Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
29. Hati yang Gundah.


🍁 Kamu tidak harus selalu terlihat sempurna. Ada kalanya kamu merasa lelah, menepilah sejenak! You can’t please everyone.🍁


Hara.


Datang ke gereja, mendengarkan ceramah pastor dan nyanyian puji Tuhan, tidak membuat hati dan pikiranku menjadi tenang. Bahkan setelah aku mengisi perut dengan santapan nikmat di restorant berbintang lima pun aku masih merasa sepi.


Menjadi pendengar terbaik saat Cecilia terus bercerita tidak bisa mengobati gundah yang kurasakan. Bising suara kendaraan dan gerahnya cuaca kota metropolitan malah makin membuat pikiranku kalut tak karuan. Sebenarnya apa yang sedang kurasakan ini? Kedamaian seperti apa yang sedang kucari?


Tepat tengah hari, aku mengunjungi tempat sepi yang kupikir bisa membuatku merasa tenang. Tempat yang terletak di sebuah bukit, jauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan. Hampir tanpa suara, sampai aku bisa mendengar suara angin yang berhembus sedikit kencang.


Kuletakkan seikat bunga crysant putih yang kubeli sebelum sampai di tempat ini tadi. Kuusap batu nisan berukirkan sederet tulisan.


Yohanes Andoko.


Lahir : jakarta, 21 mei XXXX


Wafat : Jakarta, 09 september XXXX


Aku berdiri di depan makam papa, kupandangi gundukan tanah yang dibawahnya bersemayam jasad papa. Aku memutar ingatan ke masa lalu. Saat tangan papa dan mama masih bisa kugenggam, saat suara mereka masih bisa jelas kudengar.


Sepanjang ingatanku, papa adalah sosok yang tidak banyak bicara dan jarang tersenyum. Beliau membuka suara jika diperlukan saja, tidak pernah tertawa jika menurutnya tidak ada yang benar-benar lucu.


Sedangkan mama, sejauh yang kuingat adalah sosok lemah lembut penuh perhatian. Memanjakan lidahku dengan berbagai masakan yang selalu enak. Jika papa jarang tersenyum, maka mama kebalikannya. Bisa dibilang mama tersenyum setiap kali kami saling berhadapan.


Pernah suatu saat mama menemaniku mengerjakan tugas sekolah, aku iseng bertanya padanya, “papa mengajakku setiap minggu ke gereja, kenapa mama tidak pernah mengajakku ke masjid sekali pun?”


Mama tersenyum sebelum menjawab, tangannya yang lembut mengusap kepalaku, “karena papa ingin kamu beribadah seperti dia.”


“Apa mama tidak ingin aku beribadah seperti mama? Aku bisa salat, lho, Ma. Aku biasa menjawab salam teman-temanku yang muslim.”


“Sstt!” mama meletakkan jari telunjuknya pada bibir, “Hara tidak boleh begitu, kamu harus nurut apa yang papa inginkan. Mama tidak ingin kamu jadi anak pembangkang.”


“Mama aneh, Hara ingin mengikuti agama mama tapi tidak boleh.”


“Hara … sini!” Mama menarikku ke dalam pelukan, “kamu tahu? Mama dan papa sudah sepakat, kelak jika kamu dewasa kamu boleh memilih akan ikut agama mama atau papa. Tapi sekarang, kamu belajar agama papa dulu, oke?”


Kumasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, kurasakan desau angin yang bertiup kencang, membuat rambutku berantakan. Kuusap wajah untuk mengermbalikan kesadaran dari lamunan. Menghalau bayangan mama dan papa yang membuat hatiku makin teriris.


“Kakak!” Aku menoleh ke samping, Cecilia menautkan jemari di depan dada dengan mata terpejam sempurna. Dia pasti sedang berdo’a untuk papa, “besok tanggal 10 september.”


“Kakak tahu.” Aku menjawab sembari mengembalikan pandangan pada gundukan tanah berbatu nisan di depanku.


“Kakak kenapa tidak besok saja datang ke sini?”


“Besok kakak banyak urusan.”


“Biasanya kakak ambil cuti di hari peringatan kematian om Yohan.”


“Kantor sedang banyak pekerjaan, tidak bisa ditinggal.”


“Biasanya kakak tidak peduli dengan pekerjaan kantor sebanyak apapun, kak Reyfan pasti sudah tahu itu, kan?”


“Bisa kamu tunggu di mobil saja, Ci? Kakak sedang ingin di sini sendiri.”


Aku perlu menyepi, butuh sendiri. Hal itu tidak akan terjadi jika Cecilia terus mengikuti kemana pun aku pergi. Dia memang paling mengerti jika pikiranku sedang kalut, maka dari itu dia selalu setia menemaniku. Namun, kali ini aku sungguh hanya ingin sendiri, tanpa gangguan siapapun termasuk adik sepupuku ini.


