Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 35


Isabel dan Alvino kembali bertemu. Mereka tengah makan siang bersama. Isabel cukup senang mendengar berita baik dari Alvino.


"Aku sangat senang mendengarnya, walaupun ini masih awal. Tapi semoga kau benar-benar berhasil rujuk dengan istrimu itu." Ucap Isabel


"Iya, aku yakin pengadilan pasti akan mengabulkan permintaanku. Alika tidak akan bisa lepas dariku." Ucap Alvino


"Oh ya dimana gadis yang bersamamu tadi? Kenapa kau tidak mengajaknya makan juga?" Tanya Isabel


"Maksudmu Gea? Dia pergi membeli baju. Entah kenapa dia belum kembali juga." Ucap Alvino


"Kau beri dia kartu kreditmu?" Tanya Isabel


"Iya, hitung-hitung sebagai upah dia bersaksi kemarin." Jawab Alvino


"Yah,, jelas saja kalau dia lama. Mungkin seluruh toko yang ada di dalam mall ini dia kunjungi dan dia beli semua.


Dugaan Isabel benar sekali. Gea datang menghampiri mereka dengan tas belanjaan yang memenuhi kedua tangannya.


"Nih aku kembalikan kartu kreditmu. Terimakasih," Ucap Gea dengan senyum lebar.


Isabel tersenyum kaku melihat Gea. Dia menilai Gea juga kampungan. Terlihat sekali dari gayanya yang tidak pernah belanja di toko mahal. Sedangkan Alvino langsung panas dingin. Karena jumlah harga belanjaan Gea pasti tidak sedikit. Dilihat dari paper bagnya bertuliskan brand ternama semua.


"Sudah ku belanjakan sebanyak itu kau harus lebih semangat membantuku kembali rujuk dengan Alika." Ucap Alvino


"Iya, aku pasti semangat membantumu. Sekarang aku lapar, aku boleh memesan makanan kan," Ucap Gea


"Iya, pesan sesukamu." Ucap Alvino


Gea pun sangat gembira. Kapan lagi dia makan di restoran mahal di ibu kota. Dia memang tergolong orang yang kaya di desanya, tapi dia jarang pergi ke mall seperti sekarang ini. Mumpung gratis Gea memesan apapun yang dia suka di sana.


Tidak di sangka, Gea memesan banyak sekali makanan. Membuat Alvino dan Isabel terheran-heran. Gadis bertubuh ramping itu ternyata banyak makan juga.


"Kau memesan sebanyak ini memangnya sanggup menghabiskannya?" Tanya Alvino


"Sanggup kok, biarpun badanku kecil tapi isi perutku ini banyak. Kemungkinan aku bisa nambah lagi." Ucap Gea yang kemudian mulai melahap makanan di hadapannya.


"Gila nih cewek, bisa-bisa tekor duluan aku." Batin Alvino


"Sudahlah Vin, biarkan saja Gea makan. Biar dia kenyang nanti bisa memikirkan ide briliant lagi untuk membantu kita." Ucap Isabel, "emm jam makan siangku udah habis, aku harus kembali ke kantor. Aku pergi duluan ya," Pamit Isabel


"Iya hati-hati di jalan." Ucap Alvino, sedangkan Gea hanya mengangguk-angguk saja karena mulutnya penuh makanan.


.


.


Isabel tidak sengaja melihat Alika masuk ke dalam toilet mall. Dia mengurungkan niatnya untuk segera kembali ke kantor. Dia mengikuti Alika ke dalam area toilet.


Terlintas niat jahat dalam otak Isabel. Wanita licik itu menyangkal pintu toilet yang di masuki oleh Alika dengan alat pel. Kebetulan sekali di dalam sana kosong. Tidak ada orang selain dirinya dan Alika.


Aktivitas Alika di dalam toilet sudah selesai. Ia hendak keluar tapi pintunya tidak bisa di buka. Dia pun menggedor-nggedor pintu seraya berteriak minta bantuan.


"Tidak akan ada yang menolongmu wanita kampungan." Gumam Isabel merasa senang. Tapi dia belum puas mengerjai Alika. Isabel melihat ember kecil berisi air kotor, sepertinya itu air bekas mengepel di sana. Isabel masuk ke toilet sebelah, dia naik ke kloset dan menumpahkan air dalam ember itu hingga mengguyur Alika.


"Aaa.. Siapa di sebelah? Aduh jangan jail dong. Saya jadi basah." Teriak Alika


"Aw,," Pekiknya tanpa sengaja. Refleks dia langsung menutupi mulutnya. Dengan sekuat tenaga dia segera berdiri dan keluar dari toilet.


