
Alika sudah bersiap ke kantor, dia keluar dari dalam rumahnya hendak menunggu Danish keluar dari rumahnya. Karena mereka selalu berangkat bersama. Tapi hal mengejutkan dilihatnya. Ada polisi di rumah Danish. Dia pun langsung bergegas kesana.
Hal lebih mengejutkan di lihatnya, Danish lah yang di tangkap oleh polisi tersebut.
"Loh ada apa ini? Kenapa mas Danish di tangkap polisi?" Tanya Alika melihat Danish di giring ke dalam mobil polisi.
"Nggak papa kok Al, kau tenang saja. Aku akan segera kembali pulang." Ucap Danish
Danish bersikap koperatif. Dia dengan tenang mengikuti perintah polisi yang menangkapnya. Dia pun di bawa dengan mobil polisi.
Vella sebagai ibu Danish pun menangis melihat putra tersayangnya di tangkap polisi. Jenny langsung memeluk mamanya yang terlihat sangat sedih dan khawatir. Sementara Bima langsung menyusul dengan mengendarai mobilnya.
Alika masih bingung dengan apa yang terjadi. Kemudian dia teringat tentang kejadian semalam.
"Apakah yang melaporkan mas Danish itu mas Alvino?" Tanya Alika pada Jenny
"Iya mbak," Jawab Jenny
"Bagaimana jika kakakmu benar-benar di penjara Jenny, kasihan dia." Ucap Vella dengan air mata mengalir deras dari matanya.
"Sudah tenang mah, kak Danish tidak akan di penjara. Papa pasti akan mengurusnya." Ucap Jenny menenangkan mamanya.
"Mbak Alika aku bawa mama masuk dulu," Pamit Jenny, akhirnya Alika di tinggalkan sendirian di luar.
Alika langsung mengambil ponselnya di dalam tas. Dia menelefon Alvino. Namun panggilan darinya tidak di jawab.
"Ini semua salahku, ya aku harus menyusul mas Danish ke kantor polisi. Aku tidak bisa diam saja di sini. Aku harus membantu mas Danish." Ucap Alika
**
Di kantor polisi Danish di interogasi oleh polisi. Dia terus saja membela diri dan menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Pak saya hanya menolong teman saya yang akan di lecehkan oleh Alvino."
"Dengan istriku sendiri apa itu bisa di sebut pelecehan pak?" Sahut Alvino yang tiba-tiba sudah ada di sana.
Danish juga papanya langsung menoleh ke belakang. Terlihat sekali ekspresi wajah Alvino yang sangat bahagia merasa menang. Meski wajahnya penuh luka. Tapi itu menguntungkan baginya. Karena bisa menjebloskan orang yang mengganggunya untuk kembali dengan Alika.
Ada satu hal yang sedikit membuat Danish bingung. Kemarin dia hanya menyerang wajah dan area perut Alvino. Tapi kenapa sekarang tangannya di pasang gips seperti orang patah tulang.
Alvino sangat sadar akan kebingungan Danish melihat keadaannya. Dia malah tersenyum tipis pada Danish. Tangannya sebenarnya tidak patah tulang. Alvino sengaja bersandiwara seperti itu untuk memperkuat laporannya. Tentunya lebih memberatkan hukuman Danish.
"Pak polisi saya membawa bukti visum." Ucap Alvino, dia melewati Danish begitu saja untuk memberikan berkas dari rumah sakit kepada polisi.
"Oh ya saya ulangi pertanyaan saya lagi, memangnya jika suami istri berada dalam satu kamar itu salah pak? Trus saya juga salah begitu ketika ingin bermesraan dengan istri saya?" Alvino mengulangi pertanyaannya untuk memojokkan Danish.
"Tidak salah pak." Jawab Polisi
"Nah pria ini memukuliku sampai seperti ini karena dia cemburu melihat saya berduaan dengan istri saya sendiri pak. Saya minta penjarakan dia pak. Karena dia mengganggu keharmonisan rumah tangga saya." Ucap Alvino terus memojokkan Danish.
"Aku memukulmu karena Alika tidak sudi kau sentuh! Kalian itu dalam proses bercerai." Ucap Danish melawan Alvino.
Alvino malah tertawa kecil melihat Danish menatap tajam dirinya. "Kau itu tidak tahu apa-apa, aku dan Alika akan kembali rujuk. Sudahlah jangan terlalu berharap ingin memiliki istriku."
Danish murka mendengar perkataan Alvino. Ditambah melihat ekspresi Alvino yang seakan mengejeknya itu, membuatnya kembali ingin melayangkan bogeman di wajah Alvino. Namun sebelum itu terjadi Papa Bima mencegahnya.
"Tapi pah aku tidak salah dalam kasus ini. Aku hanya menolong Alika dari jeratan pria brengsek ini." Ucap Danish
"Sudah cukup Danish. Sekarang yang terpenting adalah membebaskanmu dari tuntutan ini." Ucap Papa Bima
Alvino tersenyum penuh kemenangan. Dengan di penjaranya Danish, tidak akan ada lagi orang yang menghalangi dirinya kembali dengan Alika. Dia tidak akan mencabut tuntutan sebelum resmi rujuk dengan Alika.
