
🌵Jika sebuah pertemuan bisa membuka luka di masa lalu, maka mungkin akan ada pertemuan lain yang akan menyembuhkannya.🌵
Author.
Terik matahari siang ini terasa menyengat. Pantulan sinar pada jalanan hitam aspal, menciptakan hawa panas, terasa sampai menembus pori-pori. Mendesak untuk mengeluarkan keringat dalam jumlah yang banyak. Gerah terasa di dalam angkot yang sedang menunggu penumpang di terminal, seperti dipanggang dalam oven.
Jenar berulang kali menarik napas, lalu membuangnya kasar. Dia mengipas wajah dengan telapak tangan, demi menghalau gerah yang menghampiri. Keringat menetes dari dahi, membasahi jilbab yang membingkai wajah ovalnya. Leher dan punggungnya pun telah basah oleh keringat. Meski kaca jendela angkot terbuka lebar, tapi tidak cukup untuk mengusir gerah di dalam.
Sudah bermenit-menit Jenar duduk di dalam angkot yang sedang ngetem di terminal itu, tapi tak juga kunjung jalan. Memang sudah menjadi aturan tidak tertulis jika angkot yang ditumpangi Jenar ini hanya akan melaju jika sudah memenuhi jumlah penumpang tertentu. Sebenarnya dia bisa turun di depan klenteng saja, lalu jalan kaki untuk sampai ke rumah. Namun, dalam cuaca panas dan tenaga yang sudah terkuras untuk kuliah, berjalan kaki tentu bukan pilihan terbaik.
Seorang penumpang masuk, Jenar menghitung sudah ada sepuluh orang di dalam angkot. Harusnya sopir sudah menjalankan angkot itu, karena minimal jumlah penumpang sudah terpenuhi.
“Hei, Pak! Ayo, ndang mangkat! Wes wong sepuluh iki, lho.” seru seorang penumpang lengkap dengan ketukan pada kaca jendela. (Hei, Pak! Ayo, cepat berangkat! Sudah sepuluh orang ini, lho.)
Terdengar samar gumam-gumam orang yamg duduk bersama Jenar, menggerutu. Tak berselang lama, sopir pun masuk dan mulai menyalakan mesin. Masih sempat laki-laki berambut keriting itu berseru dari jendela yang terbuka, demi memperoleh tambahan penumpang sebelum angkot benar-benar meninggalkan terminal.
"Talun! Mangkat!"
Seketika semua penumpang bernapas lega, karena kendaraan yang ditumpangi mulai berjalan. Gerah yang menyiksa sedikit demi sedikit berkurang oleh angin yang masuk melalui jendela dan pintu yang terbuka lebar. Sopir menjalankan angkot dengan kecepatan sedang, meninggalkan terminal dan semua keramaiannya.
Jenar menatap keluar, nampak gerak semu pohon, rumah dan pertokoan di pinggir jalan. Tak pelak membuatnya melamun, memikirkan banyak hal. Tentang apa yang terjadi dalam hidupnya baru-baru ini. Rencana masa depan yang telah tersusun rapi, ternyata banyak yang tidak bisa terealisasi.
Lamunannya hampir mengerucut, saat sopir memindah perseneleng, hingga laju kendaraan terasa menghentak. Kesadaran yang belum kembali penuh, membuat Jenar melongok ke depan guna mengetahui sampai di mana angkot yang membawanya itu. Khawatir dia terlewat turun dari tujuannya.
Angkot berbelok ke utara, kini melewati kawasan sekolah kristen di kiri dan kanan jalan. Jenar segera bersiap-siap, karena sebentar lagi sampai di tujuan. Rumah yang agak menjorok ke dalam dari badan jalan sudah terlihat karena mempunyai bangunan yang khas, lain dengan rumah-rumah di sebelahnya.
Pintu pagar tinggi dan besar berpayung atap selebar kurang lebih dua meter terbuka sedikit, saat Jenar turun. Biasanya kalau sedang tidak ada acara pintu masuk ke halaman belakang rumah Aneesha ini tertutup rapat. Hari ini tidak ada acara, tapi pagar dibiarkan sedikit terbuka.
'Apa mungkin sedang ada tamu?' begitu pikir Jenar.
