Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
95. Tertambat Hati


🌵Setiap orang pasti akan merasakan tertambat hati pada seorang kekasih.🌵


“Selamat malam … ada yang bisa saya bantu, Pak?” dr. Halimah tersenyum seraya menautkan jemari di atas meja.


Hara mengangguk, memperkenalkan diri, “Selamat malam, Dokter. Saya yang menghubungi anda tempo hari untuk mengatur ulang jadwal konseling pasien, atas nama Rinjani Jenar Adhitama.”


“Astagfirullohal’adzim!” dr. Halimah menangkup wajah dengan telapak tangannya sebentar. Lalu menggeleng, “Maafkan saya, sampai tidak mengenali anda.”


Hara segera menjelaskan agar dr. Halimah tidak merasa sungkan,“Tidak masalah, Dokter. Kita memang baru pertama kali ini bertemu.”


“Padahal ini sudah pertemuan ketiga untuk Rinjani, ya?” dr. Halimah beranjak, mengambil sebuah map yang terletak pada rak di belakang kursinya, lalu kembali duduk.


“Kita bisa sambil mengintip proses konseling Rinjani dari sini, Pak.” ucap dr. Halimah sambil menggeser layar komputer agar mengarah padaku, “Kami memasang kamera cctv pada setiap ruang konseling. Jadi bisa mengawasi dari sini, bagaimana terapis kami menangani pasien.”


Aku memajukan badan demi bisa melihat lebih jelas gambar yang tertangkap layar komputer. Nampak gadis yang memakai gamis motif bunga-bunga warna pastel sedang duduk berhadapan dengan seorang dokter perempuan berambut panjang warna pirang.


“Konselor yang berhadapan dengan Rinjani ini baru dua bulan bergabung bersama kami. Saya sendiri yang mendampinginya selama masa percobaan, jadi insyaalloh pasien tertangani dengan maksimal.” ungkap dr. Halimah seraya mengeluarkan isi map.


“Sepertinya Rinjani nyaman berkonsultasi dengan dr. Tiara. Pada pertemuan yang sebelumnya, mereka sempat sarapan berdua, loh.” lanjut dr. Halimah. Ia memberikan beberapa lembar kertas kepada Hara, menunjuk beberapa tulisan yang ada di sana; menjelaskan.


Hara mendengarkan setiap detail penjelasan dr. Halimah. Ia merasa perlu mengetahui bagaimana perkembangan pengobatan trauma Jenar, ada kemajuan atau tidak. Sebab, ia yang memberi usul dan meminta agar Jenar mau berobat. Tentu saja Hara harus memastikan perkembangan proses terapi gadis itu. Percuma membuang waktu, tenaga dan materi jika tidak ada hasil berarti.


Waktu menunjukkan pukul 21.15 WIB saat Hara keluar dari ruangan dr. Halimah. Hampir dua jam ia berada di dalam ruangan, bertanya-jawab dengan psikolog senior itu. Sesi konseling Jenar pun sudah selesai beberapa menit yang lalu, ia bisa tahu lewat kamera pengawas yang tersambung pada komputer di ruangan dr. Halimah. Hara bergegas menghampiri gadis yang nampak sedang celingukan, tampak seperti mencari seseorang.


“Cari siapa?” tanya Hara dengan tubuh membungkuk, tepat di depan telinga Jenar.


“Astagfirulloh! Pak Hara, ngagetin!” pekik Jenar seraya berjengit, karena terkejut.


“Makanya jangan bengong!” Hara menegakkan badan, membuang wajah sambil memasukkan dua tangan ke saku celana.


Ia merasa ingin mencubit hidung Jenar, atau menarik ujung jilbabnya. Sebab, wajah gadis itu terlihat lucu sekali ketika terkejut. Namun, tentu saja ia menahan agar jangan sampai melakukan hal kekanak-kanakan seperti yang terpikirkan.


“Pak Hara dari mana? Saya cari dari tadi, nggak ada di mana-mana.” gerutu Jenar sambil melipat tangan dan menampilkan wajah kesal.


“Toilet!” jawab Hara dengan intonasi datar, tapi dalam hati ada rasa tak terdefinisikan. Ia merasa dibutuhkan mendengar ucapan tersirat kekhawatiran itu, tak ayal seperti ada yang sedang salto di dalam sana.


“Kenapa? Takut ditinggal?” tanya Hara basa-basi.


Jenar mengangguk cepat, “Saya pikir Pak Hara pulang duluan, nggak sabar nunggu konseling saya yang lebih lama dari biasanya. Mana sudah malam, gimana nanti saya pulang kalau ditinggal?”


