
🍁Tidak ada takdir yang mengajak bercanda. Karena Alloh memberikan yang kita butuhkan, meski tidak kita inginkan.🍁
Hara.
Mengurus administrasi rumah sakit dan segala macam tentang kepentingan pemeriksaan, bukan suatu hal yang sulit bagiku. Sebab dulu sudah sering kulakukan, sudah terlatih sejak lama untuk masalah seperti ini.
Namun, mencari donor trombosit nyatanya tidak mudah. Tidak seperti mencari donor darah pada umumnya, karena yang dibutuhkan hanya trombosit saja, komponen darah lain tidak. Kalau saja tanpa bantuan Hamzah, Hadyan dan Chandra, aku pasti tidak bisa menemukan donor trombosit untuk Ghufron.
Bisa saja aku tidak peduli mengenai kebutuhan trombosit yang diperlukan oleh Ghufron. Toh, dia bukan siapa-siapaku. Cukup mengerjakan apa yang diminta oleh Reyfan saja, sudah menggugurkan kewajibanku. Tidak perlu aku bersusah payah menyelamatkan Ghufron. Lagi pula aku tidak akan rugi seandainya Ghufron tidak selamat.
Namun, ketika aku melihat sendiri bagaimana Ghufron berjuang menahan sakit karena berulang kali diambil sampel darahnya, saat itu pula pintu hatiku terketuk. Apalagi ketika melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana akrab dan saling sayangnya keluarga Ghufron.
Pak Haryo yang rela tidak berangkat ke kantor demi mengantar putra sulungnya berobat. Bu Nuning yang selalu menyediakan makanan sehat setiap kali aku datang. Juga Nalini, gadis belia yang selalu memberi semangat kepada kakaknya. Tidak tega rasanya membiarkan Ghufron berjuang melawan penyakitnya sendiri.
Sejak mengetahui dia sakit leukimia yang belum diketahui seberapa parah, aku berusaha membantu sebisaku. Kucarikan donor trombosit, kuantar dia periksa, kutemani dia selama menjalani transfusi darah yang menurutku menyakitkan. Namun, dia tetap menampilkan wajah bahagia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun. Manusia aneh yang pernah kutemui selama ini, sudah tahu menderita penyakit parah tapi ia tidak ingin terlihat sakit.
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Sardjito Yogyakarta.
Sejak pagi tadi sudah terlihat ramai orang-orang mengantri untuk berobat. Rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit rujukan nasional di Yogyakarta. Tak heran jika setiap harinya selalu banyak pengunjung.
Bersama dengan pak Haryo dan Nalini aku mengantar Ghufron hendak melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit yang mempunyai fasilitas unggulan layanan kanker terpadu ini. Bu Nuning tidak bisa ikut, karena beliau tidak memperoleh ijin dari kepala sekolah tempatnya mengajar. Kami duduk bersama ratusan orang yang juga punya tujuan sama yaitu ingin sehat, Ghufron terlihat tenang dengan mata terpejam dan earphone terpasang di kedua telinganya.
“Sebentar lagi giliran kamu.” ucapku pelan, tapi aku yakin Ghufron mendengarkannya sebab ia menganggukkan kepala.
“Sebaiknya kamu lepas earphonenya sebelum masuk ruangan.”
Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang sedang didengarkan oleh Ghufron, sebab sejak tadi ia tidak melepas earphone dari telinganya. Tapi sungkan aku menanyakan hal yang bukan urusanku.
“Tanpa saya lepas tetap bisa diperiksa, kan, Pak?”
“Bisa, tapi akan lebih baik kalau kamu lepas. Bukannya kamu lebih nyaman diperiksa tanpa earphone itu?”
“Justeru saya merasa lebih tenang kalau diperiksa sambil mendengarkan seperti ini, Pak.”
“Memangnya apa yang sedang kamu dengarkan?” akhirnya aku menanyakan hal yang bukan urusanku tapi membuatku penasaran.
“Pak Hara mau dengar?”
Tanpa menunggu jawabanku, Ghufron melepas earphone dari telinga kanannya lalu memasangkan pada telingaku. Aku mendengar suara merdu seorang gadis sedang bersenandung.