Jenar menengok ke kiri-kanan, memastikan ada tidaknya orang di sekitarnya. Nihil, area depan pintu sampai sepanjang pagar tinggi itu tidak menampakkan siapa-siapa. Dia pun bergegas masuk, tidak ingin panas mentari semakin membakar tubuhnya yang telah penuh dengan keringat.
“Mbak, Mbak Jenar!” Suara berteriak, membuat Jenar menoleh cepat ke arah sumber suara.
Mbak Sayumi tergopoh-gopoh datang, layaknya orang yang sedang panik. Jenar melihatnya dengan dahi berkerut dalam. Gerakan tangan hendak menutup pintu pagar terhenti begitu saja, akibat kehadiran asisten rumah tangganya.
“Mbak Jenar digoleki tamu,” tutur Mbak Sayumi ketika sampai di hadapan Jenar. (Mbak Jenar dicari tamu).
“Tamu siapa?” Jenar menatap sekeliling, pandangannya terhenti pada mobil mpv hitam yang sangat familiar. Dia menatap Mbak Sayumi dan mobil hitam bergantian seraya menebak, “Pak Hara?”
Namun mbak Sayumi menggeleng, “Bukan, Mbak. Bukan. Tamunya dua orang, cowok semua, tinggi besar, putih. Jan koyo (seperti) londo (bule).”
Dahi Jenar makin berkerut dalam, otaknya dipaksa bekerja untuk menerka ciri-ciri tamu yang disebutkan oleh Mbak Sayumi. Seingatnya, dia tidak punya janji dengan siapa pun hari ini. Di kawasan rumah Aneesha, dia juga tidak punya teman. Yang biasa datang untuk bertamu, hanya Lion dan Aina, jelas tidak termasuk ciri-ciri orang seperti yang disebutkan oleh Mbak Sayumi.
“Whela malah ndomblong (bengong)!” seru Mbak Sayumi sembari menepuk bahu Jenar dengan keras, “Kae tamune wes ngenteni ning njero ket mau.” (Itu tamunya sudah menunggu di dalam dari tadi).
Gadis itu segera menyudahi prasangka, tanpa membuang waktu lagi dia menarik tangan Mbak Sayumi. Memaksa perempuan usia kepala empat itu untuk menunjukkan di mana tamunya. Sepanjang berjalan dari halaman belakang menuju ruang tamu, kepala Jenar dipenuhi rasa penasaran, siapa kira-kira tamu yang datang mencarinya siang-siang begini.
Mereka berdua masuk ke rumah melalui pintu belakang. Suara berisik pekerja yang sedang melakukan renovasi menjadi backsound, memekakkan telinga, menambah gerah dan panas yang terasa.
Langkah kaki Jenar memelan, lalu berhenti ketika telah sampai di ruang tengah. Sontan Mbak Sayumi pun ikut berhenti. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu Jenar melepas pegangan tangan pada lengan Mbak sayumi.
Gadis itu menajamkan pendengaran, pada suara yang terdengar dari balik sintru. Suara orang memecah batu, mesin pasah kayu dan palu memukul paku, mampu menyamarkan cakap-cakap orang di ruang tamu. Namun, dia bisa memastikan bahwa suara yang masuk ke telinga adalah suara berat, artinya tamu yang menunggunya adalah laki-laki.
“Pak Hara di sana?” Jenar berbisik sambil menunduk, berbicara di depan terlinga Mbak Sayumi. Mbak Sayumi mengangguk, membenarkan tebakan Jenar.
“Sama siapa?” tanya Jenar lagi masih dengan berbisik. Mbak Sayumi menggeleng, sambil mengangkat bahu, tanda tidak tahu.
“Lorone guanteng poll, Mbak. (Keduanya tampan sekali, Mbak).” ujar Mbak Sayumi sembari mengacungkan ibu jari. Jenar mencibir, sebab dia sudah bisa menebak siapa yang datang dari suara yang terdengar samar-samar tapi cukup akrab di telinga.
“Temui saja kalau tidak percaya!” Mbak Sayumi bersungut-sungut. Merasa ucapannya tidak dipercaya oleh Jenar.
