
Tak terasa tinggal tersisa sepuluh hari lagi menuju hari pernikahan Danish dan Isabel. Namun sepertinya pernikahan itu akan di tunda, karena hingga kini mama Vella belum juga sadarkan diri.
Isabel masih tetap datang ke rumah sakit. Seperti biasa dia ingin membuat Danish terkesan. Hari ini Isabel berencana untuk mengajak Danish membeli barang seserahan pernikahan mereka.
"Sayang kau hari ini tidak sibuk kan, kita harus bertemu WO untuk meeting acara pernikahan kita. Lalu kita harus berbelanja seserahan juga. Aku ingin semua barangnya branded." Ucap Isabel seraya merangkul leher Danish dari belakang. Dia benar-benar tidak melihat situasi. Danish sedang menatap mamanya penuh kecemasan, tapi yang di pikirkannya hanyalah kesenangan saja.
"Aku mau mahar pernikahan kita berupa lima puluh persen saham hotel yang kau miliki." sambung Isabel dengan lantang.
Danish langsung melepaskan diri dari rangkulan Isabel. Dia cukup terkejut dengan permintaan Isabel itu. Bisa-bisanya dia punya pikiran meminta saham sebesar lima puluh persen. Apalagi di saat keadaan Mama Vella masih koma.
"Maaf Isabel sepertinya kita tidak perlu membahas ini sekarang." Ucap Danish dengan ekspresi datar.
"Loh perlu dong, pernikahan kita tinggal sepuluh hari lagi. Kita belum menyiapkan apa pun." Ucap Isabel dengan sedikit penekanan. Namun Danish mengabaikannya dan malah kembali duduk mendekati mama Vella. Hal itu membuat Isabel sangat emosi.
"Mengurus pernikahan kita itu lebih penting daripada kita berdiam diri disini." Ucap Isabel dengan nada tinggi.
"Maksudmu apa?" Tanya Danish memicingkan matanya.
"Setiap hari kita di sini menunggu mamamu yang entah kapan akan terbangun dari komanya. Kita itu punya urusan yang lebih penting dari ini." Jawab Isabel dengan gerakan tangannya yang menggambarkan emosinya.
Danish mengerjapkan matanya seraya tertawa tanpa suara. Tak di sangka calon istrinya itu menganggap keadaan mama Vella suatu hal sepele yang sama sekali tidak penting.
Isabel merasa dirinya telah kelepasan bicara. Kini ekspresi Danish sudah berubah menjadi garang. Danish menatap tajam seraya melangkah mendekati Isabel yang tengah berdiri.
"Sayang maaf aku salah bicara, aku hanya.."
"Cukup Isabel!" Danish langsung memotong perkataan Isabel. "Aku tidak bisa menikah denganmu. Pernikahan kita batal." Ucap Danish seraya melepas cincin pertunangannya di depan mata Isabel. Danish juga membuang cincin itu di tempat sampah.
"Tidak sayang, kau tidak bisa membatalkan ini semua. Aku hanya bosan di sini terus. Maaf aku tidak bermaksud begitu." Ucap Isabel seraya mencoba merangkul tangan Danish. Namun Danish menghindar tak mau lagi di sentuh olehnya.
"Tidak ada yang menyuruhmu tetap disini. Pergi dari sini sekarang juga! Kita sudah tidak punya hubungan lagi." Usir Danish pada Isabel.
Sudah terpojok, Isabel pun meninggalkan tempat. Isabel keluar dari ruang rawat mama Vella dengan perasaan kesal. Rencananya untuk membalaskan dendam mamanya harus gagal sebelum di mulai.
***
Malam tiba, Danish masih setia menunggui mamanya. Danish terdiam menatap mamanya. Dia berharap mamanya secepatnya sadar. Kemudian Danish membuka ponselnya. Dia membuka menu pesan. Dia ingin mengirim pesan pada Jenny untuk membawakannya baju ganti, karena ingin menginap di rumah sakit malam ini. Namun tanpa sengaja tangannya memencet room chat Alika.
Terlihat masih kosong, karena sejak mendapatkan nomor telefonnya waktu itu Danish sama sekali belum mengirim pesan apa pun. Hanya pernah menelefon sekali saja untuk menjemputnya malam itu.
"Alika apa kabar ya," Gumam Danish, dia berpikir akan mengirim pesan pada Alika.
"Da .. nish.." Suara lemas dari mama Vella membuat Danish batal mengirimkan pesan pada Alika. Dia segera menaruh ponselnya dan terfokus pada mamanya.
