Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
70. Pria yang Punya Empaty


🍁Melihatmu menjadi monster adalah kelemahanku.🍁


Hara.


Aku mengakui telah salah mengajak Jenar pergi ke tempat yang bisa membangkitkan kenangan masa lalunya. Awalnya aku hanya ingin mengambil rute praktis saja. Bertemu dengan Danish, baru setelah itu mengantar Jenar pulang. Sebab, rumah Pak Haji Baihaqi searah dengan restorant tempat yang Danish sebutkan untuk bertemu. Hanya ingin menghemat waktu saja, dari pada aku harus berputar arah mengantar Jenar pulang lebih dulu, baru menemui Danish.


Aku sama sekali tidak tahu jika restorant itu ternyata terletak di atas bukit dengan jalan menanjak dan berkelok. Pun tidak menyangka jika cuaca berubah menjadi buruk beberapa saat setelah kami sampai di sana. Keberadaan Varen juga tanpa sepengetahuanku, karena Danish tidak mengatakan jika dia datang bersama adiknya.


Yang paling membuatku menyesal adalah terlambat membaca keadaaan. Aku tidak lupa kalau Jenar punya trauma yang dia lebih suka menyebutnya phobia. Saat aku, Danish dan Varen berbincang, Jenar memilih pergi menjauh. Dia duduk menyendiri terpisah dari kami, bahkan memilih tempat duduk yang langsung menghadap tebing.


Seharusnya saat itu aku segera membaca situasi, bahwa Jenar mulai merasa tidak nyaman berada di sekitar kami. Aku sudah menolak saat Danish dan Varen menawarkan red wine, meski harus menerima cibiran dari dua kakak beradik itu.


“Sejak kapan kamu tidak suka minum? Jangan bilang kamu sudah ketularan Reyfan dan Hamzah berhenti minum!” Aku menggeleng, menanggapi ucapan Danish


Kujawab dengan alasan yang cukup logis, “Hanya tidak bisa minum hari ini, bukan berarti berhenti, kan?”


Danish tertawa mengejek, sedangkan Varen kembali mencibir. Mereka berdua memang bukan teman dekatku, tapi Danish cukup tahu kebiasaanku seharian-hari. Sebab kami pernah tinggal bersama saat kuliah di LA dulu.


“So, today no alkohol? Yakin, nih?” Danish menggerakkan alis, meremehkan.


“Yakin banget! Saya bawa anak orang, Jenar bisa pingsan kalau satu mobil dengan orang yang napasnya bau alkohol.” Aku berkata jujur, walau dengan nada bercanda.


Danish dan Varen tidak terlalu paham ucapanku, tapi mereka tidak melanjutkan lagi pembahasan tentang minuman beralkohol. Hingga pembicaraan kami berlangsung beberapa saat dan telah beralih topik menjadi obrolan seputar bisnis.


Varen beranjak di tengah obrolan yang menurutnya membosankan. Aku melihat dia menghampiri Jenar. Mereka saling bicara, entah tentang apa. Dari tempatku duduk, mereka terlihat akrab. Seperti dua orang teman karib yang sedang bertukar cerita sambil menatap pemandangan alam sekitar.


Namun, kedatangan hujan badai berhasil membuat suasana kacau. Semua pengunjung berlarian masuk ke bangunan utama restorant, berteduh adalah pilihan paling tepat. Berlindung dari terpaan hujan dan angin kencang.


Gelap, hujan badai, petir menyambar disertai dengan listrik padam, membuat suasana mencekam di dalam restorant. Aku tidak menyangka bahwa keadaan ini adalah awal mula hadirnya trauma masa lalu pada Jenar. Gadis itu tiba-tiba histeris dan meracau, seperti orang yang sedang ketakutan.


