Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 29


Danish merasa mood makannya hilang. Dia ingin beranjak dari meja makan, karena saat ini Isabel ikut bergabung di sana.


"Mau kemana sih Danish, kau pergi karena kedatanganku ya," Ucap Isabel


"Sudah tahu pakai tanya," Ucap Danish dengan ketus. Danish pun pergi begitu saja. Dia memilih untuk pergi ke rumah Alika.


"Nak Isabel sebelumnya om minta maaf, anak om tidak mau dijodohkan denganmu. Jadi om harap kamu bisa mengerti." Ucap Papa Bima


"Iya om aku bisa mengerti kok, tapi akan aku buktikan kalau aku yang terbaik untuk Danish. Kalau begitu om, tante, Jenny aku permisi." Isabel pamit tak lama setelah Danish pergi.


Tentu saja Isabel langsung melihat Danish yang berada di seberang rumah. "Danish ngapain di sana? Setahuku rumah itu ditinggali pasutri yang punya anak kecil. Masa iya itu temannya Danish," Gumam Isabel sembari terus memperhatikan. Dan akhirnya dia terkejut setelah melihat Alika yang membukakan pintu untuk Danish.


"Wanita itu siapa? Itukah wanita yang bernama Alika?"


Danish pun menghilang masuk bersama Alika. Isabel yang penasaran langsung berniat mengintai dari luar. Namun sayang sekali, tidak ada celah untuknya. Entah Danish dan Alika sedang apa di dalam sana.


"Apa-apaan ini, bagaimana bisa mereka berdua di biarkan berduaan. Aku saja tidak bisa punya waktu berduaan dengan Danish." Isabel berdecak kesal.


"Hei nenek sihir, ngapain tuh di halaman rumah mbak Alika. Jangan-jangan kau mau berbuat jahat ya," Teriak Jenny yang baru saja keluar ingin mencari angin setelah makan malam.


"Kau itu anak kecil nggak sopan ya! Namaku Isabel, beraninya kau memanggilku nenek sihir." Isabel merasa tidak terima di panggil dengan sebutan nenek sihir.


"Oh astaga, yang begini mau jadi yang terbaik untuk kakakku. Cara bicaramu saja kasar sekali." Ucap Jenny seraya menyilangkan kedua tangannya di atas perut.


"Ya kau itu harusnya menghormatiku yang lebih tua. Awas saja ya kalau nanti aku resmi jadi kakak iparmu, habis kau!" Seru Isabel bernada ancaman.


"Ciih,, Kalau mimpi jangan ketinggian jatuhnya akan sakit. Dahlah aku malas meladenimu." Ucap Jenny yang akan kembali masuk ke dalam, namu baru beberapa langkah dia kembali lagi.


"Aku hanya ingin memberitahu lebih baik segeralah pulang. Di cuaca malam seperti ini dengan bajumu yang kurang bahan itu akan membuatmu sakit. Kau kan sudah tua jadi mungkin gampang sakit." Ucap Jenny dengan senyum yang lebar.


"Kau pikir aku orang jompo kau nasihati seperti itu, aku masih muda. Umurku juga tidak jauh darimu." Isabel naik pitam.


"Oh astaga jangan lah marah-marah kau bisa terkena struk nanti. Kau sendiri loh yang bilang sudah tua dan minta aku hormati. Ya sudah lah terserah kau saja. Selamat malam orang tua," Ucap Jenny sembari melambaikan tangan pada Isabel.


Isabel pun pergi dengan persaan kesal. Kesal karena tahu Danish bersama Alika dan juga kesal karena menghadapi Jenny.


"Jenny mana kakakmu?" Tanya Papa Bima pada putrinya yang baru saja masuk kedalam.


"Masih di rumah mbak Alika pah," Jawab Jenny yang kemudian duduk bersandar pada mamanya.


"Jadi mereka berduaan di sana? Aduh tidak boleh di biarkan, Danish tidak boleh sering-sering kesana. Lagipula Alika kan belum sah bercerai dari suaminya." Ucap Papa Bima


"Tapi aku yakin kak Danish nggak ngapa-ngapain kok pah, mereka cuma makan bareng di rumah mbak Alika. Palingan bentar lagi juga pulang." Ucap Jenny


"Iya pah tunggu saja, putra kita pasti tahu batasannya." Ucap Mama Vella


Tak lama kemudian Danish pun muncul dengan ekspresi semringahnya. Danish bersenandung terlihat moodnya sudah kembali membaik. Bahkan lebih baik dari tadi sebelum Isabel datang.


"Wah kumpul-kumpul ngobrolin apa nih," Danish langsung ikut duduk di bersama anggota keluarganya.


"Tentang kau dan mbak Alika." Jawab Jenny dengan jujur.


"Aku dan Alika, kenapa?" Tanya Danish,


"Tidak apa-apa, papa hanya ingin mengingatkan jangan terlalu dekat dahulu dengannya. Status Alika itu sekarang masih istri orang. Lagipula Alika sendirian kan di rumah itu, tidak baik kalian berduaan." Ucap Papa Bima


"Iya Danish apa yang di katakan papamu itu benar. Kasihan juga kan Alika kalau jadi omongan tetangga, gara-gara kamu kerumahnya setiap saat." timpal Mama Vella.


"Baiklah mah pah, aku akan menuruti apa kata kalian. Tapi setelah Alika sah bercerai jangan halangi aku untuk melamarnya." Ucap Danish,


"Iya mama dan papa tidak akan menghalangimu. Tapi untuk menikahinya tetap harus menunggu masa idahnya selesai." Ucap Mama Vella.


"Papa hanya berpesan jangan terlalu berharap dulu. Karena persidangan perceraian baru berjalan. Takutnya dia rujuk dengan suaminya. Dan kamu akan sakit hati lagi." Ucap Papa Bima


"Iya pah, tapi tidak akan terjadi." Ucap Danish dengan yakin. Dirinya sudah sangat berantusias untuk memperistri Alika. Dia sangat yakin perceraian Alika tak akan ada kendala, karena kedua belah pihak sudah sepakat.