Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
113. Torehan Kecewa


🌸Laki-laki diciptakan sebagai makhluk yang pandai menyembunyikan perasaan, sedangkan perempuan butuh ungakapan untuk meyakinkan prasangka


🌸


Jenar


Tasyakuran pembukaan cafe adalah salah satu acara yang paling kutunggu. Ingin sekali melihat langsung bagaimana usaha yang diimpikan oleh Mas Ghufron itu akhirnya terwujud. Sebuah tempat yang pernah menjadi anganku tentang masa depan bersama calon pendamping hidup. Meski angan dan impian itu telah sirna, tapi aku merasa lega. Karena dengan dibukanya cafe itu, berarti terbuka pula satu lapangan pekerjaan untuk teman-temanku.


Ijin dari ayah dan bunda sudah kudapatkan, baju ganti pun telah kubawa dari rumah sejak pagi. Tak lupa aku menitipkan pesan kepada Mbak Sayumi bahwa hari ini akan pulang malam untuk menghadiri pembukaan cafe. Meski belum mendapat jawaban dari Aina jika ia bisa menemani atau tidak, aku sudah berniat akan tetap menghadiri acara tersebut, bagaimana pun caranya.


Namun, rencana yang telah tersusun rapi sering kali tidak berjalan sesuai kehendak diri. Mata kuliah yang seharusnya selesai pukul 15.00 ternyata harus mundur, karena dosen meminta waktu tambahan.


Hampir saja aku frustasi, pasrah karena sudah terlambat untuk hadir di acara pembukaan cafe. Kalau saja tidak melihat mobil jeep warna hijau terparkir rapi di dekat gerbang kampus. Juga sebuah pesan singkat yang datang, tepat saat benakku bertanya tentang pemilik mobil itu.


Jen, pulang bareng, ya? Aku sudah menunggu di depan.


“Ada apa?” tanya Aina yang berjalan keluar kampus bersamaku.


“Kak Lion jemput,” jawabku singkat sambil mengarahkan dagu ke arah mobil jeep.


“Tumben jemput, kamu yang minta?” Aina ingin tahu, sebab ini kali pertama Kak Lion datang ke kampus tanpa meminta ijinku lebih dulu.


Aku menggeleng, “Buat apa minta dijemput sama dia?”


“Kirain karena aku belum ngasih keputusan bisa ikut ke pembukaan cafe atau nggak, kamu jadi minta ditemenin sama dia.” terka Aina.


“Idih. Mending aku minta ditemenin Mas Irkham dari pada dia.” jawabku mencibir.


Aina tertawa, “Rupanya pesona Mas Irkham bagi kamu justru mengalahkan cowok mana pun, ya?”


Aku ikut tertawa membenarkan ucapan Aina. Seperti halnya Aina yang lebih sering mengandalkan kakaknya untuk urusan apa saja, aku juga nyaman jika meminta bantuan Mas Irkham. Pandangan kami lantas kembali fokus pada pria yang baru saja keluar dari mobil.


“Terus bagaimana sekarang? Apa alasannya kalau kita suruh dia pulang? Nggak mungkin kamu mau bilang pulang denganku, sedangkan aku nggak bawa motor.” Aina mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sedang kupikirkan jawabannya.


Sebuah ide tiba-tiba muncul dalam benak. Dari pada mengusir Kak Lion, mending meminta dia mengantar kami saja. Toh, jarak dari kampus ke cafe tidak terlalu jauh. Nanti kalau sudah sampai sana, dia bisa langsung pergi. Soal pulang, bisa dipikirkan nanti.


Sampai di cafe, acara belum dimulai. Mas Akbar memintaku membelikan snack dan air mineral, khawatir yang sudah dipesan kurang. Sebab ada beberapa anak yatim piatu dan warga sekitar yang diundang. Tak disangka Kak Lion menawarkan bantuan, padahal aku sudah mengatakan bahwa dia bisa langsung pergi setelah sampai di cafe. Namun, dia tetap ngotot ingin membantu, tak enak juga menolak niat baiknya.


Ketika kembali ke cafe, orang-orang sudah lebih banyak yang datang, acara pun sudah dimulai karena Gus Hafidz sudah datang. Aku bergabung dengan tamu putri, sedangkan Kak Lion menempatkan diri bersama tamu pria. Aina membisikiku tentang kehadiran seseorang. Pria yang akhir-akhir ini suka sekali mengganggu dengan telepon randomnya.


Pak Hara duduk tenang di deretan panitia bersama Mas Akbar dan pemuka agama setempat. Mata kami sempat bertemu, aku tersenyum padanya. Namun, bukannya balas tersenyum, Pak Hara malah menatap ke arah lain. Bodohnya aku berharap mendapat sikap ramah dan senyum hangat dari pria sedingin dia.


