Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 60


Kata orang ujian menjelang pernikahan itu ada saja. Mulai dari pertengkaran kecil hingga jadi membesar. Hal itu di alami oleh Alika dan Danish. Saat ini mereka tengah bersitegang hanya karena sebuah desain undangan.


Danish tidak menyukai desain undangan pernikahannya yang sudah terlanjur di cetak. Dia ingin menggantinya saja, namun Alika berpendapat jika itu sudah bagus dan tidak perlu di ganti. Karena tentunya akan buang-buang uang saja.


Ya namanya Danish, dia tidak peduli dengan berapa uang yang akan dia keluarkan asal dia merasa puas. Kemudian Alika menilai hal yang dilakukannya itu sebuah pemborosan. Namun Danish tidak mau mendengarkannya dan tetap akan memesan undangan baru.


"Aku akan tetap memesan undangan baru." Ucap Danish bersikukuh dengan keputusannya.


"Lalu undangan yang sudah jadi ini mau di buat apa?" Tanya Alika mulai mendebat Danish.


"Ya di buang." Jawab Danish simpel namun membuat Alika geram.


"Tidak, gunakan ini saja. Ini bagus loh, perhatikan dulu dengan seksama." Ucap Alika sembari menunjukkan satu undangan di depan mata Danish



Danish menatap undangan itu dengan raut wajah ditekuk. Kemudian dia menggelengkan kepalanya. Dia tetap tidak mau menggunakan undangan itu.


Alika menghembuskan nafas panjang. Dia ingin tahu apa alasan Danish tidak mau memakai undangan yang terlanjur jadi itu.


"Memangnya apa yang salah dari undangan ini?" Tanya Alika merasa heran.


"Kau lihat itu animasi mempelai prianya. Dia tidak mirip denganku. Apa itu bulat berkumis tebal." Jawab Danish dengan raut wajah kesal.


Alika langsung menatap dengan seksama gambar di undangan itu. Yang terjadi selanjutnya adalah, dia tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Danish.


"Aku jadi membayangkan saja jika suatu saat nanti pipimu bulat dan berkumis tebal seperti ini." Jawab Alika seraya tertawa renyah.


Hal itu semakin membuat Danish kesal. Dia membuang muka seperti anak kecil. Lalu Alika mendekatinya dan mulai menggelitikinya. Pada akhirnya Danish tertawa dan membalas gelitikan calon istrinya itu.


Namun kini posisi terbalik, Alika yang kewalahan di serang oleh Andreas sampai meminta ampun.


"Udah udah, ahaha.. Geli."


Danish menghentikannya dan kini posisinya berada di atas tubuh Alika. Mereka saling bertatapan mata. Bukan Danish namanya jika dalam jarak sedekat itu tidak terdoga untuk mencium bibir Alika.


Kebetulan kondisi rumah sedang sepi. Tidak ada siapapun selain dia dan Alika. Orang tua Danish sedang menghadiri sebuah acara. Sementara Jenny belum pulang dari kampus.


Ciuman itu tak berlangsung lama karena Alika mendorong tubuh Danish. Dia merasa keberatan di tindih oleh Danish seperti itu. Alika pun langsung duduk setelah berhasil mendorong Danish.


"Kau.." Baru ingin bicara, Danish sudah kembali menyambar bibirnya. Alika ingin berontak tapi akhirnya dia menikmati permainan lincah kekasihnya itu.


.


.


CIIIT..


"Maaf nona saya tidak sengaja." Ucap Felix. Dia menginjak rem secara kasar sampai membuat Jenny melonjak kaget.


"Kau ini ya memang suka sekali membuatku kesal. Hari ini kau sudah membuatku kesal dua kali." Ucap Jenny dengan penuh emosi. Dia kesal karena gara-gara Felix dia tidak mendapatkan sepatu limited edition di Brand favoritnya.


Tadi Jenny sebenarnya datang lebih dulu ke toko sepatu itu. Namun terjadi insiden berebut antara dia dan pelanggan yang datang beberapa detik setelahnya. Felix melerai pertikaian mereka dan memegangi Jenny agar tidak brutal. Di saat itu lah sepatu limited edition itu berhasil di rebut pelanggan lain.