Dengan malas, Mbak Sayumi berlalu pergi. Jenar sudah hendak mencegah, tapi Mbak Sayumi tidak mau tahu, tetap kukuh berlalu.
Ditinggal sendiri, Jenar dilanda kecemasan. Antara akan menemui tamunya, atau sembunyi di dalam kamar saja. Pura-pura tidak tahu kalau ada yang datang dan menunggunya. Dia mulai meremas jemari, kebiasaan kalau sedang panik dan gelisah.
Baru saja dia hendak masuk ke kamar, tapi getar dari dalam tas disusul dengan suara dering ponsel menginterupsi. Terkejut. Jenar segera merogoh tas, guna mencari ponsel yang terus berbunyi nyaring itu.
Bahunya luruh dan dia pun harus membuang napas berat ketika melihat nama yang tertera pada layar ponsel. Buyar sudah rencana yang baru saja melintas di pikiran.
Pak Hara is calling ….
Tangan kanan Jenar bergerak, menggoyangkan ponsel yang terus berdering nyaring. Sementara tangan kirinya memainkan kepala resleting tas yang baru saja dibuka. Kakinya pun bergerak-gerak, tanda gelisah sedang melanda. Dia sedang menimbang apakah akan mengangkat telepon atau tidak. Kalau diangkat, percuma karena jaraknya dengan sang penelpon hanya beberapa meter saja. Namun, kalau tidak diangkat ponsel itu pasti akan terus berbunyi.
“Jenar? Kamu sudah di situ rupanya?” Belum juga bisa mengambil keputusan, suara bariton sudah mengejutkan.
“Tahu sudah di situ nggak akan saya telepon,” ucap Hara sembari mengantongi gawainya.
“Sa-ya ba-ru saja da-tang,” jawab Jenar terbata, sebab masih belum bisa mengatasi kepanikan.
Hara mengangguk, mengarahkan kepala pada ruangan di sebelahnya yang berbatasan dengan sintru. “Ada yang ingin bertemu,” ucapnya.
“Si-apa?” tanya Jenar masih terbata, walau sudah berusaha keras bersuara normal. Dia pura-pura tidak tahu siapa yang datang, padahal kenyataannya sudah bisa menerka lewat suara.
“Sini!” Hara mengangguk memberi kode agar Jenar mendekat, “temui mereka!” Lalu menggerakkan kepala menunjuk arah tamunya duduk.
Dengan telapak tangan masih saling meremas sampai ponsel terasa basah oleh keringat dingin, Jenar ragu-ragu melangkah. Sekilas dia melihat Hara yang sekali lagi mengangguk, lalu Jenar menunduk seraya menarik napas panjang. Dari ekor mata dia melihat dua orang duduk di kursi rotan yang mengelilingi meja kayu bundar.
Dua pria bertubuh tinggi dan berkulit putih segera berdiri begitu Jenar sampai di hadapan. Danish mengulurkan tangan, mengajak gadis itu bersalaman. Jenar mengangkat kepala sambil tersenyum tipis. Membalas uluran tangan Danish dengan menangkupkan dua tangan di depan dada.
“Dia tidak bersalaman dengan laki-laki, Kak.” ungkap Varen, menjelaskan kepada kakaknya.
Danish menarik kembali uluran tangan, mengangguk paham. “Sorry, I don’t know,” ucapnya yang dijawab dengan mengangguk oleh Jenar.
“Silakan duduk, Kak!” Jenar menggerakkan tangan, mempersilakan.
Setelah itu dia meletakkan tas punggung di atas lantai, lalu ikut duduk di hadapan tamunya. Berempat dengan Hara, mereka duduk mengelilingi meja kayu yang sama. Jenar merasa seperti seorang pesakitan yang sedang disidang di hadapan tiga pria. Lagi-lagi dia harus menetralkan perasaan dengan meremas jemari.
“Saya tidak tahu kalian akan datang, maaf kalau lama menunggu,” tutur Jenar lirih, sebab masih berusaha menetralkan perasaan yang mulai berkecamuk.
“No, Sweety! Kita yang minta maaf, karena datang nggak kasih kabar dulu ke kamu.” jawab Varen sambil menggeleng.
“Varen khawatir sama kamu, tadi malam dia sampai tidak bisa tidur mikirin kamu. Jadi kami segera ke sini begitu Hara menjemput.” tutur Danish.
