
"Dimana Alika? Apa dia belum bangun?" Tanya Alvino pada Violla.
"Kenapa mencarinya, kamu rindu pada istrimu itu?" Violla malah balik bertanya dengan nada penuh kecemburuan.
"Tidak aku hanya tanya saja. Soalnya kemarin dia menelfonku lebih dari sepuluh kali, apa kemarin kalian bertengkar?"
"Enggak kok, buang-buang waktu aja berantem sama dia."
"Apa mungkin dia belum bangun, coba aku cek kamarnya. Jangan-jangan dia sakit," Ucap Alvino beranjak dari meja makan. Sikapnya yang seakan perduli dengan istrinya, membuat Violla terbakar api cemburu.
"Ehmm.." Violla berdehem dengan keras. Membuat langkah Alvino terhenti. "Kelihatannya kamu peduli sekali dengan istrimu itu, apakah kamu mulai mencintainya?" Terka Violla,
"Apaan sih sayang enggaklah. Aku hanya ingin memastikan. Dia itu tameng untuk hubungan kita yang terhalang orang tuaku." Ucap Alvino sembari kembali melangkah menuju kamar Alika. Violla pun segera menyusulnya.
Betapa terkejutnya Alvino melihat bercak darah di kasur kamar Alika. Ditambah wanita yang berstatus sebagai istrinya itu tidak ada di sana. Sementara Violla berekspresi biasa saja.
"Apa yang terjadi dengan Alika? Apa karena ini kemarin dia menelfonku berkali-kali, Jangan-jangan dia keguguran." Ucap Alvino
"Mungkin saja begitu. Karena aku sudah mencampuri bubuk susunya dengan obat. Dan kemarin obatnya bereaksi." Ucap Violla seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Aku tidak masalah jika anak dalam kandungannya tidak selamat. Tapi aku tidak akan melepaskan Alika begitu saja. Dia itu tameng hubungan kita." Ucap Alvino
"Tameng atau memang kamu sudah mencintainya?" Tanya Violla dengan tatapan penuh kecemburuan.
"Sayang dia itu hanya tameng untuk hubungan kita, jadi pliss jangan berfikiran seperti itu. Kita cari cara dulu agar orang tuaku merestui kita. Baru setelah itu kamu akan kujadikan istri satu-satunya." Ucap Alvino sembari merangkul kekasihnya yang berekspresi cemberut itu.
"Iya, tapi kamu tidak boleh sekalipun tidur bersamanya lagi. Kan sudah ada aku disini." Ucap Violla
"Iya sayang, aku tidak akan bersamanya. Kamu lebih enak." Ucap Alvino dengan tatapan genit. Violla membalasnya dengan senyuman.
Alvino benar-benar suami yang tidak punya hati. Sudah tahu kabar istrinya yang keguguran tapi malah terlihat senang. Dia malah merasa lega karena tidak akan membiayai anak yang menurutnya bukan darah dagingnya. Padahal jelas dirinyalah yang menanamkan bibit di rahim Alika. Jelas dia juga yang pertama merenggut mahkota Alika saat malam pertama. Namun dasarnya tidak punya hati, itu semua tidak diingat olehnya.
🍁🍁
Di sore hari Alvino yang baru saja pulang dari kantornya. Mendapati Violla yang sedang berenang. Dirinya langsung merasa tergoda dengan tubuh kekasihnya yang dibalut bikini seksi itu.
"Sayang kamu kok pakai itu, kalau ada orang masuk rumah gimana?" Tanya Alvino yang berdiri tak jauh dari kolam renang. Seketika Violla pun naik untuk menghampiri Alvino. Dia berjalan melenggak-lenggok dengan tatapan sensual untuk menggoda Alvino.
glek
Alvino menelan salivanya melihat dua gundukan milik Violla yang terguncang hampir keluar dari bra yang dikenakan.
"Kenapa memangnya kalau aku pakai bikini ini, lagipula siapa yang akan masuk kemari selain dirimu. Kalaupun aku diperk*osa itu pasti kamu yang melakukannya." Ucap Violla tersenyum tipis. Lalu dia memakai handuk kimono menutupi keseksiannya.
"Kenapa ditutup sih," Protes Alvino
"Oh kamu suka ya," Ucap Violla
"Tentu, adik kecilku saja juga menyukainya. Dia langsung terbangun saat ini." Ucap Alvino dengan senyum seringai seakan ingin segera menjamah tubuh kekasihnya.
"Kalau kamu mau, kejar aku." Violla berlari masuk kedalam. Alvino pun mengejarnya. Hingga dia berhasil menindih tubuh Violla di kursi sofa ruang tamu rumah itu.
"Kamu tidak bisa lari kemana-mana lagi, puaskan aku sekarang juga." Tanpa berbasa-basi lagi Alvino mencium bibir sang kekasih dengan ganasnya. Namun saat ingin melepaskan handuk yang dikenakan Violla, suara pria yang sangat dikenali Alvino menghentikan paksa aktivitasnya.
