
"Violla tunggu aku," Alvino mengejar sampai ke luar halaman pengadilan agama. Dia menggenggam tangan Violla untuk mencegah wanita itu menghentikan taksi.
"Please lah jangan seperti ini. Kita itu sudah akan menikah. Maaf jika tadi aku salah berbicara seperti itu pada Alika." Ucap Alvino
"Kamu itu bikin aku kesal tau nggak, Udah pria itu tadi bikin kesal ditambah sama kamu juga jadi doble kesal." Ucap Violla menggebu.
"Danish maksud kamu?"
"Iya, pria sok kegantengan itu. Tadi itu dia muji-muji aku katanya aku cantik terus masuk kriteria wanita idaman. tapi ternyata yang dimaksud itu idaman pria yang matanya rabun bukan idamannya."
"Oh jadi seumpama dia mau sama kamu, kamu juga bakalan mau gitu?" Tanya Alvino dengan tatapan tajam. Dia juga melepaskan tangan Violla yang semula ia genggam.
"Emm bukan begitu juga sayang. Aku cuma kesal aja dikatain seperti itu. Ya sudah ayo kita pulang saja." Violla langsung merangkul tangan Alvino untuk membuatnya tenang. Bisa gawat jika Alvino marah padanya. Impiannya menjadi istri pewaris tunggal keluarga Abraham akan kandas.
**
Seorang wanita berambut pirang berpakaian minim berdiri di depan rumah Alvino. Melihat wanita itu sektika Violla menunjukkan ekspresi kepanikan.
"Kamu kenal siapa wanita itu?" Tanya Alvino pada kekasihnya. Saat ini mereka masih berada di dalam mobil.
"Ehmm,, dia teman kerjaku dulu." Jawab Violla
"Teman kerja di majalah dewasa? Kamu kan sudah tidak bekerja disana semenjak kita resmi berpacaran dulu. Apa setelah kita berpisah kamu kembali bekerja disana? Di luar negeri itu kamu kerja begituan lagi?" Alvino langsung mencecar Violla dengan segelintir pertanyaan.
"Tidak kok, aku tidak lagi bekerja seperti itu sayang. Aku juga nggak tahu ngapain Devi kemari. Lagipula aku nggak pernah kontekan lagi sama dia. Aneh sih kalau dia sampai tahu alamat rumah ini." Jawab Violla yang setengahnya berbohong.
Dia jujur dengan tidak memberi alamat pada Devi temannya itu. Tapi dia berbohong tentang pekerjaan. Selama ini dirinya tidak pernah berhenti menjadi model majalah dewasa. Malahan pekerjaannya lebih parah ketika berpisah dari Alvino. Dia bukan hanya menjual foto tubuhnya, tapi juga melayani pria-pria kaya secara langsung.
Ketika sudah turun dari mobil, Alvino masuk kedalam rumah. Dia tidak mau tahu urusan Violla dengan temannya itu. Saat melihat Alvino sudah masuk kedalam, Violla pun langsung bertanya maksud kedatangan Devi.
"Kenapa kau kemari? Dan bagaimana bisa kau tahu alamat ini."
"Sangat mudah sekali menemukan keberadaanmu baby. Kedatanganku kemari atas suruhan tuan Boy." Ucap Devi
"Ada apa lagi sih, aku kan sudah bilang sama tuan Boy kalau aku mengundurkan diri. Sampaikan padanya kalau bulan depan aku akan melunasi seluruh hutangku." Ucap Violla
"Aku rasa tuan Boy tidak menerima pengunduran dirimu. Tuan Boy berkata besok kau harus datang ke hotel aruna jam empat sore. Klien besar dari Singapura menunggumu disana." Ucap Devi
"What? Pria berambut putih itu lagi, dia yang sudah mengambil mahkotaku pertama kali. Kenapa harus aku lagi sih," Ucap Violla merasa sedikit syok jika mengingat satu tahun yang lalu. Dimana dia pertama kali menjual diri. Pria kaya yang menyewa dirinya itu bermain dengan sangat kasar. Membuatnya enggan melayaninya kembali.
