
Hari ini di adakan acara pengajian di kediaman Bima Argantara. Acara itu di adakan sebagai bentuk rasa syukur atas selamatnya mama Vella dan papa Bima dari musibah kecelakaan beberapa waktu lalu.
Kerabat keluarga serta para sahabat di undang dalam acara itu. Danish sudah siap. Dia mengenakan kemeja muslim berwarna abu tua dipadukan dengan celana hitam serta memakai peci hitam. Dia terlihat lebih tampan dari hari biasanya.
Sebelum turun kebawah, Danish terlebih dulu menengok Jenny. Terlihat adik perempuan satu-satunya itu belum siap. Jenny masih sibuk memilih baju mana yang akan di kenakannya.
"Nah kebetulan sekali kau kemari kak, menurutmu lebih bagus yang coklat atau cream ini?" Tanya Jenny seraya menunjukkan kedua gamisnya.
"Menurutku warnanya sama saja. Sama-sama coklat." Jawab Danish tanpa mau berpikir.
"Ish,, jika tidak mau berpendapat keluar sana. Jangan mengganggu kefokusanku." Ucap Jenny dengan ketus.
"Pakai yang mana saja kau tetap cantik. Lagipula kau memilih baju seakan ini adalah acara lamaranmu saja." Ucap Danish. "Di bawah sudah banyak yang datang. Jika kau terus bingung memilih baju, acara akan selesai sebelum kau siap." Ucap Danish seraya berlalu pergi. Dia kembali menutup pintu kamar Jenny.
"Oh astaga, dia berbicara seperti mama." Gerutu Jenny, tapi kemudian dia tersenyum sendiri membayangkan akan bertemu Arka beserta orang tuanya.
Danish turun kebawah menyapa orang-orang yang sudah hadir di sana. Dia mencium tangan para orang tua yang turut hadir.
Dari sekian banyaknya orang yang datang, Danish belum melihat pujaan hatinya berada di sana. Felix juga belum terlihat, itu artinya Alika beserta paman bibinya belum datang.
Bibi dan paman Alika datang sejak Alika di rawat di rumah sakit. Felix yang menjemputnya dari Bandung atas suruhan Danish. Sejak saat itu mereka masih ada di jakarta tinggal bersama Alika di rumah susun. Danish sudah menyuruh Alika kembali ke rumah miliknya. Namun dia belum mau. Dia sudah nyaman tinggal di rumah susun. Selain itu dia tidak mau dianggap memanfaatkan Danish sebagai kekasihnya.
Yang lain berbincang hangat di dalam, Sementara Danish berdiri di teras rumah sembari terus menatap jalan.
"Door.." Miko menepuk bahu Danish.
"Astaga, kau ini!" Danish merasa sangat kaget. Dia mengelus dadanya.
Miko malah tertawa terbahak-bahak melihat sepupunya berhasil dia kageti.
"Biar aku tebak, kau menunggu your love kan?" Tebak Miko seraya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
"Your love? Ck,, kau ini alay sekali." Ucap Andreas menanggapi ucapan Miko.
Sebuah mobil Alpard hitam berhenti di jalan depan rumah Danish. Dari sana keluar Arka dan kedua orang tuanya. Danish dan Miko ingin menghampiri mereka untuk menyambutnya. Tiba-tiba saja Jenny lewat melesat di tengah-tengah mereka.
"Astaga, anak itu!" Ucap Danish dan Miko kompak.
Jenny mendahului mereka untuk menyambut pria yang di sukainya sejak lama itu. Tentu saja Jenny ingin menarik perhatian kedua orang tua Arka. Benar saja, dia langsung mendapatkan pujian dari Bunda Sifa.
Jenny menuntun mereka masuk ke dalam. Sebelum masuk mereka juga menyapa Danish yang ada di teras bersama Miko. Danish dan Miko bergantian mencium tangan kedua orang tua Arka.
"Kak sepertinya kau akan iparan dengan oppa kyut itu." Ujar Miko, dia menyebut Arka oppa kyut karena wajahnya memang mirip-mirip idol korea yang banyak di gilai para gadis. Termasuk Jenny.
Danish tidak mendengarkan perkataan Miko. Dia terus fokus ke arah jalan berharap Alika segera sampai. Rasanya lama sekali. Danish malah menjadi cemas, takut terjadi sesuatu di jalan.