Aku berusaha sebisa mungkin menenangkannya, dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang muncul secara impulsif di kepala. Setelah beberapa saat usahaku berhasil, dia sadar, menunduk dan menangis. Mungkin karena merasa malu dilihat orang banyak dalam keadaan yang di luar kendalinya. Secara impulsif, aku memeluknya, agar dia tidak merasa sendiri. Juga untuk menghindari tatapan mata penuh pertanyaan dari semua pengunjung restorant.


Namun, tindakanku justru membuat Jenar marah. Dia mendorongku sampai jatuh, lalu dengan wajah bersimbah airmata dia hendak pergi. Beruntung aku berhasil menarik tangannya, sebelum dia berlari keluar. Kemudian membawanya duduk, memberikan kopi bubuk yang baru saja diminta oleh Varen kepada karyawan restorant.


Aku tahu Danish dan Varen pasti bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada Jenar. Namun, tidak mungkin aku menjelaskan pada mereka sekarang. Yang terpikir dalam otak adalah segera membawa Jenar pergi dari tempat itu. Pulang, agar dia bisa menenangkan diri dan beristirahat.


Antara iba sekaligus tidak tega melihatnya menderita, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, dia pun tidak punya usaha agar terlepas dari trauma masa lalu yang kelam. Sikap diam dan pasrahnya membuatku kesal. Seolah dia tidak punya usaha atau sekedar keinginan untuk sembuh, agar bisa hidup normal dan berbaur dengan orang lain.


Aku memang tidak pandai bicara. Alih-alih memberinya saran, yang keluar justru kalimat kasar. Membuat Jenar merasa enggan, mungkin karena merasa aku sedang memberinya ceramah.


“Boleh saya tidur?” Menjadi kalimat yang membuatku sadar, sekali lagi sikapku salah. Dia tidak ingin diberi perhatian dan dipedulikan. Padahal sesaat yang lalu rasanya aku ingin mengusir monster yang menguasai dirinya. Baru kali ini aku merasa lemah, hanya karena melihat Jenar mengalami hal yang pasti sangat menyakitkan baginya.


Sepanjang perjalanan dia diam dengan mata terpejam. Entah benar-benar tidur atau hanya pura-pura saja. Kurasa dia hanya ingin menghindar dari menjawab pertanyaanku. Walaupun dia memang terlihat dalam keadaan yang lemah, setelah phobianya kambuh tadi.


Melewati jalan berliku, curam dan licin karena aspal yang basah, membuatku harus berkonsentrasi penuh. Agar tidak tergelincir dan terperosok ke dalam jurang. Beruntung aku sempat memakaikan sabuk pengaman pada Jenar jadi dia tidak jatuh saat mobil berguncang karena melewati jalan yang sedikit terjal. Gadis itu selalu menyepelekan alat bantu keamanan saat berkendara. Sepertinya dia memang tipe orang yang teledor, suka menyepelekan hal remeh tapi penting.


Angin bertiup kencang saat aku membelokkan mobil memasuki jalan perkampungan yang tak terlalu lebar. Rintik-rintik hujan masih setia menetes, kecil tapi rapat. Daun-daun berguguran, terbang disapu angin besar lalu terserak di sembarang tempat. Atap, halaman, hingga teras rumah bertebaran daun kering yang diterbangkan angin.


Jika hari biasa aku masuk melalui pagar belakang, kali ini aku memilih menghentikan mobil di halaman depan rumah. Lebih mudah karena bagian depan rumah Aneesha ini tidak berpagar dan mobil bisa berhenti tepat di depan teras.


“Tunggu di sini sebentar, jangan keluar dulu!” perintahku setelah memastikan Jenar terjaga sempurna.


Aku keluar setelah mematikan mesin, berlari kecil mengitari mobil demi mengambil payung yang selalu tersimpan di bagasi belakang. Aku bergegas menghampiri pintu mobil sebelah kiri, lalu membukanya dari luar.


Kuangkat payung yang telah terbuka sedikit ke atas, melindungi Jenar dari gerimis hujan yang sangat rapat. Dia tidak menolak, segera turun dari mobil tanpa mengatakan apa pun. Kami berjalan bersisian dengan satu payung, naik ke teras rumah.


