Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 48


Satu minggu berlalu, hari-hari Danish menjadi tak seceria biasanya. Sudah satu minggu ini juga dia hanya berdiam di kamar. Dia melakukan sistem kerja dari rumah. Rasanya dia malas melihat dunia luar. Yang ada dia selalu teringat oleh Alika.


Saat ini saja dia sedang teringat tentang Alika. Biasanya Alika selalu menyiram bunga-bunga di depan rumahnya. Pemandangan yang menyejukkan hati Danish itu tidak ada lagi. Hanya tinggal bayangannya saja.


Danish merasa muak dengan dirinya sendiri. Mengapa susah sekali melupakan Alika. Rasanya juga sulit percaya jika Alika tidak sebaik yang dikiranya.


"Aaargh!" Pekik Danish seraya mengoyak rambutnya sendiri. Dia merasa tersiksa dengan keadaan sekarang ini.


"Mungkinkah ini karma bagiku, aku selalu meninggalkan wanita yang telah kuberi harapan." Ucap Danish mulai mengingat segala kesalahannya selama ini.


Dia merasa apa yang dialaminya sekarang adalah sebuah karma dari perbuatannya dulu. Beginilah rasa sakit yang juga di rasakan mereka yang dulu di diabaikannya begitu saja.


Sayup-sayup terdengar suara keributan dari luar. Danish pun menyudahi masa renungannya. Dia langsung bergegas keluar kamar melihat apa yang sedang terjadi. Suara terdengar semakin jelas. Dan suara itu sangat di kenalinya. Dengan cepat dia berjalan menuruni tangga.


"Hentikan Jenny Isabel!" Seru Danish dengan keras saat melihat kedua wanita itu tengah saling mendorong.


"Nah untung kak Danish cepat datang. Usir nenek sihir menyebalkan ini kak." Ucap Jenny yang merasa tidak suka pada Isabel.


Namun tidak sesuai dengan yang di harapkan oleh Jenny, Danish malah mempersilahkan Isabel masuk dan mengikutinya menuju teras dekat kolam renang.


"Tidak apa Jenny, dia kemari ingin bertemu denganku. Ayo Isabel ikut denganku." Ucap Danish


Bukan hanya Jenny yang ternganga terkejut dengan perubahan sikap Danish pada Isabel. Felix yang baru saja tiba juga ikut terheran-heran. Namun dia diam saja tak mau berkomentar. Sementara Isabel tersenyum semringah. Dia mengikuti Danish dan melewati Jenny begitu saja.


"Apa ini? Bukannya kak Danish tidak suka dengan nenek sihir itu. Kenapa sekarang dia malah seperti dekat dengannya?" Jenny bertanya-tanya. Tidak mau penasaran dia pun berniat menguping percakapan Danish dengan Isabel.


Di sana, Danish dan Isabel sudah duduk berhadapan. Isabel mengeluarkan kotak makan dari paper bag yang di bawanya. Dia membawakan nasi goreng untuk Danish.


"Aku kemari untuk melihat keadaanmu. Karena sudah satu minggu ini kau tidak datang ke kantor. Oh ya ini kubawakan nasi goreng. Masakanku sendiri loh," Ucap Isabel dengan kebohongannya. Nasi goreng itu dia beli di sebuah restoran langganannya. Dia hanya memindahkan ke kotak makan miliknya.


Danish meraih kotak makan itu. Kemudian menyendok sedikit untuk mencicipinya. Lagi-lagi hal ini membuatnya teringat pada Alika. Danish pun langsung mencoba melupakan itu semua. Dia tahu cara terbaik agar dapat melupakan Alika. Yaitu mencoba kembali dekat dengan Isabel.


"Rasanya enak, ternyata kau pandai masak juga." Sebuah pujian keluar dari mulut Danish, membuat Isabel mengembangkan senyumnya.


"Kebetulan sekali kau kemari, aku ingin meminta maaf padamu atas segala kesalahanku." Ucap Danish


Isabel menatap tak percaya. Danish yang semula ketus padanya kini benar-benar berubah 180 derajat. Bahkan kini dia mengucap kata maaf.


"Kau tidak perlu meminta maaf. Aku juga banyak salah padamu. Aku sudah terlalu memaksakan diri untuk membuatmu tetap bersamaku." Ucap Isabel yang mengimbangi sikap Danish padanya. Dia ingin terlihat baik di depan pria incarannya.


"Ya itu semua karena dari awal aku memberi harapan padamu. Mulai sekarang aku akan mencoba membuka hati untukmu." Ucap Danish meski hatinya mengatakan tidak ada tempat untuk wanita selain Alika.


Isabel terperanjat mendengar perkataan Danish. Dia langsung berdiri dan menatap penuh ketidak percayaan. Tangan kirinya menutup mulutnya yang terbuka lebar.


