Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 41


Rasa sedih menyelimuti perasaan Mama Vella. Sebagai seorang ibu dia cukup khawatir dengan keadaan putranya. Mama Vella terus saja berjalan kesana kemari menunggu suaminya datang. Dia berharap Danish juga ikut pulang bersamanya.


"Itu suara mobil papa jenny, ayo kita ke depan." Ucap Mama Vella, dengan tidak sabar ibu dua anak itu berlari ke halaman rumah.


"Mas bagaimana?" Tanya Vella saat sudah bertemu Bima. Jenny pun turut menunggu jawaban dari papanya.


Bima terdiam agak lama, dia bingung harus bagaimana memberitahu istrinya. Karena pastinya kabar ini akan membuat Vella syok.


"Pah kok diam sih, kak Danish mana?" Jenny ganti bertanya memastikan. Karena papanya hanya terdiam.


"Emm,, lebih baik kita masuk dulu." Ucap Bima sembari merangkul Vella menuntunnya masuk.


"Tidak, katakan dulu Danish tidak di tahan kan?" Tanya Vella dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan papa mah, papa sudah berusaha. Tapi tenang saja, Arka sudah mulai mencari bukti untuk membebaskan Danish. Kamu tenang ya," Ucap Bima


Vella pun menangis lagi, dia tidak bisa membayangkan putra tercintanya bermalam di dalam penjara yang dingin. Dia pun berakhir pingsan.


"Mama!" Teriak Jenny dengan sigap memegangi mamanya agar tidak terjatuh.


Bima pun menggendong istrinya masuk ke dalam. Sampainya di dalam, Jenny berusaha menyadarkan mamanya. Dia cukup panik dengan keadaan sekarang ini.


"Hal ini terjadi karena Danish mencintai wanita yang salah." Ucap Papa Bima. "Saat masalah ini selesai, papa tidak akan membiarkan Danish berhubungan dengan Alika lagi." Tegas Bima. Jenny mendengarnya tapi dia hanya diam saja karena sedang fokus


......🍃🍃......


Selesai berdebat dengan Alvino yang tal berujung, Alika tetap mendatangi kantor polisi dimana Danish di tahan. Dia sudah berbicara pada polisi jika kasus ini terjadi karena Danish menolongnya. Namun sayangnya Alika tidak punya bukti. Luka di bibirnya juga sudah pudar.


Alika juga bertanya tentang bukti apa yang menguatkan laporan Alvino. Polisi memberitahukan jika Alvino memberikan bukti rekaman saat ia di serang oleh Danish. Seketika Alika terdiam berfikir. Di dalam kamar hotel tempat kejadian, tidak ada cctv. Bagaimana bisa kejadian itu terekam. Apakah ini semua memang sudah di setting oleh Alvino? Memang suami Alika itu begitu licik.


Setelah mencoba memberi kesaksian pada polisi, Alika menemui Danish yang kin sudah berada di dalam sel tahanan. Alika sangat merasa bersalah atas ini semua. Jika saja kemarin dia tetap pulang bersama Danish, mungkin keadaannya sekarang akan berbeda. Sekarang dia sadar jika selalu aman berada di dekat Danish. Tapi di sisi lain kedekatan mereka mendatangkan masalah bagi Danish.


"Mas Danish, saya minta maaf. Ini semua terjadi karena saya." Ucap Alika


Danish meraih tangan Alika. Ia menggenggamnya dan menatap dengan senyum manis di bibirnya.


"Tidak perlu meminta maaf Al, ini bukan salahmu. Kau tenang saja aku baik-baik saja di sini. Aku bisa mengatasi semua ini." Ucap Danish


Kemudian Alika terdiam melihat kondisi sel yang di tempati Danish. Alika tentu sangat prihatin. Bagaimana bisa Danish yang dari kecil di besarkan di keluarga kaya, akan menjalani kehidupan di dalam penjara. Tidur tanpa kasur empuk, tanpa selimut.


"Mas Danish saya akan membebaskan kamu secepatnya. Saya akan mengambil resiko apapun untuk membebaskan kamu." Ucap Alika


"Dengan cara rujuk kembali dengan Alvino?" Danish langsung menerka ungkapan Alika. "Tidak Al, jangan lakukan itu. Aku tidak apa-apa menjalani hukuman ini daripada harus melihatmu kembali dengan pria brengsek itu!" Seru Danish


"Tapi mas, saya bertanggung jawab atas ini semua. Apalagi melihat tante Vella sangat bersedih, saya tidak tega membiarkan kamu di sini mas." Ucap Alika


"Tidak Al, kau tidak perlu sampai melakukan itu. Arka pasti berhasil mencari bukti untuk membebaskanku. Kau tenang saja." Ucap Danish untuk meyakinkan Alika.