Kemudian Danish mencoba menelefon Alika. Danish berjalan kesana kemari menunggu telefonnya di jawab.
"Kak Danish. Kak," Miko memukul-mukul lengan Danish yang masih sibuk menelefon.
"Apa sih Miko!" Danish menoleh pada Miko dengan raut wajah masam.
"Itu lihat siapa yang datang." Ucap Miko seraya mengarahkan Danish melihat kearah wanita yang sejak tadi di tunggunya.
Mata Danish terbelalak melihat pujaan hatinya datang menuju kearahnya. Dia sampai tanpa sadar menjatuhkan ponsel yang ada dalam genggamannya karena saking terpesonanya pada Alika.
"Mas Danish.." panggil Alika.
"Ya bidadari surgaku." Jawab Danish spontan. Semua yang ada di sana langsung tersenyum mendengarnya.
Miko segera membawa Paman dan Bibi Alika masuk ke dalam. Dia ingin memberi waktu dua sejoli baru ini berdua saja. Felix juga ikut masuk ke dalam.
"Kau cantik hari ini Al." Puji Danish.
"Jadi kemarin-kemarin itu aku tidak cantik?" Tanya Alika yang kini sudah mulai terbiasa berbicara santai dengan kekasihnya.
"Eh aku salah bicara, kau itu selalu cantik." Ucap Danish seraya menoel manja dagu Alika.
"Ih bukan muhrim, tidak boleh asal pegang." Ucap Alika seraya mundur.
"Bolehnya asal cium ya," Ucap Danish dengan tatapan menggoda.
BLUSSH ...
Pipi Alika seketika memerah. Dia terjebak dengan candaannya sendiri. Di tambah kini Danish menariknya ke dalam pelukannya. Dia mendekatkan wajahnya. Danish merasa gemas ingin menyambar bibir Alika.
"Ekhmm.." Terdengar suara deheman membuat mereka saling melepaskan diri.
"Pengajiannya sudah akan di mulai, pacarannya bisa di pending dulu ya." Ucap Miko dengan ekspresi sok tegas, tapi kemudian tertawa.
Danish menaboki sepupunya itu dan mereka pun masuk ke dalam.
***
Seusai acara Alika masih berada di kediaman orang tua kekasihnya itu. Dia membantu bersih-bersih di sana. Mama Vella sudah melarangnya, karena sudah ada orang yang di tugaskan untuk itu. Namun dasarnya Alika yang tidak bisa hanya diam saja, dia tetap membantu bersih-bersih di sana.
"Mbak Alika sudah, nanti mbak kecapek an. Ayuk kita ke taman belakang, semuanya sudah menunggu di sana." Ucap Jenny, dia membawa paksa Alika meninggalkan tumpukan piring kotor.
Di taman belakang, Paman dan Bibi Alika tengah duduk bersama kedua orang tua Danish. Tentu saja Danish juga ada di sana.
"Al, nak Danish sudah mengutarakan niat baiknya untuk meminangmu. Apakah kau bersedia?" Bibi Halimah langsung mengutarakan apa yang tadi di sampaikan oleh Danish dan juga kedua orang tuanya.
Danish beranjak dari duduknya, dia juga mengajak Alika. Di hadapan keluarganya, Danish berlutut melamar Alika dengan sebuah cincin berlian yang indah.
"Alika Dean Alkandra, maukah kau menjadi istriku?" Danish mengucapkannya dengan sepenuh hati.
"Tidak." Jawab Alika yang langsung membuat semuanya berekspresi tegang. "Maksudku tentu tidak akan menolaknya." Sambung Alika seraya tersenyum semringah.
Semua yang di sana pun tertawa. Mereka telah terkena prank yang di ciptakan Alika.
Danish pun menyematkan cincin di jari manis Alika. Terlihat raut wajah bahagia Danish begitu terpancar. Setelah itu dia langsung memeluk erat calon istrinya itu.
"I love you Alika." Bisik Danish di telinga Alika.
"I love you more." Jawab Alika dengan bisikan juga.
"Eh .. Eh jangan lama lama pelukannya. Belum sah." Ucap Mama Vella diiringi tawa semuanya.
Danish tidak perduli dan malah mencium pipi Alika di hadapan keluarganya. Kemudian dia kabur, karena mama Vella murka ingin mencubitnya.