"Apa kau serius?" Tanya Isabel sedikit terbata-bata.


Tak berkata apa-apa lagi Isabel langsung memeluk Danish. Dia sangat bahagia, impiannya selama ini terwujud. Padahal ketika dia merencanakan sesuatu untuk membawa Danish kepelukannya, selalu saja gagal total. Tapi kini tanpa melakukan apapun, Danish sudah kembali kepelukannya.


Jenny berdecak kesal. Dia tidak setuju dengan keputusan kakaknya. Sudah jelas Isabel itu bukan wanita baik-baik. Tapi entahlah, Jenny tidak habis fikir dengan keputusan kakaknya itu. Merasa jengah melihat Isabel yang memeluk Danish, Ia berniat pergi saja. Namun saat berbalik arah dia langsung menabrak Felix. Tanpa dia sadari sedari tadi Felix ada di belakangnya ikut menguping.


Jenny hampir saja terjatuh jika Felix tidak menopang pinggangnya. Posisi mereka saat ini bak adegan romantis dalam sebuah film. Namun itu tidak bertahan lama karena dengan kuat Jenny mendorong tubuh Felix menjauh darinya. Dan dimulailah ocehan sang Jenny Calista Argantara pada pria yang menjadi bodyguardnya itu.


...****************...


Suasana di ruangan divisi marketing pagi ini cukup riuh. Isabel tengah mengumumkan hubungannya dengan Danish yang kini bukan hanya khayalan. Dia memperlihatkan foto mesranya bersama Danish. Para staff yang ada di sana menertawakan Isabel. Mereka berkata bahwa Isabel sudah sakit jiwa karena terlalu berharap pada CEO mereka.


Azel yang mendengar keriuhan suara tawa di dalam ruangan divisi marketing merasa penasaran. Dia pun masuk kesana untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Pagi-pagi sudah ramai ketawa-ketiwi kayak baru naik gaji aja." Sapa Azel seraya melangkah memasuki ruangan divisi marketing.


"Ini loh pagi-pagi ada yang halunya ketinggian. Masa Isabel ngaku sudah jadian dengan pak Danish." Ucap salah satu staff yang langsung di sambut tawa renyah Azel.


Isabel pun menghela nafas kasar. Dia membubarkan semua yang tadinya mengerumuninya. Dia tidak suka ditertawakan seperti itu.


"Semua yang dikatakan Isabel benar." Ucap Danish yang entah kapan datangnya. Saat ini dia berdiri tepat di belakang Azel.


Mendengar hal itu semua yang ada di sana tercengang. Terutama Azel, raut wajahnya berubah seratus persen. Dia yang tadinya ikut tertawa ceria saat mengatai Isabel, kini seketika langsung murung. Sementara Isabel tersenyum penuh kemenangan.


"Sudah merumpinya. Ini sudah masuk jam kerja. Jangan memakan gaji buta. Kau juga Isabel." Ucap Danish yang kemudian pergi.


**


Azel tidak bisa fokus melakukan pekerjaannya setelah mengetahui Danish jadian dengan Isabel. Itu artinya dia sudah kalah dalam persaingan mendapatkan hati Danish.


Brakk ...


Azel menggebrak meja hingga membuat Miko yang duduk semeja dengannya kaget.


"Kau ini kenapa? Jangan-jangan kau kerasukan penunggu ruangan ini. Hiii ... ngeri." Ucap Miko yang sangat melantur. Hobinya menonton film horor membuatnya selalu berfikiran hal mistis.


"Hiks .. Aaaaa.." Azel malah menangis tersedu-sedu sembari menyandar pada Miko. Hal ini membuat Miko semakin yakin bahwa rekan kerjanya sedang kerasukan. Padahal Azel hanya sedang patah hati.


"Dah fiks kau kerasukan. Aku akan mengeluarkan jin dari dalam tubuhmu." Ucap Miko sembari bersiap memegang kepala Azel. Dia mempelajari itu semua dari film yang sering di tontonnya.


"Astaga apa yang kau lakukan Miko! Rambutku jadi berantakan. Aku tidak kerasukan. Tapi aku sedang patah hati karena pak Danish jadian dengan Isabel. Pak Danish sendiri yang mengumumkannya." Ucap Azel dengan nada kesedihan.


"Apa!" Pekik Miko, kemudian dia langsung berlari sekencang mungkin sampai terjatuh karena terpeleset saat di depan pintu. Namun dia langsung bangkit dan menghilang meninggalkan ruangan.


"Dia kenapa, apa sekarang dia yang kerasukan." Gumam Azel yang kemudian menidurkan kepalanya ke meja seakan tak punya tenaga.