
...🍁Allohlah pemilik hidayah. Kepada siapa dan dengan cara apa sinar itu hadir, tidak ada yang bisa menolak, kecuali pemilik sejati, Alloh aza wa jalla.🍁...
Hara.
Pendopo rumah joglo yang dikelilingi oleh beberapa gazebo kecil, sore ini terlihat ramai. Anak-anak usia sekolah dasar datang bersama dengan orang tua mereka. Duduk lesehan, berkumpul di pendopo beralaskan tikar yang terbuat dari daur ulang limbah plastik.
Diantaranya ada yang saling berbisik, tertawa terbahak-bahak, sibuk bermain sendiri, ada juga yang hanya diam dengan tatapan kosong.
Seluruh keluarga pak Fares duduk di salah satu sudut pendopo bersama mas Faiz dan beberapa orang yang tidak kukenal. Saling berbincang seperti sedang melepas rindu karena lama tak bertemu.
Salah seorang diantara orang yang tak kukenal itu beringsut dari kelompok, memosisikan diri di tengah pendopo. ia mengambil mikrofon lalu mengetukkan jari untuk mengecek berfungsi dengan baik atau tidak.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wa barokaatuh ….”
Ucapan salam terdengar, disambut dengan jawaban salam dari semua yang hadir kecuali aku. Aku beranjak dari tempat duduk begitu melihat Reyfan memberi kode. Kuarahkan kamera, membidik ke arah wanita yang sedang berbicara. Kemudian kualihkan bidikan ke arah lain, mencari angle yang bagus.
Klik klik klik
Beberapa gambar kuambil. Sejenak melihat hasil bidikanku, lalu kulanjutkan mengambil banyak gambar lain lagi. Hari ini aku mendapat tugas untuk mengabadikan acara tasyakuran dalam bentuk foto. Acara tasyakuran yang diadakan oleh keluarga pak Fares.
“Sore ini kita berkumpul di sini dalam rangka acara tasyakuran.” Suara seorang wanita yang memegang mikrofon mampir di telingaku, “yang pertama karena pemilik tempat ini, yaitu mbak Aneesha alhamdulillah sedang hamil anak pertama dan kebetulan hari ini memasuki usia empat bulan.”
Aku terhanyut berkali-kali membidikkan kamera, mengambil banyak gambar dari berbagai sudut. Suara dari pengisi acara terdengar jelas, namun tak kuhiraukan.
“Yang kedua, alhamdulillah kemarin adiknya mbak Aneesha. Yang sudah sangat kita kenal, yaitu mbak Jenar. Menerima lamaran dari seseorang.”
“Mari kita panjatkan do’a untuk keluarga ini, khususnya mbak Aneesha dan mbak Jenar. Semoga apa yang menjadi hajat dikabulkan oleh Alloh, aamiin. Do’a kita akan dipimpin oleh ustadz Faiz. Kepada beliau kami persilakan ….”
Sebenarnya acara ini tidak direncanakan sebelumnya. Sebab Aneesha dan Reyfan hanya ingin mengadakan do’a bersama untuk acara empat bulanan di rumah ini. Kebetulan sore ini ada jadwal latihan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, jadi Aneesha ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka juga.
Kulihat seluruh keluarga menikmati pertunjukkan dadakan dari anak-anak yang diasuh oleh mas Faiz dan mbak Nanda itu. Ada yang unjuk kebolehan dengan menyanyi, menari, atau berpuisi.
Yang membuatku tertarik adalah saat aku melintas di dekat mushola, aku mendengar suara seorang gadis. Saat aku melongok jendela mushola kecil yang terbuka, ternyata itu adalah suara Jenar.
Jenar tidak sendiri, ada tiga anak yang duduk berjajar menghadapnya. Jenar duduk bersila menghadap kitab suci, mendengarkan tiga anak tersebut yang saling bersahutan membaca ayat. Pandangan mereka kosong, bahkan ada yang matanya tertutup sebelah. Aku tidak perlu mendekat untuk tahu bahwa tiga anak tersebut tidak bisa melihat.
Bagaimana mungkin anak-anak itu bisa membaca kitab tanpa melihat? Tidak mungkin bisa, kecualuli mereka sudah menghafal isi kitab suci tersebut.