“Baiklah, jangan lama-lama!” Walau keras kepala, tapi gadis di sebelahku ini tidak pernah membantah perintahku.


Kubiarkan Cecilia pergi meninggalkanku sendiri di kawasan pemakaman yang sepi. Aku merasakan tiupan angin makin kencang, membuat ujung jas yang tidak kukancingkan melambai-lambai. Aku mengambil satu langkah mendekati pusara, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.


“Apa kabar, Pa? Hara datang….”


“Apa papa di sana bertemu dengan mama? Hara kemarin ke tempat mama, Hara sudah pernah cerita, kan? Hara bertemu pak Wawan dan mbak Nabila. Mereka baik, Pa. Mereka menerima Hara tinggal di rumah mereka.”


“Kata pak Wawan, kapan-kapan Hara akan diajak ke Jepara … ke tempat mbak Nadia.”


“Papa lihat? Betapa baiknya mereka padaku, padahal kita telah merebut kebahagiaan mereka. Iya, kan, Pa?”


“Pa … jika kalian masih hidup, apakah papa akan mengijinkan mama mengajariku beribadah seperti dia? Seperti mama mengijinkan papa mengajariku berdo'a dengan cara papa.”


“Seandainya papa dan mama masih hidup, apakah Hara bisa memilih bisa mengikuti keyakinan siapa? Apakah papa tidak akan memaksakan kehendak kepada Hara?”


“Harusnya papa dan mama tidak meninggalkanku sendiri seperti ini, kalian curang….”


Aku menengadahkan kepala, menghalau butiran bening yang menggenang di pelupuk mataku. Kubiarkan wajahku disapu angin, agar airmata tidak sampai turun. Entahlah, akhir-akhir ini aku begitu cengeng dan bersikap sentimentil, seperti bukan diriku yang biasanya.


“Harusnya papa tanggung jawab, karena papa tidak pernah mengajari Hara agama mama, Hara jadi tidak bisa mendo’akan mama. Papa tahu? Itu sungguh menyiksa.”


“Hara merindukanmu, Pa ….”


Aku bernaung di bawah langit kelabu, berselimut hembusan angin kencang. Berdiri di depan pusara, berhiaskan dedaunan yang terbang ditiup angin lalu berjatuhan di atas tanah. Kesepian ini kurasakan sampai ke dasar hati, nyeri.


Kuhabiskan waktu beberapa jenak untuk menatap makam papa. Mencari kedamaian yang mungkin bisa kutemukan, tapi yang ada justru hatiku makin merasa kosong. Sunyi, seperti kuburan yang semua penghuninya tak bernyawa.


“Hara pulang, ya, Pa. Jika kita diijinkan bertemu, Hara hanya ingin minta ijin sama papa … ijinkan Hara mendo’akan mama dengan cara yang benar.”


Kuusap sekali lagi lagi batu nisan, sebelum aku beranjak. Meninggalkan gundukkan tanah tempat peristirahatan terakhir papa. Menyusuri jalan setapak diantara batu nisan yang berjajar, menuju tempat dimana mobilku terparkir.


Kubuka pintu mobil, mendapati Cecilia yang menatap ke arahku dengan tatapan penuh tanya. Baru sadar kalau ternyata dia sedang memegang ponsel milikku yang berbunyi tanda ada panggilan masuk.


Aku merebut ponsel dari tangan adik sepupuku itu, melihat nama siapa yang tertera di layar. Segera kugeser tombol hijau, saat aku mengetahui siapa yang memanggil.


“Halo, Mbak.”


“Hara, maaf mbak ganggu kamu.”


Aku melirik Cecilia yang duduk di sebelahku, sebelum menjawab permintaan maaf mbak Nabila seraya keluar dari mobil, “nggak ganggu, kok, Mbak. Saya sedang santai, ini hari minggu, kan?”


“Nggak, kok, Mbak. Ada apa? Naufal rewel, ya?”


“Bukan, Hara. Naufal sedang ke masjid sama mas Akmal. Mbak cuma mau bilang sesuatu sama kamu,” suara mbak Nabila terdengar seperti ragu-ragu.


“Tentang apa, Mbak? Katakan saja, tidak usah sungkan.” Kututup pintu, kusandarkan punggung pada sisi mobil, aku merasa mbak Nabila ingin mengatakan sesuatu yang penting.


“Sebelumnya maaf, ya, Hara. Mbak hanya ingin bilang kalau besok adalah peringatan hari meninggalnya ibu.”


“Oh! Kalau itu Hara tahu, Mbak. Hara ingat.”


“Alhamdulillah kalau begitu, kamu … akan datang ke makam papamu?”


