menunjukkan pukul 23:05, Alvino sampai di rumah. Dia di sambut oleh Alika yang ternyata memang sedang menunggunya.
"Eh kamu belum tidur sayang," Sapa Alvino
"Aku menunggumu mas, kamu dari mana?" Tanya Alika
"Ada sedikit masalah. Mobil kantor yang berangkat untuk pariwisata, kecelakaan. Jadi aku menyusul kesana. Tapi tenang, semua sudah beres. Syukurnya tidak ada yang terluka." Jawab Alvino dengan kebohongannya.
"Ya sudah ayo beristirahat sudah malam." Ucap Alvino mengajak Alika ke kamar. "Oh iya aku tidak memaksamu lagi untuk satu kamar denganku."
"Tidak mas, kita harus satu kamar. Karena kita sudah menikah. Aku akan melakukan kewajibanku kembali seperti dulu." Ucap Alika
Alvino tersenyum merekah, kemudian langsung menggendong Alika masuk ke dalam kamar. Alika cukup kaget dengan apa yang dilakukan Alvino. Selain itu ada yang aneh, Alika mencium bau parfum yang tidak asing di tubuh suaminya. Dia yakin bau ini bukan bau parfum yang biasa di pakai suaminya.
"Ini bukan bau parfum mas Alvino. Apakah dia sudah ganti parfum? Tapi ini bau khas parfum wanita dan sepertinya aku tidak asing. Ah, cukup Al. Sekarang kau harus fokus melayani suamimu." Ucap Alika dalam hatinya.