Anak-anak itu padahal masih sangat muda. Mungkin sekitar 8-9 tahun, pun tidak bisa melihat. Ternyata Tuhan menciptakan setiap manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Aku membidikkan kamera ke arah mereka. Saat kuturunkan kamera, suara salah satu anak itu terdengar oleh telingaku. Entah mengapa jantungku tiba-tiba berdetak sangat kencang dan tidak beraturan.
Kuraba dadaku sendiri, kurasakan dengan jelas detaknya. Sesak, aku hampir kehilangan napas. Seolah aliran udara ke dalam paru-paruku terhalang oleh sesuatu.
Tanganku meraba sekitar, tapi tidak kutemukan apapun untuk pegangan. Kubawa tubuhku untuk duduk di atas sebuah batu yang terletak di samping mushola kecil itu. Kupejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam. Berusaha mengembalikan irama detak jantung yang kurasa makin berkejaran, tapi gagal.
Sesak makin terasa, menghimpit dadaku. Kuremas kemejaku bagian dada, membungkuk dengan menumpu siku pada paha. Satu tanganku masih memegang kamera, sedangkan keringat dingin mulai membasahi dahi dan telapak tanganku. Aku berusaha dengan keras agar bisa bernapas satu-satu, tapi yang berkelebat dalam angan justru bayangan papa dan mama.
Mama tersenyum kepadaku, dengan kedua tangan terbuka. Sedangkan papa hanya berdiri diam menatap lurus padaku. Perlahan bayangan mereka menjauh, makin jauh lalu menghilang. Bersamaan dengan sebuah suara terdengar, mengembalikan kesadaranku.
“Pak Hara?”
Kubuka mata sambil masih berusaha mengembalikan deru napas dan menetralkan detak jantung. Aku menoleh, kulihat Jenar dan tiga anak yang tadi berada di mushola kini sudah berdiri tak jauh dariku.
“Pak Hara nggak pa-pa? Kok pucat?” Jenar bertanya padaku dengan dahi berkerut.
Aku menundukkan kepala, tidak bisa menjawab karena belum bisa mengatur napas. Aku mendengar derap langkah kaki, kemudian suara beberapa orang saling bercakap-cakap.
“Pak Hara sakit?” Suara itu terdengar begitu dekat. Kulihat dari ekor mata, Jenar membungkuk, mencari wajahku yang menunduk. Hanya sebentar karena selanjutnya dia menoleh ke arah lain.
Aku sedang berusaha menegakkan punggung saat beberapa orang mendekat. Ternyata ketiga anak yang berada di mushola tadi, kini sudah bersama dengan orang tua mereka.
“Mbak Jenar, kami pamit, ya. Terima kasih untuk hari ini, jamuan makanan dan ini-” Seorang wanita seusia mbak Nanda mengangkat tas kain berisi hampers yang tadi dibagikan oleh Aneesha, “semoga Alloh membalas kebaikan keluarga mbak Jenar dengan kebaikan yang lebih banyak, aamiin.”
Aku masih bisa membalas senyum dan mengangguk sopan saat orang-orang itu berjalan melewatiku, setelah saling berbalas salam dengan Jenar. Gadis itu kembali memerhatikanku setelah tidak ada seorang pun di dekat kami.
“Pak Hara perlu bantuan? Biar kupanggilkan-”
Aku buru-buru memangkas ucapan Jenar dengan menarik tangannya. Sebab kulihat ia sudah akan berlalu, “Aku tidak apa-apa.”
Susah payah aku berusaha berdiri sambil menarik napas panjang. Memasukkan sebanyak-banyaknya oksigen ke dalam paru-paru, lalu menghembuskannya dengan sangat perlahan. Mengurai sesak, yang aku tak tahu apa penyebabnya.
“Maaf,” sadar telah melakukan kesalahan, kulepaskan tangan Jenar segera. Kulihat Jenar menunduk sembari mengambil dua langkah mundur dariku.
Sekilas potongan kejadian kemarin terlintas di benakku. Tidak ingin terjadi lagi, aku pun segera menjauh darinya. Setelah mengucapkan permintaan maaf sekali lagi, “maaf, aku harus mengambil minum.”
