Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
56. Drama Bercanda


🌹Punya niat bercanda, tapi ditanggapi serius oleh lawan bicara. Sedrama itukah gurauan?🌹


Jenar


Sejak awal kuliah di Jogja, aku belum pernah ke mana-mana sendiri. Urusan kampus diantar jemput sama om Dito. Kalau aku ada keperluan di luar, ada Aina yang setia menemani. Juga mas Ghufron dan Nalini yang tidak pernah keberatan saat aku minta ditemani ke mana saja.


Mengingat mas ghufron, membuat dadaku kembali terasa sesak. Sedih, tapi harus dipaksa ikhlas, sebab dia sudah bahagia di sisi Alloh. Aku tentu tidak boleh membuat langkahnya menuju surga tersendat, hanya karena ketidak ikhlasanku. Aku harus rela dan berusaha beradaptasi hidup sendiri, mandiri dengan pergi ke kampus naik angkutan umum. Bukankah sebelum dekat dengan mas Ghufron aku juga sudah terbiasa sendiri?


Untuk pertama kali selama masa kuliah, aku mendapat jadwal kelas siang dan harus berangkat dari Magelang. Kuperkirakan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum, setidaknya butuh waktu 2 jam untuk sampai kampus. Jadi setelah salat dzuhur, aku langsung berangkat agar tidak terlambat.


Angkot dari rumah kak Aneesha sampai jalan raya memang hanya datang pada jam tertentu saja. Kata mas Faiz, kalau siang biasanya lama. Harusnya aku minta diantar, tapi semua orang sedang sibuk. Bahkan mas Irkham yang biasanya paling santai, juga tidak kelihatan batang hidungnya.


Kalau saja pak Hara tidak memberi tawaran tumpangan, mungkin aku benar-benar terlambat masuk kelas. Baik hatinya pak Hara memberiku tumpangan sampai di kampus, bahkan menurunkanku di tempat parkir paling dekat dengan gedung tempat kelasku.


Kalau diingat lagi, itu adalah pertama kalinya aku ngobrol banyak dengan pak Hara dan hanya berdua di dalam mobil. Apa yang membuatku tidak takut? Mungkin karena pak Hara sudah mengetahui tentang phobiaku. Jadi aku sudah percaya padanya, dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa membuat traumaku kambuh.


Pak Hara sudah mengganti deodorant, seperti yang ia katakan sebelum aku bersedia masuk ke dalam mobil. Dia juga tidak sedang dalam pengaruh alkohol, sebab aku tidak mencium bau menjijikkan itu.


Dalam perjalanan ke kampus, seperti dejavu. Aku seolah pernah mengalami hal serupa, semobil dengan pak Hara tapi kapan? Seingatku kami tidak saling akrab satu sama lain. Aku hanya mengenal dia sebagai asisten pribadinya kak Reyfan, kami pun jarang bertemu sebelum kakakku menikah.


Aku mengabaikan ingatan itu, sebab terlalu sibuk mengikuti kelas dan beberapa kegiatan kampus sampai harus pulang malam. Bersyukur ada Aina yang bersedia ikut pulang denganku ke Magelang. Dari pada sampai kost sudah tutup gerbang katanya, sebab kami pulang sudah terlalu malam.


Jadilah malam itu, aku punya teman di rumah, bukan hanya mbak Sayumi yang suara mendengkurnya waktu tidur, bisa terdengar memenuhi seluruh penjuru rumah.


Menyenangkan ada teman menghabiskan makanan yang dikirim oleh bude Sari. Kami menonton drama sambil makan camilan bikinan mbak Sayumi dan ngobrol nggak jelas, sekedar menghilangkan penat setelah mengajak otak berpikir keras.


Terlalu asyik menikmati kebersamaan dengan sahabat, sampai aku melupakan ponsel yang sejak tadi masih berada di dalam tas. Kalau Aina tidak menunjukkan sebuah chat padaku, mungkin ponsel itu masih akan bertahan di dalam tas sampai besok pagi.


“Mas Akbar chat kamu, belum dibuka. Katanya penting.” kata Aina.


“Masyaalloh! Aku sampai lupa sama hp gara-gara asyik ngobrol sama kamu.”


“Asyik ngobrol atau asyik makan?”


“Dua-duanya kali”


Aku melesat ke dalam kamar guna mencari tas, meninggalkan Aina yang sedang menikmati pisang goreng sambil nonton drama.


“Ya, Alloh! Sampai kehabisan baterai.”


