Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 50


Sepanjang acara berlangsung, Danish terus memasang senyum palsunya. Pertunangan sudah di resmikan, namun kini hatinya malah bimbang. Tanggal pernikahannya sudah di tentukan, yaitu satu bulan dari sekarang. Danish bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia bisa menikahi wanita yang tidak di cintainya? Karena sejujurnya di dalam hatinya nama Alika masih menjadi penghuni setia. Padahal Alika sudah mengatainya sedemikian buruknya sampai melukai hatinya. Tapi entah mengapa hingga kini Danish tidak bisa menghapus ingatan tentang Alika apalagi membencinya.


Isabel memperhatikan Danish sedari tadi hanya diam saja. Dia merasa Danish mulai berubah pikiran. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Apapun caranya dia akan membuat Danish terikat padanya.


Saat acara sudah selesai, seluruh tamu juga keluarga Danish dan Isabel meninggalkan aula hotel tempat acara. Isabel tidak membiarkan Danish ikut pulang. Dia menahan Danish untuk menunggunya berganti pakaian dan melepas riasan rambutnya. Danish pun menuruti saja apa maunya Isabel. Dia sama sekali tidak berfikir aneh-aneh.


Mereka berdua menuju kamar yang tadi di tempati Isabel untuk berdandan. Begitu sampai di sana Isabel menutup pintu dan menguncinya. Sementara Danish dengan santai duduk di kursi sofa menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah.


"Sebentar ya sayang aku ganti baju dulu." Ucap Isabel sembari melangkah memasuki toilet.


Danish hanya mengangguk pelan. Merasa nyaman dengan sandaran sofa yang empuk, Danish memejamkan matanya. Hanya memejamkan mata, tidak tidur.


Beberapa menit kemudian Danish merasa ada sesuatu yang kenyal menempel pada lengannya. Dia juga merasakan desiran nafas yang begitu dekat. Secepat mungkin Danish membuka mata.


Danish terperanjat setelah membuka mata. Refleks dia langsung berdiri menjauh dari sofa yang tadi dia duduki. Dia juga langsung mengalihkan pandangannya ke samping.


"Isabel apa yang kau lakukan, pakai pakianmu sekarang juga!" Seru Danish memerintahkan Isabel untuk memakai pakaiannya.


Ya, saat ini tanpa rasa malu Isabel bertelanjang bulat tanpa sehelai benang pun di hadapan Danish. Tentu saja dia melakukan itu semua untuk memikat Danish.


Bukannya mengindahkan perintah Danish, Isabel malah maju dan langsung memeluk Danish. Dia mencoba membangkitkan gairah tunangannya itu.


Wanita yang pernah berprofesi menjadi penghibur lelaki hidung belang tentu sangat profesional melakukannya. Danish adalah pria normal dia cukup terpengaruh dengan hal yang di lakukan Isabel saat ini. Isabel meraih wajah Danish agar menghadap padanya. Setelah itu dia mencium bibirnya dengan mesra.


Merasa mendapat jalan terbuka, Isabel mulai ingin memegang benda berharga milik Danish yang sepertinya sudah mode on. Namun saat itu juga Danish mendorongnya hingga jatuh ke sofa. Setelah itu Danish kembali memalingkan pandangannya. Danish kembali teringat saat dia mencium bibir Alika.


"Ini tidak benar Isabel. Kau sudah kelewat batas." Ucap Danish


Isabel langsung kembali bangkit dan mencoba merayu-rayu Danish agar meniduri dirinya. Tentunya agar Danish terikat kuat dengannya.


"Kenapa sayang? Aku tahu kau menginginkannya. Jika bukan kau, adik kecilmu itu yang menginginkannya. Biarkan aku memuaskanmu." Ucap Isabel seraya mendesirkan nafasnya di tengkuk Danish.


Danish tetap menolak dan melangkah pergi meninggalkan kamar itu. Mereka masih bertunangan bukan menikah, bisa-bisanya Isabel melakukan hal itu.


"Aaargh! Sial! Harusnya tadi aku langsung membuka celananya saja." Umpat Isabel kesal rencananya gagal.