Melangkah panjang, aku menghampiri Reyfan dan Aneesha yang sedang berbincang di sebuah gazebo bersama beberapa orang. Kuberikan kamera kepada Reyfan sambil membisikkan kepadanya bahwa aku ingin beristirahat sebentar.
Setelah itu aku masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Meninggalkan acara tasyakuran yang sebenarnya sudah selesai, tapi orang-orang masih berbincang santai.
Aku berjalan cepat menuju ke dapur. Mengambil gelas, kuisi dengan air putih, segera kuminum sampai tandas. Sesak sudah tidak terasa, detak jantungku pun sudah kembali normal. Pada akhirnya aku bisa bernapas lega.
Aku menyandarkan punggung pada dinding, membuang napas seraya menengadah. Kulihat langit-langit, mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Merasa aneh karena aku belum pernah mengalami kejadian yang sama sebelumnya.
Ini kali pertama aku merasa tubuhku memberontak hanya karena mendengar suara anak kecil itu. Padahal suara anak itu sangat merdu. Seolah aku bisa merasakan suara itu masuk ke telingaku, menyeruak ke aliran darah lalu masuk ke dalam relung hati paling dalam.
Apa mungkin hanya sebuah suara yang kudengarkan dengan baik, bisa membuat tubuhku bereaksi tidak normal?
Atau mungkin karena aku terlalu terhanyut mendengarkan suara anak itu? Jadi tubuhku bereaksi hebat.
Suara itu membuat dadaku sesak karena detak jantungku berkejaran tak berirama. Sakit. Tapi saat aku tidak mendengar suara itu lagi, mengapa aku merasa … hampa.
Apa yang terjadi pada diriku sebenarnya? Juga tentang bayangan papa dan mama yang tiba-tiba hadir. Mengapa?
“Haus, ya, Hara?” lamunanku terputus. Segera aku menoleh ke arah sumber suara, “ada teh panas kalau mau.” Bu Riani menunjuk sebuah teko yang terletak di meja dapur. Baru sadar kalau aku tidak sendirian di dapur ini. Pasti bu Riani memerhatikanku sejak tadi.
Segera kutarik punggung, berdiri dengan benar. Menolak dengan sopan tawaran bu Riani, “terima kasih.”
“Pasti kamu lelah, ya? Sejak sampai di sini, kamu sibuk membantu kami. Aneesha sama Reyfan itu tidak pernah kira-kira kalau nyuruh kamu. Sak det sak nyet, sekali ucap, saat itu juga harus terlaksana. Kamu yang sabar, ya, Hara.”
Aku mengangguk, mengangkat sedikit sudut bibir sebelum menjawab ucapan Bu Riani, “tidak apa-apa, Bu. Itu sudah menjadi tugas saya.”
“Jadi nggak enak sama kamu. Padahal ini, kan, acara keluarga saya. Malah kamu yang paling repot. Oya, ibu kemarin cerita, tangan kamu kena ranting bambu, ya? Bagaimana sekarang?”
“Nggak sengaja kena pas bersihin halaman belakang, Bu. Sekarang sudah tidak apa-apa, kok.”
“Sudah dibawa ke dokter belum? Luka seperti itu tidak bisa hanya diobati pake obat luka biasa, lho. Harus benar-benar bersih, bisa infeksi kalau masih ada serpihan bambu tertinggal di luka.”
“Sudah dibawa ke dokter, sudah dibersihkan juga.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Padahal seharusnya kamu butuh istirahat, ya? Tapi Aneesha sama Reyfan malah membuatmu sibuk terus.”
Baru saja aku merasa ketenangan saat berbincang dengan bu Riani. Tapi rupanya aku tidak diijinkan merasakan suasana tenang itu lebih lama. Sebab dari arah pintu terdengar suara orang berteriak memanggilku, “Hara! Kemari!”
“Tuh, kan. Baru saja diomongin,” Bu Riani menggelengkan kepala sambil mendecak, “mereka seperti ingin membuatmu bekerja penuh seharian.”
