Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 44


Setiap hari di detik, menit, jam Danish terus ingat tentang Alika. Selalu ada bayangan Alika dalam fikirannya. Danish terdiam menatap keluar jendela ruangannya. Cuaca hari ini cerah, hatinya yang mendung.


Miko tiba-tiba saja masuk menyelonong ke ruangan Danish. Miko langsung menyerocos tentang masalah pekerjaan. Hari memang Miko lagi-lagi mewakili Danish dalam rapat bersama klien.


"Kau tahu tidak kak, klienmu kali ini sungguh menyebalkan. Aku harus menjelaskan perihal kerjasama kita lebih dari sepuluh kali. Sekertarisnya juga sama saja lemotnya. Oh iya sekertarismu juga kak. Dia malah beralasan sakit perut dan meninggalkanku sendirian. Dengarlah suaraku sampai serak." Ucap Miko panjang lebar tapi sepertinya Danish tidak mendengarkannya.


"Tapi akhirnya urusan beres sesuai yang kau perintahkan. Sekarang kau harus menarktirku makan siang. Tenagaku sangat terkuras habis hari ini." Ucap Miko dengan ekspresif. Namun Danish tetap diam di tempatnya berdiri tanpa menyahut sepatah katapun.


Mengetahui dirinya tidak dianggap, Miko menghela nafas kasar. Kemudian dia mengerjai Danish seolah-olah Alika datang kesana.


"Alika,, kau kemari mencari kak Danish ya," Ucap Miko dengan suara keras. Benar saja Danish langsung menoleh mencari ke beradaan Alika.


"Alika, dimana dia?" Tanya Danish sangat antusias.


"Ada di rumahnya lah kak. Dari tadi aku bicara panjang lebar nggak nyaut. Giliran denger nama Alika aja langsung mana mana." Ucap Miko seraya tertawa kecil.


"Ck,, kau!" Danish mengoyak rambut Miko. Kemudian dengan lesu berjalan keluar ruangan.


"Loh kak kau mau kemana? kok aku ditinggal sih." Ucap Miko, dia menyusul Danish sembari sibuk membenarkan rambutnya.


**


**


Dan disinilah kedua saudara sepupu yang selalu akur itu berada. Di sebuah coffe shop tak jauh dari perusahaan Argantara grup. Miko mendengarkan curhatan Danish sembari menikmati makanannya.


"Kau mendengarkan tidak, dari tadi makan mulu. Nggak nyaut apa-apa." Protes Danish pada Miko.


"Dengerin kok kak, cuma aku masih harus isi energiku yang terkuras. Solusiku untukmu adalah ikut kencan buta. Dari pengalamanku wanitanya cantik-cantik kok." Ucap Miko membuat Danish menautkan kedua alisnya.


"Jadi selama ini kau tidak setia dengan pacarmu, dasar buaya buntung." Cibir Danish


"Kalau aku buaya buntung kak Danish buaya berekornya." Sahut Miko terkekeh. "Kembali ke pembahasan kita kak. Kalau kau ingin melupakan Alika, kau harus mencari penggantinya. Aku akan mengatur kencan buta untukmu." Ucap Miko dengan semangat.


"Enggak enggak, jangan ngaco. Kalau aku mau, aku bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang mau menjadi kekasihku. Aku masih ingin memperjuangkan Alika." Ucap Danish


"Tadi kau bilang bingung bagaimana cara melupakan Alika, sekarang ingin memperjuangkan lagi. Aku tidak mau kalau kau sampai stress kak. Masa iya sepupuku yang tampan mempesona mengidap gangguan jiwa di usia muda." Ucap Miko


"Hei,, Kau ini sangat berlebihan sekali. Ah sudahlah lanjutkan saja makanmu. Aku tidak akan meminta saran darimu lagi." Ucap Danish


Danish masih meyakini jika Alika itu terpaksa kembali dengan Alvino untuk membebaskannya. Selama dua bulan ini dia sulit sekali ingin menemui Alika. Alika juga tidak pernah menjawab telefon ataupun membalas pesan dari Danish. Dan kini Alvino dan Alika sudah pindah rumah.


"Bagaimana kabarmu sekarang Al, aku sangat merindukanmu." Ucap Danish dalam benaknya.


...****************...


Di ruang keluarga Alvino sedang duduk bersama kedua orang tuanya. Tamu semalam yang mengganggu aktivitasnya adalah orang tuanya. Mereka sudah melihat lebam di pipi Alika. Awalnya mereka memarahi Alvino. Namun setelah tahu alasannya Nena lebih membela putranya. Nena langsung menghampiri Alika yang tengah sibuk di dapur bersama Cici.