**


Danish marah pada Isabel. Bisa-bisanya dia melakukan itu semua. Padahal sejak awal Danish sudah menyampaikan prinsipnya jika tidak mau melakukan hal itu sebelum menikah. Tapi hari ini Isabel hampir merusak prinsipnya itu.


"Rasanya hampir seluruh sudut di muka bumi ini mengingatkanku pada Alika. Sudah cukup, Alika sudah berbahagia dengan suaminya. Lupakan dia." Ucap Danish.


Baru saja membicarakan tentang Alika. Danish baru menyadari jika di sebelahnya terparkir mobil yang ia yakini milik Alvino.


"Aku tidak salah. Ini mobil milik tukang selingkuh itu. Apakah itu artinya Alika ada sini. Jika itu benar lebih baik aku mencari minimarket lain."


Demi kewarasan hatinya, Danish mengurungkan diri mengunjungi minimarket itu. Tidak bertemu saja masih membuatnya susah melupakan. Bagaimana jika bertemu. Dia pasti akan terus terbayang-bayang wajah Alika.


Danish kembali memasuki mobilnya dan berniat langsung meninggalkan tempat. Namun sesuatu yang mengejutkan membuatnya tak jadi meninggalkan tempat. Di lihatnya Alvino keluar bersama Violla dari minimarket itu. Satu hal yang sangat mengejutkannya adalah, Violla tengah hamil besar. Tak mau bertanya-tanya sendiri, Danish keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri mereka.


Alvino yang melihat kedatangan Danish langsung tersenyum. Dia sudah tahu apa yang akan di tanyakan Danish padanya. Dia merangkul Violla dengan mesra.


"Hai pak Danish yang terhormat. Ternyata kau masih sehat wal afiat. Kukira kau sudah stress karena terobsesi pada mantan istriku." Ucap Alvino mencibir Danish.


"Apa maksudmu mantan istri?" Tanya Danish sedikit bingung.


"Seperti yang kau lihat saat ini. Aku dan Violla sudah resmi menikah sudah sekitar setengah tahun. Tepatnya sehari setelah perceraianku dengan Alika." Jawab Alvino


Mendengar itu Danish langsung melayangkan bogeman panas ke pipi Alvino. Terkena satu pukulan saja Alvino sudah oleng. Violla langsung menjerit melihat suaminya di pukul.


Tidak berhenti sampai di sana, setelahnya Danish mencengkram kerah baju yang di kenakan Alvino. Sampai membuat leher Alvino merasa tercekik.


"Hei hentikan, apa yang kau lakukan pada suamiku!" Bentak Violla namun sama sekali tidak membuat Danish menghentikan aksinya.


"Laki-laki brengsek! Kenapa dulu kau tidak membiarkan Alika bersamaku jika sekarang dia hanya kau sakiti saja!" Ucap Danish penuh amarah. Ototnya seakan keluar semua dari kulit yang menyelimutinya.


Alvino malah tertawa keras mendengar perkataan Danish. "Itu bukan salahku. Kau saja yang bodoh." Ucap Alvino menghina Danish.


Satu pukulan lagi di layangkan oleh Danish. Melengkapi memar di pipi kanan kiri Alvino. Violla langsung mencoba melindungi suaminya. Dia menghadapi Danish.


"Kau jangan menyakiti suamiku. Seharusnya kau senang sekarang Alika sudah janda. Kau bebas memilikinya karena kita sudah tidak membutuhkannya." Ucap Violla yang kemudian menarik suaminya pergi dari sana sebelum terjadi perkelahian lagi.


Danish menghela nafas kasar. Emosinya naik mendengar perkataan Violla. Pasangan suami istri yang tidak punya hati itu menganggap Alika seperti barang yang bisa di buang saat tidak dibutuhkan.


Danish yang tadinya tidak ingin bertemu Alika, kini malah ingin mencarinya. Tapi dia tidak tahu harus mencari kemana. Mungkinkah Alika pulang ke bandung atau masih di Jakarta.


"Aku akan mencari keberadaanmu Al." Ucap Danish bertekad.