“Namanya shalawat tibbil qulub, saya sering membacanya saat sedang sakit.” ucap Ghufron tanpa bertanya apakah aku ingin mendengar penjelasannya atau tidak, “ini suara Jenar. Merdu, kan? Saya merasa tenang dengerin ini, rasanya seperti Jenar sedang ada di sini.”
Aku melepas earphone dari telinga, meletakkannya di tangan Ghufron. “Hanya mendengar lagu seperti itu kamu bisa tenang? Atau karena itu suara Jenar?” tanyaku.
Ghufron menegakkan badan, jemarinya bergerak di atas ponsel lalu ia melepas earphone dari telinganya.
“Di agama saya membaca shalawat untuk nabi memiliki maksud mendo’akan atau memohonkan berkah kepada Alloh SWT semoga beliau nabi Muhammad SAW sejahtera.”
“Apa hubungannya membaca shalawat dengan penyakit kamu? Apakah dengan membaca atau mendengarkan shalawat, penyakit kamu bisa sembuh?”
Ghufron menolehkan kepala sambil menepuk pahaku sekali, “pak Hara!” panggilnya. Otomatis membuatku menoleh, hingga wajah kami berhadapan, baru ia mulai menjelaskan, “saya ini hanya manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Dalam islam, kami sangat mengharap syafaat kanjeng nabi untuk meringankan jalan kami di akhirat kelak.”
Aku mengernyit sebab tidak tahu apa yang dimaksud oleh Ghufron, “syafaat itu apa?”
“Syafaat adalah bantuan nabi muhammad SAW atas ijin Alloh SWT untuk meringankan atau membebaskan umat manusia dari hukuman.”
“Kenapa kalian harus mengharap syafaat dari nabi? Bukankah lebih baik kalian berdo’a sendiri kepada Tuhan?”
“Umat islam berdo’a dengan mengharap syafaat Rosululloh SAW di hari akhir kelak, itu karena beliau adalah pemegang syafaat yang agung atas ijin Alloh.”
Aku tersenyum remeh, menggerutu setengah kesal, “kalau aku jadi kamu, saat ini justeru aku sudah marah kepada Tuhan. Bagaimana Dia bisa memberikan penyakit tapi tidak ada obatnya.”
“Astaghfirulloh, pak Hara. Siapa saya ini sampai berani marah sama Alloh? Saya ini hanya manusia biasa, sedangkan Alloh adalah pencipta alam seisinya. Apa berhak saya marah?”
“Tentu saja berhak. Lihatlah keluargamu!” Aku menunjuk deretan orang yang sedang berdiri di tepi koridor dengan isyarat dagu. Ada pak Haryo dan Nalini berdiri di sana sedang berbincang.
“Kalian semua orang baik. Bapak-ibu kamu, Nalini dan kamu sendiri. Bukankah kalian selalu melaksanakan kewajiban sebagai muslim? Sejauh aku mengenal kalian, kalian adalah orang-orang yang taat beribadah. Tapi kenapa Tuhan kalian begitu kejam memberikan kepadamu penyakit mengerikan ini?”
“Astaghfirulloh! Tidak sekali pun saya punya pikiran seperti itu, pak Hara. A’udzubillahimindzalik, semoga saya dijauhkan dari pikiran dan perbuatan seperti itu. Saya percaya Alloh memberikan penyakit sekaligus obatnya. Bahkan jika itu berupa kematian, sesunguhnya juga merupakan obat dari segala penyakit.”
“Naif sekali kamu? Memangnya kamu sudah siap mati?”
“Kalau memang itu yang Alloh kehendaki, siap atau tidak, saya tidak bisa menolak apalagi mengelak, kan?”
Aku tersenyum miring, dalam hati aku tidak setuju dengan ucapan Ghufron. Apakah manusia harus sepasrah itu dengan kematian? Apakah kita harus menyerah pada takdir? Kenapa kita tidak boleh marah pada Tuhan atas perlakuan tidak adil yang kita terima? Bukankah seharusnya Tuhan memberi kebaikan kepada umat yang takwa padaNya?
