Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 58


Danish berjalan santai melewati koridor rumah sakit. Dia akan menyusul Alika yang sudah lebih dulu masuk ke kamar mama Vella. Dari kejauhan Danish seperti melihat seseorang tergeletak. Saat sadar itu adalah mamanya, Danish secepat mungkin berlari.


"Astaga mama. Mama kenapa?" Danish sangat panik.


Kemudian dari arah belakang Jenny datang juga langsung kaget melihat mamanya pingsan di sana.


"Loh kak Mama kenapa ini, eh infus mama lepas." Ucap Jenny sembari memegang tangan mamanya yang sudah mengeluarkan darah.


Aaaaa


Terdengar suara teriakan, kemudian terlihat seseorang berpakaian suster dengan rambut acak-acakan berlari. Dia keluar dari dalam kamar rawat mama Vella. Seketika itu Danish menyadari ketidak beradaan Alika di sekitar sana. Ekspresinya langsung panik.


"Jenny kau terus panggil perawat, aku harus melihat ada apa di dalam sana. Karena tadi aku kemari bersama Alika." Ucap Danish sembari memindahkan mamanya ke pangkuan adiknya. Jenny membalasnya dengan anggukan.


Danish berlari menuju kamar yang semula di isi oleh mamanya. Alangkah terkejutnya dia, mendapati Alika tergeletak tak sadarkan diri.


Danish langsung bersimpuh memangku Alika. Dia mencoba menyadarkannya, namun Alika sama sekali tidak merespon. Kemudian dia melihat alat suntik masih berisi cairan.


"Astaga jangan-jangan Alika sudah di suntik dengan ini." Gumam Danish. Dengan cepat dia menggendong Alika keluar dari sana.


Di luar mama Vella sudah mendapat pertolongan suster.


"Suster tolong ini kekasih saya sudah di suntik dengan sesuatu. Saya takut itu obat berbahaya." Ucap Danish dengan panik.


Beberapa perawat langsung mengambil brankar dan membawa Alika ke ruang tindakan untuk di periksa.


Beberapa saat kemudian ...


Danish berjalan kesana kemari menunggu dokter keluar dari ruang tindakan Alika. Dia sangat cemas karena dokter mengatakan cairan di dalam suntikan itu racun yang mematikan.


Danish takut jika terjadi sesuatu yang fatal pada Alika. Dia tidak bisa berfikir jernih. Dia terus berjalan kesana kemari sampai menabrak Jenny yang datang menghampirinya.


Jenny sampai jatuh terpental. Dengan segera Danish membantunya berdiri.


"Aduh, sakit kak." Keluh Jenny.


"Ya sorry, aku tidak melihat kau di sini." Ucap Danish. "Eh kau meninggalkan mama sendirian," Sambung Danish yang masih merasa khawatir dengan kejadian yang terjadi pada mamanya.


"Tidak, ada papa dan tante Dira di sana. Aku kemari karena ingin memberitahu jika mama sudah sadar dan sudah baik-baik saja sekarang." Ucap Jenny.


"Syukurlah." Ucap Danish merasa lega mendengar kabar baik itu.


"Oh ya ternyata kau menyembunyikan sesuatu dariku." Ucap Jenny seraya menatap menelisik pada kakaknya. "Kenapa kau tidak cerita jika sudah jadian dengan mbak Alika?"


"Ini bukan waktu yang tepat untuk mengajakku berdebat." Ucap Danish.


KRIEEET ......


Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang. Dokter keluar dari ruangan rawat Alika. Dengan segera Danish menghampirinya.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Danish.


"Keadaan baik sebentar lagi dia juga akan sadar. Racunnya belum sampai menyebar. Saya sudah memberinya obat penawar." Jawab Dokter.


Danish bernafas lega mendengar penuturan dokter. Begitu juga dengan Jenny. Mereka berdua pun masuk ke dalam untuk melihat Alika.


Alika masih belum sadarkan diri. Danish meraih tangannya dan menciumnya dengan penuh cinta.


"Mbak Alika sudah berkorban untuk mama kak. Si nenek sihir itu harus di hukum kak." Ucap Jenny dengan ekspresi kesal mengingat wajah Isabel yang jahat.


"Iya, aku sudah menyuruh Felix beserta anak buahku lainnya untuk menemukan Isabel. Dia sudah mencelakai dua wanita yang aku cintai." Ucap Danish yang tak kalah kesal juga.


