Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
103. The Birthday Surprise


🌹Setiap hari berganti, maka berkuranglah jatah usia kita di bumi.🌹


Jenar.


Bunyi alarm berdenting nyaring. Kuambil guling untuk menutup telinga, membenamkan wajah dengan mendekap benda empuk itu erat. Mata masih enggan terbuka, hawa dingin membuatku malas menyingkap selimut. Lima menit lagi. Ya, aku biasa menyetting alarm pada ponsel agar berbunyi lima menit sebelum seruan qiyamul lail terdengar dari pengeras suara masjid.


Rasanya belum ada lima menit, kembali terdengar bunyi nyaring. Kali ini bisa kupastikan bukan suara alarm, tapi dering telepon. Kudekap guling makin erat, menghindari suara yang memekakkan telinga itu. Kapan aku membunyikan nada dering ponsel? Biasanya kusetting dalam mode senyap setiap malam. Lagi pula orang iseng mana yang telepon dini hari begini?


Aku mencoba mengabaikan ponsel yang menggelepar, tapi tak jua kunjung berhenti. Terpaksa kubuka mata, menggeliat untuk menghilangkan rasa malas. Kusapu pandangan ke seluruh sisi tempat tidur, hanya ada aku sendiri. Tumben Mbak Sayumi sudah lebih dulu bangun? Biasanya dia tidak akan bangun kalau suaminya belum mengetuk jendela kamar.


Aku melirik jam yang menempel pada dinding kamar. Jarum pendek menunjuk tengah-tengah antara angka dua dan tiga, sedangkan jarum panjang berada dua titik meninggalkan angka tiga. Aku mengucek mata, menghalau kantuk yang masih merajai. Suara getar dan dering ponsel masih terdengar tanpa jeda.


“Iseng banget, sih, telepon jam segini. Awas saja kalau tidak penting.” kujulurkan tangan, mengambil ponsel di atas nakas.


Aku mengerutkan dahi, sekali lagi harus mengucek mata agar pandangan tidak kabur. Sebaris nama tertera pada layar pemanggil.


Raja Burung Calling ….


Aku mendengkus, melihat layar yang terus menampilkan nama dan foto bocah menyebalkan itu. Setidak punya pekerjaan itukah anak yang tinggal di asrama militer, sehingga menelponku dini hari begini? Dasar raja burung tidak punya aturan!


Kugeser tombol warna hijau, mengangkat telepon dengan malas.


[Bangun, tukang tidur! Bukain pintu!] suara dari bocah menyebalkan yang terdengar ketika telepon tersambung.


“Heh! Memangnya kamu siapa minta dibukain pintu? Buka saja sendiri, repot amat!” jawabku ketus. Tanpa permisi kututup sambungan telepon, membanting hp di atas tempat tidur, lalu kembali menarik selimut. Lebih baik meringkuk di bawah selimut sambil mendekap guling dari pada meladeni bocah tidak tahu aturan itu.


Baru merebahkan tubuh dua detik, dering ponsel kembali terdengar. Kucoba mengabaikan hingga akhirnya mati sendiri. Aku mengembuskan napas lega, seraya memejamkan mata. Bosan juga pasti dia, salah sendiri mengganggu waktu tidurku yang sangat berharga. Biar saja dia menunggu di luar sampai matahari terbit, aku tak peduli.


Baru saja mataku hendak terlelap, terdengar ketukan pada jendela kamar. Lambat laun makin kencang disertai rengekan khas berbalut narsistik si bocah menyebalkan.


“Kakakku yang cantik jelita tiada tanding, tolong bukain pintu, dong! Nggak kasihan sama adikmu yang baru melarikan diri dari asrama ini?” suara Lingga seperti menempel di balik jendela. Membuatku tak urung membuka mata juga.


“Kak Jenar, please! Bukain pintu, ya! Adikmu yang tampan ini hampir membeku kedinginan.” Lingga merengek lagi seraya menggedor jendela makin keras.


Aku mengembuskan napas, memaksakan diri untuk menyibak selimut lalu bangun. Dengan mata yang masih malas terbuka, tanganku meraba sekeliling guna mencari ikat rambut. Aku menggeliat, lalu menurunkan kaki. Untung saja lantai kamar terbuat dari kayu, kalau tidak maka hawa dingin sudah pasti langsung menyentuh kulit.


“Mbak Say! Tolong bukakan pintu untuk Lingga!” teriakku sambil mengusap wajah kasar, sebab kantuk masih saja mengghinggapi.


Tidak ada jawaban. Apa Mbak Sayumi diam-diam pulang waktu aku masih tidur, ya? Artinya, hanya ada aku sendiri di rumah ini? Pantas tidak ada yang menggubris teriakan Lingga. Awas saja kalau Mbak Sayumi berani meninggalkanku sendiri, akan kulaporkan pada bunda biar dipecat.


“Kak! Cepetan buka pintu! Aku sudah kedinginan banget ini.” Lingga kembali berteriak.