“Penyakit ini dikirimkan Alloh kepada saya karena Alloh sayang sama saya, Pak. Karena Alloh ingin menguji seberapa besar iman saya saat diberi ujian, jika nanti saya mati, berarti Alloh lebih menyayangi saya. Alloh tidak membiarkan saya melakukan dosa lagi, jadi Dia mengambil saya. Bukankah takdir Alloh selalu istimewa, Pak? Alloh memberi apa yang kita butuhkan, meskipun kadang tidak kita inginkan.”
“Nggak masuk akal.”
“Terserah pak Hara saja." ucap Ghufron pasrah, "Oya, pak Hara bawa pulpen tidak? Kalau bawa saya mau pinjam.”
Aku mengambil pena yang tersemat di saku kemeja, sudah menjadi kebiasaanku kemana-mana membawa pena. Kuberikan kepada Ghufron, “buat apa?”
“Nulis surat wasiat,” jawabnya santai sambil tersenyum pula. Sungguh orang yang aneh, masih bisa tersenyum santai padahal sedang dalam keadaan sakit parah.
Aku hanya menggelengkan kepala, saat Ghufron mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop. Kertas berisikan hasil tes darah kemarin. Entah apa yang ia tuliskan di sebalik hasil pemeriksaan laboratorium itu. Setelah selesai ia melipat kertas, memasukkan kembali ke dalam amplop seperti semula lalu memberikannya kepadaku.
“Kalau saya tidak sempat bertemu dengan Jenar, tolong berikan padanya, ya, Pak!”
“Kamu bisa memberikannya sendiri nanti atau besok.”
“Saya takut tidak ada nanti atau besok, Pak.”
Aku masih enggan menerima surat itu, tapi Ghufron memaksa dengan memasukkannya ke dalam saku kemejaku setelah melipat amplop menjadi kecil. Dia membuang napas lega seperti baru saja melepas beban berat.
“Jenar adalah gadis paling unik yang pernah saya temui, Pak. Dia manis, lucu, lugu, sopan tapi lain dari pada yang lain. Jika ada nominasi gadis paling aneh se-Indonesia, Jenar pasti termasuk. Dia tidak bisa makan coklat dan es atau minuman dingin lain, sakit giginya bisa kambuh.”
“Kenapa kamu cerita sama saya? Kamu lupa saya kerja sama kakaknya Jenar? Kebiasaan seperti itu saya sudah tahu.”
“Pak Hara pasti belum tahu kalau Jenar punya trauma, kan?”
“Trauma?”
“Dia tidak mau dibilang trauma, dia mengatakan hanya sekedar phobia, tapi cukup parah, dalam keadaan tertentu ia bisa sampai pingsan.”
“pobhia apa?”
“Jenar pobhia-”
Kalimat Ghufron terpotong karena suster memanggil namanya. Aku menoleh ke arah sumber suara sejenak kemudian merapikan berkas-berkas yang diperlukan sebagai syarat administrasi rumah sakit.
“Ayo!” aku sudah hendak beranjak, tapi saat aku menoleh ke samping, Ghufron sedang mengusap hidungnya dengan telapak tangan, “kamu kenapa?”
Pertanyaanku tidak dijawab oleh Ghufron, dia membuka telapak tangan, melihat ke arahku dan seketika aku terkejut. Cairan berwarna merah keluar dari hidungnya, tepat saat itu Nalini dan pak Haryo menghampiri kami.
“Mas mimisan?” tanya Nalini dengan nada panik.
Aku beranjak dari duduk, melihat Nalini mengeluarkan tissu dari dalam tasnya dengan tergesa. Sedangkan pak Haryo memegang bahu kanan Ghufron. Dia masih tersenyum ketika memperlihatkan jemari yang terkena noda darah. Ia tidak mengatakan apa-apa saat Nalini membersihkan darah di hidungnya dengan tissu.
Seperti film yang diputar dalam gerak sangat lambat, aku melihat Ghufron mengerjapkan mata sekali. Kemudian tubuhnya tiba-tiba lemas, jatuh ke samping. Beruntung aku bergerak secara otomatis hingga bisa menopang tubuhnya tidak sampai jatuh ke kursi.
