Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 25


Betapa senangnya hati Danish setiap harinya bisa melihat wanita pujaan hatinya. Seperti di pagi ini. Ketika akan berangkat ke kantor, Danish mendapati Alika sedang menyirami tanaman di halaman rumah.


“Benar-benar pemandangan yang membuat mataku sehat.” Gumam Danish melihat wanita cantik di seberang rumahnya. Kebetulan sekali mobilnya masih terparkir di halaman rumah Alika. Jadi dia bisa sedikit berbasa-basi dengan Alika pagi ini.


“Selamat pagi Al,” Sapa Danish dengan senyum yang ramah.


“Pagi juga mas. Sudah rapi mau berangkat ke kantor ya,” Balas Alika dengan senyum yang tak kalah manis membuat Danish ingin pingsan saja menatapnya.


Kalau saja hari ini tidak ada jadwal rapat pagi, Danish masih ingin melakukan perbincangan dengan wanita pujaan hatinya itu. Berhubung dirinya sibuk, terpaksa langsung pamit pergi saja.


“Ya sudah Al, Aku berangkat dulu. Misal bosan di rumah, main saja ke rumahku. Mamaku ada di rumah. Aku sudah cerita kalau kamu tetangga baru di sini.” Ucap Danish yang kemudian melangkah menuju mobilnya berada.


“Eh mas tunggu, saya mau tanya sesuatu.” Alika menghentikan Danish agar tidak pergi dahulu.


“Tanya saja, apa?” Dengan senang hati Danish mau mendengarkan Alika. Meski sebenarnya dia sedang terburu-buru.


“Apakah di perusahaan mas Danish ada lowongan pekerjaan? Saya enggak bisa menganggur terus. Jadi office girl lagi enggak apa-apa mas.”


Mendengar pertanyaan Alika itu, Danish langsung terpikirkan suatu ide yang bisa membuat dirinya akan terus dekat dengan Alika.


“Hemmm.. Pasti ada kok. Nanti aku tanyakan ke HRD. Ya sudah aku berangkat. Kau hati-hati dirumah.”


 


🌺🌺🌺


 


Suasana hati Danish sedang sangat baik hari ini. Namun kondisi berubah ketika Isabel masuk secara tiba-tiba ke dalam ruangannya. Tentu saja wanita itu hal itu membuat Danish cukup terkejut. Ditambah melihat Isabel memakai name tag perusahaannya.


 


"Kenapa kau memakai name tag perusahaanku? Kau kan bukan karyawan di sini." Ucap Danish


 


"Siapa bilang bukan. Sekarang aku karyawan di sini. Kamu sih sibuk terus di luaran. Sampek enggak tahu calon istri sendiri udah jadi karyawan di perusahaannya." Ucap Isabel.


 


"Ck,, jangan bermimpi menjadi istriku. Kembali ke tempat kerjamu atau aku pecat sekarang juga." Bentak Danish kepada wanita di hadapannya. Namun bukannya menuruti apa yang diperintahkan oleh Danish sebagai atasan, Isabel malah mencoba mendekat. 


"Stop! Kukatakan pergi dari ruanganku sekarang juga."


Dengan bibir yang mengerucut karena kesal, Isabel pun meninggalkan ruangan Danish. Setelah itu Miko yang bergantian masuk ke sana. Miko membawa berkas yang harus di cek oleh Danish.


"Wah perempuan itu ngapain ke ruanganmu kak?" Tanya Miko penasaran.


"Yang jelas dia merusak moodku. Bagaimana bisa dia jadi karyawan disini dan aku tidak tahu itu." Jawab Danish dengan kesal.


"Aku juga baru tahu saat dia mulai bekerja kemarin." Ucap Miko


"Lalu mengapa kau tidak memberitahuku?" Tanya Danish dengan kesal.


"Aku sudah berniat memberitahumu kak, tapi kan kau tidak menjawab telefonku karena sibuk berkencan." Jawab Miko


"Siapa yang berkencan? Aku hanya membantu Alika pindahan."


"What? Alika si office girl menyebalkan itu tinggal di komplek perumahan pak Danish?" Sahut Azel yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Miko.


"Iya, dan mulai besok dia akan bekerja di sini lagi tapi bukan sebagai office girl. Melainkan menjadi asisten pribadiku." Ucap Danish seraya tersenyum semringah.


