Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
Akan kurebut dia darimu


Sampai dirumah sakit, Alika langsung di periksa oleh dokter kandungan. Keadaannya tidak apa-apa dia hanya terlalu stress dan tegang. Itulah yang menyebabkan perutnya sering merasakan kram hebat. Setelah selesai diperiksa dan diberi vitamin, Alika langsung keluar dari ruangan dituntun oleh Danish.


"Mas makasih ya, maaf sudah merepotkan." Ucap Alika


Danish tersenyum kearah wanita yang tengah hamil itu. "Santai saja Al, aku akan selalu ada untukmu sebisaku."


Danish tidak langsung mengantar Alika pulang kerumah, dia mengajaknya ke sebuah restoran karena mengetahui Alika belum makan. Danish membiarkan Alika makan sampai kenyang lebih dahulu. Dia tidak mengajaknya mengobrol sama sekali. Dia hanya menatap dengan seksama sambil terus mengukir senyum dibibirnya.


Alika yang sadar sedang di perhatikan oleh Danish langsung berhenti makan.


"Loh Al kenapa udah? Makanannya nggak enak? Mau ganti menu yang lain?" Tanya Danish


"Eh tidak mas, Saya malu dilihatin begitu. Mas Danish enggak makan dari tadi." Jawab Alika seraya mengusap bekas makanan di bibirnya.


"Sorry jika aku membuatmu tidak nyaman. Oke aku makan ini, silahkan lanjutkan makannya. Kasian anakmu pasti lapar." Ucap Danish tetap dengan senyum ramahnya.


Dan akhirnya sesi makan selesai, kini adalah saat yang tepat untuk Danish bertanya tentang masalah yang dihadapi Alika sekarang ini. Dia masih penasaran mengapa Alika tidak bercerai saja dari Alvino. Tapi belum mengutarakan pertanyaannya Alika sudah mengutarakan jika ingin curhat dengannya.


"Mas boleh enggak saya curhat?"


Danish pun mengangguk mengiyakan. Dengan senang hati dia akan mendengar seluruh ungkapan keluhan isi hati Alika.


"Saya nggak tahu mas Danish bisa tahu masalah rumah tangga saya darimana, tapi semua dugaan mas itu benar. Saya tidak pernah bahagia menikah dengan Mas Alvino." Ucap Alika


"Lalu kenapa kau tidak mau bercerai saja dengannya? Apa karena kamu sedang mengandung?" Tanya Danish


"Bukan tidak mau, saya ingin sekali bebas dari mas Alvino. Tapi tidak bisa. Keadaan membuat saya mau tidak mau harus menjalani semua ini." Jawab Alika, kemudian Alika menceritakan tentang bagaimana bisa dia menikah dengan Alvino.


Flash back on


Gea pulang dengan wajah sedih. Adi dengan lantang menyatakan membatalkan pernikahan. Adi sudah tidak peduli lagi jika usaha ayahnya bangkrut, karena harus membayar hutang pada Ayah Gea. Adi sudah muak sekali dengan sikap Gea yang egois, kekanakan dan manja. Jauh berbeda dari Alika.


Gea mengobrak-abrik seluruh isi kamarnya. Dia menyalahkan Alika lagi atas kejadian ini.


"Ayah lakukanlah sesuatu. Aku tidak rela jika Adi kembali bersama Alika." Ucap Gea


"Apa yang harus ayah lakukan sayang?" Tanya Brata pada putri kesayangannya itu.


"Jodohkan saja dia, kalau bisa dengan pria tua biar dia kapok dan tidak pernah merasakan kebahagiaan." Jawab Gea


Melihat putri semata wayangnya bersedih dan kalut, Brata selaku ayahnya bertindak. Atas permintaan putrinya, Brata menjodohkan Alika dengan Alvino. Bukan hanya karena keinginan putrinya, disisi lain Brata mendapatkan keuntungan dari pernikahan itu. Dia menerima sejumlah uang dari orang tua Alvino.


Bagaimana Alika bisa menyetujui perjodohan itu, karena saat itu dia membutuhkan biaya untuk operasi pamannya yang sakit. Brata berkata akan memberikan sebagian harta peninggalan orang tua Alika kepadanya.


Flash back off


"Jadi akhirnya kau mendapatkan hak yang memang seharusnya menjadi milikmu?" Tanya Danish setelah mendengar cerita panjang Alika.


"Sayangnya tidak mas." Jawab Alika dengan senyum kaku. "Setelah menikah mas Alvino yang memenuhi semua kebutuhan paman dan bibi. Saya juga sama sekali enggak kekurangan. Tapi ya begitulah sikap mas Alvino."


