Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
30. Gejolak Rasa


...🍁Tidak ada sesuatu pun yang dapat menyentuh dalamnya hati manusia, kecuali atas kehendak Alloh Yang Maha membolak-balikkan hati.🍁...


Hara.


Terpaku aku dalam diam, memandang keriuhan di hadapan. Sungguh tak pernah terbersit dalam angan, aku akan berada dalam situasi dan keramaian seperti ini. Tak pernah kubayangkan akan duduk diantara anak-anak yang sedang bermain. Bercengkerama dengan tiga pria beda usia yang semuanya ramah dan tidak menyambutku dengan baik.


Aku tidak bisa menghindar setiap kali seorang gadis kecil berlari ke arahku dan bersembunyi dibalik lenganku, saat dia dikejar oleh kakak-kakaknya. Aku tidak bisa untuk tidak tertawa lepas, saat Naufal menggelayuti leherku, sedangkan anak-anak lain menggelitiknya sampai terkekeh.


Di sini, aku bisa sejenak melupakan penat yang menumpuk di otak. Padahal beberapa jam yang lalu, terasa ada benang kusut di kepalaku yang rasanya tidak bisa kuurai. Namun sekarang bahkan aku hampir lupa jika aku telah membuat banyak orang marah padaku.


Sepulang dari mengunjungi makam papa, aku mengantar Cecilia pulang. Kemudian aku mengajak Soleh pergi ke tempat Alex untuk membicarakan hal penting. Urusan dengan Alex belum selesai, Reyfan dan Hamzah datang. Mereka mengira aku akan melakukan hal yang akan membahayakan sekaligus memprihatinkan.


Kami sempat bersitegang di tempat Alex, Reyfan dan Hamzah bahkan sudah menghajar tangan kanan mami Quin itu sampai babak belur. Kalau saja aku dan Soleh tidak berhasil melerai, mungkin Alex sudah kehilangan nyawa. Sebab sudah menjadi rahasia umum, tidak ada yang bisa menghentikan Reyfan dan Hamzah, kalau mereka sedang menunjukkan taring.


Aku pun tidak luput dari hantaman Reyfan. Beruntung hanya memar sedikit, tidak begitu terlihat. Sehingga tidak mengundang pertanyaan saat aku sampai di rumah pak Wawan.


Aku bisa berangkat ke Jogja setelah memberi penjelasan kepada Reyfan dan Hamzah. Aku sangat bersyukur karena mempunyai sahabat yang selalu ada untukku, tapi saat ini aku butuh lebih dari sekedar sahabat. Meski aku belum tahu, akan berakhir seperti apa nantinya, tapi aku harus mencari ketenangan versiku sendiri.


“Kamu yakin tidak akan melakukan hal aneh-aneh?” Itu pertanyaan Reyfan yang kesekian kali, saat mengantarku ke bandara tadi. Hanya kujawab melalui anggukan kepala.


“Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kamu tidak biasanya seperti ini, Hara.” Hamzah yang biasanya tidak pernah memprotes apapun yang kulakukan, kali ini ingin tahu karena aku memang tidak biasa menutupi satu persoalan pun dari mereka.


Aku tidak menjawab pertanyaan Hamzah. soleh pun enggan berkomentar, padahal dia paling tahu apa yang sedang kurasakan serta apa yang ingin kulakukan. Walau kadang menyebalkan, tapi Soleh selalu bisa kuandalkan untuk menyimpan rahasia. Dia tidak pernah mengecewakanku, sangat menghormati privasiku.


“Aku kasih kamu waktu, terserah sampai kapan. Aku hanya minta satu hal, begitu kamu selesai dengan semua urusanmu, segeralah kembali!” Akhirnya Reyfan mengalah karena tidak juga berhasil mengubah keputusanku.


“I promise!” Jawabku singkat.


“Kamu tahu, kami akan selalu ada untukmu.” Hamzah merangkulku, sesaat sebelum terdengar announcement keberangkatan pesawat yang akan kutumpangi.


Aku beranjak dari tempat duduk, melangkah meninggalkan tiga orang paling dekat seumur hidupku. Sempat kudengar Reyfan berteriak, membuatku berbalik sejenak hanya untuk menunjukkan jari tengah padanya.


“Carilah wanita yang bersedia menemanimu seumur hidup, bukan yang hanya mau dibayar mahal untuk menemanimu beberapa jam saja.”