Di tempat lain Isabel tengah menggedor pintu rumah Boby. Isabel datang kesana berniat untuk mencari perlindungan. Namun rumah itu terlihat sepi tak berpenghuni. Isabel pun mencoba menelefonnya.


"Saya tidak di rumah dan saya sudah tidak mau tahu tentang urusanmu dengan keluarga Bima Argantara. Saya tidak mau terlibat masalah besar." Ucap Bobi dari sambungan telefon.


TUT..TUT..


"Halo.. Halo om. Brengsek!" Umpat Isabel.


Isabel langsung merasa frustasi. Kemana lagi dia harus berlindung. Dia tidak mau di penjara begitu saja sebelum membalaskan dendam mamanya.


"Alvino, ya aku akan pergi kesana." Ucap Isabel seraya bergegas pergi dari sana. Namun sudah terlambat. Saat ini dia sudah terkepung oleh anak buah Danish dan juga polisi.


"Sial! Mau apa kalian semua?" Isabel berteriak histeris. Dia mencoba mencari celah agar bisa kabur.


"Sudahlah tidak perlu bertanya lagi. Anda sudah tahu kesalahan anda apa. Pak tangkap dia." Ucap Felix.


"Enggak! Aku tidak mau di penjara. Satu keluarga bangs*t itu yang harus di penjara!" Teriak Isabel namun percuma. Dia tetap di borgol dan di bawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


***


Satu jam berlalu akhirnya Alika mulai membuka matanya. Tentu saja hal itu membuat Danish merasa senang. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Al akhirnya kau sadar." Ucap Danish merasa sangat bahagia.


"Mas kenapa saya ada disini? Apa saya gagal menyelamatkan tante Vella?" Alika langsung mencemaskan keadaan ibunda dari kekasihnya itu.


"Tante ada di sini sayang." Sahut mama Vella yang datang dengan menaiki kursi roda. Di dorong oleh papa Bima. Mama Vella memaksa ingin menemui Alika yang sudah menyelamatkannya dari Isabel yang jahat.


"Alhamdulilah tante baik-baik saja." Ucap Alika yang masih merasa lemas.


"Bagaimana dengan keadaanmu, kamu baik-baik saja kan?" Tanya mama Vella yang saat ini sudah berada di sisi kiri brankar Alika.


"Iya saya baik-baik saja tante." Jawab Alika seraya tersenyum.


"Saya juga sangat berterimakasih atas pengorbananmu. Saya juga meminta maaf karena pernah menilaimu rendah." Ucap Papa Bima.


"Iya pak Bima sama-sama." Jawab Alika.


Danish tersenyum senang melihat mama dan papanya mengakrabi Alika. Jenny dengan sengaja menyenggol tubuh Danish. Dia memberi isyarat jika ini saat dia memberitahu mama dan papa tentang hubungannya dengan Alika.


"Mam, pah, ada yang ingin aku sampaikan." Ucap Danish


"Apa sayang?" Tanya mama Vella penasaran.


"Aku dan Alika sudah resmi menjalin hubungan." Ucap Danish.


Alika sedikit takut jika respon orang tua Danish negatif. Mereka mungkin merasa terkesan karena ia berkorban untuk mama Vella. Namun bagaimanapun statusnya adalah janda. Bisa saja mereka tidak akan setuju dengan hubungan ini.


Mama Vella dan Papa Bima saling menatap satu sama lain. Hal itu membuat Danish mempunyai pikiran sama seperti apa yang di pikirkan Alika. Ekspresinya berubah menjadi tegang.


"Apa-apaan ini Danish, Alika." Ucap Mama Vella mengejutkan Danish, Alika dan juga Jenny.


"Kenapa mah, mama tidak setuju dengan hubungan kak Danish dan mbak Alika?" Tanya Jenny.


"Maksud mama, kalau memang sudah menjalin hubungan kenapa Alika memanggil mama tante. Ya panggil mama juga dong." Ucap Mama Vella. Ternyata dia hanya membercandai anak-anaknya itu.


"Itu artinya Mama merestui hubungan kita?" Danish memastikan lagi. Mama Vella mengangguk seraya tersenyum.


"Bukan hanya mama, papa juga merestui kalian. Alika, mulai sekarang kamu panggil saya papa." Sahut papa Bima yang juga memberi respon positif.


Alika dan Danish saling menatap dengan penuh kebahagiaan. Akhirnya mereka berhasil menjalin hubungan serta di restui kedua orang tua. Semoga tidak ada hambatan lagi ke depannya. Itulah harapan mereka saat ini.