
Hari ini sidang pertama perceraian Alika. Tentu saja Danish senantiasa menemani wanita pujaan hatinya itu. Baru kali ini Danish benar-benar takhluk dengan seorang wanita. Dia akan melakukan apapun untuk wanita yang dicintainya itu.
Danish menunggu diluar ruang persidangan. Disana dia tidak sendiri, karena ada Violla yang juga ikut menemani Alvino.
Sedari tadi Violla tidak mengalihkan pandangannya dari Danish. Violla menilai seluruh pakaian dan accesoris yang dikenakan oleh Danish.
"Pria ini kelihatannya lebih kaya dari Alvino. Bagaimana bisa wanita kampungan itu dapetin temen pria setajir ini? Mobilnya saja lebih bagus dari milik Alvino." Ucap Violla yang tentunya di dalam hati.
"Kenapa kau melihatku terus, naksir? Ya aku memang tampan. Banyak wanita yang tergila-gila padaku." Ucap Danish tanpa mengalihkan padangan dari ponselnya. Beberapa detik kemudian dia menyimpan ponselnya dan menatap intens kearah Violla.
"Sebenarnya kau itu lumayan, masuklah sebagai wanita idaman." Ucap Danish yang ditangkap sebagai pujian oleh Violla. Tentu saja Violla langsung besar kepala. Dia memegangi rambutnya sendiri seraya tersenyum kearah Danish.
"Apa aku tidak salah dengar? Kalau memang pria ini tertarik denganku, aku tidak akan menolaknya. Secara dia lebih kaya dan lebih segalanya dari Alvino. Aku harus terlihat anggun dan cantik." Ucap Violla yang sudah melayang mendapat kata pujian dari Danish.
"Kau jangan salah paham dulu," Ucap Danish seraya tertawa kecil. Hal itu tentu membuat Violla bingung. "Maksudku itu idaman pria tua yang matanya sudah mulai rabun."
Violla langsung membulatkan pandangannya pada Danish. Wanita itu merasa tidak terima dengan penilaian Danish tentangnya.
"Kau pikir aku akan tertarik dengan wanita murahan sepertimu, tidak akan pernah." Ucap Danish dengan tegas.
Violla ingin membalas perkataan Danish. Tapi belum sempat ia berbicara, Danish sudah melangkah pergi begitu saja. Ternyata Alvino dan Alika sudah keluar dari ruang persidangan.
Persidangan pertama ini berjalan dengan lancar. Antara Alvino dan Alika sama-sama mantap untuk bercerai.
"Maaf ya mas sudah menunggu lama." Ucap Alika merasa tidak enak pada Danish.
"Tidak apa-apa. Bagaimana persidangannya lancar kan?"
"Alhamdulilah berjalan lancar mas. Urusan hari ini sudah selesai. Tinggal menunggu persidangan kedua."
"Baiklah mari kita pulang, disini ada energi negatif." Ucap Danish sembari menggandeng tangan Alika. Mereka berdua pun melangkah pergi dari sana.
"Hei kalian berdua tunggu," Ucap Alvino menghentikan langkah Danish dan Alika. "Bisa-bisanya ya kamu menggandeng tangan istri saya. Dan kamu Alika, kita belum resmi bercerai kamu sudah berani bermesraan dengan pria lain." Ucap Alvino, tiba-tiba saja hatinya merasakan kecemburuan.
Danish ingin langsung menjawab perkataan Alvino itu. Tapi Alika mencegahnya. Alika malah mengajak Danish untuk segera pergi dari sana, tidak perlu meladeni Alvino.
Setelah kepergian Alika dan Danish, dimulailah adu mulut antara Violla dan Alvino. Violla sudah dibuat kesal oleh Danish kini ditambah Alvino yang membuatnya lebih kesal.
"Kamu cemburu melihat mereka bersama?" Tanya Violla dengan sinis.
"Pertanyaan macam apa itu, Buat apa aku cemburu." Jawab Alvino dengan wajah yang sangat terlihat masih kesal.
Violla tersenyum kaku menatap kekasihnya itu. "Tidak usah berbohong. Dari ekspresimu saja sudah terlihat."
"Terlihat apa sih, sudahlah jangan memancing emosiku." Ucap Alvino dengan nada tinggi.