“Mimisannya nggak mau berhenti,” ucap Nalini panik sambil berusaha mengusap darah yang terus keluar dari hidung kakaknya, mengundang orang-orang berkerumun.
Tanpa pikir panjang aku berteriak, “Suster tolong!”
Suasana mendadak ricuh, kerumunan orang-orang mengurai ketika dua orang tenaga kesehatan datang. Mereka hanya melakukan pemeriksaan sekilas, sebelum salah satu dari mereka mengambil kursi roda yang tergeletak di ujung koridor. Lalu kami mengangkat tubuh tak berdaya Ghufron ke atas kursi roda. Setengah berlari kami membawanya menuju lift terdekat.
Ketika kami sampai di IGD, beberapa petugas berpakaian serba hijau menyambut. Segera mereka mengangkat tubuh Ghufron ke atas brankar dan melakukan pemeriksaan. Ghufron masih sadar, tapi tubuhnya sangat lemah seolah kakinya tidak kuasa menahan berat tubuh.
“Ada rekam medis?” Tanya seorang perawat.
Aku memberikan semua berkas yang kubawa sembari menjawab pertanyaan perawat, “kami sedang mengantri untuk pemeriksaan sum-sum tulang belakang.”
“Bapak bisa ikut saya ke tempat pendaftaran pasien.”
Aku mengikuti langkah perawat menuju ke sisi lain ruangan, tempat dimana terdapat meja panjang, komputer dan beberapa orang duduk dibalik meja. Perawat tadi terlihat mengambil secarik kertas, kemudian menuliskan sesuatu di atasnya sambil bertanya kepadaku tentang banyak hal.
“Pasien atas nama siapa?”
“Menggunakan asuransi jaminan kesehatan atau umum?”
“Sudah ditangani oleh dokter siapa?”
Aku menjawab semua pertanyaan yang diberikan dengan perasaan campur aduk tak karuan hampir tidak bisa didefinisikan. Beberapa menit yang lalu aku masih duduk dengan tenang, sekarang keadaan berubah panik seketika.
Setelah aku menyelesaikan urusan soal pendaftaran pasien, aku menghampiri Nalini yang berdiri sambil menggigit jemari tepat di depan tirai yang tertutup rapat. Bisa kulihat raut gelisah pada wajahnya yang cantik dan gestur tubuh yang tidak tenang.
“Pak Haryo di mana?”
Aku mengikuti arah telunjuk Nalini. Kulihat pak Haryo berdiri tak jauh dari kami dengan pandangan nanar. Sama seperti Nalini, ia menatap tirai warna putih yang tertutup rapat. Tempat di mana putra sulungnya sedang ditangani.
Selang beberapa saat, tirai di depan kami terbuka. Beberapa petugas medis keluar dari sana, segera aku menghampiri mereka.
“Pasien bisa ditemui, tapi mohon tidak lebih dari dua orang, ya. Biar pasien tidak terganggu, sambil menunggu dokter.” ucap seorang pria berpakaian serba hijau yang menutup rapat hampir seluruh tubuhnya, hanya menyisakan bagian mata saja yang terlihat.
“Baik. Terima kasih.” jawabku, melirik arah brankar tempat Ghufron berbaring.
Aku mempersilakan pak Haryo dan Nalini menemani Ghufron, lalu memilih untuk keluar dari ruang IGD. Duduk di kursi depan ruang IGD dengan perasaan masih sama, bingung bagaimana aku harus menjabarkannya. Kalau saja tidak ada poster larangan merokok, pasti sudah kusulut tembakau berbungkus kertas yang ada di saku celanaku. Namun, aku masih cukup waras untuk tidak melanggar aturan rumah sakit.
Lewat tengah hari, aku melihat Nalini berjalan cepat keluar dari ruang IGD. Tanpa menoleh kiri-kanan ia melewatiku begitu saja. Aku tidak tahu ia hendak kemana, tapi beberapa saat kemudian pak Haryo juga keluar. Aku menghampiri pria paruh baya berperawakan kurus itu karena ia terlihat mencari seseorang.
“Bapak mau kemana?”