Arka datang ke kantor polisi setelah mendapat kabar dari Jenny. Dia langsung memberikan kesaksian tentang kejadian semalam. Namun tetap saja itu tidak bisa meringankan ataupun membebaskan Danish. Meskipun niatnya untuk menolong Alika, Danish telah membuat Alvino terluka parah. Apalagi Alvino dan Alika itu sepasang suami istri. Jadi di polisi lebih percaya perkataan Alvino dengan bukti-bukti yang di bawanya.
"Baiklah, urusanku di sini sudah selesai. Terima kasih pak polisi atas bantuannya. Untukmu Danish, selamat menikmati hidup baru di penjara." Ucap Alvino dengan tatapan yang mengejek. Kemudian dia pergi meninggalkan kantor polisi.
"Pak jangan penjarakan putra saya. Saya akan membayar jaminannya berapapun itu." Ucap Papa Bima
"Mohon maaf pak, tidak bisa."
"Sudahlah pah, tidak apa-apa. Aku tidak bersalah. Aku pasti akan segera bebas. Arka, kau bisa membantuku kan?"
"Iya Danish, aku akan membantumu. Aku akan mengumpulkan bukti jika kau tidak bersalah." Ucap Arka
"Terima kasih, oh ya aku titip Alika juga." Ucap Danish sebelum di bawa ke sel.
Bima merasa jengah mendengar perkataan putranya. Masalah ini di akibatkan karena Danish mencampuri urusan Alika. Tapi saat sudah di penjara pun, hanya Alika yang di pikirkan Danish.
...****************...
Dalam perjalanan menuju kantor polisi, Alika berpapasan dengan mobil Alvino. Dia pun menyuruh sopir taksi untuk putar balik. Dia juga meminta menyalip mobil yang di tumpangi Alvino untuk menghentikanya.
Citttt....
Sopir Alvino mengerem mendadak akibat taksi yang berhenti tiba-tiba seakan menghadang mobilnya. Alvino membawa sopir untuk memunjang aktingnya yang sedang patah tulang lengan. Awalnya Alvino ingin marah. Tapi melihat siapa yang turun dari taksi, langsung terukir senyum di bibirnya. Dia pun bergegas turun dari mobilnya.
"Hai istriku, kenapa sih berhentiin mendadak begini? Kan bisa tuh kita ketemu di rumah saja." Ucap Alvino basa-basi
"Sudahlah mas, jangan berbasa-basi. Cabut tuntutanmu kepada mas Danish. Dia itu tidak salah. Jangan bawa-bawa dia dalam masalah kita." Seru Alika yang langsung emosi.
"Aahaha,, Segitunya banget kamu membelanya. Kamu tidak lihat luka di wajah dan juga tanganku ini? Aku melaporkannya karena dia menyerangku seperti ini." Tegas Alvino
"Iya tapi itu juga karena salahmu mas. Kemarin kamu juga kasar denganku." Ucap Alika
"Untuk kemarin aku minta maaf, aku benar-benar ingin kembali bersamamu Alika. Seandainya kamu mengiyakan dan tidak menolak, ini semua tidak akan terjadi." Ucap Alvino yang berubah manis dengan tatapan teduh. Dia menggenggam tangan Alika.
"Aku sudah memaafkanmu mas. Tapi kita tidak bisa rujuk. Dan aku mohon bebas mas Danish." Ucap Alika dengan lembut.
Alvino langsung melepas genggaman tangannya pada Alika. Mana mungkin dia membebaskan Danish begitu saja.
"Ya, aku akan membebaskannya. Saat kita sudah resmi rujuk kembali. Jika kamu menolak, pria sok cool itu akan tetap mendekam di penjara." Tegas Alvino dengan senyum licik yang terlukis di bibirnya.
Alika terdiam dengan tatapan kebingungan. Ternyata suaminya memanfaatkan masalah ini agar bisa kembali rujuk dengannya.
"Aku tidak mau mas. Aku akan pergi sendiri ke kantor polisi. Aku akan bersaksi jika mas Danish tidak bersalah. Kamu lah yang memulai ini semua. Dan kamu juga sudah berlaku keras padaku semalam. Aku akan membebaskan mas Danish." Ucap Alika dengan berani.
"Baiklah terserah kamu saja. Kamu tidak punya bukti apa-apa tentang kejadian semalam. Polisi tidak akan percaya pada kesaksianmu. Karena aku sudah berbicara lebih dahulu. Lakukan saja apa yang kamu mau, kupastikan pria sok cool itu tidak bisa bebas dengan mudah." Ucap Alvino dengan senyum penuh kemenangan. Sementara Alika hanya bisa terdiam. Tak percaya jika suaminya bisa selicik ini.