Otomatis Azel menutup mulutnya yang terbuka lebar karena kaget mendengar penuturan Danish. Bisa-bisanya mantan office girl di perusahaan itu menjadi asisten pribadi CEO. Apalagi CEO nya setampan Danish. Azel langsung iri mendengarnya. Karena kehadiran Alika sebagai asisten pribadi Danish akan membuatnya tersisih. Dia akan lebih sulit untuk dekat dengan atasannya itu.


 


🌺🌺🌺


 


Azel kembali ke meja kerjanya dia melampiaskan kekesalannya dengan mencoret kertas dengan pena. Sembari mengomel sendiri.


Hal itu diperhatikan oleh Isabel. Kebetulan meja kerjanya berdekatan dengan Azel. Isabel pun menghampirinya untuk mencari tahu. Karena Azel terlihat kesal setelah keluar dari ruangan Danish.


"Kau kenapa? Sepertinya kesal begitu?" Tanya Isabel


"Ck,, kenapa kau bertanya-tanya padaku, kita kan rival di sini. Aku tahu kau itu penggila pak Danish. Sampai-sampai nekat bekerja di sini. Padahal kau sama sekali tidak punya passion untuk bekerja kantoran. Aku tahu kau membayar mahal kepada pihak HRD untuk masuk kemari." Ucap Azel seraya tersenyum mencibir Isabel. Memang benar semua yang dikatakan olehnya. Isabel memberikan uang kepada HRD agar diterima menjadi karyawan di sana.


Isabel sungguh tidak menyangka Azel mengetahui tentang itu semua. Namun Isabel sama sekali tidak gemetar ataupun takut setelah ada yang tahu tentang itu. Dia malah tersenyum untuk membalas perkataan Azel.


"Ya memang itu yang kulakukan. Tapi bukannya mengejar cinta itu memang butuh pengorbanan. Termasuk harus membayar sekalipun demi dekat dengannya." Ucap Isabel dengan tersenyum.


"Lihat saja aku akan mendapatkan hati Danish dan tidak akan kubiarkan kau mendekatinya." Imbuh Isabel


Azel tersenyum mencebik mendengar perkataan Isabel itu. "Ck,, jangan bermimpi di siang bolong. Kau belum tahu, kalau pak Danish sudah memiliki calon istri pilihannya?"


Isabel malah tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Azel itu. Dia berpikir dirinyalah calon istri yang dimaksud Azel. "Asal kau tahu, calon istri Danish itu aku. Kita dijodohkan oleh orang tua kita." Ucap Isabel penuh percaya diri di hadapan Azel.


"Astaga jangan halu deh, pak Danish itu menyukai perempuan yang bernama Alika. Dulu dia bekerja di sini sebagai office girl. Besok dia juga akan bekerja lagi di sini. Sebagai asisten pribadi pak Danish."


"What?" Pekik Isabel, "kenapa bukan aku saja yang dijadikan asisten pribadi, apakah perempuan itu cantik sehingga Danish menyukainya?"


"Ya dia cantik tapi tidak lebih cantik dariku." Ucap Azel seraya memuji dirinya sendiri.


Isabel berdecak kesal, wanita itu mengentakkan kaki sebelum akhirnya pergi begitu saja. Dia ingin kembali menemui Danish di ruangannya. Untuk memprotes masalah ini.


"Danish, biar aku saja yang menjadi asisten pribadimu." Ucap Isabel menggebu. Tanpa permisi dia masuk begitu saja ke ruangan atasannya.


Sontak Danish yang sedang fokus memeriksa berkas yang tadi dibawa oleh Miko, merasa terganggu.


 


"Kau ini apa-apaan sih, siapa yang mengizinkanmu masuk kemari!" Teriak Danish murka.


"Tidak ada, tapi Danish dengarkan aku dulu. Jadikan aku asisten pribadimu. Jangan wanita lain, dengan ini mungkin kita bisa lebih dekat." Ucap Isabel penuh harap.


"Kau siapa mengaturku?" Tanya Danish dengan ketus.


"Aku calon istrimu,"  Jawab Isabel dengan percaya diri.


"Sudah kukatakan perjodohan kita batal! Aku tidak menerima perjodohan itu dari awal. Jangan berlagak bodoh. Pergi dari ruanganku, atau kupecat kau sekarang juga!" Bentak Danish, dia sudah cukup lelah menghadapi wanita di hadapannya itu.


Tidak ingin dipecat, akhirnya Isabel keluar dari sana. Karena jika dia dipecat sekarang, dia akan lebih susah untuk mendekati Danish.