Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
43. Titik Balik


🍁Dalam perjalanan hidup setiap manusia, pasti pernah mengalami sebuah peristiwa membuatnya mengubah pandangan hidup. Entah menjadi lebih baik, atau justeru terjerumus dalam kubangan keterpurukan. Bisa jadi peristiwa itu yang disebut sebagai titik balik.🍁


Immanuel Kagendra Hara.


Bayangan saat Ghufron berbicara di ruang IGD selalu berkelebat dalam pikiran. Padahal tidak ada hal penting yang dia bicarakan waktu itu, hanya menitipkan pesan untuk pak Fares bahwa ia tidak bisa menjaga Jenar lagi. Mungkin saat itu Ghufron sudah merasa tidak akan bisa bertahan dengan penyakitnya, jadi ia mengatakan hal itu sebagai pesan terakhir.


Namun, yang ia katakan itu bukan sebuah hal yang penting. Tanpa ada mengatakan tentang pesan terakhir itu pun, pak Fares pasti sudah mengerti dan memaafkan Ghufron. Memaafkan orang yang meninggal merupakan hal yang lumrah, bukan? Lagi pula Jenar memang masih menjadi tanggung jawab orang tuanya, kan?


Namun, kenapa kata-kata itu selalu membayang di setiap waktu? Menjaga Jenar? Memangnya dia anak kecil yang harus dijaga? Kenapa pula Ghufron harus menitipkan pesan untuk pak Fares? bukankah semua anak-anak pak Fares sudah terlatih untuk hidup mandiri? Termasuk Jenar yang sebelum bertunangan dengan Ghufron sudah hidup jauh dari orang tua.


Entahlah! Sebenarnya apa yang ingin Ghufron sampaikan jika ia diberi kesempatan bertemu langsung dengan pak Fares. Sayangnya ia sudah meninggal dalam waktu yang sangat cepat. Menyimpan rasa penyesalan dalam hati, karena aku merasa gagal mengusahakan pengobatan dengan cepat.


“Hara!”


Aku terperanjat, sampai selang yang sedang berada di tangan jatuh. Segera aku mengambilnya, agar jangan sampai air yang mengalir dari selang itu terbuang percuma.


“Kerja yang bener, Le! Jangan sambil melamun.”


Lanjut menyiramkan air pada permukaan mobil yang penuh dengan busa sembari menggosok dengan sponge. Bermaksud menyebarkan busa ke segala arah kemudian hilang bersama air yang mengalir. Terakhir aku membersihkan sisa air dengan cara menyapukan kanebo basah papa permukaan mobil.


“Iseh enom ojo kokean ngalamun!” Pak Wawan mendekatiku sambil menepuk pundakku. (Masih muda jangan kebanyakan melamun.)


Hampir seminggu sejak Ghufron meninggal, aku membantu pak Wawan bekerja di pesantren milik kyai Ali. Tempo hari setelah aku pulang dari pemakaman Ghufron, aku mendapat telepon dari mbak Nabila. Ia mengatakan kalau kyai Ali sedang butuh sopir pribadi, karena sopir yang lama berhenti kerja.


Tanpa pikir panjang aku menyanggupi tawaran mbak Nabila. Pagi itu aku meninggalkan Reyfan di kamar hotel setelah berbelanja barang-barang untuk dibawa melayat ke rumah Ghufron, sekaligus memberikan hadiah kepada pak Dito yang akan pindah tugas ke Ternate. Tidak peduli Reyfan akan marah atau tidak, lagi pula aku masih dalam masa cuti, kan?


Entah mengapa aku merasa nyaman bekerja sebagai sopir pribadi kyai Ali. Kalau karena gaji, jelas tidak mungkin. Gaji yang diberikan Reyfan sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sampai kebutuhan hedon. Bahkan aku sudah berniat tidak mau menerima gaji dari kyai Ali. Rasanya ada kepuasan tersendiri setiap kali selesai mengantar kyai Ali mengisi pengajian, atau bertandang ke pesantren lain. Seperti merasa baru saja memenangkan sebuah tender yang sudah kuincar sejak lama.


“Kalau sudah selesai cuci mobilnya, kamu ke ndalem. Sudah ditunggu kyai Ali di sana.”