Astagfirullohal’adzim! Anak itu kenapa mengganggu sekali, sih? Ngapain coba datang dini hari begini, seperti tidak ada hari esok saja. Oh! Jangan-jangan dia benar-benar melarikan diri dari asrama? Wah! Gusti Prabu bisa marah besar kalau sampai tahu.


“Kak! Tidur lagi, ya? Dasar tukang tidur! Bisa tidak, sih, bangun sebentar! Bukain pintu, setelah itu tidur lagi? Aku kedinginan sampai ke tulang-tulang ini, sebentar lagi pasti jadi patung es aku.” gerutu Lingga masih sambil menggedor jendela dengan irama tak beraturan.


“Iya, tunggu sebentar!” teriakku, agar bocah itu berhenti menggedor.


Aku meregangkan otot leher dan tangan sejenak, lalu beranjak. Dengan langkah gontai aku mendekati pintu setelah menyambar jilbab yang tersampir di gantungan baju dan memakainya asal. Sekali lagi kuembuskan napas kasar, sebelum memutar handle pintu.


Aku sudah merangkai bermacam sumpah serapah yang akan kuucapkan kepada Lingga nanti. Namun, semua buyar ketika pintu terbuka dan pemandangan mengejutkan pun tersaji di hadapan. Aku sampai harus mengucek mata berkali-kali, tidak percaya dengan apa yang terlihat.


Entah ada berapa orang yang berdiri di depan pintu kamarku, mengelilingi Lingga yang tersenyum meringis sambil membawa kue ulang tahun. Suasana remang-remang, hanya berasal dari cahaya lilin yang tertancap di atas kue di tangan Lingga. Aku tidak bisa berkata-kata, pikiranku sibuk merapah rasa. Haru menyeruak, sehingga aku harus menutup mulut dengan telapak tangan. Air mata pun menitik tak tertahankan mendengar lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan secara serempak.


“Tiup lilinnya! Tiup lilinnya! Tiup lilinnya sekarang juga, sekarang … juga … sekarang juga ….”


Lingga menyodorkan kue padaku sambil berkata jahil menirukan gaya sebuah iklan rokok, “Sebutkan tiga permintaan!”


Suara tawa membahana terdengar. Reflek aku mencubit lengan Lingga, sampai dia mengaduh. Kuusap air mata dengan punggung tangan, menghilangkan kabur pada pandangan.


“Cepetan ditiup, keburu meleleh lilinnya ini!” seru Lingga. Dia menggeser badan, berdiri di samping kananku.


“Make a wish dulu, Dek!” Ini suara kakakku tersayang. Kak Neesha melangkah maju, lalu berdiri di samping kiriku.


Aku memejamkan mata, dalam hati membatin serangkaian do’a keselamatan dan keberkahan usia. Desakan untuk meniup lilin kembali datang dari semua orang, setelah aku menangkupkan telapak tangan pada wajah.


Sekali tiup semua api yang membakar sumbu lilin padam, tapi selang satu detik kemudian menyala lagi. Aku meniupnya lagi lebih kencang. Namun, hal yang sama terulang, lilin kembali menyala. Sampai aku mengulangnya sebanyak tiga kali, lilin tidak bisa benar-benar padam.


“Kok, nggak mau mati, sih?” gerutuku. Hilang sudah rasa haru, berganti setengah kesal karena tak kunjung berhasil meniup lilin.


“Kurang kenceng kali, coba sekali lagi!” saran Lingga.


“Selamat ulang tahun!”


“Happy birthday!”


“Selamat tambah usia!”


Satu per satu orang-orang memberi selamat padaku, dimulai dari Lingga yang merangkulku dengan lengan berototnya. Baru beberapa bulan kami tidak bertemu, rasanya banyak perubahan dengan tubuh adikku itu. Sekarang dia jadi lebih tinggi dan lemak di badannya pun telah berubah menjadi otot semua.


Kemudian Kak Neesha mengulurkan sebuah rangkaian uang kertas berbentuk bucket, lalu memelukku. Selang beberapa saat, bunda memberi pelukan hangat yang selalu kurindukan. Ayah pun tak ketinggalan, mencium keningku seraya menggumamkan do’a keberkahan. Di belakang ayah ada Budhe Sari, Pakdhe Teguh, Mbak Nanda, Mas Faiz, juga Mbah Uti, terakhir ada Kak Reyfan. Jangan lupakan Mbak Sayumi dengan senyum jahilnya, tampak bahagia sekali berhasil membuatku terkejut dini hari ini.


Mendapat ucapan selamat disertai pelukan dan do’a dari keluarga besar tersayang, tak ayal membuatku terharu. Air mata yang telah mengering pun kembali menetes, meluncur tak terbendung.


“Ih! Kakak udah segede ini masih saja cengeng!” ejek Lingga sembari mengeratkan rangkulan.


Bukannya marah, aku justru makin merasa terharu. Kubenamkan wajah pada dada bidang adikku itu, sengaja menggunakan kaosnya untuk mengusap air mataku.


“Astagfirullohal’adzim! Kakak jorok!” Lingga bersungut-sungut, tapi makin erat merangkulku dengan satu tangan. Sebab tangan yang lain masih memegang kue.