Hara tersenyum miring, gadis ini sungguh lugu sekali. Mana mungkin dia tega meninggalkan Jenar sendiri, jika semenit tidak bertemu saja rasanya tersiksa sekali. Sambil membuang napas untuk menetralkan gejolak, ia hendak melangkah. Namun, Jenar menarik lengan kemejanya, sehingga ia harus mengurungkan niat.


“Tunggu sebentar, Pak!”


Tanpa menunggu Hara menjawab, Jenar bergegas menuju meja reseptionist, berbincang sebentar dengan petugas di sana sambil menunjuk pintu sebuah ruangan. Tak berselang lama, ia kembali dengan wajah sendu.


“Ada masalah?” tanya Hara, setelah gadis itu berdiri di hadapan. Mengira ada masalah pembayaran atau administrasi sehingga Jenar terlihat kecewa sekali.


Jenar menggeleng seraya menjawab lemah, “Tadi niatnya saya mau kenalin bapak dengan Mbak Tiara, tapi dia sudah keburu menangani pasien lagi. Pak Hara, sih, pake acara ngilang segala.”


Hara mengepalkan tangan yang berada di dalam saku guna meredam gejolak hati. Ia gemas kalau Jenar sedang merajuk seperti ini. Wajah Jenar yang cemberut dengan kepala sedikit menunduk, terlihat lucu sekali. Sebisa mungkin ia harus menahan diri, agar tidak terbawa perasaan.


“Ayo pulang!”


Bersikap seolah tak acuh, Hara gegas berjalan menuju pintu keluar klinik. Meski sedikit kecewa karena belum berhasil memperkenalkan Hara dengan Tiara, Jenar pun mengikuti langkah panjang pria di depannya.


Halaman parkir klinik cukup sepi, begitu pula dengan jalan raya yang dilewati; tidak terlalu ramai. Hujan yang turun sejak siang tadi, menyebabkan orang-orang malas keluar. Kalau tidak ada jadwal terapi rutin, sebenarnya Jenar dan Hara juga enggan pergi sampai malam begini. Apalagi harus mencari alasan agar Mbak Sayumi mengijinkan.


Hara mematikan audio mobil, ketika mengetahui Jenar mengeluarkan kitab kecil dari tasnya. Hal sepele yang selalu berhasil membuat Jenar kagum pada kepribadian pria kaku itu. Hara tahu bahwa Jenar lebih suka mengisi waktu selama perjalanan dengan mengaji. Walau tidak ada suara yang terdengar, tapi selalu berhasil membuat Hara bisa mengemudi dengan tenang. Padahal banyak yang ingin Hara tanyakan pada gadis itu, tapi ia belum mempunyai kesempatan.


Jenar menjeda bacaan sejenak, saat baru saja selesai membaca ayat ke-20 surat Al-Mulk. Ia mendongak, memperkirakan sampai di mana dan seberapa jauh jarak yang masih harus ditempuh. Tiba-tiba perutnya terasa perih, reflek ia memegangnya dengan tangan kiri sambil meringis.


Dengan gerakan cepat ia menutup mushaf, mencium lalu memasukkannya ke tas. Ia harus memegang perut dengan dua tangan, karena terasa semakin melilit, sakit seperti diremas-remas.


Hal itu tentu saja tak lepas dari pengamatan Hara. Ia sampai harus memelankan laju kendaraan, karena melihat ada yang tidak beres dengan gadis di sampingnya.


“Kamu kenapa?” tanya Hara sambil melirik sejenak ke arah Jenar.


Jenar menggeleng, sambil menggigit bibir menahan sakit. Ia sedikit membungkuk, mencari posisi yang pas untuk meredakan sakit. Namun, perih justru semakin bertambah melilit.


Jenar tidak menjawab. Ia malah menghempaskan punggung pada sandaran kursi sambil menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya kasar. Dua tangannya terus memegangi perut, berharap sakitnya segera berkurang.


Hara memindai gerakan Jenar. Walau dalam cahaya temaram, ia bisa melihat jika wajah Jenar memucat, nampak titik-titik keringat di dahi dan pucuk hidungnya.


“Kamu sakit perut?” Kali ini Jenar terpaksa mengangguk. Sebab, merasa sudah tidak bisa mengatasi sakitnya sendiri.


“Kita ke rumah sakit, atau bagaimana?” Hara berusaha tetap tenang, walau pikirannya mendadak panik. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan Jenar.


Jenar menggeleng seraya menjawab lirih, “Cari obat mag saja, Pak.”