Aku hanya melempar senyum sekilas. Segera kuletakkan gelas kosong di tempat cuci piring. Melesat menghampiri Reyfan yang berdiri di ambang pintu. Bersiap menerima tugas apapun yang akan diberikan olehnya.
Pekerjaanku memang tidak terbatas pekerjaan kantor saja. Sebagai asisten pribadi, aku harus bisa mengerjakan apapun pekerjaan yang diberikan padaku. Apapun jika itu menyangkut Reyfan, Aneesha dan keluarganya.
Kadang-kadang weekend pun aku masih terbebani dengan pekerjaan. Aku sampai harus mencuri waktu untuk sekedar bersenang-senang, memanjakan diri sendiri dengan melakukan hal menyenangkan. Walau sangat jarang aku bisa melakukan hal itu.
Kalau saja bisa, aku ingin menambah waktu sehari menjadi 25 jam. Agar aku bisa menggunakan yang satu jam untuk memanjakan diri atau sekedar tidur siang.
Reyfan dan Aneesha benar-benar tidak mengijinkanku bersantai hari ini. Sejak pagi sampai menjelang petang, banyak sekali pekerjaan yang diberikan mereka padaku.
Menyiapkan pendopo untuk tempat tasyakuran bersama anak-anak berkebutuhan khusus yang setiap seminggu sekali datang berlatih seni. Mendokumentasikan acara, menyiapkan hampers, sampai membereskan tempat setelah acara selesai.
Tidak sampai di situ, sebab aku masih harus menyiapkan tempat dan jamuan untuk acara pengajian empat bulanan kehamilan Aneesha. Keluarga ini mengundang kerabat dan warga sekitar untuk membaca ayat-ayat suci dan do’a keselamatan ibu dan bayi.
Pak Fares bilang makin banyak yang mendo’akan makin baik. Maka malam harinya, pendopo kembali ramai. Suara orang-orang membaca ayat secara bersamaan terdengar seperti dengung ribuan lebah. Melangitkan do’a dengan membaca kitab suci agama mereka.
Selama acara berlangsung, aku menjauh dari pendopo. Memilih duduk di sebuah gazebo yang letaknya paling jauh dari pendopo. Menikmati rokok di tengah dinginnya udara malam yang menembus pori-pori. Asap putih mengepul, membumbung ke angkasa lalu hilang bersama desau angin.
Saat suara dengung orang-orang memelan perlahan hilang, aku menggerus puntung rokok pada asbak. Kukeluarkan ponsel pribadiku dari saku celana, mengecek barang kali ada pesan masuk. Tapi nihil. Ponsel pribadiku memang jarang menerima pesan atau panggilan. Sebab memang tidak banyak yang tahu nomer kontakku.
Aku sedang berselancar di akun sosial media milikku, melihat postingan-postingan nggak jelas yang cukup untuk membunuh sepi. Saat aku merasakan kehadiran seseorang berjalan mendekat ke arahku.
Aku mengalihkan pandangan dari layar ponsel, memandang tubuh tegap yang kini berdiri di depan gazebo tempatku duduk bersantai.
“Saya boleh gabung di sini, Pak Hara?” Pria yang beberapa waktu lalu sering kuikuti kemana pun ia melangkah, sekarang sedang tersenyum ramah kepadaku.
Aku mengangguk, menekuk kakiku yang semula kuluruskan, memberi tempat pada Ghufron untuk duduk. Dia melipat sarung bagian depan yang ia kenakan, lalu naik ke gazebo, duduk di sebelahku.
Kuangsurkan bungkus rokok yang baru berkurang dua batang padanya. Hal yang biasa kulakukan jika ada seorang pria duduk bersamaku. Tapi Ghufron menggeleng seraya berucap sopan.
“Terima kasih. Maaf, saya tidak merokok.”
Aku mengangkat bahu. Benar-benar calon menantu yang diidamkan oleh pak Fares. Sejak dulu beliau menginginkan mempunyai menantu yang sama sepertinya, yaitu pria soleh yang tidak merokok.
“Kenapa tidak di sana bersama yang lain?” Aku menunjuk dengan dagu pendopo yang masih ramai orang-orang sedang menikmati makanan.