Tawa kembali menggema di seluruh penjuru ruangan. Usapan lembut kurasakan di punggung, mungkin berasal dari tangan Kak Neesha. Kuangkat kepala setelah puas menangis, lalu memukul dada Lingga.


“Kamu berhasil ngerjain kakak, Dek! Pakai drama teriak hampir membeku kedinginan segala. Sengaja bikin kakak nggak tega terus bukain pintu, kan? Dasar adik durhaka!” gerutuku.


Lingga terbahak, “Hanya aku yang tidak pernah gagal bangunin Kak Jenar, si tukang tidur!”


Aku mengerucutkan bibir, karena ucapan Lingga memang benar. Bocah itu selalu berhasil memaksaku bangun dari tidur yang terlalu nyenyak sekali pun.


“Coba kalau tadi yang teriak Kak Neesha, atau bunda. Nggak bakal Kak Jenar bangun. Apalagi ayah, bisa-bisa Kak Jenar cuma jawab ‘hem’ terus tidur lagi.”  Lingga menggerutu, memaparkan kekebalanku dibangunkan saat tidur.


"Jangankan sedang tidur di kamar yang nyaman, di tempat umum saja Jenar bisa tidur tanpa terganggu keriuhan sekitar,” Kak Neesha menambahkan.


“Kalau ada gempa bumi atau kebakaran malam-malam, nih. Yang lain sudah sibuk menyelamatakan diri, Jenar masih tenggelam di alam mimpi,” kali ini bunda bersungut-sungut, pasti ingat perjuangan membangunkanku setiap pagi.


“Yang seperti ini biasanya aman, Bu. Orang-orang sudah kena mental, tekanan darah naik karena panik, Mbak Jenar masih santai saja tidak tahu apa-apa.” Mbak Sayumi ikut berkomentar.


“Itulah kenapa ayah tidak mengijinkan dia tinggal di kost. Bayangkan kalau tidak ada yang membangunkan, bisa jadi tidak pernah berangkat kuliah dia karena kesiangan terus.” Ayah mengemukakan alasan logis tidak membiarkanku ngekost.


“Tapi Jenar ini paling asyik kalau diajak pergi, karena sepanjang perjalanan selalu tidur nyenyak. Tidak seperti Aneesha yang terus merengek, ‘sudah sampai belum, Budhe?’ atau Lingga yang nggak bisa diam, ‘Pakdhe, kita mau ke mana, sih. Jauh banget, nggak ada jalan pintas apa?’ Nanda malah mabuk perjalanan.” komentar Budhe Sari.


“Ih! Jahat, ya, kalian! Sengaja tega menunjukkan kejelekannku.” gerutuku bernada kesal.


Semua orang tergelak, suara tawa memenuhi penjuru rumah. Dini hari ini, rumah Kak Neesha yang biasanya sepi mendadak jadi ramai. Penghuni yang biasanya hanya terdiri dari dua orang-aku dan Mbak Sayumi-kini menjadi tempat kumpul keluarga besar. Tak kusangka akan mendapat kejutan menyenangkan seperti ini di hari ulang tahun yang aku sendiri jarang mengingatnya. Keharuan pun menyeruak, membelukar dalam hati, menggelitikku untuk menarik kedua ujung bibir.


“Terima kasih telah memberikan kejutan ini, nggak nyangka kalian lebih ingat hari spesial ini dari pada saya sendiri.” ucapku parau, dengan menatap satu per satu orang yang berkumpul di hadapan.


“Ide siapa, sih?” aku menoleh ke arah Lingga dan Kak Neesha secara bergantian. Kompak mereka saling tunjuk, tidak mau mengaku.


Siapa lagi yang merencanakan hal semacam ini kalau bukan mereka? Entah bagaimana caranya Lingga keluar dari asrama, dan Kak Neesha jauh-jauh datang dari Jakarta dalam keadaan perut yang telah membesar.


“Siapa pun yang punya ide, terima kasih banyak. Jenar sayang kalian semua.”


Kusandarkan kepala di bahu Lingga dan tangan kiri meraih pinggang Kak Neesha. Tubuhku pasti memproduksi hormon dopamin lebih banyak dini hari ini, karena aku merasa sangat bahagia. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada bisa berkumpul dengan seluruh keluarga tanpa kurang suatu apa pun. Rasa syukur tak terhingga tersemat dalam hati.


‘Alhamdulillah, Ya, Alloh! Engkau telah melimpahkan rahmatmu pada hari peringatan kelahiranku ini.’


.


.


.


Bersambung ...


Wah, yang kemarin nebak ada apa di bulan november? Benar, ya, Jenar ultah. Nggak tanggung, nih, dikasih kejutan dengan semua keluarga datang.


Eh, tapi kok nggak ada Hara, ya? Ke mana kira2 Hara? Apakah dia ngumpet di kolong meja? Nantikan kelanjutannya, ya. 😍


.


Eh, iya hampir lupa. Karena saya ada satu dan lain hal yang tidak bisa disebutkan, sebelum tanggal 21 nov' nggak bisa up rutin ya🙏😁