"Lihat saja ini, nada bicaramu berubah drastis seperti ini. Jangan-jangan benar kamu sudah mencintai Alika." Ucap Violla mengintimidasi.
"Apa sih sayang, kalau aku mencintainya mana mungkin aku menceraikannya." Ucap Alvino mencoba kembali meyakinkan Violla. Namun wanita yang sudah terlanjur kesal itu malah pergi begitu saja. Alvino pun segera menyusulnya.
🌺🌺
Mobil sedan hitam pekat berhenti di halaman sebuah kafe. Tidak lain tidak bukan itu adalah mobil yang ditumpangi Danish dan Alika.
"Al kamu beneran tidak keberatan kita mampir kesini dulu?" Tanya Danish
"Kalau begitu ayo aku carikan tempat duduk untukmu." Ucap Danish.
Mereka masuk ke dalam kafe itu. Danish mencarikan tempat duduk yang nyaman untuk Alika. Tentunya tidak jauh dari ruang vip tempat duduknya bersama klien nanti.
"Al kau boleh pesan apapun yang ada disini. Aku yang akan menraktirmu. Aku kesana dulu, tunggu aku disini ya." Ucap Danish
"Iya mas, terima kasih." Balas Alika
Namun baru beberapa langkah Danish pergi, Alika kembali memanggil. "Mas Danish tunggu,"
"Iya ada apa Al?" Tanya Danish yang langsung menoleh.
"Semangat kerjanya pak CEO." Ucap Alika seraya tersenyum manis.
"Pasti Al," Balas Danish dengan senyum manis juga.
Danish berjalan ke ruangan vip dengan wajah semringah. Dia semangat 1000 persen untuk melakukan meeting dengan klien hari ini.
Alika menikmati eskrim coklat yang dia pesan. Sesekali dia juga melihat kearah Danish yang terlihat sedang serius berbincang dengan klien.
"Tampan dan berkharisma." Gumam Alika yang tanpa sadar memuji Danish.
"Hai cantik, sendirian aja. Aku temenin ya," Ucap pria yang tiba-tiba saja menghampiri Alika. Pria itu langsung duduk saja di kursi yang berhadapan dengan Alika.
"Maaf mas saya kan belum mengizinkan, kenapa main duduk saja. Saya juga tidak mengenal siapa anda." Ucap Alika
"Kalau begitu mari berkenalan," Ucap pria itu sembari mengulurkan tangan pada Alika.
"Berkenalan saja denganku, aku pacarnya." Ucap Danish yang datang tepat waktu. Meetingnya sudah selesai.
"Danish, oh ternyata kau." Ucap pria yang tertanya mengenal Danish. Begitu pula sebaliknya.
"Ya ini aku. Ayo Al kita pergi dari sini." Ucap Danish mengajak Alika pergi.
"Hei kenapa buru-buru sih? Oh iya by the way ini pacarmu yang ke berapa?" Tanya pria yang bernama Sean. Pria ini bukan teman Danish. Tapi dia sangat mengenal Danish.
"Hei nona, berhati-hatilah dengan pacarmu itu. Dia itu lebih buas dari buaya." Teriak Sean, karena Danish sama sekali tidak menghiraukannya. Danish terus menggandeng Alika untuk pergi dari sana.
***
"Mas itu tadi temennya ya?" Tanya Alika ketika sudah di dalam mobil.
"Tidak bisa disebut teman. Tapi bukan musuh juga." Jawab Danish
"Lalu kenapa mas Danish seperti menghindarinya?" Tanya Alika lagi,
"Karena dia itu bukan pria baik-baik. Aku tidak mau kau menjadi incarannya. Dan yang paling penting aku tidak mau kalau sampai dia mempengaruhimu tentangku." Jawab Danish dengan serius.
"Saya tidak mudah dipengaruhi mas. Apalagi itu tentangmu yang sudah sangat baik kepada saya." Ucap Alika dengan senyum khasnya yang selalu membuat hati Danish bergetar.
"Al setiap kau tersenyum rasanya ingin sekali kukecup bibirmu yang indah itu. Tapi itu sangat pantang kulakukan, karena kau belum menjadi milikku sepenuhnya." Gumam Danish di dalam benaknya.