"Oh ini mah aku cuma bantu-bantu mbak Cici masak buat makan siang kita." Jawab Alika


"Emmh,, mama mau bicara sebentar apa ganggu?" Tanya Nena


"Oh enggak kok mah, ini sudah selesai." Jawab Alika


Kemudian mereka berdua berbicara di teras belakang rumah. Perasaan Alika sedikit tidak enak, apalagi melihat ekspresi ibu mertuanya yang tidak seperti biasanya.


"Mama mau bicara apa?" Tanya Alika


"Gini ya Al, mama tahu Alvino itu pernah berselingkuh dan sangat menyakitimu. Tapi bukankah dia sudah meminta maaf dan kalian sudah berbaikan, tapi kenapa kau tidak mau melayaninya? Itu sebuah kewajiban seorang istri loh." Ucap Nena


"Bukannya tidak mau mah, tapi saya belum siap. Ketika mas Alvino mendekati saya, ingatan tentang penghianatan itu selalu muncul. Rasanya masih sangat sakit mah." Ucap Alika membela diri dengan mengatakan apa yang memang dia rasakan.


"Mama tahu Al, tapi kau sudah mengambil keputusan untuk kembali dengan Alvino. Jadi mama harap perlakukan putra mama dengan baik." Ucap Nena memberikan pembelaan pada Alvino sebagai putra tunggalnya.


Alika hanya menjawab dengan suara pelan serta anggukan. Dia pikir obrolan dengan ibu mertuanya selesai di sana. Namun ternyata Nena masih meneruskan pembicaraannya. Dan kali ini sangat menyudutkan Alika.


"Kau itu jangan hanya mengingat keburukan Alvino saja. Ingat juga bahwa dia dengan rela mau menikah denganmu dan membiayai keluargamu di Bandung Al." Ucap Nena dengan ketusnya.


"Dan satu lagi, perlakukan putraku dengan baik. Layani dia sesuai kewajibanmu sebagai istri. Jangan-jangan dulu Alvino selingkuh karena memang pelayananmu tidak memuaskan. Kalau memang seperti itu, kau yang salah dalam hal itu. Jangan sampai semua terulang lagi. Ya sudah mama mau ke dalam." Ucap Nena yang langsung meninggalkan Alika.


Alika cukup kaget dengan perkataan ibu mertuanya. Baru kali ini ibu mertuanya berbicara sangat ketus padanya. Kata-kata mama Nena membuat batin Alika teriris.


"Iya aku tahu aku salah telah menolak ajakan suamiku sendiri. Tapi haruskah mama Nena berbicara seperti itu, rasanya sakit sekali." Gumam Alika dengan air mata yang tak terasa membasahi pipinya.


**


Di malam harinya Alika merias diri di depan kaca. Pipinya yang lebam sudah sedikit memudar. Dia menyemprotkan parfum di seluruh tubuhnya. Tampilannya pun sempurna.


"Aku akan melakukannya malam ini, meski sebenarnya hatiku masih sakit. Tapi ini kewajibanku dan mas Alvino juga sudah berubah." Ucap Alika


Dengan balutan piyama kimono berwarna merah, Alika berjalan menuju kamar dimana suaminya berada. Alika terus memantapkan hatinya untuk kembali menjadi istri seutuhnya Alvino.


Kriiieett ....


Alika membuka pintu dengan pelan. Dia masuk dengan sedikit menunduk. Perasaannya campur aduk. Entah mengapa rasanya berat melakukan ini.


"Mas Alvino aku siap melakukannya malam ini. Maaf sudah membuatmu menunggu dan kemarin aku membuatmu marah." Ucap Alika, namun tidak ada jawaban dari Alvino. Saat Alika mulai mengangkat kepala yang dilihatnya kosong, Alvino tidak ada di kamarnya.


"Mas Alvino kemana?" Alika bertanya-tanya sendiri. Kemudian dia mencari di seluruh sudut rumah. Tapi tidak menemukannya.


"Bu Alika mencari pak Alvino? Pak Alvino pergi naik mobilnya buru-buru gitu tadi. Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu." Ucap Cici


"Malam-malam begini, buru-buru kemana mas Alvino. Kerumah orang tuanya tidak mungkin. Mama papa kan baru pulang tadi sore. Hmm..." Gumam Alika dalam benaknya. Padahal baru saja dia ingin memulai tugasnya sebagai istri, eh suaminya malah pergi tanpa pamit.