Aku memeras kanebo yang sudah sangat basah sebelum kusapukan lagi ke kaca depan mobil, “memangnya ada apa kyai Ali memanggil saya, Pak?”


“Bapak tidak tahu, barusan kang khodam yang bilang,” jawab pak Wawan seraya mengangkat bahu.


Tanpa ingin berlama-lama, segera kubersihkan sisa air di permukaan mobil hingga terlihat bersih mengkilab. Membereskan semua peralatan lalu membersihkan tangan dan merapikan pakaian, sebelum masuk ke ndalem untuk menemui pak kyai.


“Duduk sini, Hara!” kyai Ali menepuk sofa kosong disampingnya. Aku tentu saja ragu untuk duduk disamping orang terhormat itu.


Kupilih duduk di hadapannya sambil menolak dengan sopan, “saya di sini saja, Pak kyai.”


“Mobil sudah siap jalan?” tanya kyai Ali begitu aku duduk.


“Sudah pak kyai, sudah bersih dan kinclong.”


“Bagus. Hari ini aku tidak ada agenda pergi ke luar pondok, sebab nanti siang akan ada tamu jauh yang datang.”


“Jadi hari ini saya tidak ada kerjaan, dong, pak kyai?” tanyaku sedikit menyesal karena telah mempersiapkan diri sejak pagi.


“Itu sebabnya saya panggil kamu ke sini, Hara.” kyai Ali terkekeh, menepuk pahanya sendiri pelan kemudian melanjutkan kalimat, “beberapa hari ini saya perhatikan kamu sering melamun. Apa itu karena pekerjaan yang saya berikan? Apa karena mengantar saya adalah beban untukmu atau ada masalah lain?


Aku terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh kyai Ali. Sungguh aku tidak pernah punya beban bekerja sebagai sopirnya. Tak kusangka sikapku yang sering melamun terbaca oleh kyai Ali dan ia salah paham.


“Saya tahu, kamu bukan orang sembarangan. Dari cara kamu bicara saja, saya bisa tahu kalau kamu adalah orang yang terbiasa berkumpul dengan orang penting dan beradab. Dari pakaian yang kamu kenakan, saya juga bisa membaca kalau kamu bukan orang yang memerlukan pekerjaan sebagai seorang sopir. Mungkin kamu malah punya lebih dari satu sopir untuk mengantarmu kemana-mana di Jakarta. Iya, tidak?”


“Maaf, pak Kyai.” Aku menunduk, menghindari sorot pandang pak kyai yang menghujam, “saya tidak pernah merasa terbebani dengan pekerjaan ini. Saya senang mengantar pak kyai kemana saja.”


“Lalu apa kalau bukan masalah pekerjaan? Apa ada kata-kata atau perbuatan saya yang membuatmu tersinggung?”


“Maaf pak kyai, memang bukan karena pekerjaan. Sebenarnya saya memang tipe orang yang tidak banyak bicara. Akhir-akhir ini kalau pak kyai melihat saya banyak melamun, itu … karena ada yang sedang mengganggu pikiran saya.”


“Oya? Soal apa? Apa ada hubungannya dengan kamu tinggal di pesantren ini? Atau ada hubungannya dengan saya? Kamu boleh cerita Hara, tapi kalau kamu tidak berkenan memberi tahu saya tentang masalah yang mengganggu pikiranmu, saya tidak memaksa.”


Aku mengangkat sedikit wajah, menatap sekilas pada kyai Ali. Kemudian kembali menunduk. Aku ini tidak pandai bercerita, apalagi mengungkapkan isi hati kepada orang yang baru saja kenal. Namun melihat mata teduh kyai Ali dan sikapnya yang mengayomi, aku terdorong untuk mengatakan apa yang sedang kurasakan dalam hati.


“Beberapa hari yang lalu saya diberi tugas oleh majikan untuk mengusahakan pengobatan terbaik dan tercepat.”


“Oh, ya ya. Wawan cerita kalau kamu beberapa hari yang lalu sedang bolak-balik mengantar orang ke rumah sakit. Memangnya siapa yang sakit?”


“Calon ipar majikan saya yang sakit, pak kyai.”


“Sakit apa? Kenapa kamu yang mengantarnya, apa dia tidak punya keluarga?”


