
Perdebatan antara Violla dan Alvino kembali di mulai saat orang tua Alvino sudah pergi dari sana. Violla merasa tidak terima karena Alvino hanya diam saja. Ketika papanya secara terang-terangan akan memberikan seluruh kekayaannya untuk Alika.
"Kamu itu sebenarnya mau aku atau hartaku sih Violla?" Tanya Alvino dengan sinis.
"E e.. e bukan begitu maksudku sayang, Aku hanya kasihan masak kamu kehilangan semua harta dari papamu sih." Jawab Violla terbata-bata. Memang sebenarnya tujuan utama dirinya dekat dengan Alvino adalah untuk menguasai hartanya. Karena Alvino adalah putra tunggal Abraham, pengusaha kaya raya. Namun sekarang Alvino malah dengan mudahnya melepaskan harta itu kepada Alika, yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.
"Tidak usah protes lagi lah, yang penting kan kita bisa bersama. Lagipula aku masih punya perusahaan sendiri. Tenang saja kamu nggak akan kekurangan." Ucap Alvino kepada kekasihnya itu.
"Ya memang kamu masih kaya tapi kan kalau ada harta dari orang tuamu, aku bisa lebih foya-foya." Ucap Violla yang tentu saja hanya dalam benaknya.
Tiga hari kemudian...
Kini Alika, Alvino dan kedua orang tua Alvino sedang duduk bersama. Mereka membuat kesepakatan perceraian antara Alika dan Alvino. Dimana harta milik Alvino akan jatuh ketangan Alika. Kecuali rumah dan perusahaan miliknya sendiri.
Alika menandatangani semua berkas kecuali berkas peralihan harta milik Alvino untuk menjadi miliknya.
"Kenapa berhenti sayang, itu kan masih ada berkas yang belum kamu tanda tangani," Ucap Nena
"Maaf mama Nena, papa Abraham. Saya tidak bisa menerima ini semua. Biarkan ini tetap menjadi milik mas Alvino. Saya sudah cukup banyak menerima nafkah dari mas Alvino selama ini. Ditambah mas Alvino juga memenuhi kebutuhan paman bibi. Jadi saya rasa ini tidak perlu." Ucap Alika sembari menyodorkan berkas itu ke pengacara.
"Baiklah kalau memang itu maumu." Ucap Abraham
Semua urusan selesai, hanya tinggal menunggu persidangan perceraian. Orang tua Alvino kembali pulang. Dan Alika juga mengemasi barang-barangnya bersiap keluar dari rumah itu.
Alika sudah janjian dengan Danish. Jam sebelas Danish akan menjemputnya. Danish sudah mencarikan Alika tempat tinggal yang tak jauh dari rumahnya. Memang dia sengaja, agar bisa selalu dekat dengan wanita pujaan hatinya.
Alika sudah selesai mengemasi seluruh barangnya. Dia terduduk di pinggiran kasur sembari melihat foto pernikahannya dengan Alvino dulu. Rasanya tidak percaya jika pernikahan yang suci ini harus kandas seperti ini.
Dia tidak bisa menyalahkan suaminya. Karena disini posisinya sama saja sebagai orang ketiga diantara Alvino dan Violla. Dua sejoli yang memang saling mencintai sejak lama. Namun tidak memperoleh restu dari mama Nena.
"Ngapain tuh ngeliatin foto nikahan? Sedih dicerai sama mas Alvino?" Tiba-tiba saja Violla masuk kedalam kamar Alika. Wanita itu merasa saat ini dirinya menang dari Alika. Dirinya berhasil menggeser posisi Alika. Ditambah harta kekayaan Alvino tidak jadi diberikan kepada Alika.
"Enggak sama sekali. Malahan aku lebih lega bisa lepas dari kalian berdua. Semoga kamu berbahagia dengan Mas Alvino." Ucap Alika yang kemudian keluar dari kamar itu dengan membawa kopernya. Foto pernikahan yang tadi dilihatnya ditinggalkan begitu saja di atas kasur.
"Cih,, sombong banget dia. Jelas aku akan lebih bahagiain Alvino." Ucap Violla
🌺🌺🌺
Mobil sedan hitam pekat berhenti di depan rumah no 34 B perumahan griya cendana. Sangat dekat dengan rumah yang ditinggali Danish, no 29 B. Alika turun dari mobil dibukakan pintu oleh Danish.