“Alhamdulillah nak Hara masih di sini. Saya mau salat dzuhur, Nalini sedang membeli minum. Bisa saya minta tolong nak Hara jaga Ghufron sebentar?”
Aku mengangguk, sempat aku menatap punggung pak Haryo saat ia berlalu menjauh dari ruang IGD. Kepalaku masih penuh dengan benang kusut, perasaanku pun tidak baik-baik saja. Aku masuk ke dalam ruang IGD menuju brankar dengan tirai tertutup rapat.
Kubuka tirai pelan agar tidak menimbulkan suara berisik yang mengganggu ketenangan. Kulihat tubuh Ghufron terbaring dengan selang oksigen dan alat penunjang kehidupan lainnya terpasang di beberapa bagian. Suara mengerikan monitor tanda vital pasien, menyeret ingatanku kembali ke masa lalu. Saat alat-alat medis di hadapanku ini seperti menjadi sahabat karib, karena setiap saat kutemui.
Aku berjalan pelan mendekati brankar dengan menutup tirai di belakangku. Ghufron membuka mata sejenak, mungkin menyadari kedatanganku, ia tersenyum. Aku berdiri di samping brankar, menatap wajah ghufron yang memucat, tidak sesegar pagi tadi saat aku menjemputnya.
“Pak Hara?”
Aku tidak menjawab, hanya berdehem sebagai tanda siap mendengarkan apa yang ingin Ghufron katakan. Ia memejamkan mata dengan tenang, meskipun aku bisa memperkirakan kalau ia sedang kesakitan.
“Saya minta tolong, sampaikan pada pak Fares. Maaf, saya tidak bisa menggantikannya menjaga Jenar.”
“Jangan bicara yang tidak-tidak! Kamu pasti sembuh.”
Ghufron tersenyum seraya membuka mata sebentar kemudian ia pejamkan lagi, “saya sudah ikhlas, kalau waktu saya hanya sampai di sini.”
“Dokter sedang melakukan observasi, kamu harus bertahan.”
“Semoga kita bisa berkumpul di surga kelak, ya, pak Hara.”
Aku diam tidak menjawab ucapan Ghufron yang menurutku absurd. Ia masih bernapas dengan tenang sampai Nalini datang membawa beberapa botol air mineral. Ia masih bisa minta Nalini membantunya minum menggunakan sedotan dan meminta Nalini membacakan lantunan sholawat seperti yang kudengar melalui earphone beberapa jam yang lalu.
Namun beberapa saat setelah pak Haryo datang dan aku hendak beranjak. Irama napas Ghufron memburu kemudian terdengar seperti mendengkur. Nada suara pada monitor alat vital pun berubah dan aku sangat paham situasi seperti apa ini.
Aku membuka tirai, untuk memanggil tenaga medis. Dokter jaga dan beberapa perawat menghambur masuk. Aku dan Nalini memberi akses kepada mereka. Nalini menutup mulut dengan terus bergumam seoalh sedang merapal mantra. Aku hanya bisa menatap nanar kesibukan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Rekam jantung!”
“Senter!”
“Permisi, bapak minggir dulu.” seorang perawat mengusir pak Haryo yang masih berdiri di samping putranya.
Pak Haryo hanya mundur dua langkah, tanpa ingin menginggalkan putranya. Ia seperti ingin menyeruak ke diantara para tenaga medis yang sedang mengambil tindakan tapi tidak kuasa.
Dua kali dokter melakukan kejut jantung pada ghufron, tapi monitor alat vital belum menunjukkan kondisi stabil. Para tenaga medis masih melakukan tindakan ketika pak Haryo berucap pelan tapi terdengar cukup jelas olehku, “biarkan saya menemani putra saya.”
“Maaf, Pak. Bapak bisa tunggu di luar saja? Kami sedang melakukan tindakan.” jawab dokter sopan.
“Biarkan saya membimbing putra saya, dok.”
“Maaf, Pak-” dokter tidak melanjutkan kalimatnya, karena pak Haryo berseru keras dengan suara hampir bergetar, “anak saya sedang sakaratul maut, dokter. Ijinkan saya menemaninya.”
