
Gea merasa kesal pada ayahnya. Brata mengalah begitu saja dengan Alika dan tidak akan lagi ikut campur masalah rumah tangga Alika.
"Ayah itu gimana sih, kok nggak ngelawan. Trus Ayah bakal biarin Alika bercerai dengan Alvino gitu?" Ucap Gea merasa tidak terima dengan keputusan Ayahnya.
"Sudahlah Gea jangan menyalahkan ayah terus. Kau mau ayah masuk penjara? Laki-laki yang bersama Alika itu bukan orang sembarangan, dia tidak mungkin main-main dengan omongannya." Ucap Brata
Laki-laki yang dimaksud Brata adalah Danish. Brata menyerah karena Danish berkata akan membawa kasus ini ke jalur hukum, Jika Brata terus mendesak Alika untuk membatalkan perceraian.
"Terus ayah mau mengembalikan uang 500 juta kepada Alvino?" Tanya Gea
"Ayah tidak tahu, sudahlah jangan membahas itu. Ayah pusing!" Ucap Brata yang kemudian berlalu masuk ke dalam rumah. Tapi Gea terus mengikutinya.
"Ayah tunggu, obrolan kita belum selesai." Gea menghentikan ayahnya.
"Apa lagi sih Gea,"
"Ayah nggak bisa nyerah begitu aja, nasib percintaanku dengan Adi bagaimana?"
"Ayah sedang pusing. Pikir saja sendiri. Ini semua juga karenamu. Ayah jadi dapat masalah seperti ini." Ucap Brata dengan nada tinggi. Baru kali ini Brata marah pada putri semata wayangnya.
"Dih,, kok jadi aku yang salah sih. Semua ini gara-gara Alika sialan!" Ucap Gea berdecak kesal.
Yang dikatakan Brata memang benar. Semua masalah ini datang karena dirinya menuruti permintaan Gea. Perjodohan Alika terjadi atas permintaan Gea. Tentu saja agar Adi tidak pernah berusaha kembali bersama Alika lagi. Gea juga sengaja memilihkan pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya, agar Alika tidak akan pernah hidup bahagia.
**
Jakarta
Hujan lebat menyambut kepulangan Danish dan Alika. Namun hujan reda ketika mereka sampai di rumah. Danish memberhentikan mobilnya di halaman rumah Alika.
Meow.. Meow..
"Kaya ada suara kucing," Ucap Alika seraya menatap ke sekeliling halaman rumahnya. Tak membutuhkan waktu lama, wanita pecinta hewan manis itu menemukannya.
Kucing putih bersih berada di balik pot bunga. Dengan semangat Alika berlari menghampirinya tanpa melihat kondisi lantai yang ia pijak. Alika terpeleset karena menginjak lantai yang basah. Dengan sigap Danish menangkap tubuh Alika sehingga tidak sampai terjatuh.
"E e makasih mas," Ucap Alika seraya melepaskan diri dari Danish.
"Iya, lain kali hati-hati. Jangan sampai karena mengejar kucing membuatmu gagar otak." Ucap Danish seraya tertawa kecil.
"Yah.. Yahh.. kucingnya lari mas, itu ada yang punya ya," Alika merasa kecewa karena kucing yang tadinya ada di teras rumahnya pergi ketika didekati.
"Kayanya itu milik orang komplek sini juga. Kau suka sekali dengan kucing, aku masih ingat saat kau menangisi kucingmu yang mati saat di villa malam itu." Ucap Danish kembali mengingat saat di villa.
"Aduh mas Danish masih ingat aja. Saya malu deh jadinya." Ucap Alika merasa malu-malu.
Tiba-tiba saja Alvino sudah berdiri tepat di belakang Danish. Kedatangannya membuat ekspresi Alika berubah menjadi datar. Danish pun segera menoleh ke belakang.
"Alika aku ingin bicara penting denganmu. Berdua saja." Ucap Alvino menatap penuh arti pada Alika.
"Tidak bisa, kalau ingin berbicara disini saja." Ucap Danish mewakili Alika.
"Ck,, On the way mantan istri tepatnya." Ucap Danish menyadarkan Alvino tentang kenyataan saat ini. Pria itu langsung berekspresi seakan ingin mengajak duel Danish.