"Katakan pada tuan Boy, aku tidak mau. Aku sudah akan menikah. Kau saja yang menggantikanku." Tegas Violla
"Yah kalau saja bisa aku mau menggantikanmu. Karena bayaran pasti besar. Tapi sayangnya tuan Boy berkata klien itu hanya mau denganmu. Kau tahu kan kalau menolak apa yang akan dilakukan tuan Boy padamu, lebih baik nurut saja lah." Ucap Devi
"Arrg,, baiklah kalau begitu aku mau." Ucap Violla dengan setengah hati.
"Kamu mau apa violla?" Tanya Alvino mengejutkan Violla. Dengan tiba-tiba pria itu sudah berdiri tak jauh darinya.
"Aaa sayang sejak kapan kamu disitu?" Violla langsung berkeringat dingin, takut Alvino mendengar semuanya.
"Barusan kok, kenapa jadi tegang gitu? Itu tadi maksudnya mau, kamu mau apa?" Jawab Alvino yang kemudian balik bertanya lagi.
"Emm,, mau maafin maksudnya. Jadi Devi kemari itu mau minta maaf karena kita sempat ada perselisihan dulu. Iya kan Dev,"
"Iya iya kedatanganku kemari untuk meminta maaf. Kalau begitu aku pamit ya daah."
Devi buru-buru pergi karena sudah di kode oleh Violla. Violla tak mau sampai Alvino mencecar Devi dengan banyak pertanyaan. Gawat kalau sampai terbongkar semuanya.
"Ya sudah yuk masuk." Ajak Alvino, Violla bernafas lega karena kekasihnya tidak mendengar obrolannya dengan Devi.
🌺🌺🌺🌺
Masih dalam perjalanan pulang, Alika teringat jika dirumah dia belum punya bahan makanan.
"Mas boleh tidak jika kita mampir belanja dulu, dirumah tidak ada bahan makanan apapun soalnya. Rasanya lebih hemat jika masak sendiri." Ucap Alika karena memang dari kemarin dia hanya memesan makanan online.
"Tentu saja boleh, kau ingin berbelanja dimana?" Tanya Danish yang dengan senang hati akan mengantar Alika kemanapun.
"Di pasar aja gimana mas, kan ada semuanya tuh. Mulai sayur dan lain-lainnya. Di supermarket juga ada tapi mahal." Ucap Alika
"Oke, kita cari pasar yang dekat dari sini."
Akhirnya mereka berhenti di sebuah pasar tradisional. Baru berada diluar pasarnya saja, Danish sudah mencium bau tidak sedap. Tapi dia menahannya. Dia mencoba tetap cool di depan Alika.
Kondisi pasar cukup becek, karena memang baru saja diguyur hujan. Alika melihat kearah Danish yang terlihat sekali baru pertama kali ke pasar. Ekspresi jijiknya sangat kentara.
"Mas Danish mungkin mau menunggu disini saja, tidak apa-apa kok kalau saya masuk sendirian." Ucap Alika
"Tidak Al aku ikut masuk. Aku akan menemanimu belanja. Ayo," Akhirnya sepatu puluhan juta Danish menginjak tanah pasar yang becek itu. Tapi dia tidak perduli. Yang terpenting sekarang adalah menemani wanita pujaan hatinya.
"Nggak apa-apa, ini tuh sebagai pemanasan. Aku harus ada dimanapun Alika berada, termasuk di pasar ini." Batin Danish menyemangati dirinya sendiri.
Dua puluh menit mereka habiskan di dalam pasar itu. Akhirnya selesai juga sesi belanja di pasar. Mereka pun kembali menuju mobil. Tentu semua tas plastik berisi sayur, buah, ikan dan lainnya dibawa oleh Danish. Pria itu tidak membiarkan wanitanya keberatan sedikitpun.
"Mudah sekali kan, hanya menemani begini saja. Tidak terlalu buruk." Ucap Danish dalam hati.