"Jadi alasanmu tidak bisa bercerai karena ketergantungan dengannya?" Tanya Danish


"Iya begitulah mas. Saya tidak bekerja sama sekali setelah menikah. Karena tidak diperbolehkan. Mas Alvino mengancam jika saya nekat minta bercerai, dia akan membuat hidup paman dan bibi saya sengsara." Jawab Alika tanpa menutupi apapun.


*****


Violla sudah kembali kerumah tanpa dijemput oleh Alvino. Pria yang tadi sudah berjanji dengannya untuk menjemputnya, mengabaikannya begitu saja. Dia sudah telfon berkali-kali tapi selalu diriject olehnya.


"Alvino! Ternyata kamu cuma mondar-mandir nggak jelas kaya begini di dalam rumah." Teriak Violla dengan kesal. "Aku diteriaki orang gila sama banyak orang yang aku temui gara-gara kamu."


"Stop Violla! Aku semakin pusing dengar ocehanmu itu." Bentak Alvino


"Apasih kok malah marah sama aku?"


"Diam kamu, aku sedang pusing saat ini. Orang tuaku sudah tahu tentang kita."


"What! Ini pasti karena istrimu yang sok tersakiti itu kan vin, Dimana dia sekarang?"


Beberapa detik kemudian Alika masuk bersama dengan Danish. Alvino langsung mendekat hendak melayangkan sebuah bogeman pada wajah Danish. Namun dengan cepat Danish menepisnya dan malah membuat Alvino jatuh tersungkur.


"Ck,, Astaga, kau bukan lawanku." Cibir Danish dengan sedijit menyudutkan bibirnya.


"Hei kamu kan yang mengejekku tadi, Kenapa kamu bisa bersama Alika?" Tanya Violla


"Alika adalah sahabatku dan aku ingin melindunginya dari pria brengsek seperti ular Albino ini." Ucap Danish sembari merangkul pundak Alika.


"Hei beraninya kamu menyentuh istriku!" Seru Alvino dengan tatapan mata tajam seakan dua manik matanya akan keluar.


Alika sudah merasa takut dengan tatapan Alvino yang mengerikan itu. Tapi dia diyakinkan oleh Danish untuk tetap tenang. Dia harus berani melawan suami yang selalu menindasnya itu.


"Kenapa mas? Kamu cemburu? Kamu saja bahkan sudah tidur bersama wanita lain dikamar kita. Egois kamu kalau cemburu melihatku bersama pria lain." Ucap Alika


"Alika! Sudah berani kamu melawanku." Alvino akan menampar Alika tapi tangannya langsung dicekal oleh Danish.


"Oh aku ingat, kamu ini pria yang sedang bersama Alika di mall. Bagus ya Al ternyata kamu berani selingkuh di belakang aku." Alvino mulai playing victim.


"Wah gila perempuan sok tersakiti ini ternyata menyelingkuhimu juga sayang. Dasar sok suci!" Timpal Violla menambah panas suasana disana.


Alika menghela nafas panjang. Yang mereka bicarakan itu sama sekali tidak benar. Disini suaminya pasti sengaja agar ia terlihat lebih bersalah.


"Sudah Al lebih baik kau istirahat saja. Ingat kata dokter kau tidak boleh stres. Jangan dengarkan ocehan dua manusia ini." Ucap Danish,


"Iya sebaiknya begitu mas, karena berbicara apapun saya pasti akan tetap terlihat salah. Terima kasih untuk hari ini mas."


"Mini Alika jangan rewel ya, jangan seperti papamu." Ucap Danish pada perut Alika. Hal itu sangat membuat Alvino marah. Dia langsung melepaskan rangkulan Violla dan hendak mengejar Alika yang akan masuk kedalam kamar.


"Hei kau mau kemana?" Danish mencegah Alvino.


"Jangan ikut campur urusanku, pergi sana!" Seru Alvino dengan tatapan tajam.


"Aku akan tetap ikut campur selama itu tentang Alika. Kalau kau tidak memperlakukan Alika dengan baik, aku pasti akan merebutnya darimu." Ucap Danish dengan senyum seringai. Kemudian dia melepaskan Alvino dengan sedikit mendorongnya. Pria itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Violla mencoba membantu tapi ditepis kasar olehnya.


"Ingat perkataanku. Dan untukmu pelakor sok cantik, jangan kamu pikir menikah dengan pria ini akan mendatangkan kebahagiaan untukmu." Setelah mengatakan itu Danish pergi dari sana.