Sontan Varen menyikut lengan kakaknya itu, “Apaan, sih, Kak? Jangan berlebihan, deh.”
“Kakak nggak salah, kan? Kamu memang khawatir sama Jenar, kan?” tanya Danish membenarkan ucapannya sendiri.
“Iya, sih.” jawab Varen. Pria bermata biru itu kemudian melihat ke arah Jenar yang terus menunduk, “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.
Jenar tak lantas menjawab, dia berdehem dulu untuk menormalkan suara. Baru menjawab dengan suara pelan, “Ehm, saya … baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu,” Varen membuang napas lega, “Semalam waktu Kak Hara cerita, saya pengin buru-buru kesini. Takut kamu kenapa-napa-”
Varen menggantung kalimatnya, sebab melihat Jenar tiba-tiba mendongak. Gadis itu mengerutkan dahi sembari menatap tajam ke arah Hara, lalu bertanya kepada Varen, “Pak Hara cerita apa sama kakak?”
Varen memajukan badan, menatap Jenar intens sebelum menjawab, “Begini … tadi malam Kak Hara sudah cerita semuanya sama kami. Tentang kamu ….”
“Tentang saya?” Jenar ingin penjelasan lebih mengenai maksud ucapan Varen.
“Begini, Jen-” Bukan Varen yang menjawab, melainkan Danish. Pria berambut ikal dengan wajah bersih tanpa cambang itu sengaja menjeda kalimat sebentar guna melihat ekspresi Jenar.
“Kami berdua datang kemari, karena ingin minta maaf sama kamu.” tutur Danish mulai mengutarakan maksud kedatangannya.
Bukannya paham, tapi Jenar makin tak mengerti dengan arah pembicaraan Danish. Dia menatap Hara, meminta penjelasan. Namun, pria itu hanya diam, bahkan tidak membalas tatapannya sama sekali.
“Sweety?” panggil Varen. Pria itu memajukan badan lagi, tangannya terulur, mengambil tangan Jenar yang saling meremas di pangkuan seraya berkata dengan wajah penuh penyesalan, “So sorry, very sorry. Seandainya aku tahu dari dulu, kalau kejadian waktu itu membuatmu trauma ... pasti aku akan cepat membantumu.”
"Maksud kakak apa?" lirih Jenar meminta penjelasan lebih.
"Maafkan aku karena waktu itu tidak bisa melindungi kalian, aku tidak tahu kalau kejadian itu sangat membuatmu terluka."
Kerutan di dahi Jenar mengurai berganti dengan perasaan-perasaan yang berkumpul di dadanya. Dia melihat Varen dan dua pria lain secara bergantian. Hening sejenak, suasana di ruang tamu. Menyisakan bising suara para pekerja bangunan melakukan aktivitas di luar yang terdengar sampai ke dalam rumah.
Jenar terpaku, sulit mendefinisikan perasaannya sendiri. Dia ingin menarik tangan yang digenggam oleh Varen, tapi wajah penuh rasa bersalah pria itu membuatnya tidak tega. Bahkan rasa haru telah menghampiri tanpa permisi, membuat matanya berkaca-kaca. Ketulusan Varen dan tatapan rasa bersalah pria itu berhasil menyentuh relung hati terdalamnya.
Hara diam, nyaris tidak bergerak, tapi pandangannya tidak lepas dari menatap tangan yang saling berpegangan di hadapan. Ada perasaan asing yang muncul di dalam sana, rasa tidak suka melihat Varen mengusap punggung tangan Jenar. namun, dia tidak melakukan apa-apa selain terus memandang dengan tatapan menghunus tajam....
.
.
.
Note :
Sintru : Pembatas ruangan kuno yang terbuat dari kayu dengan ukiran atau gambar motif etnik. Biasanya sintru hanya sepanjang kurang lebih dua meter saja.
Untuk Hara, Cecilia, tante Lidya, teman-teman, sahabat dan saudaraku umat kristen dan katolik yang hari ini memperingati jum'at agung. Bagaimana tadi perjalanan pulang pergi ke gereja lancar, kan? Semoga tidak kehujanan, ya. 😊