Aku melihat seketika semua tenaga medis menghentikan tindakan, terpaku menatap ke arah pak Haryo. Dokter yang tadi baru saja melakukan kejut jantung mundur selangkah dari brankar, memberi akses pak Haryo untuk mendekat.
Tanpa ragu pak Haryo berjalan diantara dokter dan brankar tempat putranya berbaring. Ia berdiri tepat di samping kepala Ghufron sejenak menatap dokter sambil mengangguk. Aku menoleh ke samping tepat saat Nalini melakukan panggilan telepon. Hanya kalimat singkat yang kudengar, rupanya Nalini sedang bicara dengan ibunya, “bu, nyuwun dongo alfatihah kagem mas.” (Bu, minta do'al alfatihah buat mas.)
Aku masih mendengar dengkur suara Ghufron bernapas, kulihat pak Haryo menundukkan kepala agar bisa berbisik di telinga putranya. Pak Haryo menggenggam tangan Ghufron dan semua tenaga medis menunduk diam.
Hening sekali ….
Sampai suara bisikan pak Haryo bisa kudengar diantara jeritan monitor alat vital.
“Tiru bapak, yo, Le!” (Tirukan bapak, ya, Nak!)
“Ashadu alla ilahaillallah … wa ashadu anna muhammadarrasulullah.”
“Alloh, Alloh, Alloh, Alloh.”
Pak Haryo terus membisikkan kata-kata menyebut nama Tuhan selama beberapa saat. Tenaga medis kembali melakukan tindakan dengan tanpa melarang pak Haryo berada di sisi Ghufron.
Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini! Sudah pasti kepalaku terasa berat dengan dada sesak seperti ada batu besar yang menghimpit saluran pernapasanku. Saat melihat langsung Ghufron dengan gerakan yang sangat lemah mengangkat tangan dua kali seperti gerakan memulai salat. Lalu tak lagi kudengar suara dengkuran.
Pak Haryo mengangkat kepala, menegakkan badan. Ia meletakkan tangan Ghufron yang tadi digenggam. Mengusap punggung tangan putranya dengan halus. Bersamaan dengan bunyi bip panjang dari monitor alat vital pasien, ia berucap, “Innalillahi wa innailaihi roji’un….”
Namun, para tenaga medis belum menyerah, mereka masih melakukan resusitasi jantung dan paru-paru (CPR) dan tindakan lain untuk menyelamatkan pasien. Alat kejut jantung disiapkan, segera dilakukan untuk memacu detak jantung Ghufron.
Ghufron tidak merespon apapun, matanya tertutup rapat. Aku melihat dokter menggelengkan kepala setelah memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Ghufron. Menyerah karena semua usaha untuk menyelamatkan pasien sudah diupayakan tapi tidak berhasil.
Nalini jatuh terduduk di lantai dan pak Haryo mengusap wajah kasar, saat seorang dokter berkata sembari melihat jam yang menempel di dinding ruangan.
"Kamis, 02 Oktober 20xx pukul 14.25 WIB. Pasien atas nama Ghufron al ghazali dinyatakan meninggal dunia."
Demi Tuhan! Apakah seperti ini jalan hidupku? Harus melihat kematian tepat di depan mata, dan harus merasa kehilangan untuk orang yang sebenarnya bukan siapa-siapaku. Mengapa harus seperti ini? Meski aku tahu takdir tidak pernah bercanda, tapi peristiwa ini membuatku ingin protes kepada Tuhan. Haruskah tugasku selesai dengan cara seperti ini? Ya, Tuhan!
Kuambil ponsel dari dalam saku celana, mendial angka satu setelah kuusap layar. Aku harus menarik napas panjang setelah sambungan telepon terhubung dan suara menyapa dari seberang sana terdengar.
“Rey! He’s gone. Ghufron baru saja meninggal.”
Segera kututup sambungan telepon, karena selanjutnya banyak yang harus kulakukan. Walau sejak awal sudah kuperkirakan tentang kondisi terburuk seperti ini, tapi tetap saja aku tidak siap. Walaupun kejadian ini menjadi tanda tugas yang diberikan kepadaku telah selesai, tapi masih ada yang harus kulakukan ....
.
.
.
Bersambung....