“Leukimia. Majikan saya menginginkan calon iparnya ini berobat tanpa membebani keluarganya. Seperti yang kita tahu, pengobatan untuk penyakit leukimia itu memerlukan biaya yang tidak sedikit.”


Kyai Ali manggut-manggut, paham akan jalan ceritaku. Ia memainkan jenggotnya yang panjang sambil bertanya, “sekarang bagaimana? Sudah sembuh?”


“Seminggu yang lalu … dia meninggal.”


“Innalillahi wa innailaihiroji’un … Alloh menghendaki dia sembuh untuk selamanya.”


“Dia meninggal karena saya, pak kyai." Aku menjeda kalimat beberapa jenak, lalu melanjutkan, “seandainya waktu itu saya tidak menuruti keinginannya untuk pulang, mungkin dia belum meninggal. Hari Rabu, dia menjalani pemeriksaan lanjutan. Hari itu seharusnya ia mendapat transfusi trombosit 4 kantong. Namun, baru terlaksana dua kantong dan Ghufron sudah minta pulang, tidak mau diopname. Hari kamis leukositnya meningkat signifikan dan sudah tidak bisa diatasi.”


“Jadi lamunanmu beberapa ini karena rasa bersalah itu?”


Kami terdiam beberapa jenak, hingga hening tercipta. Tenggelam dalam pikiranku sendiri, rasa penyesalan kembali datang. Sebuah perasaan menyebalkan yang baru kali ini terasa, sebab seumur hidup aku belum pernah gagal melakukan suatu pekerjaan.


Aku mendongak, saat pak kyai berdehem. Beliau sedang membuka sebuah buku besar bersampul tebal. Beliau membolak-balikkan halaman demi halaman seraya bertanya, “apa yang sudah kamu dapatkan selama tinggal di pesantren ini, Hara? Apa kamu sudah mendapatkan rasa damai dalam hatimu?”


Aku menggeleng, “belum sepenuhnya, pak kyai. Hanya sekarang saya terbiasa bangun dini hari dan rasanya badan saya lebih ringan.”


“Masih sering merasa sesak napas saat mendengar orang mengaji?”


Aku mengangguk, “kadang-kadang jika saya sedang mendengarkannya dengan serius. Kalau hanya sambil lalu tidak.”


“Sudah tahu apa penyebab sesak napas kamu itu?”


“Boleh saya cerita, Hara?”


Aku mengangguk mempersilakan kyai Ali bercerita. Beliau menutup buku bersampul tebal warna hijau tua, lalu meletakkannya di atas meja. Menarik napas panjang sebelum memulai cerita.


“Dulu pernah ada seorang pemuda, putra kyai. Suatu saat pemuda itu pergi mengantar ibunya mengisi pengajian. Dalam perjalanan pulang mereka mengalami kecelakaan, pemuda itu terluka parah sedangkan ibunya meninggal. Kamu tahu apa yang terjadi setelah itu?”


Aku menggeleng sambil mengernyitkan dahi menunggu pak kyai melanjutkan cerita.


“Pemuda itu merasa sangat bersalah, sampai berandai-andai. Seandainya begini mungkin ibunya tidak akan meninggal, seandainya begitu mungkin mereka tidak akan mengalami kecelakaan. Namun, tidak ada gunanya berandai-andai, karena semuanya telah terjadi. Hanya akan menimbulkan penyesalan tak bertepi yang menambah sakit di dalam hati.”


Aku melihat kyai Ali menghempaskan punggung pada sandaran kursi sambil melepas kacamatanya. Beliau memandang lurus ke depan, tapi tidak menatapku, seperti sedang menerawang.


“Lama pemuda itu tenggelam dalam rasa bersalah yang teramat dalam, sampai ia lupa bahwa banyak hal lain yang seharusnya ia lakukan selain menyesal. Karena dia seorang anak tunggal, seharusnya ia melaksanakan amanah ibunya, melanjutkan mengurus pesantren dari pada terus terpuruk dalam penyesalan tanpa melakukan apa-apa. Kamu lihat sendiri, kan, bagaimana sebuah pesantren memerlukan kyai lengkap dengan bu nyai-nya? Tidak ada salah satu akan timpang, jadi harus ada yang melengkapi.”