Ghufron menggeleng sambil tersenyum masam, “saya merasa asing di sana, Pak. Belum ada yang kenal.”
Aku memaklumi jika Ghufron merasa asing. Sebab terlalu banyak orang yang datang, dari saudara dekat hingga saudara jauh keluarga pak Fares. Para tetangga dan kenalan pak Fares yang tinggal di sekitar sini. Tentu saja Ghufron belum mengenal semua orang itu.
“Pak Hara juga malah menyendiri di sini.”
“Saya seorang nasrani,” aku menjawab tanda tanya yang terlihat di wajah Ghufron.
Dia menatapku penuh sesal, mungkin karena sempat salah prasangka, “oh, maaf. Saya tidak tahu.”
“Jenar pernah cerita kalau pak Hara sudah lama kerja sama mas Reyfan, tapi belum pernah cerita kalau pak Hara tidak seiman dengan kami. Saya pikir kita sama.”
Setiap orang yang melihat kedekatanku dengan Reyfan, pasti tidak menyangka jika ternyata kami berbeda keyakinan. Sebab kemana saja Reyfan pergi, aku selalu berada di sisinya. Termasuk jika Reyfan sedang salat jum’at sekali pun. Aku menunggunya di dalam mobil yang kuparkir di halaman masjid.
Ghufron mengajakku berbincang ringan. Dia sama sekali tidak mengungkit masalah aku yang ingin tahu tentang kehidupan pribadinya di waktu yang lalu. Kami seperti sudah akrab saja, padahal baru beberapa kali berbincang dan kali ini adalah perbincangan yang berlangsung lama.
Aku tidak mengira ternyata Ghufron enak diajak bicara, tidak seperti anak muda lain yang sombong dan selalu ingin menunjukkan kepintarannya. Ghufron adalah pemuda yang santun, dari tutur kata maupun tingkah laku. Pandai membawa diri, menyesuaikan diri sedang berbicara dengan siapa.
Aku yang tidak mudah menjalin hubungan pertemanan dengan orang asing, seketika bisa ngobrol nyaman bersamanya. Walaupun masih agak terganggu karena dia selalu memanggilku dengan sebutan ‘pak’. Sedangkan dengan Reyfan dia bisa memanggil dengan sebutan ‘mas’. Apakah wajahku terlihat lebih tua dibandingkan Reyfan yang usianya dua tahun diatasku?
“Maaf sebelumnya pak Hara, saya pengin kasih ini,” Ghufron merogoh saku baju kokonya, mengambil sesuatu. Lalu tangannya terulur memberikan botol kecil berisi cairan bening padaku.
Bibirku baru saja hendak terbuka ingin bertanya, tapi Ghufron sudah lebih dulu menjelaskan, “ini parfum khusus pria, aroma khas arab, kayu gaharu. Saya biasa pakai kalau mau salat jum’at, mengingatkan saya saat di tanah suci. Maaf, saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin berbagi oleh-oleh saja.”
Aku mengambil botol kecil dari tangan Ghufron, membuka tutup berwarna hitam itu, ingin menghirup aroma isinya. Wangi berbeda dari puluhan aroma parfum yang pernah kupakai. Wangi yang kurasa … menenangkan jiwa.
“Jangan salah paham, ya, Pak Hara. Saya hanya ingin memberi hadiah saja, bukan masalah kita seiman atau tidak. Parfum itu bisa dipakai tidak hanya untuk salat jum’at. Tapi untuk acara apa saja, fleksibel.”
Aku menangkap nada sungkan pada suara Ghufron. Mungkin dia mengira aku akan tersinggung dengan pemberiannya. Dia salah, sebab walau pun aku tidak pandai mengungkapkan perasaan, tapi aku bukan orang yang mudah tersinggung.
“Terima kasih, ya.” Aku menutup botol kecil itu rapat, kusimpan ke dalam saku kemejaku, “pasti akan kupakai.”
Ghufron tersenyum, dia pasti bisa bernapas lega karena aku menerima pemberiannya. Aku mengambil sebatang rokok, baru saja hendak kusulut, ketika aku mendengar nada notifikasi pesan masuk. Tapi tidak berasal dari ponselku, pasti itu ponsel milik Ghufron.