“Ini Hara habis dari makam papa, Mbak. Baru mau pulang.”


“Alhamdulillah, jangan sampai lupa mendo’akan papamu, ya!”


Aku mengangguk, mesti kutahu mbak Nabila tidak mungkin bisa melihatku. Sejenak hening … aku dan mbak Nabila sama-sama diam tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.


Aku duluan yang membuka suara, “apa Mbak besok akan ke makam mama? Berdo’a untuk mama?”


“Insyaalloh Hara. Kami semua akan ke makam ibu besok, Nadia juga sedang dalam perjalanan kemari.”


“Syukurlah kalau begitu.”


“Hara ….”


Aku diam  menunggu mbak Nabila melanjutkan kalimat.


“Mungkin tidak kalau besok kamu datang? Kita bisa berkumpul bersama di sini.”


Aku diam sebentar, sebelum menjawab pertanyaan mbak Nabila. Sudah biasa memang saat peringatan hari kematian papa dan mama, aku selalu minta libur kerja beberapa hari. Tidak perlu meminta ijin kepada Reyfan, karena dia sudah tahu tentang hal ini. Bahkan biasanya dia menemaniku seharian.


“Nanti coba Hara bicara sama bos dulu, ya, Mbak. Hara bisa minta cuti atau tidak.”


“Semoga bisa, ya, Hara.”


Kuakhiri panggilan, setelah memastikan tidak ada lagi yang ingin dikatakan oleh mbak Nabila. Aku masuk ke dalam mobil setelah membuang napas. Kupasang seatbealt tanpa melepas ponsel dari genggaman.


“Mbak Nabila itu siapa, Kak?” Pertanyaan Cecilia mampir di telinga, ketika aku baru saja hendak menyalakan mesin mobil.


“Saya baru tahu kakak punya teman berkerudung.”


“Dia bukan teman kakak, Ci.”


“Kalau bukan teman lalu siapa?”


“Dia kakakku.”


Kulihat dari ekor mata, Cecilia mengernyit. Dia pasti terkejut akan pengakuanku baru saja. Namun, aku belum ingin menjelaskan apapun kepada Cecilia. Aku tidak ingin anak keras kepala ini bertanya tentang banyak hal yang belum siap kujawab.


“Kakak antar kamu pulang.”


“Kakak mau pergi lagi?” Aku mengangguk.


“Kemana?”


“Kamu tidak perlu tahu kemana kakak pergi, kan?”


“Saya perlu tahu, karena saya tidak ingin kakak menemui Alex lagi.” Cecilia sudah bisa membaca gelagatku. Jika sedang banyak pikiran seperti ini, memang biasanya aku pergi ke tempat Alex. Tempat yang bisa membuatku sedikit melupakan tentang semua kerumitan ini.


“Berhentilah, Kak! Sudah cukup kakak berhubungan dengan Alex, saya tidak ingin kakak berurusan dengan orang-orang seperti mereka.”


“Ngomong apa kamu, Ci?”


“Please, Kak!”


“Kamu tidak perlu mengatur kakak, kakak tahu apa yang harus kakak lakukan.”


“Kakak menikah saja kalau begitu. Dari pada tiap pekan gonta-ganti wanita-”


“Diam, Ci! Kakak tidak ingin mendengar ceramahmu.”


Kuinjak pedal gas makin dalam, memacu kendaraan lebih cepat. Jalanan ramai lancar, jadi aku bisa berpacu dengan kendaraan lainnya. Hal yang bisa kulakukan jika ingin membuat Cecilia diam, karena dia paling takut kalau aku sudah menunjukkan amarah.


Aku memang ingin menemui Alex tapi bukan untuk membeli dagangannya, ada satu hal yang harus kulakukan sebelum aku memutuskan hal besar dalam hidupku.


Kuusap layar ponsel, mendial nomor yang sudah kuhafal luar kepala. Kupakai earphone agar aku tidak harus memegang ponsel saat sedang berkendara.


“Rey?”


Kulanjutkan kalimat setelah mendengar jawaban dari seberang telpon, “aku minta cuti.” Tak kubiarkan Reyfan memotong pembicaraanku yang belum selesai, “aku tidak tahu sampai kapan, aku butuh waktu sendiri.”


Kututup sambungan telepon secara sepihak, kuperkirakan jika Reyfan pasti sedang mengumpat di seberang sana. Tak kuhiraukan suara ponsel berdering dengan tampilan nama Reyfan pada layar, sekali-kali aku ingin memikirkan diri sendiri. Sebab seumur hidup telah kuhabiskan untuk memikirkan orang lain.


Aku memang perlu menepi sejenak untuk meraba keinginan dan harapanku. Sebab apapun yang kulakukan, aku tidak akan mungkin bisa membahagiakan semua orang.


.


.


.


Bersambung....