Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
76. Bukan Karena Rindu


🍁Kerinduan terhadap manusia, seharusnya tidak menyebabkan lupa kepada Sang Pencipta. Sebab, yang berkehendak membolak-balikkan hati manusia adalah Alloh SWT🍁


Jenar.


“Mbak Sayumi ke mana, Dek?” Aku menoleh sebentar, Mbak Nanda berdiri di dekatku, sedang menggulung lengan gamisnya.


“Ke warung. Tadi Jenar minta tolong beli kelapa parut, Mbak.” Aku menjawab, lalu kembali menyiangi daun kemangi hasil memetik di kebun samping rumah.


“Ini sayurannya cuma segini, mau dimasak apa? Kalau tahu kamu mau masak, tadi mbak bawain sayuran dari rumah bapak.” Mbak Nanda mengangkat plastik berisi beberapa sayuran yang tadi kubeli di warung.


Aku tertawa kecil. Mbak Nanda pasti heran dengan bermacam-macam sayuran yang masing-masing jumlahnya hanya sedikit. Dia pasti mengira aku ingin masak, tapi tidak punya stock sayuran segar.


“Mau bikin trancam, Mbak.” jawabku.


“Tumben nggak pengin buka puasa di luar?” Mbak Nanda rupanya hafal setiap puasa sunah, pasti aku memilih buka puasa di luar. Namun, kali ini aku memang sedang ingin masak sendiri.


“Tiba-tiba pengen makan trancam, Mbak. Dekat sini nggak ada warung makan yang jual trancam, kan? Jadi masak sendiri saja, udah goreng ikan asin juga.” Aku mengerling kepada Mbak Nanda.


“Tadi pulang kuliah lewat depan orang sedang makan trancam, ya?” tebak Mbak Nanda.


Aku tertawa, karena tebakan Mbak Nanda hampir tepat. Melihat pesanan trancam pada menu makan siang Pak Hara tadi, membangkitkan selera. Sayuran mentah dengan bau khas gula merah, kencur dan gurih kelapa parut, praktis menggoda lidah.


Salah satu keuntungan memiliki sifat cuek yang kadang-kadang kebablasan adalah tidak mudah tergiyur rayuan setan. Gus Hafiz pernah bilang, setan malas mendekati orang yang cuek. Mungkin karena setan sedang tidak di dekatku tadi, jadi aku tidak tergoda membatalkan puasa, meski berhadapan dengan Pak Hara yang sedang makan.


“Eh? Kenapa jadi melamun?” bayangan tentang trancam dibuyarkan oleh Mbak Nanda yang menyikut lenganku.


“Mikirin siapa?” selidik Mbak Nanda.


Aku tertawa kecil sambil menjawab, “Mikirin bumbu trancam biar seenak buatan bunda.”


Sekarang Mbak Nanda yang terkekeh, “Tinggal telepon atau video call, tanya resepnya langsung dari tante Riani. Ngapain pakai dipikirin segala?”


“Udah, dong. Tadi habis mandi langsung tanya bunda.” jawabku jujur.


“Nah, ketahuan! Artinya barusan kamu bukan lagi ngelamunin resep trancam, kan? Hayo mikirin siapa?” Mbak Nanda ini memang paling teliti. Kadang nyebelin juga ngobrol sama dia, nggak bisa ngeles sedikit saja.


“Apa, sih, Mbak? Orang nggak mikirin siapa-siapa juga,” aku mengelak, karena memang aku tidak sedang memikirkan hal selain trancam.


“Ya, mungkin saja kamu sedang kangen sama orang tua, terus kepikiran mereka gitu. Ehm … atau sedang ingat mantan, bisa saja, kan? Sore-sore gini, cuaca agak mendung, biasanya muncul kenangan.” tutur Mbak Nanda panjang lebar.


Aku tersenyum sambil memiringkan kepala, menatap Mbak Nanda dengan mengerjapkan mata beberapa kali.


