
Mulai hari ini Alika resmi kembali bekerja di perusahaan Argantara. Tapi bukan sebagai OB lagi, melainkan sebagai asisten pribadi Danish.
"Mas Danish yakin ini saya jadi asisten pribadinya? Saya jadi OB aja deh, saya tidak enak dengan karyawan lainnya." Ucap Alika,
"Tidak perlu merasa seperti itu Al, biar ku plaster mulut mereka yang berani membicarakan tentangmu." Ucap Danish meyakinkan Alika.
"Hmm baiklah pak, tapi kerjaan saya apa ya? Sudah satu jam saya hanya duduk saja." Ucap Alika
"Hemm,, Saat ini belum ada pekerjaan untukmu. Kau santai saja disitu." Ucap Danish dengan senyum manis.
"Tapi masa saya hanya diam saja mas, serasa makan gaji buta dong mas." Ucap Alika merasa tidak enak.
Tiba-tiba saja Isabel masuk ke dalam ruangan Danish. Wanita itu menyahuti perkataan Alika.
"Ngepel atau bikinin minuman para karyawan sana biar nggak makan gaji buta!" Seru Isabel
"Ngapain kamu main masuk-masuk ke ruanganku?" Tanya Danish dengan ketus.
"Oh ini lo pak Danish, saya mengantarkan berkas yang harus ditanda tangani." Jawab Isabel sembari memberikan berkasnya.
Danish langsung menandatanganinya dan mengembalikan berkas itu. "Ku peringatkan padamu yang berhak memerintah Alika itu hanya aku. Kau tidak berhak atas itu. Keluar sekarang!" Ucap Danish dengan tatapan tajam. Isabel hanya tersenyum kaku lalu pergi dari sana.
"Aduh saya beneran jadi tidak enak mas, mungkin saya kembali jadi OB saja ya," Ucap Alika
"Tidak, tidak jangan. Jangan dengarkan kata mereka. Sebentar, aku akan memberimu pekerjaan." Danish keluar ruangan meninggalkan Alika. Dia menuju bilik kerja tempat sekretarisnya berada. Tentunya ada Isabel juga di sana.
"Pak Danish, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Azel
"Tidak, saya hanya memberitahukan. Mulai hari ini kamu pindah ke bagian keuangan. Di sana kekurangan staf kan," Ucap Danish dengan santai.
"Apa? Kenapa saya harus di pindahkan pak?" Tanya Azel yang merasa terkejut.
"Karena saya rasa kamu cocok di bagian keuangan dan posisi kamu akan di isi oleh Alika. Saya tidak mau ada komplain ataupun rasa keberatan. Itu sudah keputusan saya." Ucap Danish dengan tegas. Kemudian dia pergi menuju ruang HRD untuk mengurus segalanya.
Isabel menertawakan Azel, dia mengejek rekan satu ruangannya itu karena posisinya tergeser oleh Alika.
"Lihatlah, apakah kau masih percaya diri mendekati Danish? Kau saja sudah disingkirkan olehnya." Ucap Isabel
"Diam kau! Jangan merasa menang. Biarpun sekarang aku tidak bisa banyak berinteraksi dengan pak Danish, itu tidak akan menyurutkan tekadku untuk mendapatkan hatinya." Ucap Azel dengan manik mata seakan ingin keluar. Kemudian Azel mengemasi barangnya dan pergi menuju ruang kerjanya yang baru.
"Besar juga tekad dia. Tapi dia bukan sainganku. Yang paling harus ku singkirkan itu si wanita kampungan itu." Gumam Isabel dengan senyum kaku.
.
.
.
Empat puluh menit berlalu, Alika hanya terdiam. Dia menunggu Danish yang belum kembali juga. Tiba-tiba saja pintu terbuka. Danish datang diikuti dengan dua OB yang mengangkat meja. Alika yang semula duduk langsung berdiri.
"Al ini meja kerjamu, mulai hari ini kau menggantikan Azel sebagai sekretarisku." Ucap Danish dengan senyum semringahnya.
"Tolong tata semuanya dengan rapi ya," Ucap Danish pada dua OB yang ada di sana.
"Ayo Alika ikut denganku, kita bicara di luar sembari menunggu meja kerjamu siap." Ajak Danish dengan langsung menggonceng tangan Alika. Tentu saja saat sudah di luar ruangan hal itu menarik perhatian seluruh karyawan. Terutama Isabel, wanita itu langsung menatap cemburu.