Aku benar-benar meninggalkan mereka di belakangku. Orang-orang yang telah menarik tanganku, saat aku jatuh terpuruk. Juga mereka yang ikut merayakan prestasi yang kuraih. Maafkan aku kawan, aku ingin mencari jati diriku yang sebenarnya, tanpa campur tangan kalian.


Dalam hati aku berkata, ‘jika Tuhan mengijinkan kita bertemu lagi, tetaplah sambut aku sebagai teman kalian. Apapun yang akan terjadi padaku kelak.’


Kenangan masa lalu saat aku pertama kali bertemu dengan Hamzah dan Reyfan berputar di ingatan, ketika pesawat baru saja lepas landas. Kubawa seluruh kenangan itu, tanpa ingin kulupakan. Aku berterima kasih karena mereka dan semua kenangan itulah yang membentuk diriku menjadi seperti sekarang ini.


Aku sampai di rumah pak Wawan sore hari, rumah kecil ini ramai sekali. Ada banyak orang berkumpul di sini dan semua menyambut kedatanganku dengan senyum mengembang.


Mbak Nadia, suami dan tiga anaknya yang lucu, juga beberapa orang yang dikenalkan padaku sebagai kerabat mama. Mereka semua menanyakan kabarku, mengajakku berbincang seolah sudah sering bertemu. Padahal baru kali pertama aku melihat wajah mereka secara langsung.


“Om! Om! Bukake!” (om, bukakan!)


Suara manja gadis cilik kira-kira usia dua tahun dengan logat khas cedal membuyarkan lamunanku. Aku mengambil sebuah lolipop yang ia ulurkan didepanku. Kubukakan bungkus lolipop itu, lalu memberikannya kepada putri ketiga mbak Nadia. Haifa.


“Maem permen terus!” Sungut mas Aryo, suami mbak Nadia. Tapi tidak mencegah Haifa berlari menyusul kakak-kakaknya.


Aku menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan tingkah anak-anak kecil yang ramai. Tidak memedulikan aktivitas orang dewasa di sekitar.


“Kamu belum menikah, Hara?” Tanya mas Aryo. Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Mas Aryo merebahkan tubuh di sebelahku, berbantalkan tangan, ia berbaring tanpa memejamkan mata.


“Puas-puasin dulu nikmati masa muda, kalau sudah ketemu yang cocok segera menikah! Menikah itu ibadah, lho.”


“Nadia bilang, kamu tinggal sendiri di Jakarta?”


Aku mengangguk. Rupanya mas Aryo belum selesai bicara, “tinggal sendiri itu nggak enak, kalau sudah punya istri dan anak baru hidup berwarna, ya, Mas?” dia menepuk bahu mas Akmal yang duduk di sebelahnya.


“Lagumu, Yo. Dulu saja pas mau punya anak bingung nanti gimana kasih makan, kasih pendidikan, sekarang bilang enak punya anak istri. Dasar!”


“Itu kan dulu, Mas. Beda dulu, beda sekarang, dong. Punya istri enak, mau ngopi ada yang bikinin, mau makan sudah ada yang siapin, pakaian tahu bersih dan rapi. Enak, kan?”


“Itu istri kamu dijadikan pembantu gitu maksudnya, Yo?”


“Ya, nggak gitu juga, Mas. Nadia di rumah nggak pernah pegang pekerjaan rumah tangga, semua orang lain yang urus. Kerjaan Nadia cuma ngitung hasil jualan sama ngurus anak aja. Itupun aku masih ambil bagian, Mas.”


“Kirain kamu jadiin Nadia pembantu di Jepara, bisa tak ambil anak perempuan bapak.” Celetuk Pak Wawan yang mengundang tawa kami.


“Mboten wantun, Pak. Nadia itu ratu, yang harus dimuliakan.” (Tidak berani, Pak.)


Aku diam mendengarkan obrolan tiga pria di sebelahku, menarik. Mas Aryo dan mas Akmal yang usianya tidak jauh dariku, tapi sudah punya pengalaman hidup berharga dan banyak. Bapak yang berbincang dengan menantu tapi sudah seperti anak sendiri. Sungguh keluarga yang tidak pernah kutemui sebelumnya, kehangatan dalam kesederhanaan.


Aku membantu keluarga pak Wawan menyiapkan tempat untuk acara do’a bersama nanti malam. Para perempuan sejak tadi sibuk menyiapkan untuk jamuan. Aku baru tahu kalau setiap tahun, keluarga pak Wawan mengadakan do’a bersama dalam rangka memperingati hari meninggalnya mama.


Setelah tempat dan jamuan siap, orang-orang berdatangan ke rumah pak Wawan. Mereka semua laki-laki dengan kostum khas orang muslim, yaitu sarung, baju koko dan peci.