“Pengalaman pribadi, ya? Ketahuan, nih! Mbak Nanda sering ingat mantan kalau lagi mendung, ya?” tanyaku dengan nada mengejek.


Mbak Nanda menggeleng keras, “Mbak nggak punya mantan. Lagi pula Mbak sudah punya suami yang penyayang dan bertanggung jawab, jadi nggak perlu melihat kaca spion terlalu lama.”


Beruntung aku bisa mencerna kalimat perumpamaan yang diucapkan oleh kakak sepupuku itu. Memang benar kita tidak seharusnya selalu mengingat masa lalu. Sebab, waktu tidak bisa diputar kembali dan yang telah berlalu tidak mungkin bisa diulang lagi. Terlalu ingat akan masa lalu hanya akan menghambat langkah hari ini untuk menggapai masa depan.


“Kenapa?” Mbak Nanda menatapku, pasti sadar dengan helaan napasku.


Aku balas menatapnya, “Mbak benar! Fokus pada kaca besar di depan untuk melihat jalan, sesekali boleh tengok kaca spion untuk mengatur kecepatan. Begitu, kan?”


“Pinter adek!” puji Mbak Nanda sambil mengacungkan ibu jarinya. Aku meringis, membanggakan diri. Lalu beranjak membawa sayuran yang telah selesai disiangi menuju westafle untuk dicuci.


“Gimana, ya, Mbak? Biar nggak selalu ingat peristiwa yang sudah berlalu?” Aku memutar kran untuk mencuci sayuran, lalu merendamnya dengan sedikit garam.


“Kalau sulit melupakan, berarti kamu harus menerimanya.” jawab Mbak Nanda.


Aku menoleh sambil mengernyit, tidak paham dengan kalimat ambigu itu. Usia Mbak Nanda di atas Kak Neesha, pengetahuan dan pengalamannya juga lebih banyak. Putri sulung Pakdhe Teguh itu aktif di organisasi masyarakat dan keagamaan. Dia seolah selalu punya jawaban dari semua pertanyaan. Aku selalu nyaman berbincang dengannya, bahkan sering menunggu kesempatan bisa ngobrol berdua seperti ini.


“Maksud mbak, kamu harus menerima semua yang telah berlalu sebagai kenangan. Tahu apa artinya kenangan? Sesuatu yang hanya bisa diingat, tapi sudah tidak bisa diapa-apakan lagi.” jelas Mbak Nanda.


Aku mengangguk setuju dengan jawaban bijak Mbak Nanda. Sama seperti yang Mbak Tiara katakan tadi, kalau aku ingin sembuh, maka yang pertama harus dilakukan adalah menerima masa lalu. Entah indah atau menyakitkan segalanya telah berlalu, tidak mungkin terulang. Termasuk peristiwa mengerikan yang selalu membuat bulu kudukku berdiri jika mengingatnya.


“Mbak yakin, kelak pasti kamu akan menemukan seseorang yang bisa menjadi pelipur lara. Kamu harus bersabar dan tetap semangat menjalani hari, karena janji Alloh itu pasti. Alloh ambil bagian penting dari hidupmu, karena Dia pasti telah menyiapkan pengganti yang lebih baik.”


Aku tersenyum, menanggapi kesalah pahaman Mbak Nanda. Dia pasti mengira aku sedang membicarakan tentang pernikahan dengan Mas Ghufron yang gagal. Padahal aku sama sekali tidak sedang memikirkannya. Memikirkan yang belum halal, hanya akan menimbulkan dosa. Sementara dia mungkin sedang berbahagia dikelilingi oleh bidadari surga.


“Mbak Nanda nginep, kan?” Aku mengalihkan topik pembicaraan, agar tidak semakin salah paham.


“Lihat nanti Mas Faiz jemput jam berapa. Kalau terlalu malam, ya, terpaksa nginep.” jawab Mbak Nanda.


“Yah! Nginep pakai acara terpaksa segala. Sekali-kali menemani adikmu yang cantik ini, nggak pa-pa kali?” gurauku.