Aku sedang menutup payung, sedangkan Jenar mengibaskan ujung gamisnya yang basah terkena genangan air. Pintu rumah dibuka dari dalam, otomatis kami menoleh bersamaan. Kepala seorang pria menyembul dari celah pintu, memperlihatkan raut wajah nyaris tanpa ekspresi.


Irkham membuka pintu makin lebar seraya bertanya dengan nada lirih sekali, nyaris tak terdengar, “Seko ngendi?” (Dari mana?)


“Tadi cari tegel motif sama Mbak Nanda dan Mas Faiz, pulangnya diajak mampir ketemu temen sama Pak Hara,” jelas Jenar sambil mengusap jilbabnya, agar tidak terlalu basah.


“Mlebu! (Masuk!)” Irkham menggeser badan, memberi jalan kepada Jenar yang hendak masuk.


Laki-laki seumuran dengan Jenar itu lantas ikut masuk, tanpa mengatakan apa pun lagi. Jangan harap dia berbasa-basi mempersilakan masuk atau hanya sekedar duduk. Kalau yang belum tahu sifatnya, mungkin akan tersinggung. Sebab, Irkham memang aneh dan sangat irit bicara. Aneesha pernah cerita kalau anak itu mempunyai kebutuhan khusus, tidak sama dengan remaja lainnya.


Tak berselang lama, ketika aku baru saja hendak kembali ke mobil, Irkham datang dengan membawa handuk kecil. Ia memberikan handuk warna biru muda itu padaku dengan tetap diam tanpa mengatakan satu patah kata pun.


“Terima kasih,” ucapku sembari menerima handuk.


Irkham mengangguk, lalu menggulung celana panjangnya. Aku mengira dia akan masuk ke rumah lagi, tapi Irkham justru menutup pintu dan berbalik. Sejenak dia berdiri di ujung teras, menatap hujan yang belum ada tanda-tanda akan berhenti. Seperti sedang mencari sesuatu dia menengok kanan-kiri lalu pandangannya terhenti pada payung yang baru saja kusandarkan di kursi teras.


“Mau ke mana?” aku bertanya sekaligus menebak isi pikiran Irkham.


Pria itu mengacungkan telunjuk ke atas, tapi arah pandangnya lurus ke depan. Seperti ingin menunjukkan  dan mengatakan sesuatu.


“Wes azan, ning udan.” (Sudah azan, tapi hujan.) jawabnya.


Membuatku menajamkan pendengaran.Terdengar suara azan dari pengeras suara masjid. Jelas saling bersahutan, meski bersaing dengan suara gemrisik pohon diterpa angin dan tetesan hujan yang jatuh pada atap.


“Mau ke masjid?” tebakku.


Irkham mengangguk, tapi dahinya berkerut dalam seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.


“Jenar ning omah dewe,” (Jenar di rumah sendiri).


Aku menarik sedikit sudut bibir ke atas. Adiknya Mbak Nanda ini, walau tidak seperti laki-laki pada umumnya tapi mempunyai rasa empaty yang tinggi. Akan berangkat ibadah saja masih memikirkan saudara perempuannya yang akan sendirian di rumah. Aku masih ada di sini, apa yang Irkham khawatirkan? Hanya akan pergi ke masjid saja, dia harus berpikir dengan sangat serius.


.


.


.


Eh, Siapa yang kemarin nebak Jenar ketiduran? Beneran sengaja tidur dia, tapi kali ini dia dalam keadaan waspada lho, ya. Nggak sampai digendong sama Hara, he he. Enak banget dia gendong-gendong anak orang terus.


Itu Irkham mikir apaan, ya? Khawatir Jenar sendirian di rumah, atau tidak rela kalau sampai Hara yang nemenin? Jawaban di part selanjutnya ada kejadian tidak terduga, lho. Jadi tetep ditunggu,ya 😊