Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 37


Alika mencuci muka berkali-kali di wastafel yang ada di toilet kantor. Kemudian dia mengusapnya dengan tisu yang ada di sana. Saat mengusap bibirnya, dia kembali merutuki kesalahannya sendiri.


"Astaga, apa yang sudah kulakukan tadi. Mengapa aku tidak menghindar dan malah menikmatinya." Ucap Alika sembari menepuk pelan bibirnya sendiri.


"Mbak Isabel jelas melihatnya tadi, aduh bagaimana jika dia menyebar luaskan ke seluruh karyawan yang ada di sini? Aaa, malu banget aku. Pastinya ini akan menimbulkan masalah." Ucap Alika yang mulai khawatir akan apa yang terjadi kedepannya nanti.


Alika masih berdiam diri di dalam toilet sampai tiba-tiba Danish masuk kedalam. Alika sontak terkejut melihat Danish sudah berdiri di belakangnya.


"Mas Danish kok masuk kemari, ini kan toilet perempuan." Ucap Alika


"Iya sorry, sorry. Aku masuk karena kau lama sekali tidak kunjung keluar. Aku khawatir kau kenapa-kenapa di dalam sini. Tapi kau baik-baik saja, ya sudah aku keluar." Ucap Danish


Alika membiarkan Danish keluar. Jantungnya masih berdegup kencang mengingat kejadian tadi.


"Bagaimana aku keluar dari sini? Aku sangat malu." Gumam Alika merasa gelisah. Namun akhirnya dia memberanikan diri untuk keluar dan menganggap seakan tidak terjadi apa-apa.


Alika berjalan dengan menundukkan kepala. Perasaannya masih campur aduk. Namun karena berjalan menunduk dia menabrak Azel.


"Aww,," pekik Azel


"Aduh maaf mbak Azel saya tidak sengaja. Mari saya bantu." Ucap Alika sembari mencoba membantu Azel berdiri. Tapi tangannya di hempaskan oleh Azel.


"Aku tidak butuh bantuanmu. Kau ternyata lebih dari yang kukira. Benar-benar menjijikan." Ucap Azel penuh ekspresi kekesalan.


"Maksud mbak Azel apa?" Tanya Alika dengan ekspresi bingung.


"Sudahlah jangan sok polos lagi. Dasar wanita penggoda. Kau itu belum resmi bercerai tapi sudah berciuman dengan pria lain. Belum jadi janda saja sudah gatal. Kau pasti sengaja menggunakan tubuhmu untuk memikat pak Danish, dan tujuanmu untuk menguasai kekayaannya kan," Ucap Azel menggebu meluapkan kekesalannya.


"Astagfirullahaladzim mbak, saya tidak seperti itu." Ucap Alika, dia sedikit kaget Azel juga melihatnya berciuman dengan Danish.


"Ah sudahlah, kau memang menjijikan." Hardik Azel yang kemudian pergi.


Ucapan Azel yang cukup keras itu terdengar oleh karyawan lain yang ada di sana. Mereka pun langsung terkejut dan mulai berbisik satu sama lain. Mereka menatap sinis pada Alika.


Alika tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia berjalan cepat menuju ruangan Danish untuk mengambil tasnya. Tanpa sepatah kata pun Alika pergi meninggalkan ruangan Danish setelah mengambil tasnya.


"Hei Alika kau mau pergi kemana, aku ingin bicara padamu." Ucap Danish tapi tidak di dengar oleh Alika.


"Arrgh, apakah dia marah padaku? Ish,, sial! Nih bibir kenapa juga main nyosor aja." Danish menyesali perbuatannya.


Tidak perlu menunggu sampai datang hari esok, berita tentang Danish dan Alika itu sudah tersebar ke seluruh karyawan. Tapi untungnya Papa Bima sedang tidak ada di sana.


Miko yang juga sudah mendengarnya, langsung berlari menuju ruangan Danish.


Brakk....


Saking terburu-burunya, Miko sampai mendorong pintu ruangan Danish dengan sangat keras.


"Kau apa-apaan sih!" Bentak Danish,


"Ah sorry kak, ini genting soalnya." Ucap Miko


"Ashh,, jangan menambah pikiranku deh. Aku tuh udah pusing masalah Alika." Ucap Danish


"Bukan bermesraan sih hanya berciuman." Jawab Danish tanpa ekspresi.