Sepanjang acara, beberapa kali aku melirik ke arah Pak Hara. Namun, tak sekali pun aku menemukan arah pandang pria itu padaku. Sedikit kecewa memang, kontras dengan sikapnya yang setiap pagi menelponku, layaknya seorang teman pria yang memberi banyak perhatian. Walau sudah hafal dengan sifatnya, tetap saja aku berekspektasi bahwa dia akan bersikap hangat saat kami bertemu seperti ini.


Acara inti telah selesai, tamu undangan pun satu per satu meninggalkan tempat. Kini hanya tersisa orang-orang yang terlibat langsung dengan pembangunan cafe ini. Mas Akbar mempersilakan kami menikmati hidangan yang telah disediakan. Banyak menu makanan tersedia di atas meja besar yang terletak di salah satu sudut ruangan. Aku masih duduk di tempatku bersama Aina, sengaja menunggu meja prasmanan agak sepi agar leluasa mengambil makanan.


“Jen, lihat!” Aina menunjukkan layar ponsel padaku.


Sebaris kalimat yang merupakan sebuah pesan singkat terpampang di hadapan.


Pulang denganku, ya? Nanti kuantar sampai kost, atau mau ke pesantren? Umi kangen sama kamu.


Begitu isi pesan yang kubaca. Nama pengirimnya tertera di bagian atas pesan.


“Gus Hafidz?” gumamku.


Aina mengangguk, “Males banget, deh. Nanti kamu antar aku pulang, ya! Aku nggak mau bareng dia.” sahabatku itu menunjuk arah Gus Hafidz dengan dagu.


“Tenang! Aku yang ngajak kamu ke sini, pasti akan bertanggung jawab mengantarmu sampai kostan dengan selamat.” jawabku berusaha menenangkan Aina.


Kami melanjutkan ngobrol sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengambil makanan. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada yang mengulurkan sebuah piring berisi makanan. Reflek aku dan Aina mendongak, mendapati Gus Hafidz berdiri menjulang dengan tangan terulur memberikan piring.


“Saya tahu kamu enggak akan mau ambil makanan kalau belum sepi. Takutnya nanti keburu sayur dan lauknya habis, jadi saya ambilkan. Kurang baik apa saya, coba?” ujar Gus Hafidz menyombongkan diri.


Aku dan Aina saling berpandangan sejenak. Aku memberi kode agar ia menerima pemberian Gus Hafidz, walau terpaksa sekali pun. Selanjutnya aku memilih beranjak, karena Gus Hafidz mengambil tempat duduk di sebelah Aina meski tidak terlalu dekat. Tahu diri jika aku tidak boleh mengganggu pasangan yang telah dijodohkan sejak kecil itu. Kebetulan prasmanan sudah tidak terlalu ramai, jadi aku bisa mengambil makanan.


Dari kejauhan aku melihat hanya ada dua orang yang sedang mengambil makanan. Walau hanya terlihat dari belakang, aku sangat tahu jika mereka adalah Pak Hara dan Nalini. Semakin dekat, aku bisa mendengar pembicaraan mereka. Nalini tampaknya sedang menjelaskan nama-nama menu makanan yang tersaji.


“Itu bisa dimakan?” Pak Hara bertanya seraya menunjuk salah satu menu makanan.


“Kenapa diwajibkan harus ada menu seperti itu?” tanya Pak Hara serius, pria itu memang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi.


“Saya tidak tahu alasannya, hanya dulu nenek saya sering membuat kluban jika ada anggota keluarga yang ulang tahun, atau akan menggelar hajatan.” nampaknya Nalini tidak mengetahui filosofi kluban yang dulu dibagikan sebagai bancakan oleh orang jawa sebagai ungkapkan rasa syukur atas suatu keberhasilan atau pencapaian.


Cukup lama rasanya aku menunggu dua orang yang tak lekas selesai mengambil makanan itu, sekaligus mendengar dengan jelas obrolan mereka. Kesal pun muncul dalam hati, karena mereka seperti tidak sadar kalau sedang ditunggu.


“Sudah belum ambilnya? Lama sekali, banyak yang antri, nih.” suara seorang pria dari samping membuatku sontan menoleh.


Kompak Nalini dan Pak Hara pun menoleh, mendapati Kak Lion yang berdiri tepat di belakang mereka.


“Saya dan Jenar juga mau ambil,” cetusnya singkat.


Sekilas Pak Hara melirikku, lalu menggeser badan. Ia memberikan akses kepada Kak Lion agar bisa mengambil makanan.


“Sendoknya, Pak.” Nalini memberikan sendok kepada Pak Hara. Aku tidak menyangka jika Nalini sangat perhatian dengan Pak Hara, kalau seperti ini mereka jadi terlihat akrab sekali.


“Pak Hara mau duduk di mana?” tanya Nalini kemudian, saat mereka telah menyelesaikan aktivitas di meja prasmanan.


“Saya sama Gus Hafidz saja,” jawab Pak Hara.