Segera aku menyambungkan ponsel dengan soket untuk mengisi daya. Sambil menunggu ponsel menyala, aku merapikan tempat tidur. Seperti biasa, kamar yang kutempati ini hanya rapi saat akan kupakai saja. Setelahnya lebih banyak berantakan, mbak Sayumi sampai lelah merapikan setiap hari.


Begitu layar menyala, banyak notifikasi masuk. Ratusan chat dan belasan panggilan tak terjawab mampir, sebab aku tidak membuka ponsel sejak sore.


Kuabaikan chat lain, segera kucari nama mas Akbar, teman baik almarhum mas Ghufron. Setelah membaca pesan panjangnya, aku membalas dengan satu kata yang mewakili semuanya.


[Insyaalloh.]


Mas Akbar mengatakan progres pembukaan cafe sudah hampir selesai, tinggal menunggu kesepakatan dengan investor. Aku diminta datang pada pertemuan dengan investor. Karena aku yang memegang konsep interior cafe, jadi aku yang harus menjelaskan.


Ah! Tinggal selangkah lagi impian besar mas Ghufron akan terwujud, impian kami berdua sebenarnya. Juga impian teman-teman komunitas, sayangnya mas Ghufron tidak bisa menikmatinya. Namun, aku tetap bersyukur, teman-teman mau melanjutkan cita-cita itu. Semoga bisa menjadi amal kebaikan kami kelak.


Jemariku bergerak membuka fitur panggilan tidak terjawab, yang menarik perhatian adalah banyaknya panggilan dari satu nomor yang sama.


Pak Hara


Untuk apa dia menelponku? Ada masalah apa?


Belum selesai pertanyaan dalam benak, layar ponsel berkedip menunjukkan sebuah panggilan masuk.


Pak Hara calling ….


Jemariku bergerak menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Mulutku sudah terbuka untuk menyapa, tapi suara panik dari seberang telepon membuatku terkesiap.


“Kamu di mana? Saya telepon dari tadi kenapa tidak diangkat?”


“Saya di rumah. Ngapain pak Hara telepon saya?” jawabku dengan nada santai.


“Kamu sudah pulang?”


Pertanyaan bernada tinggi yang sukses membuat aku mengernyitkan dahi, “sudah pulang dari tadi, Pak. Memangnya ad-”


Sambungan telepon terputus, sebelum aku sempat menuntaskan kalimat. Pak Hara yang menutupnya secara sepihak, tanpa menjelaskan apa-apa. Rasanya ada yang tidak beres, tapi apa? Apa yang membuat dia menelponku berkali-kali? Dia marah padaku kah? Apa yang membuatnya marah?


Dengan masih menyimpan pertanyaan yang belum terjawab, kuletakkan ponsel di atas meja belajar. Kemudian keluar dari kamar, menghampiri Aina yang masih setia menonton serial drama.


“Udah dibalas chat mas Akbar?” tanya Aina begitu aku duduk di sampingnya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


Aku tidak terlalu mendengar apa yang Aina tanyakan kemudian, sebab sedang berusaha mencari jawaban sendiri. Tentang kemungkinan pak Hara menelpon berkali-kali.


“Hei!” Aku terkejut sampai menggumamkan istighfar, ketika Aina menyikut lenganku. Menyadarkanku dari lamunan.


“Mikir apa, sih?” tanya Aina kemudian, “diajak ngomong malah bengong.”


Aku hanya menggeleng pelan, tidak segera menjawab pertanyaannya. Otakku sedang bekerja keras. Mengurutkan apa yang kulakukan sejak pagi hingga malam ini. Tidak ada yang ganjil, kecuali ….


“Astaghfirullohal’adzim!”


Reflek aku menepuk kening dengan telapak tangan. Lalu segera berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel.


“Ada apa, sih?” tanya Aina. Ternyata ia menyusulku, mungkin karena penasaran tiba-tiba aku meninggalkannya begitu saja.


Aku sedang menyapukan jemari di atas layar ponsel, mencari nomor pak Hara hendak menelponnya. Terhubung, tapi tidak diangkat. Kucoba lagi, tapi malah direject.


“Kamu mau telpon siapa?”


Sejenak kualihkan perhatian dari layar ponsel, menatap wajah Aina yang penuh tanda tanya. Ia menggerakkan alis, sebagai tanda meminta jawaban.


“Mau telpon pak Hara tapi nggak diangkat,” jawabku sambil kembali fokus pada ponsel.


