
Danish tidak bisa tidur dengan tenang semalaman. Paginya dia melewatkan sarapan bersama karena tidak sabar ingin bertemu Alika.
satu jam perjalan Danish pun sampai ke alamat yang di berikan oleh Victor semalam. Dia tidak langsung berhenti di depan rumah yang ditinggali Alika dan Alvino. Dia parkir agak jauh dan berjalan kaki ke sana.
Danish langsung di suguhi pemandangan keromantisan Alika dan Alvino. Peluk cium yang dilakukan pasutri itu membuat dadanya sesak. Apalagi Alika terlihat tersenyum cerah. Tapi mengingat apa yang Alvino lakukan di belakang Alika, membuatnya ingin sekali memukul Alvino sekarang juga.
"Aku tidak tahan melihat semua ini. Aku harus membuka kebusukan si brengsek itu!" Seru Danish
Suasana yang tadinya harmonis dan romantis seketika berubah mencekam karena kedatangan Danish. Alika sudah dapat membaca jika kedatangan Danish pasti akan menimbulkan perkelahian.
"Pebinor eh pak Danish yang terhormat. Ada apa datang kemari? Oh ya selain menjadi CEO, anda ini juga stalker ya?" Alvino menyapa lebih dulu dengan ekspresi yang membuat Danish kesal.
"Tidak usah banyak bicara brengsek!" Seru Danish seraya melayangkan pukulan kepada Alvino.
Bug .....
Alvino jatuh tersungkur akibat pukulan dari Danish. Alika langsung berteriak dan membantu suaminya. Ternyata dugaannya tidak meleset.
"Mas Danish kamu ini apa-apaan! Kenapa memukul mas Alvino?" Tanya Alika dengan nada bentakan.
"Dia pantas mendapatkan ini Al. Laki-laki brengsek ini berselingkuh lagi di belakangmu!" Seru Danish dengan nafas yang memburu, karena dia sangat emosi.
Alvino langsung bangkit mendengar itu. Dia tidak terima di tuduh seperti itu. Padahal apa yang dituduhkan oleh Danish benar adanya.
"Karena tidak berhasil mendapatkan istriku, kau memfitnahku seperti ini. Ahahaha ... Sungguh pebinor yang keji." Ucap Alvino seraya tersenyum kaku.
Danish benar-benar tersulut emosi dan akan melayangkan pukulannya lagi. Namun kali ini di hadang oleh Alika. Sehingga hal itu tidak terjadi.
"Cukup!" Teriak Alika untuk menghentikan kedua pria yang tengah bersitegang.
"Kenapa Al? Laki-laki brengsek yang bertitle sebagai suamimu ini, berselingkuh lagi dengan orang yang sama di belakangmu." Ucap Danish dengan geram.
"Sayang kamu jangan dengarkan dia. Dia ini hanya ingin merusak rumah tangga kita." Ucap Alvino mencari pembelaan pada sang istri.
"Tidak Al dengarkan aku. Aku tidak pernah berbohong padamu. Semalam dia pergi ke .."
"Cukup mas Danish." Alika memotong ucapan Danish. "Saya mohon jangan lagi membuat keributan. Kembali dengan mas Alvino itu sudah menjadi keputusan saya."
"Al aku serius. Aku akan memperlihatkan buktinya padamu. Aku tidak berbohong atas semua ini." Ucap Danish yang kemudian merogoh ponsel yang berada di sakunya.
Alvino mulai ketar-ketir mendengar Danish mempunyai bukti perselingkuhannya. Tapi dia juga penasaran, bukti apa yang di miliki Danish.
"Apa pria sok cool ini mengikutiku semalam, wah gawat kalau sampai benar." Batin Alvino
"Mana buktinya mas?" Tanya Alika, karena Danish masih terus mengotak-atik ponselnya.
Saat menemukan videonya dan ingin memberikannya pada Alika, ponsel Danish mati. Sungguh kesialan yang menyebalkan bagi Danish.
"Sebentar Al handphoneku tidak bisa menyala. Boleh aku menumpang mengisi daya sebentar saja?"
"Alah pebinor banyak alasan. Sudahlah pergi sana! Kau itu tidak punya bukti tapi berlagak handphone mati kehabisan daya." Timpal Alvino. Dia memanfaatkan waktu ini untuk membuat Alika memihak padanya.
"Diam kau tukang selingkuh! Alika aku benar-benar punya buktinya." Ucap Danish terus membela diri.
"Al kau lebih percaya aku suamimu atau dia. Pilih sekarang juga. Kau bisa menilaiku bukan, aku sudah berubah. Lagipula buat apa aku memperjuangkan agar kita rujuk, jika akhirnya aku kembali dengan Violla. Itu kan tidak mungkin. Aku sangat mencintaimu Al. Aku sudah membuang semua tentang Violla." Ucap Alvino meyakinkan Alika.
Otak Alika terus bekerja. Dia mencerna segalanya. Memang benar yang dikatakan Alvino. Dilihatnya dua bulan ini dia sudah berubah. Dia juga tidak lagi berhubungan dengan wanita lain. Sementara Danish bukan pria pembohong. Dia tidak mungkin mengarang cerita begitu saja. Tapi bisa saja itu dilakukannya karena sakit hati.