Aku memilih mundur ke belakang, duduk di bangku yang terletak di belakang rumah saat lantunan ayat-ayat suci dan rangkaian do’a dibacakan. Menikmati hisapan rokok sendiri di tengah gelap malam. Suasana belakang rumah yang sepi membuat telingaku masih bisa mendengar sayup-sayup do’a yang dibaca oleh orang-orang.


Aku tidak tahu do’a dan ayat apa yang dibaca karena semuanya dalam bahasa arab. Satu hal yang membuatku tidak habis pikir dengan orang-orang islam ini, mengapa mereka harus berdo’a menggunakan bahasa arab? Mengapa tidak berdo’a dengan bahasa mereka sendiri yang mudah dimengerti?


Sebenarnya banyak yang membuatku ingin tahu tentang ibadah yang dilakukan oleh orang-orang islam. Dulu, hanya kupikir sambil lalu. Tapi sekarang, saat terlalu sering berkumpul dengan mereka, melihat mereka beribadah dari dekat, rasa ingin tahuku kembali muncul. Terutama aku ingin tahu tentang mama dan papa.


“Kenapa malah duduk di sini sendiri? Seperti orang hilang saja.” Aku menoleh ke sumber suara, seketika lamunan panjangku buyar. Mbak Nadia berdiri di ambang pintu, menggendong Haifa yang tertidur pulas.


“Nggak pa-pa, Mbak.” Jawabku singkat.


Aku membuang rokok yang baru terbakar sedikit, mengetahui mbak Nadia berjalan mendekat lalu duduk di sebelahku.


“Mbak nggak ke depan?”


Mbak Nadia menggeleng, “semua sudah siap, tinggal disajikan nanti kalau ngajinya sudah selesai.”


“Mbak nggak ikut ngaji?”


Mbak Nadia menggeleng lagi, “sedang berhalangan, nggak boleh baca ayat suci.”


Aku mengangguk paham, kulihat mbak Nadia menggoyang buian, karena Haifa bergerak. Mungkin terusik karena mendengar suara kami berbicara.


“Tidak ditidurkan di kamar saja, Mbak?” Tanyaku, karena merasa mbak Nadia pasti capek menggendong anak bertubuh gempal itu.


“Dia nggak bisa tidur kalau ada suara ramai, harus digendong seperti ini biar nggak keganggu.”


Kami diam beberapa saat, hingga lantunan ayat suci terdengar lebih jelas. Masuk ke telingaku dan terasa mengendap di dasar hati, menimbulkan desiran aneh yang meremangkan bulu roma.


Kuhirup napas dalam-dalam, mencegah jangan sampai sesak datang. Kuusap tengkuk, juga kedua lenganku, menghalau udara dingin yang menyeruak.


“Dingin, ya, Hara?” Pertanyaan mbak Nadia membuatku menoleh. Wajah penuh khawatir lengkap dengan dahi berkerut dalam yang ditampilkan mbak Nadia, membuatku mengangkat sedikit kedua sudut bibir.


“Nggak apa-apa, Mbak.” Sanggahku berusaha terlihat baik-baik saja.


“Sedang mikir apa kamu, Hara?” Mbak Nadia seperti tahu aku sedang memendam sesuatu, padahal baru kali ini kami bertemu dan bercakap-cakap.


“Kalau kamu mau, kamu bisa cerita sama Mbak. Insyaalloh mbak amanah.”


Karena ucapan mbak Nadia aku jadi tergerak untuk bertanya padanya. Tentang pertanyaan yang sudah lama tersimpan dalam benak, mungkin malam ini bisa terjawab.


Mbak Nadia tersenyum tipis, “menurut islam, setiap yang beriman kepada Alloh, menjalankan perintahNya, menjauhi laranganNya dan tidak berbuat buruk terhadap sesama, insyaalloh masuk surga.”


“Di sana papa bisa ketemu mama nggak, ya, Mbak?”


Bukan mbak Nadia yang menjawab pertanyaanku, sebab kulihat ia terdiam. Sedangkan yang kudengar adalah suara dari arah pintu yang terbuka. Mbak Nabila berjalan sembari berkata, “di sini rupanya kalian.” lalu duduk di sebelahku, aku diapit oleh dua kakak kembarku.


“Hara. Dalam agama kami, ada ayat seperti ini, barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki mupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” (Annisa 124)


“Rosulullah SAW bersabda, tidak ada yang membujang di akhirat.”


“Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya,” (QS. Albaqarah : 25)


“Istri soleha akan kembali bersama dengan suaminya, jika suaminya orang soleh.”


“Jadi menurut mbak, mama dan papa tidak bisa bertemu di akhirat, dong?”


“Itu bukan menurut mbak, Hara. Tapi itu janji Alloh yang tertuang dalam kitab suci Alqur’an. Pedoman hidup setiap muslim dan muslimah.”


Aku diam, melayangkan pandangan jauh ke depan. Walau sejauh mata memandang, hanya gelap yang terlihat. Terjawab sudah pertanyaanku selama ini, pertanyaan yang sebenarnya sudah lama tertanam dalam benak. Malam ini aku makin yakin, bahwa keberagaman itu sama sekali tidak salah. Namun, dalam konteks agama dan keyakinan keberagaman tidak seharusnya dipaksa bersatu.


“Eh! Ganti topik aja, yuk! Kita baru saja kumpul seperti ini masa mau ngomongin yang berat-berat terus, sih?” Ujar mbak Nadia.


“Iya, ngomongin yang lain aja,” mbak Nabila setuju. Dua perempuan berwajah serupa yang mengapitku, kini kompak melihat ke arahku.


“Mau ngomongin apa?” Tanyaku sedikit kikuk karena dipandang dua perempuan cantik yang jika dilihat lebih lama, wajah mereka makin mirip mama.


“Ngomongin apa, ya?” Mbak Nadia mengembalikan pertanyaan.


“Mau ngomongin anak, Hara belum punya anak. Nggak adil, kan? Masa kita berdua yang ngomong, Hara cuma jadi pendengar?” Mbak Nabila memainkan jemari pada dagunya.


“Ya, nggak apa. Saya dengerin kalian cerita, bisa buat referensi nanti kalau saya punya anak.” Jawabku mencoba berseloroh tapi gagal, sebab mbak Nabila dan mbak Nadia tidak tertawa. Keduanya malah menatapku dengan pandangan aneh.


“Mbak jadi pengen tahu, deh, Hara. Kamu sudah nikah belum, sih?” Tiba-tiba mbak Nadia bertanya tentang pertanyaan yang menurutku paling menyebalkan.


“Kenapa mbak menanyakan hal itu? Kalau saya sudah menikah, saya nggak mungkin tinggal lama di sini, dong?”


“Iya juga, sih.” mbak Nadia mengangguk, tapi sejurus kemudian dia menoleh ke arahku lagi, “kamu nggak bohong, kan, Hara?”


“Ya ampun, Mbak. Nggak percayaan sama saya.”


“Siapa tahu kamu punya istri yang disembunyikan, Hara.”


“Nggak-lah, Mbak. Saya kalau punya istri malah mau saya pamerkan kemana-mana, apalagi kalau istri saya cantik.”


Kami bertiga kompak tertawa lepas, sampai mbak Nadia meletakkan telunjuk pada bibir. Tanda kami harus memelankan suara, khawatir terdengar sampai ke dalam rumah. Karena do’a bersama masih berlangsung.


“Kalau pacar pasti punya, ya, Hara?” Kali ini pertanyaan dari mbak Nabila, yang sama menyebalkan dengan pertanyaan sebelumnya.


Aku menggeleng sebagai jawaban dan menunjukkan raut wajah tidak suka. Aku memang tidak pernah suka kalau ada yang menyinggung tentang pernikahan atau wanita. Karena aku belum ingin memikirkannya, masih jauh dari angan.


“Cocok, nih, Bil! Bisa kita carikan jodoh buat adik kita ini.” Seloroh mbak Nadia.


“He’em, Nad! Santriwatinya bu Nyai bisa kali, ya?” Aku dan mbak Nadia kompak menoleh ke arah mbak Nabila, pasti mbak Nabila salah bicara. Belum sadar, mbak Nabila malah berkata lagi, “atau khodimah ndalem yang sudah terlatih mengerjakan pekerjaan rumah tangga, atau-”


Mbak Nadia memotong ucapan saudara kembarnya yang belum selesai, “Bil!”


Sadar akan kekeliruannya, mbak Nabila menutup mulut dengan kedua tangan, “astaghfirullohaladzim ….” Dia menatapku dengan tatapan bersalah, “maaf, Hara. Mbak terbawa suasana, jadi lupa.”


“Santai saja, kali, Mbak. Siapa tahu saya memang berjodoh dengan perempuan yang mbak sebutkan tadi, jadi saya punya alasan untuk pindah agama. Iya, kan?” Kumainkan alis sebagai tanda bahwa aku tidak tersinggung dengan apa yang mbak Nabila ucapkan.