Sejak aku tinggal di rumah Kak Neesha ini, Mbak Nanda dan Mas Faiz jarang sekali menginap. Padahal dulu mereka yang mengurus dan tinggal di sini. Mungkin karena sudah ada aku, jadi mereka merasa sungkan.


“Sedang amburadul begini, mau tidur di mana?” Mbak Nanda menunjuk ruang makan dan ruang tamu yang masih berantakan dengan lantai yang sedang dibongkar ubinnya.


“Kalau renovasi sudah beres, nginep ya mbak? Biar ramai ini rumah, masa Jenar cuma ditemani Mbak Sayumi terus.”


“Renovasi beres, ya, Aneesha sudah di sini. Pasti ramai ada ayah sama bundamu juga.”


Tiba-tiba aku membayangkan bagaimana jika Kak Aneesha melahirkan nanti. Bisakah kakakku yang sangat manja itu mengurus bayi? Rasanya baru kemarin aku dan Kak Neesha rebutan tempat tidur, sekarang kami sudah sama-sama dewasa. Time flies too fast.


“Nggak usah dipikirin! Kakakmu punya banyak uang, jadi jangan khawatir! Bayi sultan, mah, insyaalloh terurus dengan sangat baik.” Mbak Nanda meyakinkan.


Aku tersenyum membenarkan. Obrolan kami mengalir begitu saja, tambah seru setelah kedatangan Mbak Sayumi. Masak sembari menunggu azan magrib pun terasa menyenangkan. Kalau begini aku jadi tidak merasa jauh dari ayah dan bunda, karena di sini pun ada keluarga yang asyik.


***


Hara


“Aku pikir kakak nggak akan datang. Sibuk banget, ya, Kak? Sampai nggak bisa angkat telepon.” Cecilia terus menggerutu tanpa melihatku. Dia pasti sangat marah, karena aku mengabaikan teleponnya tadi.


Aku mengambil botol yang hendak ia tuang isinya ke dalam gelas. Entah sudah berapa botol minuman keras yang adik sepupuku itu habiskan. Wajah penuh keringat, dengan mata yang berwarna merah, Cecilia sudah sangat mabuk. Namun, ia terus menepis tanganku yang hendak mencegahnya minum.


“Sudah cukup, Ci! Kamu mabuk!” sentakku.


“Sejak kapan kakak melarangku mabok? Kakak sendiri juga sering mabuk, kan?” Dia terus meracau. Kalau sedang ada masalah, Cecilia sering melampiaskan dengan minum sampai mabok.


“Ci hidup sendiri, Kak. Nggak ada yang sayang sama ci, semuanya pergi. Papa, mama, bahkan orang yang katanya cinta juga ninggalin ci. Katanya Tuhan Maha Adil? Mana? Buktinya Dia nggak adil sama ci.” Cecilia sedang hancur, entah apa penyebabnya.


“Sekarang kakak juga ikut nggak peduli sama ci, kenapa Tuhan nggak ambil nyawa ci saja, sih?” Cecilia menangis hingga meraung histeris.


“Maaf tadi kakak sedang ada kerjaan,” jawabku bohong, padahal mengantar Jenar terapi adalah bukan bagian dari pekerjaanku.


Untuk pertama kalinya hari ini aku benar-benar menyesal telah menunda menjawab telepon dari Cecilia, karena sedang bersama Jenar. Meski pun segera datang ke apartemennya, tapi aku terlambat karena Cecilia sudah menyiksa diri dengan minum minuman keras.


“Buat apa, sih, Tuhan kasih hidup kalau untuk menderita seperti ini?” Cecilia menatapku nanar.


Tuhan! What sould I do?


Kuambil kedua tangannya. Kalau sedang begini, yang bisa kulakukan hanya memeluknya. Membiarkan tangisnya pecah di dadaku, sebab dia sedang sangat rapuh.


“You know I’m here, allways.” Kutenangkan dia dengan mengusap punggungnya.


“Jangan pergi, Kak! Hanya kakak yang nggak pernah ninggalin ci. Kalau kakak pergi, lebih baik ci mati saja.” pinta Cecilia dengan nada penuh frustasi.