“Pak Hara itu siapa?” tanya Aina.


“Itu, yang kemarin aku cerita sama kamu … yang kita ketemu di pesantren. Asisten pribadinya kakakku.” jelasku, masih dengan menempelkan benda pipih di telinga. Sebentar kemudian kulepas, sebab panggilanku tidak juga tersambung.


“Oh! Yang tadi antar kamu, ya?”


Aku mengangguk menjawab pertanyaan Aina. Berhasil membuatnya paham dan berhenti bertanya. Sampai aku menghembuskan napas panjang, seraya meletakkan ponsel kembali di atas meja. Aina menggerakkan alis, aku tahu ia sedang menunggu jawaban.


“Nggak diangkat juga?”


Aku menggeleng, dengan jemari sibuk mengetikkan sesuatu. Ini menjadi kali pertama aku bingung merangkai kalimat, padahal hanya ingin mengirim pesan singkat. Tidak tahu harus mulai dari mana.


Berkali-kali aku menghapus huruf-huruf yang sudah kuketik, lalu memilih kata-kata yang lebih praktis dan singkat. Namun, tidak juga aku menemukan kalimat yang tepat.


Akhirnya hanya satu kalimat yang kukirimkan ke nomor pak Hara.


[Pak Hara tidak sedang menjemput saya, kan?]


Kutunggu beberapa saat sampai pesan itu terkirim, tapi tanda dua centang tidak juga berganti warna menjadi biru. Membuatku terduduk lesu.


“Ada masalah, ya? Kamu, kok, kelihatannya bingung gitu?”


Bukan jawaban yang kudapatan, melainkan pertanyaan bernada tidak yakin, “bercanda? Sejak kapan kamu suka bercanda?”


“Memangnya aku tidak pernah bercanda?” kulempar pertanyaan lagi kepada Aina.


“Selama kita berteman, menurutku kamu adalah cewek paling serius dan tidak suka bercanda.”


Jawaban Aina berhasil membuat dahiku berkerut, “masa, sih?”


“Yah! Nggak sadar dia.”


Aku diam. Meraba sikap dan tingkah laku selama ini. Memang benar apa yang dikatakan Aina, aku bukan tipe gadis yang suka bercanda. Sepertinya aku belum pernah membuat lelucon selama ini, tapi tadi siang jujur aku tidak serius dengan apa yang kuucapkan.


Tentang itu … murni aku hanya ingin bercanda. Kalimat itu keluar begitu saja setelah melihat wajah pak Hara yang datar. Aku hanya sedang ingin menggodanya.


Yang benar saja! Tidak mungkin aku minta dijemput. Kalau pun butuh jemputan, aku lebih baik minta pada pakde Teguh atau mbak Nanda, tidak mungkin kepada pak Hara. Memangnya aku ini siapa sampai berani minta dia menjemputku? Diantar sampai kampus saja, sudah cukup membuatku merasa tidak enak hati.


“Menurutmu, kalau aku kasih tahu kira-kira jam berapa pulang dari kampus … apa itu sebuah kode minta dijemput?”


Aina tertawa, sampai terbahak. Aku tidak tahu apa yang lucu pada kalimat itu, sehingga bisa membuatnya tertawa. Apakah pertanyaanku terlalu lugu?


“Jangan bilang kamu gosthing-in pak Hara,” ucap Aina di sela tawa.


“Gosthing apaan?” tanyaku. Aku tidak banyak tahu tentang istilah kata-kata anak gaul jaman sekarang, jadi tidak paham dengan apa yang dimaksud Aina.


“Ya, Alloh, Jenar! Gosthing nggak tahu?” Aku menggeleng.


“Wah! Nggak gaul kamu. Kebanyakan main di perpustakaan, tapi bacaannya kurang banyak, nih. Googling sana!”


Malam itu aku rela menghabiskan waktu hanya untuk mencari arti kata gosthing. Ternyata banyak kosa kata baru yang tidak aku ketahui artinya, tapi sudah menjadi umum terdengar dan diucapkan oleh banyak orang.


Kuceritakan kepada Aina tentang kejadian tadi siang. Kemungkinan pak Hara marah padaku karena tidak menepati janji. Tentang niat bercanda yang mungkin ditanggapi serius, hingga seolah aku sedang memberi harapan palsu.


Aku tidak menyangka ternyata bercanda bisa sedrama ini.