"Mas Danish ini enggak salah kontrakannya disini?" Tanya Alika merasa tercengang melihat deretan rumah mewah terutama rumah yang ada dihadapannya sekarang.
"Enggak, memang bener ini rumah kontrakannya. Dan rumahku disitu." Ucap Danish sembari menunjuk ke seberang.
"Jadi ini komplek perumahan tempat tinggal mas Danish? Bisa pas banget ya ada yang dikontrakkan tepat berhadapan gini." Ucap Alika
"Eh tunggu dulu mas, rumah semewah ini rasanya sewanya pasti mahal. Saya kan belum kerja. Kalau ini lebi dari lima juta perbulan saya tidak sanggup."
"Masalah itu tidak usah dipikirkan. Ini rumah milik sahabatku, orang di luar negeri. Katanya sih nggak perlu bayar. Cuma minta dirawat aja."
"Haa, yang bener mas. Wahh baik banget ya sahabatnya mas Danish. Saya titip ucapan terimakasih dan saya janji akan merawat rumah ini sebaik mungkin."
Danish hanya tersenyum mendengar perkataan Alika. Padahal Danish lah yang memiliki rumah itu. Ya, dua hari yang lalu Danish membeli rumah itu khusus untuk ditinggali Alika.
Setelah membantu Alika sebentar di dalam dan memperlihatkan seluruh isi rumah, Danish pamit pulang. Ternyata diluar rumah sudah ada Jenny yang kepo karena melihat mobil kakaknya parkir di seberang rumah mereka.
"Kak Danish kok bisa masuk ke dalam? Bukannya yang punya rumah ini udah pindah dua minggu lalu," Sapa Jenny yang melihat Danish.
"Rumah ini sekarang menjadi milikku. Karena aku sudah membelinya."
"What? Kau membeli rumah ini kak? Tepat didepan rumah papa mama." Jenny cukup terkejut, ditambah melihat Alika keluar dari rumah itu.
"Eh adiknya mas Danish ya, yang dulu ikut ke Villa juga. Kenalkan saya Alika," Alika menjabat tangan Jenny dan disambut baik oleh adik dari Danish itu.
"Aku Jenny," Ucap Jenny dengan senyuman.
"Oh jadi kak Danish be.." Belum selesai berbicara mulut Jenny sudah dibungkam oleh Danish dan segera ditarik untuk pulang.
"Maaf ya Alika kita harus pulang, kalau ada apa-apa hubungi aku saja. Titip mobil dulu ya, daah."
Alika sedikit terheran-heran melihat kakak beradik itu. Seperti tom and jerry. Terlihat Jenny terus memukuli sang kakak saat berjalan masuk ke area rumahnya.
"Apaan sih kak tadi bungkam-bungkam gitu," Protes Jenny saat sudah berada di dalam rumah.
"Mulutmu sih ember. Alika itu tahunya bukan rumahku. Aku bilang itu rumah temenku. Kalau dia tahu aku beli rumah itu untuknya, pasti dia nggak mau nempatin." Ucap Danish menjelaskan semuanya pada Jenny.
"Kalau begitu tambahin uang jajanku. Kalau enggak aku kasih tahu mbak Alika kalau sebenarnya itu rumah kak Danish. Biar mbak Alika ngerasa nggak enak trus milih ngontrak di tempat yang jauh dari sini." Jenny memanfaatkan keadaan untuk meminta uang lebih pada sang kakak.
"Yee enak aja, Kau mau manfaatin keadaan. Enggak nggak ada tambahan!" Seru Danish sembari melangkah menuju tangga.
"Oke, yasudah aku balik aja langsung samperin mbak Alika. Atau teriak aja deh, tuh orangnya masih ada diluar." Ancam Jenny pada sang kakak.
Danish mengeratkan rahangnya mendengar itu, namun beberapa detik kemudian berubah menjadi senyuman yang terpaksa. "Baiklah adikku sayang. Tambah 10%, no nawar. Itu sudah lebih dari cukup."
"30% atau tidak sama sekali." Ucap Jenny menawar.
"Oke oke 30%." Ucap Danish sebelum benar-benar pergi ke kamarnya, meninggalkan adiknya yang tersenyum penuh kemenangan.