"Kakak nggak akan pergi. I promise!”


Tangis Cecilia perlahan memelan, seiring tubuhnya yang terasa kian memberat. Tangan yang semula erat mencengkeram bajuku, kini melemah. Dia pingsan dalam dekapanku.


Aku membaringkan tubuhnya di atas sofa, lalu kuusap peluh dan air matanya dengan tissue. Sedih melihat Cecilia sehancur ini, pasti ada telah terjadi sesuatu. Rasanya sama seperti pertama kali ia datang padaku bertahun-tahun yang lalu.


Dengan bersimbah air mata, ia menceritakan luka hati karena mamanya akan menikah lagi. Ia sangat terguncang saat itu, karena yang akan menjadi papa tiri tak lain adalah pacarnya. Mereka bahkan masih tinggal bersama di salah satu apartemen, saat tante Lidya mengatakan rencananya akan menikah. Sejak saat itu Cecilia tinggal di rumahku, sedangkan Tante Lidya pergi ke Malaysia bersama suaminya.


Aku mengambil ponsel milik Cecilia yang tergeletak di atas meja, membuka aplikasi berkirim pesan untuk mencari tahu sebab adik sepupuku itu frustasi. Sebuah pesan dari nomor tanpa nama membuatku ingin tahu. Segera kubuka, lalu membaca sebaris kalimat yang cukup untuk menjelaskan segalanya.


‘Mama sudah di Jakarta. Di mana kamu?’


Tante Lidya sedang berada di Jakarta, pasti itu yang membuat Cecilia seperti ini. Adik sepupuku itu pasti sedang dalam kebimbangan, menyimpan rindu tapi tidak ingin bertemu dengan mamanya.


Aku membuka room chat Cecilia dengan mamanya, scrool ke atas untuk mengetahui obrolan dua ibu dan anak itu. Meski hubungan mereka tidak baik, tapi Cecilia selalu membalas pesan mamanya. Sebuah notifikasi chat masuk, aku hanya bisa menghela napas saat membacanya.


‘Bersikap baiklah dengan Willy, walau bagaimana pun dia menjadi papamu sekarang.’


Apakah Tante Lidya tidak ingin tahu mengapa putrinya enggan bersikap baik dengan suaminya? Laki-laki itu, seperti tidak tahu malu saja, serakah. Setelah mendapatkan kesenangan dengan anaknya, malah menikah dengan mamanya. Dasar tidak punya otak!


Aku dan Cecilia mempunyai nasib yang hampir mirip. Sama-sama hidup sebatang kara, tanpa orang tua. Bedanya, aku sudah menjadi yatim piatu sejak kecil karena orang tuaku meninggal. Sementara Cecilia, mama dan papanya masih hidup semua, tapi seolah sudah tidak ada di dunia. Mama dan Papanya sudah memiliki kehidupan masing-masing yang tidak ada Cecilia di dalamnya. Kasihan sekali adik sepupuku itu.


Lebih baik merindukan orang yang sudah mati sekalian, dari pada berharap kepada yang masih hidup, tapi tidak bisa menjangkau temu. Sejatinya, kita memang tidak boleh menggantungkan harap berlebihan terhadap manusia. Sebab, Tuhan Maha Pemilik segalanya.


.


.


.


Bersambung....


Hai, teman-teman!


Bagaimana ini? Ternyata Jenar pengin trancamnya Pak Hara, loh. Kenapa nggak dibawa pulang saja, ya? Kan, nggak dimakan sama Pak Hara, oh, Jenar malu kali. hehe. Jenar tampaknya sudah move on dari Mas Ghufron, nih. Jadi sudah siap buka hati untuk cowok lain belum, ya? 


.


Ada apa dengan Cecilia? Pak Hara yang cuek dan sok dingin, ternyata punya rasa kasih sayang yang besar sama sepupunya, ya? 


Bagaimana kelanjutan cerita mereka? Tunggu next episode, ya, teman-teman!😉