***


Aku mengirimkan pesan kepada pak Hara lagi esok paginya, minta maaf jika mungkin dia menanggapi gurauanku dengan serius. Meski sebenarnya aku tidak yakin pak Hara benar-benar datang menjemput. Bukankah dia terlalu sibuk dengan semua urusan pekerjaannya?


[Saya minta maaf, ya, Pak Hara. Kemarin saya hanya ingin bercanda, tidak serius minta dijemput.]


Sejak hari itu, kami tidak pernah berkomunikasi. Pesan yang kukirimkan tidak pernah dibalas, bahkan berubah menjadi centang biru pun tidak. Tidak masalah bagiku, toh kami memang bukan dua orang yang akrab dan sering berkirim pesan singkat.


Namun, sikapnya yang seolah menghindar setiap kami tidak sengaja bertemu, sedikit mengganggu. Padahal setiap hari dia datang ke rumah untuk mengurus perihal renovasi yang sudah dimulai. Entah hanya perasaanku saja, atau memang pak Hara sedang berusaha menjauh dan tidak ingin berinteraksi denganku.


Dia sengaja mengalihkan pandangan saat kami berpapasan. Juga membuang wajah, ketika aku menyiapkan suguhan minuman dan makanan ringan untuknya. Pak Hara pun menolak setiap kali pakde Teguh atau mas Faiz mengajaknya makan siang bersama. Perasaanku mengatakan mungkin karena ada aku.


Jika tidak ada pakde Teguh atau mas Faiz, pak Hara akan menitipkan uang keperluan renovasi kepada mbak Sayumi. Padahal ada aku, tapi dia memilih mencari mbak Sayumi. Kenapa tidak memberikannya padaku saja? Seolah lebih percaya kepada mbak Sayumi dari pada adik pemiliik rumah ini.


Semula aku ingin mengabaikan sikap Pak Hara, tapi jika berlangsung terus menerus, tentu saja perasaanku terusik. Apakah mungkin sikapnya ini ada hubungan dengan kejadian waktu itu? Sekarang aku jadi yang merasa dighosting sama dia. Walaupun sudah biasa sebenarnya pak Hara bersikap dingin dan tanpa ekspresi. Namun mengingat bahwa kami sempat banyak ngobrol, lalu sekarang jadi saling diam, rasanya aneh. Seperti ada yang kurang, cenderung hilang.


Puncaknya, saat aku hadir di acara pertemuan pra opening cafe. Kami bertemu di sana. Diantara beberapa orang yang duduk melingkar di atas karpet, di dalam ruangan yang masih berantakan oleh barang-barang. Aku baru tahu, jika ternyata pak Hara lah investor yang dimaksud oleh mas Akbar.


Apa kami saling menyapa di sana? Tidak. Pak Hara takacuh, fokus membicarakan tentang konsep cafe yang menurutnya belum matang. Dia terpekur membaca proposal, saat aku menerangkan tentang design tata letak cafe. Hanya mengangguk setelah aku selesai menjelaskan. Dia bahkan lebih memilih bicara dengan mas Akbar, padahal ia sedang mengoreksi tata letak interior yang baru saja kujelaskan.


Semarah itukah dia? Aku harus bagaimana untuk meminta maaf? Sungguh tersiksa jika kami seolah tidak saling kenal, padahal sering bertemu.


“Jen!” panggilan mas Akbar berhasil membangunkanku dari lamunan. Segera aku mengubah fokus pikiran, mendengarkan ucapan mas Akbar dengan baik.


“Pak Hara bilang, kalau kita akan menggunakan konsep book store cafe, letak rak bukunya harus disesuaikan. Sehingga tidak mengganggu pemandangan dan kenyamanan pengunjung. Menurut pak Hara, agar bisa menjangkau semua kalangan, bukan hanya yang suka membaca atau membeli buku saja.”


Lihat, kan? Kenapa harus disampaikan melalui mas Akbar? Kalau pak Hara ingin memprotes konsepku, harusnya ia bisa langsung bicara setelah aku selesai tadi, kan? Terlihat sekali kalau dia sama sekali tidak ingin berinteraksi denganku.


“Mas Ghufron yang merancang cafe ini seperti yang diutarakan mbak Jenar. Mereka berdua yang membuat konsep, jadi saya rasa kita tetap memakai konsepnya mbak Jenar.” ujar Nalini yang duduk di sampingku.


Kulihat dari ekor mata, pak Hara memperhatikan dengan baik apa yang diucapkan oleh Nalini. Ia juga segera mengungkapkan pendapatnya setelah Nalini selesai bicara.