"Aduh jadi sakit semua gara-gara wanita sialan itu. Tapi nggak papa, aku puas. Biar tau rasa dia, siapa suruh deketin Danish. Danish itu pantasnya denganku." Isabel bermonolog, saat hendak pergi dia menaruh tanda toilet sedang di bersihkan. Tepat di depan pintu masuk area toilet itu.


"Dengan begini tidak akan ada yang menolongmu. Ahahah." Ucap Isabel sebelum akhirnya pergi.


.


.


Meeting yang dilakukan Danish dengan kliennya sudah selesai. Kliennya pun sudah pergi dari sana. Danish mengemasi berkas dan juga laptopnya. Kemudian dia menyusul Alika ke toilet kafe tempat mereka berada.


Namun sampai di toilet, Alika tidak ada di sana. Danish pun kembali ke mejanya. Dia mencoba menghubungi Alika. Sayangnya ponsel Alika berada di dalam tasnya yang tergeletak di kursi. Tanpa berfikir lagi, Danish membawa tasnya juga tas Alika dan mencari ke toilet yang ada di dalam mall.


Kebetulan ada toilet yang tak jauh dari tempatnya meeting tadi. Di sana tertulis sedang di bersihkan. Kalau sedang di bersihkan otomatis tidak akan ada pengunjung yang masuk ke sana. Tapi firasat Danish mengatakan ada Alika di dalam sana. Akhirnya dia nekat masuk saja.


"Tolong... Siapapun di luar, tolong saya kekunci." Teriak Alika


"Alika apa itu benar kau?" tanya Danish yang sudah masuk ke dalam toilet.


"Iya mas, tolong saya." Jawab Alika


Danish pun membuang alat pel yang membuat pintu tidak bisa terbuka.


"Ya ampun Al, kenapa rambutmu basah dan bajumu kotor sekali?" Tanya Danish melihat keadaan Alika setelah pintu toilet berhasil terbuka.


"Ada yang menyiram saya mas. Eggak tahu siapa dia. Tapi tadi saya sempet denger suaranya perempuan. Dia jatuh sehabis nyiram saya dengan air kotor." Ucap Alika menceritakan kronologinya.


"Jahat sekali orang itu, apalagi dia menguncimu seperti ini. Apakah mungkin kau mengenal suara perempuan itu?" Tanya Danish


"Hemm, saya tidak tahu suara siapa itu mas. Soalnya dia hanya berteriak sebentar terus tidak bersuara lagi." Jawab Alika. "Eh meetingnya bagaimana mas? Sudah selesai ya, aduh maaf ya saya jadi tidak menjalankan tugas dengan baik." Ucap Alika merasa bersalah.


"Itu tidak penting, ayo kita pergi sekarang." Danish menarik tangan Alika keluar dari toilet. Tapi mereka tidak langsung pulang. Danish membawa Alika masuk ke dalam salon.


Danish berbincang dengan salah satu karyawan salon di sana. Alika menjadi pusat perhatian seisi salon karena penampilannya yang sudah acak-acakan.


"Al kau disini dulu ya, nanti aku akan kembali." Ucap Danish yang kemudian langsung meninggalkan Alika di salon.


"Loh loh mas, saya ngapain di sini?" Alika merasa bingung.


"Mbak mari ikut saya." Ucap salah satu karyawan salon seraya menuntun Alika ke tempat perawatan tubuh. Alika diminta untuk berganti pakaian yang sudah di siapkan oleh karyawan salon.


"Mbak saya mau di apain ya, kok harus pakai ini?" Tanya Alika dengan polosnya. Dia memang tidak pernah pergi ke salon mewah seperti tempatnya berada sekarang. Apalagi perawatan yang pastinya mahal. Dia hanya pernah ke salon untuk potong rambut. Itupun dia lakukan sudah lama sekali. Sejak sebelum menikah.


"Pokoknya mbak akan kami berikan servis yang terbaik. Mari masuk." Ucap salah satu karyawan. Akhirnya Alika menurut saja.


Satu jam berlalu, Danish sudah duduk menunggu wanita pujaan hatinya selesai di make over. Danish sibuk memainkan ponselnya.


"Mas Danish," Panggil Alika


Danish yang tadinya sibuk dengan ponselnya langsung mendongak melihat kearah Alika yang memanggilnya.


"Apakah aku sedang melihat bidadari," Gumam Danish