Dua kakak perempuanku hanya tersenyum menanggapi kalimat yang kuucapkan. Terdengar seperti gurauan, padahal aku mengatakannya dengan serius. Benar-benar keluar dari dalam lubuk hatiku.


“Semoga kamu dipertemukan dengan jodoh terbaik, ya, Hara.”


“Amin ….”


Kami melanjutkan berbincang ringan tentang apa saja. Menikmati kebersamaan yang tidak bisa kami nikmati sebelumnya, juga belum tentu bisa terjadi lagi di masa yang akan datang.


“Akhirnya keinginan kita punya adik terkabul, ya, Nad?”


“Iya, Bil. Dulu kita sampai nangis-nangis gara-gara tidak punya adik, sedangkan teman lain punya adik.”


“Sekarang kita punya adik beneran, tapi badannya lebih gede dari pada kita,” mbak Nabila menutup mulut untuk menahan tawa.


“Bagus, dong. Artinya kita punya seseorang yang bisa dijadikan tameng kalau ada yang ganggu kita.”


“Iya, Bil. Termasuk kalau suami kita nyakitin kita, dia pasti bersedia belain kita. Iya, kan, Hara?”


“Pasti, dong, Mbak. Kalau mas Aryo dan mas Akmal berani nyakitin kalian, saya pasang badan paling depan. Nggak akan saya biarkan ada yang selamat, karena sudah berani bikin kakak-kakak cantikku ini sakit hati.”


“Wah, wah! Kita harus hati-hati, Yo. Ada bodyguard baru istri-istri kita di sini, rupanya.”


Kompak kami bertiga menoleh ke arah sumber suara. Mas Akmal dan mas Aryo sedang berjalan ke arah kami sambil melipat tangan di depan dada. Aku hendak berdiri, tapi dua tangan kecil tiba-tiba melingkari lengan kanan dan kiriku. Mbak Nadia dan mbak Nabila menghimpitku, sehingga aku tidak bisa bergerak sedikitpun.


“Jangan main-main kalian, kami punya jagoan andalan sekarang.” Ucap mbak Nadia ketus.


“Bahaya ini, Mas Akmal. Dua lawan tiga jelas kita kalah jumlah, Mas!”


“Bukan tiga, Yo. Empat, tuh! Makin tak tertandingi, Yo.” mas Akmal menunjuk Haifa yang tetap nyenyak dalam buaian.


Kami semua tergelak, tepat saat Naufal dan dua putra mas Aryo Hasan dan Husain berlari keluar dari pintu. Menghambur ke arah ibu mereka masing-masing.


“Tambah pasukan, Yo. Kita sudah kalah sejak awal.” Ucap mas Akmal disela gelak.


"Berat, Mas. Berat!" Ujar mas Aryo.


"Ini lebih berat, Bi!" Mbak Nadia menyodorkan Haifa kepada ayahnya. Dengan maksud agar mas Aryo gantian menggendong putri kecilnya itu.


Suara dari dalam rumah sudah berubah. Dari gumam-gumam, kini menjadi hampir sepi. Hanya terdengar dentingan sendok beradu dengan piring. Acara do’a bersama pasti sudah selesai, sekarang para tamu sedang menikmati jamuan.


Kalau saja tadi aku tidak memutuskan untuk datang ke tempat ini, mungkin aku tidak menemukan kehangatan seperti sekarang ini. Mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana mempunyai sebuah tempat yang dinamakan keluarga. Mungkin aku tidak akan menemukan alasan mengapa aku harus bangun setelah tidur, karena aku mempunyai orang-orang yang ingin kutemui dalam keadaan bahagia.


Malam itu kami berbincang sampai larut malam. Aku, mas Akmal dan mas Aryo melanjutkan perbincangan sampai hampir pagi. Saat pagi menjelang, kami semua tanpa kecuali, pergi berkunjung ke tempat mama. Aku harus menelan ludah berkali-kali saat mas Akmal memimpin do’a di depan pusara dan semua orang mengaminkan, kecuali aku.


‘Mama … apakah setelah menerima kiriman do’a dari mereka, mama sudah tidak memerlukan do’a dariku? Apakah mama sudah tidak merindukanku lagi, setelah mendapatkan do’a dari anak-anak mama yang lain? Mama … Hara ingin bisa satu amin dengan mereka, tapi tidak bisa karena kami tidak se-iman.’


.


.


.


.


Bersambung....