“Apakah pemuda itu akhirnya tidak lagi merasa bersalah? Apa yang membuat pemuda itu bebas dari rasa penyesalan?”


“Hanya karena sebuah mimpi, pemuda itu sadar, rasa bersalah tidak akan mengembalikan ibunya ke dunia, justeru akan memberatkan langkah sang ibu mencapai kebahagiaan di akhirat.”


“Mimpi apa, pak kyai?”


"Pemuda itu mimpi bertemu dengan ibunya, dalam mimpi ibunya terlihat cantik dengan busana yang sangat indah. beliau berkata kepada pemuda itu bahwa beliau sudah bahagia dan meminta pemuda itu melanjutkan perjuangan mendampingi bapaknya pengurus pesantren."


“Ketahuilah Hara ... bahwa rezeki, jodoh dan maut adalah urusan Alloh SWT. Jodoh dan maut adalah takdir yang tidak bisa diubah dan datang tepat pada waktunya. Kapan, dimana, dan dengan cara apa manusia meninggal sudah dituliskan dalam kitab Lauhmahfudz. Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah Alloh tetapkan. Tugas kita adalah ikhtiar tanpa batas dan menerima dengan ikhlas.”


Terdiam dengan segala kecamuk dalam hati, aku merenung memikirkan ucapan kyai Ali. Apakah seperti itu yang dinamakan takdir? Benar-benar tidak bisa diubah atau ditunda?


“Pernah nonton film Final Destination? Itu film jaman saya masih muda, mungkin kamu tidak tahu film itu. Biar saya cerita garis besarnya saja, ya.”


Aku mengangguk, mendengarkan apa yang diceritakan oleh kyai Ali, “film itu bercerita tentang sekelompok remaja yang selamat dari kecelakaan pesawat karena ada satu teman mereka yang terlambat datang. Awalnya mereka kecewa tidak bisa berangkat, tapi ketika melihat sendiri pesawat itu meledak saat baru saja take off mereka merasa lega karena selamat dari maut.”


“Apakah mereka benar-benar selamat dari maut? Ternyata tidak. Karena pada slide selanjutnya satu per satu dari mereka yang selamat dijemput maut dengan cara dan waktu yang berbeda-beda. Kamu tahu apa yang saya pelajari dari film itu, Hara?”


“Maut tidak akan berhenti mengejar kita?” tanyaku ingin tahu.


Kyai Ali menggeleng, “lebih tepatnya, maut datang sesuai waktu dan cara yang telah ditetapkan Tuhan. Jadi kamu tidak perlu menyesal dan merasa bersalah karena itu adalah ketetapan Alloh.”


“Seperti itukah, pak kyai? Jika waktu itu Ghufron diopname dan mendapat donor trombosit lebih awal, apakah dia tetap akan meninggal?”


“Jika memang seperti itu yang digariskan oleh Alloh, maka tidak ada satu manusia pun yang bisa mengelak.” kyai Ali mengambil buku dari atas meja seraya bangkit, “tugas kita sebagai yang ditinggalkan adalah melanjutkan hidup dan menyampaikan amanah, jika yang meninggal itu menitipkan amanah kepada kita.”


Aku masih duduk dan diam sampai kyai Ali beranjak mengembalikan buku pada rak. Beliau memperhatikan deretan buku, kemudian mengambil salah satu buku yang juga tebal dan besar.


“Karena hari ini saya tidak pergi, kamu bebas melakukan apa pun, Hara. Mau tetap di pesantren atau pulang ke rumah Wawan. Asal jangan pulang ke Jakarta, karena kamu harus menemukan jawaban tentang sesak napasmu itu.”


Tanpa menunggu jawaban, kyai Ali berjalan meninggalkanku yang masih duduk diam. Beliau berhenti sejenak hanya untuk mengatakan, “apa yang kamu lakukan di Jakarta itu salah, Hara. Meskipun kamu punya tujuan baik, tapi cara yang kamu lakukan salah. Hentikan! Sebelum Nabila dan Wawan tahu, karena mereka pasti akan sangat kecewa kepadamu.”


“Maksud pak kyai apa?”