Seketika Alvino dan Violla tercekat. Diluar perkiraan mereka jika orang tua Alvino akan datang secara tiba-tiba seperti sekarang. Alvino juga lupa tidak mengunci pintu tadi.
"Istrimu sedang dirawat dirumah sakit dan kau malah berduaan dengan perempuan ini!" Seru Nena
Alvino lebih terkejut mendengar orang tuanya sudah mengetahui tentang Alika.
"Sial, beraninya wanita itu mengadu pada mama papa. Padahal aku ingin membalikkan fakta tentang dia yang kabur bersama pria lain hingga keguguran. Kalau begini jelas mama dan papa akan menyalahkanku." Batin Alvino merasa kesal. Rencananya untuk membuat nama Alika buruk pada kedua orang tuanya gagal total.
"Alika pergi dengan pria lain ma, bukan salahku. Dia istri yang tidak baik ma." Ucap Alvino masih berani menyalahkan Alika.
"Lantas istri yang baik menurutmu yang mana? Perempuan penjaja tubuh ini?"
"Tante saya bukan perempuan seperti itu. Saya pantas kok jadi istri Alvino. Alvino akan lebih bahagia dengan saya." Violla mulai membuka suara. Dengan sangat percaya diri dia berkata pantas menjadi istri Alvino.
Nena mencebik mendengar perkataan perempuan yang dinilainya murahan itu. Mengapa Nena menilainya seperti itu, karena dulu dia pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Violla jalan mesra dengan om-om. Ditambah pekerjaan Violla sebagai model majalah pria dewasa membuat Nena enggan menjadikannya menantu. Nama baik keluarga besar Abraham bisa tercoreng, saat media tahu menantunya seorang model majalah pria dewasa yang ilegal itu.
"Kau mungkin pantas untuk anakku, tapi tidak untuk menjadi menantuku. Jangan bermimpi saya akan membiarkanmu menikah dengan Alvino." Ucap Nena dengan kedua bola mata yang tajam menatap Violla.
"Bagaimana kalau ternyata saya hamil? Apakah tante masih ingin menghalangi Alvino menikah dengan saya?" Dengan beraninya Violla bertanya seperti ini.
"Saya tidak perduli kalaupun kau sedang hamil." Ucap Nena dengan sinis.
"Bagaimana dengan anda om Abraham? Dalam rahim saya ini ada penerus keluarga anda." Ucap Violla memainkam dramanya. Alvino langsung menatap kekasihnya itu. Dia merasa tidak percaya jika saat ini Violla sedang hamil. Jika saja benar, kenapa Violla tidak pernah bercerita padanya.
"Benar kau sedang hamil?" Tanya Abraham
"Iya om, saya mengandung anak dari Alvino. Mungkin sekarang anda kehilangan calon penerus keluarga karena Alika keguguran. Tapi saya membawa penggantinya. Saya sedang mengandung cucu om dan tante." Ucap Violla sembari mengusap perutnya.
Abraham terdiam, dia menatap penuh aura kemarahan pada putranya. Putranya itu sudah melakukan kesalahan besar.
"Aku akan menikahinya pah mah, dengan ataupun tanpa seizin kalian. Karena saat ini Violla sedang mengandung anakku. Penerus keluarga kita." Ucap Alvino sembari merangkul sang istri.
"Baiklah kalau begitu, tapi ceraikan dulu istrimu. Baru kau boleh menikahi perempuan ini." Ucap Abraham
"Pah apaan sih, kok main ngizinin aja mereka menikah," Ucap Nena merasa tidak suka dengan keputusan suaminya.
"Sudahlah mah nurut saja dengan keputusan papa. Aku akan menceraikan Alika besok dan segera menikahi Violla." Ucap Alvino sumringah.
"Tidak, biar papa saja yang mengurus perceraian kalian. Kau terima beres." Abraham menghubungi pengacaranya untuk mengurus perceraian putranya dengan Alika. Nena masih tidak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran suaminya.
Sementara Alvino dan Violla merasa senang, ternyata dengan mudah mereka mendapatkan izin. Drama yang dibuat oleh Violla berhasil meluluhkan hati Abraham. Ya, sebenarnya Violla sedang tidak hamil. Namun kesenangan mereka tidak berlangsung lama. Karena ternyata Abraham belum menyelesaikan pembicaraannya.
"Urusan perceraianmu sudah beres. Kau tinggal datang saja ke persidangan nanti." Ucap Abraham
"Iya pah, terimakasih." Ucap Alvino merasa senang.
"Om terimakasih ya, saya pasti akan menjadi istri dan menantu terbaik di keluarga ini. Saya juga akan menjaga dengan baik calon penerus keluarga ini." Ucap Violla sembari mengelus perutnya.
Abraham tersenyum tipis mendengar perkataan Violla. "Saya lupa meluruskan, kau menikah dengan Alvino. Tapi anak kalian tidak akan pernah menjadi cucu saya."
"Dan seperti sudah pernah kukatakan padamu Alvino, kau tercoret dari daftar harta warisan. Bagianmu akan papa berikan kepada Alika seluruhnya. Saham di perusahaan papa juga akan beralih ke tangan Alika."