Aku melihat dia mengambil ponsel dari saku baju koko, sejenak kemudian dia menatapku. “Maaf, pak Hara. Jenar mencari saya.” Ucapnya sambil memasukkan kembali ponsel kedalam saku.
Aku mengangguk. Sebelum Ghufron sepenuhnya turun dari gazebo, ponsel yang kuletakkan begitu saja di alas gazebo bergetar. Meraung-raung tanda ada panggilan masuk. Segera kugeser icon hijau pada layar, mengetahui nama yang tertera pada layar.
“Dimana kamu? Kutunggu di teras depan, cepat!”
Belum juga kujawab, Reyfan sudah mematikan sambungan telepon secara sepihak. Kuurungkan menyulut rokok, kubawa beserta koreknya turun dari gazebo. Melangkah panjang, melewati pendopo yang masih ramai orang, masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Aku menemui Reyfan di teras depan rumah. Ternyata ramai orang-orang di sana, dia tidak sendiri.
“Ini dia … artis kita, Hara!” seloroh Reyfan saat aku mendekat.
“Ternyata benar. Penglihatanku tidak salah.” Suara seorang pria yang berdiri bersebelahan dengan pak Fares, membuatku fokus menatap ke sumber suara.
Kami saling melempar senyum, lalu kuulurkan tangan untuk bersalaman dengannya. Semua mata tertuju pada kami, sebab yang kuajak bersalaman malah menarikku ke dalam pelukan.
“Aku tidak mengira, kita akan bertemu di sini.” bisiknya di telingaku.
Aku membalas pelukan pria paruh baya bertubuh sedikit gempal itu. Kupastikan wajahku bersemburat merah, karena merasa menjadi pusat perhatian.
“Ada apa ini?” Pak Fares bersuara setelah kami mengurai pelukan.
“Hara ini putra dari teman kecil istri saya, Widuri. Iya, kan, Hara? Kemarin kami baru saja bertemu."
Aku mengangguk, menjawab rasa penasaran semua orang.
Mengingat cerita pak Wawan tempo hari setelah mengenalkanku dengan kyai Ali dan gus Hafidz. Sempat merasa kikuk, tapi aku segera bisa menguasai diri. Pak kyai Ali merangkul pundakku, seperti menemukan seorang putra yang telah lama hilang.
Aku mengetahui kehadiran kyai Ali sejak tadi, itulah alasan mengapa aku memilih menyendiri di gazebo paling jauh dari pada membantu menyiapkan hidangan di pendopo. Sebenarnya aku tidak ingin bertemu pak kyai Ali. Mana kutahu ternyata beliau sudah melihat keberadaanku lebih dulu.
Malam itu terbuka sudah apa yang selama ini kusembunyikan. Kehadiran kyai Ali dan gus Hafidz membuatku harus menceritakan tentang keluarga pak Wawan kepada Reyfan. Malam itu Reyfan memintaku mengiringi mobil pak kyai Ali, mengawal beliau pulang sampai ke pondok pesantren. Sekalian aku pulang ke rumah pak Wawan.
Hanya kepada Reyfan kuceritakan rahasia terbesarku, hanya kepadanya juga aku menceritakan bahwa aku masih punya kakak kembar seibu beda ayah. Karena hanya Reyfan satu-satunya orang yang bisa kupercaya.
Hari yang melelahkan kututup dengan bermain bersama Naufal, sebelum kejadian siang tadi terulang kembali. Saat aku mendengar mas Akmal mengajari Naufal membaca sebuah ayat menjelang tidur. Sama seperti yang diucapkan oleh anak kecil tadi siang di mushola rumah Aneesha.
Dadaku tiba-tiba terasa sesak hanya karena mendengarkan sebuah ayat yang aku sendiri tidak tahu artinya. Ketika aku memejamkan mata, bayangan papa dan mama kembali hadir membayangiku, ada apa ini sebenarnya? Apa yang terjadi padaku. Ayat apa yang sedang di baca oleh mas Akmal?
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ
Alloh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia..... (Q.S Albaqarah 255)
.
.
.
Bersambung.....