Jenny tidak akan melupakan kejadian itu. Kali ini dia benar-benar kesal dengan Felix. Dia turun dari mobil dan langsung melangkah masuk seraya terus menggerutu, meluapkan kekesalannya. Sementara Felix juga tidak tinggal diam. Dia mengejar Jenny seraya terus meminta maaf. Tapi Jenny tetap terus melangkah tak mau mendengarkan Felix.


Jenny berjalan seraya melihat ponselnya. Tiba-tiba saja Felix menarik tangannya dan membuatnya berada dalam dekapannya.


"Felix, apa yang kau lakukan!" Pekik Jenny dengan suara yang tertahan. Karena saat ini dia benar-benar di dekap oleh Felix. "Lepasin!" pinta Jenny dengan kesal. Namun Felix malah membawanya kembali kedepan dengan tetap mendekapnya.


Bukan tanpa alasan Felix melakukan hal itu. Dia melakukan itu agar Jenny tidak melihat adegan panas yang sedang dilakukan oleh sang kakak.


Danish memang sedang terbawa suasana hingga tidak perduli dia sedang ada di ruang tengah, bukan di kamar. Tangannya sungguh tidak bisa hanya diam saja. Tangannya mulai menjelajahi bukit milik Alika.


"Mas stop! Jangan dulu, kita belum sah." Ucap Alika menyadarkan Danish yang ingin melepaskan kancing bajunya.


"Upss, sorry sayang." Ucap Danish yang langsung menghentikan aktivitasnya.


Alika merapikan rambutnya kembali. Kemudian dia tertawa melihat Danish, karena lipstik yang di pakainya pindah ke bibir Danish.


"Ini akibat suka nyosor tanpa izin. Eh tapi kau cantik." Ucap Alika seraya memegang wajah Danish dengan kedua tangannya. Kemudian dia mengambil tisu dan mengusap bibir Danish.


"Aku lebih suka jika kau membersihkan ini dengan bibirmu." Ucap Danish dengan tatapan nakal. Sehingga cubitan keras mendarat di lengannya.


"Aw, sakit sayang." Pekik Danish namun Alika malah tersenyum puas.


Lalu terdengar suara keributan. Suara nyaring itu sangat di kenali oleh Danish dan juga Alika. Danish sudah tidak terkejut lagi saat mendengar adiknya berteriak melakukan perdebatan. Karena pastinya itu di lakukannya dengan Felix. Danish tidak pernah membela siapa-siapa untuk perdebatan yang sering terjadi itu. Karena dia sudah hafal pasti itu hanya karena sebuah masalah kecil.


Belum sampai di lerai oleh Danish, perdebatan itu sudah selesai. Jenny berlari kecil naik ke tangga menuju ke kamarnya. Terlihat ekspresi kesal di wajahnya. Danish pun menyuruh Felix untuk membiarkannya saja.


...****************...


Jelang pernikahan, Danish dan Alika pun di pingit. Mereka di larang untuk bertemu dulu. Karena besok adalah hari H pernikahan. Alika dan Paman, Bibinya tidak lagi tinggal di rumah kontrakan. Mereka menempati paviliun rumah Arka. Keluarga Alfahrezi sudah menganggap Bibi Halimah dan pama Arya sebagai keluarga. Jadi selama sebelum hari H acara, mereka di beri tempat tinggal di sana. Nanti setelah acara mereka akan diantarkan kembali ke Bandung.


Sementara di rumahnya, Danish merasa sudah sangat merindukan Alika. Sudah tiga hari ini dia tidak melihat calon istrinya itu. Mereka masih berkomunikasi lewat chatting. Namun yang Danish inginkan itu bertemu atau sekedar melihat wajah cantik Alika.


"Dooor." Teriak Miko ingin mengagetkan Danish yang sedang melamun, namu ternyata sepupunya itu sama sekali tidak kaget.


"Aku sedang tidak mood. Jangan menggangguku." Ucap Danish tanpa menatap wajah Miko.


"Lupakan ketidak mood anmu itu kak. Lebih baik kau baca buku ini. Aku tahu kau playboy kelas kakap. Tapi aku yakin wawasanmu belum luas. Jadi baca lah itu." Ucap Miko seraya memberikan buku yang di bawanya ke tangan Danish. Setelah itu dia langsung pergi.


Danish menautkan kedua alisnya. Buku yang di berikan oleh Miko berjudul panduan malam pertama.


"Tanpa membaca buku ini pun, aku bisa melakukannya." Gumam Danish.