"What?" Pekik Miko merasa terkejut mendengar pernyataan Danish. Tapi kemudian dia berekspresi bahagia. Karena itu tandanya ada kemajuan hubungan antara Danish dan Alika. "Wah selamat kak, aku kira itu hanya rumor. Tapi ternyata betulan adanya. Kalian sudah berciuman, itu artinya sudah ada hubungan spesial dong,"


"Bagaimana bisa kau memberiku selamat! Alika saja tidak menyukai kejadian ini. Dia pergi begitu saja, itu artinya dia marah padaku." Ucap Danish


"Upss, sorry kak. Aku tidak tahu kalau akhirnya seperti itu. Lalu kenapa kau masih diam disini kak, kejar dong," Ucap Miko


"Tidak perlu, nanti saja aku temui Alika di rumah. Pastinya dia akan pulang ke rumah. Sekarang aku mau membereskan masalah di kantor ini. Aku tidak mau Alika terganggu gosip-gosip karyawan di sini." Ucap Danish


Pria yang menjabat sebagai CEO itu mendatangi segerombolan karyawan yang sedang asik bergosip.


"Ehmm ehmm ... Sepertinya kalian semua sedang asik sekali ya, boleh saya bergabung?"


Suara Danish langsung membuat suasana hening. Mereka yang tadinya berbicara dengan tawa riuh mendadak terdiam dan menunduk. Tak ada yang berani menatap Danish.


"Masih ada sekitar setengah jam lagi menuju jam pulang kerja. Ini masih dalam jam kerja tapi kalian asik berbincang di sini!" Bentak Danish,


"Apa yang kalian bicarakan sampai berkumpul semuanya di sini?" Tanya Danish dengan tatapan mematikan menurut karyawannya.


Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Danish. Mereka semua terdiam termasuk Azel. Isabel tidak terlihat ada di sana. Entah kemana perginya wanita itu setelah berdebat dengan Danish tadi.


Danish dan Isabel sempat berdebat saat Danish tertangkap berciuman dengan Alika. Isabel merasa tidak terima sehingga mengatai Alika wanita murahan. Isabel juga mengingatkan pada Danish jika Alika itu masih istri orang. Tapi Danish malah berbalik memaki Isabel yang masuk tanpa permisi. Mereka mungkin pernah dekat dulu, tapi di dalam perusahaan itu Danish menjadi atasannya. Danish juga berkata kepada Isabel untuk tidak ikut campur masalah asmaranya. Dengan siapapun dia dekat hingga berciuman, itu bukan urusan Isabel.


Kembali ke dalam situasi sekarang, mereka semua tetap terdiam tanpa kata. Danish tersenyum kaku. "Yang tidak mau menjawab akan saya beri sp 1 dan potong gaji 30% untuk 6 bulan ke depan." Tegas Danish, Miko yang ada di belakangnya menelan saliva. Dia takut jika akan terbawa dalam masalah ini juga.


Mendengar perkataan dari atasan mereka yang terlihat sangat serius, akhirnya secara serempak mereka berkata jujur. Mereka tengah membicarakan hubungan Alika dan Danish.


"Bagus, sangat bagus. Apakah passion utama kalian bekerja di kantor ini memang bergosip?" Tanya Danish dengan tatapan jengah.


"Tidak pak, maaf semua ini berasal dari Azel. Dia yang mulai pak." Ucap Raya yang kemudian di sahuti oleh lainnya. Azel pun terpojok. Apalagi dia ditatap oleh Danish dengan tajam.


"Emm,, maaf pak Danish. Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya ...."


"Cukup! tidak perlu banyak bicara. Pokoknya kalau sampai saya dengar masih ada yang bergosip tentang saya dan Alika siap-siap terima konsekuensinya." Ucap Danish yang kemudian langsung pergi meninggalkan tempat.


"Kamu sih zel, pakai aneh-aneh segala. Kalau kita di potong gaji, kamu mau tanggung jawab?" Ucap Miko


"Iya, kamu nih bikin masalah aja deh." Sahut Raya didukung yang lainnya juga.


"Ishh,, apaan sih kalian kok jadi nyalahin aku! Dahlah aku mau pulang!" Seru Azel merasa kesal karena tidak ada yang membelanya.


**


Di tempat lain, Isabel tengah berbincang dengan seseorang lewat telefon.


"Oke deal, pokoknya harus berhasil." Ucap Isabel yang kemudian menyudahi telefonnya.


"Alika, kau tidak akan ku biarkan terus bersama Danish. Danish itu milikku." Ucap Isabel bermonolog. Senyum licik terlukis di bibir merahnya.