"Kau diamlah, ini bukan urusanmu. Lebih baik kau pergi dari sini sekarang. Aku ingin berbicara berdua dari hati ke hati dengan istriku." Tegas Alvino
Danish tertawa jengah mendengar perkataan Alvino. "Berbicara dari hati ke hati katamu? ck,, kau saja tidak punya hati." Cibir Danish pada Alvino. Membuat suami dari Alika itu marah dan akan memukul wajahnya. Tapi langsung di hadang oleh Alika.
"Kalau kemari hanya mencari keributan pulang saja mas." Tegas Alika mengusir Alvino. Tapi Alvino malah maju dan mengenggam tangan Alika dengan erat.
"Al aku kemari untuk mengajakmu rujuk. Kita batalkan perceraian kita. Aku sadar kamu istri terbaik aku. Maaf aku memang salah telah memilih Violla di banding kamu. Ternyata Violla bukan wanita baik-baik." Ucap Alvino
Danish tersenyum kaku dan segera menarik Alika menjauh dari Alvino. Dia merasa jengah mendengar perkataan Alvino. Lebih buaya dari dirinya yang sudah berpredikat playboy.
"Beraninya kau memegang istriku. Lepaskan!" Bentak Alvino dengan manik mata yang membulat sempurna.
"Sudah cukup mas, jawabanku aku tidak akan pernah mau rujuk denganmu. Aku juga tidak mau tahu tentang bagaimana hubunganmu dengan Violla saat ini." Ucap Alika dengan tegas.
"Tapi Al aku sadar ternyata aku mencintaimu." Ucap Alvino tidak tahu malu. Padahal dulu dia sendiri yang berkata tidak pernah mencintai Alika dan menikah hanya karena paksaan orang tuanya.
"Sudah terlambat mas. Sudah terlalu sakit hatiku mas. Bahkan saat aku keguguran kamu saja tidak perduli. Kamu tahu kan siapa penyebabnya, tapi kamu tetap membelanya. Trus sekarang kamu bilang cinta sama aku. Omong kosong mas." Ucap Alika dengan menggebu.
"Oh ya dan satu lagi jangan pernah lagi mengancam paman Brata untuk menekanku kembali padamu. Karena itu percuma. Aku tidak akan kembali denganmu mas!" imbuh Alika
"Kau tidak tuli bukan? Pergi dari sini sekarang!" Usir Danish pada Alvino. "Masuk lah ke dalam Al, biar ku urus pria brengsek ini." Danish menyuruh Alika masuk ke dalam dan kemudian dia mendorong Alvino menjauh.
"Hei kau ini berani sekali begini padaku!" Seru Alvino saat sudah terjatuh tepat di samping mobilnya.
"Pada pria brengsek sepertimu apapun bisa kulakukan." Balas Danish
Tiba-tiba Alvino berdiri dan memukul wajah Danish sampai membuatnya hilang keseimbangan. Danish terjatuh tapi dengan cepat dia berdiri dan membalas pukulan Alvino. Pukulan keras Danish menyebabkan bibir Alvino mengeluarkan darah.
Alika yang melihat mereka berkelahi langsung berlari keluar. Bukan hanya Alika, Jenny yang baru saja sampai di rumah juga ikut berlari melihat kakaknya berkelahi.
"Hey stop!" Teriak Jenny sembari memegangi Danish.
"Lepaskan aku Jenny, aku harus memberi pria brengsek ini pelajaran!" Seru Danish seraya memberontak ingin kembali menyerang Alvino.
"Tidak mas, jangan berkelahi." Ucap Alika yang juga mencegah Danish dengan memegang erat lengannya.
"Pergi kamu mas Alvino! Pergi!" Usir Alika dengan suara keras. Akhirnya Alvino pun pergi dengan mobilnya.
Melihat pipi Danish yang memar, Alika bergegas membawanya masuk ke dalam untuk di obati. Jenny juga ikut masuk ke dalam.
"Issh, kak ngapain sih pakai berantem segala." Ucap Jenny yang tidak tahu permasalahannya.
"Si brengsek itu yang memulai duluan. Masa dia kemari untuk meminta rujuk pada Alika. Jelas-jelas dulu dia menyia-nyiakan Alika." Ucap Danish dengan perasaan masih kesal.
"Jadi itu tadi mantan suami mbak Alika. Eh tapi kok dia bisa tahu mbak Alika tinggal di komplek sini," Ucap Jenny
"Ya mungkin dia tahu karena aku sering bersama mas Danish." Ucap Alika