"Alhamdulillah mama sudah sadar. Sebentar aku panggil dokter dulu." Ucap Danish. Dia memencet bel yang ada di sana untuk memberitahu suster dan dokter jika mamanya sudah sadar.
Danish begitu bahagia dia langsung memeluk mamanya setelah dokter pergi. Mamanya sudah kembali dapat membalas pelukannya meski masih lemas.
"Mama.." Jenny yang baru saja datang sampai berlari segera mendekati mamanya. Danish pun mundur memberi ruang adiknya untuk memeluk mamanya. "Aku sangat senang akhirnya mama sadar. Aku sangat merindukan omelan mama." Ucap Jenny membuat Danish tersenyum.
"Iya syukurlah mah, maafkan papa ini semua salah papa." Ucap Papa Bima mulai kembali menyalahkan diri atas terjadinya kecelakaan ini.
"Tidak Pa, namanya musibah tidak ada yang tahu. Yang penting kan kita masih di beri keselamatan." Ucap Mama Vella.
Hari ini kebahagiaan keluarga Danish kembali utuh. Di saat yang membahagiakan itu Miko datang bersama mamanya dan juga Arka. Dira mama dari Miko langsung menangis bahagia melihat Vella sudah sadar.
"Alhamdulillah dek kamu sudah sadar. Mbak enggak pernah putus doa buat kamu." Ucap Dira seraya menangis.
"Alhamdulillah mbak, terima kasih." Ucap Vella seraya membalas rangkulan kakaknya itu.
Setelah selesai sesi haru birunya, Danish mengumumkan jika dia membatalkan pernikahan dengan Isabel. Dia menjelaskan alasannya membatalkan acara penting dalam hidupnya itu. Selain tidak mencintainya, Danish tidak bisa menikah dengan wanita yang sama sekali tidak peduli dengan mamanya.
Jenny dan Miko merasa sangat bahagia mendengar keputusan Danish itu. Mereka sejak awal tidak setuju dengan hubungan yang terjalin ini, karena Isabel itu bukan wanita baik-baik. Kemudian Jenny teringat sesuatu yang ingin ia bicarakan.
"Pah, papa kenal om Boby itu sejak kapan?" Tanya Jenny
"Dari lama, dia itu teman kuliah papa dulu. Tapi baru ketemu lagi ya beberapa bulan yang lalu." Jawab papa Bima
"Berarti papa baru kontakkan lagi itu pas mau jodoh in kak Danish waktu itu?" Tanya Jenny lagi membuat papanya bingung.
"Iya, memangnya kenapa sayang?" Papa Bima ganti bertanya dengan serius.
"Saat acara pertunangan aku mendengar jika om Boby tidak mempunyai anak perempuan. Jangan-jangan Isabel itu bekerja sama dengan om Boby untuk melakukan kejahatan pada keluarga kita." Ucap Jenny menduga-duga.
Semuanya selain Arka terkejut, karena memang Arka juga sudah mendengar sendiri pernyataan tamu undangan pertunangan, berkata om Boby tidak memiliki anak perempuan.
"Maaf sebelumnya jika saya terlambat mengungkapkan ini. Yang dikatakan Nona Jenny benar. Saya mendengar sendiri nona Isabel berkata jika dia adalah putri dari Ibu Kiara Ananta." Ucap Felix menimbrung pembicaraan secara tiba-tiba.
Papa Bima terkejut mendengar nama itu. Begitu juga dengan Mama Vella juga Tante Dira.
"Astaga, perempuan itu dulunya sudah mengacau. Eh sekarang dia mengirim anaknya juga untuk berbuat jahat." Ucap Tante Dira dengan ekspresi kesal. Hal itu membuat mereka yang tidak tahu siapa Kiara Ananta menjadi penasaran.
"Tante tahu siapa dia?" Tanya Danish dengan penasaran.
"Dia itu mantan istri papamu juga mantan kekasih papanya Arka." Jawab Tante Dira yang kemudian menceritakan kisahnya secara detail, agar para anak-anak tidak salah pemikiran.
Setelah mendengar cerita dari Tante Dira, Danish merasa pilihannya untuk tidak menikah dengan Isabel adalah hal yang benar. Dia juga akan memperketat penjagaan untuk mamanya agar tidak dapat di celakai oleh Isabel. Karena sepertinya yang menjadi sasaran adalah mama Vella.