"Apa-apaan itu, bisa-bisanya wanita kampungan itu bergandengan tangan dengan Danish." Gumam Isabel seraya mengepalkan kedua tangannya.
Danish mengajak Alika ke kantin perusahaan. Di sana mereka berbincang-bincang ringan. Danish menjelaskan pekerjaan yang harus di lakukan Alika sebagai skretarisnya.
"Saya sedikit-sedikit paham mas, tapi saya ini kan hanya lulusan SMA. Saya sempat kuliah tapi harus terhenti karena menikah waktu itu. Jadi apakah nanti yang lainnya tidak cemburu saya langsung menjadi sekretaris mas Danish." Ucap Alika yang masih ragu dijadikan sekretaris.
"Jangan pikirkan orang lain Alika. Cukup nanti kau buktikan lewat kinerjamu. Mereka pasti akan diam. Selebihnya biar aku yang tangani." Ucap Danish meyakinkan Alika.
"Baiklah kalau begitu mas, saya setuju. Tapi saya tetap mohon bimbingannya. Karena saya belum berpengalaman di bidang ini." Ucap Alika dengan senyum yang teduh. Sangat meneduhkan hati Danish.
"Iya tentu saja Al, dengan senang hati. Kita kan bekerja satu tim istilahnya." Ucap Danish, kemudian dia berniat mengajak Alika kembali ke ruangan. Karena mungkin mejanya saat ini sudah siap.
Triing..rring... Ponsel Alika berbunyi, membuat mereka tidak jadi beranjak pergi.
"Halo Bibi, ada apa? Apakah paman kambuh sakit lagi?" Tanya Alika langsung merasa khawatir. Karena tadi pagi bibinya sudah menelefonnya. Baru selang tiga jam sudah telefon lagi.
"Tidak Al, pamanmu sehat. Tapi ada masalah di sini. Apakah kamu bisa pulang ke bandung?"
"Pulang ke bandung, sekarang bi? Memangnya masalah apa bi?" Tanya Alika lagi dengan perasaan khawatir.
"Ini menyangkut perceraian kamu dengan suamimu. Kamu bisa kan pulang sekarang?"
"Aduh gimana ya bi, aku baru saja mulai bekerja lagi." Ucap Alika, dirinya baru saja mulai bekerja tapi masa harus cuti lagi. Danish pun memberinya kode untuk mengiyakan saja.
"Eh baiklah bi, aku pulang ke Bandung sekarang." Ucap Alika dan kemudian telefon berakhir.
"Mas Danish, ini beneran nggak papa. Saya baru saja diangkat sebagai sekretaris. Tapi sudah mengajukan cuti saja." Ucap Alika merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Al, aku akan mengantarmu. Urusan pekerjaan kantor biar di handle oleh sepupuku yang bisa kuandalkan, yaitu Miko."
Saat ini Danish sudah berdiri di sebelah meja kerja Miko. Dia terus mencoba membujuk sepupu sekaligus orang kepercayaannya di kantor.
Miko menghela nafas kasar. Padahal baru saja dia merencanakan kencan dengan pacarnya hari ini. Tapi harus batal karena hari ini dia akan lembur karena seluruh pekerjaan Danish harus dia handle.
"Kak ayolah jangan seperti ini," Keluh Miko karena dirinya sudah di pastikan tidak bisa menolak perintah Danish.
"Hari ini dan besok saja Miko, aku akan memberimu jaket limited editionku itu. Atau kau bisa memilih sendiri di lemariku. Apapun yang kau sukai bawa saja." Ucap Danish mengeluarkan jurusnya.
"Hemm kalau begitu boleh lah, tapi beneran ya aku memilih sendiri baju di lemarimu," Ucap Miko yang sudah luluh.
"Iya, kau bebas mengambil yang manapun, kecuali kaos putih bertuliskan hei A. Karena itu couple ku dengan Alika." Ucap Danish
"Benar-benar playboy saat sudah bucin jadi langsung level dewa." Ucap Miko sembari tersenyum tipis.
"Aku tidak butuh komrntarmu, selesaikan pekejaanku ya. Aku berangkat sekarang." Danish pun pergi meninggalkan kantor bersama Alika.