“Kamu benar, ini memang cafe rancangan Ghufron. Tapi, kalau ingin tempat ini menjadi ladang penghasilan untuk kalian, bukan begini caranya. Kita tidak bisa hanya berpedoman mewujudkan impian orang yang sudah meninggal saja. Kalau begitu bisa-bisa cafe ini hanya akan bertahan sebulan, lalu gulung tikar.”


Pak Hara bahkan bicara dengan langsung menatap ke arah Nalini. Aku merasa sikapnya tidak adil. Bagaimana bisa ia tidak mengacuhkanku, sedangkan terhadap Nalini ia peduli?


“Tapi pak Hara, sasaran pasar kita adalah pelajar dan mahasiswa. Tujuan kita juga untuk meningkatkan minat baca masyarakat.”


“Benar, tapi bisa menjangkau lebih luas lagi, tanpa melenceng dari tujuan. Kalian sudah memilih tempat yang strategis, lho. Sayang kalau konsepnya tidak diperbaiki.”


“Jadi menurut pak Hara sebaiknya bagaimana?”


“Mungkin bisa dipadukan. Jadi dua konsep dalam satu bangunan. Cafe dan toko buku, tapi ada satu sudut yang bisa digunakan untuk pengunjung yang hanya ingin menikmati makanan dan minuman saja, tanpa ingin melirik koleksi buku.”


“Caranya? Bagaimana bisa menjalankan dua konsep sedangkan ruangan yang kita miliki hanya segini?” ucap mas Akbar yang belum paham arah usulan pak Hara.


“Bisa saja.”


Aku hanya diam mendengarkan pak Hara dan yang lain berdiskusi mengenai konsep, layout ruangan, tata letak dan rencana menu yang akan dijual. Bukan karena tidak setuju dengan rencana yang harus diubah dan diperbaiki, tapi terganggu dengan sikap pak Hara yang selalu menghindar bertemu tatap denganku.


Rasanya ingin segera pergi, tapi tentu saja aku harus menunggu sampai pertemuan selesai. Keputusan seperti apa yang akan diambil, sebab aku sudah menanam modal di sini. Aku punya hak untuk setuju atau menolak.


Aku cukup bisa bertahan dengan sikap pak Hara. Tidak begitu mengkhawatirkan, tapi justeru ada hal lain yang membuatku jengah.


Ketika sedang fokus mendengarkan perdebatan antara Nalini dan pak Hara, aroma menyebalkan itu datang. Sampai aku harus menutup hidung dengan ujung jilbab sembari menoleh ke kanan-kiri. Ya, Alloh! Bau tidak enak ini, mengapa harus tercium sekarang?


Di sebelah kiri berjarak dua orang, aku melihat sebuah minuman kaleng warna putih dengan logo gambar jangkar. Aku tahu, itu adalah minuman beralkohol dengan kadar rendah, tapi baunya membuatku tidak nyaman.


Ya, Alloh! Beri hamba kekuatan untuk menyelesaikan pertemuan ini sampai akhir.


Baru saja aku menggumamkan do’a dalam hati, pekikan seseorang berhasil menyita perhatianku.


“Aduh! Ya, Alloh!” Nalini beranjak tergesa, menghindari cairan yang tumpah, mengalir ke arahnya.


"Maaf! Maaf! Tidak sengaja kesenggol."


Aku yang duduk bersebelahan dengan Nalini sontan ikut mundur. Bersamaan dengan itu, bau menyengat itu tercium makin hebat. Membuatku makin tidak nyaman dan mulai panik. Ya, Alloh! Jangan sekarang, kumohon!


Aku berusaha keras menghalau panik, sambil terus menutup hidung agar bau menyebalkan itu tidak begitu tercium. Tangan kiriku merogoh tas, meraba untuk mencari kopi instant dalam sachet yang selalu kubawa. Sialnya tidak segera kutemukan dan aku sudah tidak tahan lagi. Jika tidak segera pergi, mungkin aku bisa terkena serangan panik atau lebih parahnya bisa pingsan di sini.


Tidak! Jangan sekarang! Aku tidak ingin kambuh saat berada diantara banyak orang.


Aku menggumamkan istighfar dalam hati, seraya terus berusaha meredam gejolak. Laa haula walaquwatta illabillah!


.


.


.


Bersambung....


Hai teman-teman! Saya tidak ingin beralasan baru bisa up karena memang tidak ada alasan. 😊 Cuma pengin bilang, bab selanjutnya jangan ditunggu, ya. 😂🤣