"Maaf mas Danish lebih baik kamu pulang saja." Jawab Alika singkat tanpa menatap mata Danish.
Alvino tersenyum penuh kemenangan. "Sudah dengar kan, apa kata istriku ini. Sudah paham juga kan apa maksudnya. Dia lebih percaya padaku, suaminya." Ucap Alvino. Kemudian Alvino mendorong Danish untuk keluar dari rumahnya.
"Pergi dari sini atau aku panggil satpam. Biar kau di penjara lagi karena sudah mengganggu kenyamanan orang lain." Ucap Alvino dengan tatapan yang tak kalah tajam dari Danish.
Setelah mengusir Danish, Alvino membawa masuk Alika ke dalam. Dia yang tadinya akan berangkat ke kantor tertunda karena kedatangan Danish.
"Sayang aku tetap akan ke kantor karena ada pekerjaan penting. Kamu tetap di dalam rumah ya, aku tidak mau pria gila itu mengganggumu." Ucap Alvino pada Alika.
"Iya mas. Semoga saja mas Danish tidak datang kemari lagi. Tapi itu kamu beneran tidak apa-apa mas, tidak sakit?" Tanya Alika
"Tidak apa-apa kok. Ya sudah aku berangkat ya, langsung kunci pintunya." Ucap Alvino
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, Alvino melihat ke sekeliling. Dia memastikan Danish sudah pergi.
"Baguslah pebinor itu sudah pergi. Aku harus lebih berhati-hati lagi untuk menemui Violla." Gumam Alvino.
**
**
Danish belum menyerah begitu saja. Danish kembali berkunjung. Tapi kali ini dia akan menyamar menjadi kurir paket. Karena jika tidak begitu, mustahil Alika akan membukakan pintunya.
"Permisi paket." Teriak Danish dengan suara yang di beratkan agar tak di kenali oleh Alika.
Jegrek ....
"Paket? Paket untuk siapa? Mas Danish ..." Alika langsung mengenalinya dan bergegas menutup kembali pintunya. Namun dengan sigap juga Danish menahan pintu itu.
"Tunggu Al, aku ingin berbicara serius padamu." Ucap Danish
"Tidak ada yang perlu di bicarakan mas. Sudahlah jangan mencari kesalahan mas Alvino. Saya sudah menerima apapun kekurangan dia." Ucap Alika
"Tidak Alika! Kau tidak pantas dengan laki-laki tukang selingkuh itu." Ucap Danish menggebu.
"Lantas siapa yang pantas untuk saya, Kamu mas? Laki-laki bercap playboy yang suka sekali menyakiti hati banyak wanita. Dengan menggunakan kekayaan, kamu mengambil hati para wanita dan kemudian membuangnya begitu saja." Ucap Alika, kata-kata pedas dilontarkannya. Ini baru pertama kalinya Alika mengatai Danish.
"Al kau menilaiku seperti itu?" Tanya Danish keheranan. Dia tidak menyangka berkata seperti itu.
"Iya mas. Perkataan saya benar bukan, kamu memang baik mas. Tapi untuk bersama itu harus ada cinta. Saya tidak mencintaimu mas." Ucap Alika membuat dada Danish mendadak sesak.
"Kau bohong Al! Kalau kau tidak mencintaiku, mengapa kau berkorban demi aku. Kau kembali pada Alvino karena ingin menyelamatkanku kan?" Tanya Danish
"Saya kembali bukan semata untuk menolongmu agar bebas mas. saya hanya ingin memperbaiki rumah tangga saya. Karena saya sadar, cinta saya memang untuk mas Alvino. Bukan orang lain. Termasuk kamu mas." Ucap Alika yang sungguh menyakiti hati Danish.
"Ahahaha.." Danish tertawa, dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari mulut Alika. "Aku tahu kau itu berbohong. Dari awal bertemu dan jalan bersama kau sudah ada rasa denganku kan. Saat kunyatakan perasaan waktu itu, kau ingin menjawab iya kan. Tapi perjodohanmu dengan Alvino membuat cinta kita terhalang."
"Tidak mas. Waktu itu saya ingin menolak. Tapi kamu sudah buru-buru pergi. Dan hari itu saya mau menemanimu jalan-jalan karena sudah di bayar oleh mas Arka." Ucap Alika yang lagi-lagi membuat Danish tak percaya.
"Saya sebenarnya malas berhubungan dengan mas Danish, pria yang suka menyakiti hati wanita. Oh ya dan satu lagi, saat dalam masalah kemarin saya sebenarnya juga tidak nyaman berdekatan denganmu mas. Tapi ya saya tahan saja karena saya butuh bantuan." Ucap Alika
"Untuk masalah mas Alvino selingkuh atau tidaknya, biar saya yang mengatasi sendiri. Saya tidak membutuhkan bantuan kamu. Meski seandainya saya bercerai, saya juga tidak akan memilih mas Danish untuk menjadi suami saya." Ucap Alika yang benar-benar membuat hati Danish hancur.