“Obat mag?” Hara mengulangi ucapan Jenar, memastikan pendengarannya tidak keliru.


Jenar mengangguk yakin. Ia memejamkan mata, demi menghalau rasa sakit yang makin menjalari. Menahan agar tidak merintih, dengan menggigit bibir bawah. Tidak ingin merepotkan Hara lebih banyak lagi.


Hara melongok rambu lalu-lintas, warna merah belum berganti menjadi hijau. Padahal ia merasa sudah lama sekali menunggu. Kepanikan membuatnya geram, kesabaran nyaris habis karena terlalu lama menunggu, sedangkan Jenar sedang merasa sakit.


“Ini lampu apil rusak kali, ya? Dari tadi merah terus nggak berubah jadi hijau.” gerutu Hara.


“Tukang ghosting di sini memang. Jangan ngaku jadi orang paling sabar kalau belum berhenti di lampu apil simpang Artos tanpa ngedumel.” lirih Jenar sambil tetap memegang perut.


“Maksudnya apa?” Hara mengerutkan dahi, tidak tahu arah pembicaraan Jenar.


“Lampu hijau di sini seperti orang yang suka ghosting, Pak. Udah ditunggu lama dengan sepenuh jiwa dan raga sambil pikiran berkelana ke mana-mana, eh! Datangnya hanya sebentar, habis itu merah lagi, seperti dikasih harapan palsu saja.” Jenar tertawa miris, lalu meringis. Melucu sambil menahan sakit, ternyata sulit juga.


“Nahan sakit masih bisa bercanda,” Hara menggeleng sambil tersenyum. Selalu ada saja sikap aneh Jenar yang membuatnya tak habis pikir.


Hara menjulurkan tangan, menggapai botol minum berisi air putih. Ia lalu menyerahkan botol itu kepada Jenar setelah membuka tutupnya.


“Minum dulu, siapa tahu sakitnya berkurang.” ucap Hara.


Jenar menerima botol minum, segera meminumnya beberapa teguk. Begitu air putih membasahi kerongkongan, lalu masuk ke usus, Jenar merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam sana. Tak lama kemudian, terdengar bunyi dari dalam perutnya. Sontan Hara menoleh, sedangkan Jenar melirik sungkan sambil memaksakan senyum.


“Maaf …,” ucap Jenar lirih, ada nada tidak ada dalam suaranya.


“Lapar?” tebak Hara.


Jenar menunduk, tanpa menjawab. Malu jika harus berkata jujur, berbohong pun tidak mungkin karena sudah nampak jelas.


“Mau makan atau beli obat mag saja?” Hara memberi pilihan, agar tidak salah menentukan keputusan.


“Terserah Pak Hara saja,” jawab Jenar, bertepatan dengan lampu apil berganti warna dari merah menjadi hijau.


Hara segera menjalankan mobil, memanfaatkan kesempatan keluar dari jebakan lampu merah yang durasinya lama sekali.


“Perutmu yang lapar dan sakit, jadi kamu yang harus menentukan mau makan atau minum obat mag.” Hara menegaskan.


Ia harus mulai mengikuti saran dr. Halimah tadi. Memberi kesempatan kepada Jenar untuk menentukan pilihan, agar rasa percaya dirinya tumbuh. Selama ini, Jenar sering insecure dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Menurut dr. Halimah, hal itu disebabkan oleh efek traumanya. Dia butuh seseorang yang bisa membangkitkan rasa percaya pada dirinya sendiri.


“Saya, kan, penumpang. Jadi ikut yang nyetir saja.” Rupanya Jenar masih enggan berterus terang.


Hara membuang napas kasar, susah juga menghilangkan perasaan serba tidak enak pada Jenar. Bagaimana bisa sembuh dari trauma kalau gadis ini terus merasa berkecil hati?


"Kalau kita beli obat mag, terus makan, bagaimana? Kamu mau?” Hara bertanya tanpa mengalihkan fokus dari melihat jalan raya.


Jenar mengangguk, “Kalau Pak Hara tidak repot dan tidak keberatan.”


Hara melirik sedikit, tersenyum demi melihat sikap Jenar yang terlalu lugu. Baru kali ini ia merasa ada gadis yang memikirkan perasaan dan kepentingannya. Biasanya, ia harus tetap menaati perintah meski hati dan pikiran merasa keberatan. Pun harus menuruti kehendak orang lain, meski sedang repot.


Jenar adalah gadis pertama yang berhasil membuatnya merasa dihargai. Tidak heran jika hatinya telah tertambat, pada sorot mata tajam sebening kristal dan wajah polos tanpa riasan itu.


.


.


.


Bersambung....