Kemudian polisi memberitahukan kalau Alika harus segera pergi. Sebelum itu Danish meminta tolong pada Alika untuk menghandle pekerjaannya, tentunya akan di bantu oleh Miko.


"Iya Al, kau juga harus baik-baik saja selama aku di sini, jaga dirimu."


...****************...


Dua minggu sudah Danish absen dari perusahaan. Karena dia sedang menjalani hukuman atas tuntutan yang di ajukan Alvino. Tentu jalan bisnis dalam perusahaan sedikit terhambat. Bima selaku founder juga papa dari Danish, berusaha semaksimal mungkin tetap menjaga nama baik putranya sebagai CEO.


Bima cukup pusing dengan masalah yang terjadi sekarang ini. Dia sudah menyewa pengacara termahal untuk membebaskan putranya, tapi belum juga membuahkan hasil. Arka juga gagal mendapatkan bukti rekaman cctv di hotel waktu itu. Sepertinya Alvino sudah lebih dulu kesana melenyapkan rekaman itu. Manajer hotel yang menjadi saksi waktu itu pun juga tiba-tiba menghilang.


Riiing.....


Di tengah lamunan, Handphone milik Bima berdering.


"Papa, mama pingsan!" Terdengar suara Jenny dengan keras penuh kepanikan.


"Apa! Papa akan pulang ke rumah sekarang juga." Ucap Bima seraya bergegas keluar dari ruangannya.


"Tidak pa, kita sudah di rumah sakit Harapan Kasih sekarang." Ucap Jenny dalam sambungan telefon yang sedang terhubung.


"Baiklah, papa akan kesana."


Bima pun bergegas meninggalkan ruangannya. Saking terburu-burunya dia sampai bertabrakan dengan Miko yang ingin masuk ke dalam ruangannya. Berkas-berkas yang di bawa Miko pun jatuh berserakan.


"Astaga maaf Miko, saya sedang terburu-buru. Tante kamu pingsan dan di bawa ke rumah sakit sekarang." Ucap Bima


"Ya sudah om Bima silahkan berangkat sekarang, saya akan mengabari mama tentang keadaan tante Vella. Semoga tidak terjadi apa-apa pada tante." Ucap Miko


"Iya amin, om titip kantor ya," Ucap Bima sebelum pergi.


**


Di pantry kantor Alika tengah mengambil minum untuk dirinya sendiri. Wanita berparas cantik itu meneguk segelas air dingin beberapa kali. Perasaannya kacau. Belakangan ini dia merasa cukup tidak nyaman berada di kantor. 80% karyawan menatapnya sinis. Tentu itu di sebabkan karena Danish di penjara karena menolong dirinya. Isabel dan Azel menyebar luaskan berita itu dengan menyudutkan nama Alika. Mereka berdua menyebar kebencian untuk Alika.


"Sudah dua minggu mas Danish di tahan. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda mas Danish akan bebas. Apakah sebenarnya mas Arka gagal mendapatkan buktinya?" Alika bertanya-tanya sendiri. Dia memang belum bertemu Arka sejak kejadian itu.


Bruukk... Prankk....


Tiba-tiba saja ada yang mendorong Alika. Gelas yang di pegangnya sampai terlepas dari genggaman hingga pecah berkeping-keping. Alika juga sampai menabrak meja pantry.


"Astagfirullahaladzim mbak Isabel kenapa mendorong saya?" Tanya Alika saat tahu siapa yang mendorongnya.


"Kau masih tanya kenapa? Kau yang sudah membuat kekacauan ini. Danish di penjara dan tante Vella masuk rumah sakit itu karena ulahmu! Tapi kau bersantai-santai saja di sini, seakan tidak bersalah." Ucap Isabel dengan tatapan tajam. Kedua bola matanya seakan ingin meloncat dari tempatnya.


"Apa? Bu Vella masuk ke rumah sakit. Saya tidak tahu tentang hal itu mbak." Ucap Alika dengan raut wajah sedih.


"Alah nggak usah sok sedih. Jangan libatkan keluarga Danish dalam masalahmu. Kau itu pembawa sial dalam kehidupan Danish. Cepat bebaskan dia dan pergi jauh dari kehidupannya!" Seru Isabel yang kemudian melenggang meninggalkan pantry.