“Jangan pikir saya tidak tahu siapa kamu, Hara. Saya menerima kamu di sini, karena saya percaya kamu orang baik. Tapi saya tidak menerima apa yang sudah kamu lakukan dan menjadi kebiasaan.”


“Pak kyai?”


“Jangan lupa, Hara. Ada amanah yang harus kamu sampaikan.”


Kyai Ali melanjutkan langkah. Aku berdiri karena masih ada yang mengganjal di pikiran. Sedikit berseru untuk menghentikan langkah kyai Ali, “Kalau boleh saya tahu, pemuda yang pak kyai ceritakan tadi … apakah dia berhasil menjalankan amanah dan melanjutkan hidup dengan baik?”


Kyai Ali menjawab tanpa menghentikan langkah, “kamu bisa lihat sendiri bagaimana pesantren ini tetap mempunyai banyak santri, Hara. Karena pemuda itu baru saja bicara di hadapanmu.”


Jawaban kyai Ali membuatku mengernyitkan dahi. Jadi beliau tadi menceritakan tentang diri beliau sendiri? Maksudnya apa? Sungguh pak kyai yang aneh. Bagaimana juga beliau tahu apa yang kulakukan di Jakarta? Bukankah aku tidak pernah bercerita kepada siapa pun di sini tentang hal itu? Jangan-jangan pak kyai mempunyai mata-mata atau semacam informan yang bisa mencari tahu tentang seluk-beluk seseorang.


Karena tidak ada pekerjaan di pesantren, aku pulang ke rumah pak Wawan. Menemani Naufal nonton pagelaran wayang kulit di aplikasi metube bisa sedikit membuatku lupa tentang rasa bersalah dan penyesalan karena gagal menyelamatkan Ghufron. Meski aku tahu seluruh keluarganya sudah ikhlas, tapi ada yang belum bisa membuat lega dalam hati.


Mbak Nabila menghampiri saat aku dan Naufal sedang asyik tiduran sambil memegang ponsel. Ia memberikan sebuah amplop yang terlipat kecil kepadaku sambil berkata, “mbak menemukan surat ini di saku kemeja kamu, untung belum mbak rendam ke cucian.”


Aku menerima amplop itu, membuka lipatan kemudian mengeluarkan kertas di dalamnya. Nama rumah sakit tempat Ghufron berobat terakhir kali menjadi bagian kepala surat yang pertama kali kubaca. Urung membukanya, karena aku ingat itu adalah surat yang dititipkan Ghufron kepadaku.


“Ya, Tuhan! Bagaimana aku bisa lupa.” gerutuku.


“Memangnya surat apa itu, Hara? Seperti surat dari rumah sakit, ya?” tanya mbak Nabila yang belum beranjak dari sampingku.


“Iya, Mbak. Harusnya kuberikan pada Jenar, tapi aku lupa.”


“Jenar? Siapa?”


“Naufal udah nontonnya, ya! Om harus pergi.” aku mengambil ponsel yang sedang dipegang Naufal, tidak peduli anak itu memanyunkan bibir hendak memprotes. Melirik penunjuk waktu pada layar utama ponsel aku berpikir belum terlalu sore untuk pergi.


“Mbak, pinjam motor, ya?”


Tanpa menunggu jawaban mbak Nabila, aku mengambil jaket dan helm. Setengah berlari aku keluar rumah, mengangguk saat mbak Nabila berteriak, “hati-hati, Hara! Mengapa kamu selalu buru-buru, sih?”


Ponsel di dalam saku jaket bergetar tanda ada pesan masuk. Aku membuka layar sembari menghidupkan mesin motor, membaca sebuah pesan masuk dari seorang gadis yang nama kontaknya baru kusimpan beberapa hari yang lalu.


[Pak Hara sedang di mana? Bisa kita ketemu di pesantrennya kyai Ali sekarang?]


Aku memasukkan ponsel ke dalam saku jaket tanpa membalas pesan itu. Memilih segera melajukan motor matic keluar dari halaman rumah pak Wawan. Ingat kata-kata kyai Ali tadi pagi tentang menyampaikan amanah, tunggu! Yang dimaksud amanah itu sama dengan pesan bukan, ya? Entahlah, mungkin sama.


.


.


.


Bersambung....