Mereka berlalu begitu saja dari hadapanku. Ada sedikit rasa kecewa yang hadir, sebab Pak Hara sama sekali tidak menyapaku, bahkan melihatku sejenak pun tidak. Pria itu seperti menjadi orang yang berbeda dengan yang menelponku tadi pagi.


“Pilihkan menu, dong, Jen! Aku bingung.” suara Kak Lion menyadarkanku dari lamunan. Segera kubuang napas kasar, memutus pandangan dari dua orang yang kini sedang sama-sama duduk di atas karpet bersama Gus Hafidz dan Aina.


“Kakak mau makan yang mana?” tanyaku sambil mengambil piring kosong. Kak Lion di sini karena mengantarku, jadi tidak sepantasnya aku mengabaikannya. Sementara sikap aneh Pak Hara yang tak kutahu sebabnya, lebih baik nanti saja kupikirkan jalan keluarnya.


Aina melambaikan tangan, memberi kode agar aku duduk bersamanya setelah mengambil makanan. Sebenarnya aku merasa tidak enak jika hadir di antara orang-orang yang sepertinya sedang bicara serius. Namun, untuk menolak sorot mata penuh permohonan Aina pun rasanya tak kuasa. Apalagi melihat Gus Hafidz yang sedang begitu telaten memisahkan duri ikan agar Aina mudah memakannya.


“Dulu waktu Aina kecil, pernah tersedak duri ikan. Dia jadi nggak mau makan ikan, kalau tidak diambil durinya lebih dahulu.” ujar Gus Hafidz seraya menyerahkan piring kepada Aina. Ikan di atas nasi telah terbelah-belah, sedangkan durinya berpindah ke piring milik Gus Hafidz sendiri.


“Kok Gus tahu?” aku tidak bisa membendung rasa penasaran. Bagaimana dia tahu masa kecil Aina, sedangkan setahuku mereka tidak tumbuh besar bersama.


“Almarhum uminya yang menceritakan padaku.” jawab Gus Hafidz, lalu dia mulai makan setelah menyisihkan duri ikan di bagian tepi piring.


Aku menatap Aina, mencari jawaban dari ucapan Gus Hafidz. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum kecil membenarkan penuturan Gus Hafidz. Khas jika Aina sedang malu, karena ada yang menceritakan masa lalunya. Ternyata sepaham itu Gus Hafidz terhadap calon istrinya, kalau aku jadi Aina tentu merasa berbunga-bunga. Sayangnya, dia lebih sering kesal jika mendapat perhatian dari calon suaminya itu. Sahabatku itu memang aneh, punya calon suami tampan, pintar dan kaya, tapi diabaikan. Entah apa yang ada dalam kepalanya.


Aku menghela napas sejenak, lalu membaca do’a dan mulai makan. Tidak ada pembicaraan menarik selama kami menikmati makanan masing-masing. Hingga adegan di hadapan menarik perhatianku. Nalini dan Pak Hara yang duduk berhadapan, makan sambil saling bicara, bahkan mereka sempat tertawa bersama, entah sedang membicarakan apa. Tidak aneh jika mereka terlihat akrab, mungkin karena mereka sering bertemu. Tidak salah juga dengan kedekatan mereka, karena sama-sama tidak mempunyai pasangan. Namun, entah mengapa sudut hatiku terasa nyeri dan jantung rasanya hendak berhenti berdetak. Sesak sekali seperti diremas kuat-kuat.


Aku sadar harus membuang perasaan aneh ini, tapi rasanya sulit sekali. Sudah kucoba mengalihkan pikiran dengan makan, tapi sesak masih saja terasa. Hingga tanpa sadar setetes buliran bening jatuh dari pelupuk mata. Pandanganku kabur, sampai tidak tahu jika aku terlalu banyak mengambil sambal. Langsung saja kumakan, yang mengakibatkan aku tersedak dan kesulitan menghirup oksigen. Selanjutkan aku mengalami cegukan hebat.


“Minum ini,” aku melihat sebuah kaleng yang disodorkan dari samping kiri, Kak Lion memberikan minuman bersoda padaku. Mungkin karena melihatku panik mencari sesuatu yang bisa meredakan cegukan.


“Jenar tidak minum soda!” sentak sebuah suara yang sangat kukenal. Pak Hara mengulurkan air mineral dalam botol padaku.


“Namanya juga pertolongan pertama, bukankah apa saja yang ada di hadapan bisa digunakan?” Kak Lion menyanggah dengan tetap menydorkan kaleng berwarna merah padaku.


“Dia kepedesan dan cegukan, minuman bersoda bisa memperparah keadaannya.” Pak Hara kembali bersuara.


Selanjutkan dua pria itu saling berdebat dan ngotot menyodorkan minuman masing-masing, sampai aku bingung harus menerima yang mana. Sementara cegukanku kian parah dan tenggorokan sudah sakit karena kepedasan. Di antara dua pria yang masih saling adu mulut seperti kucing yang memperebutkan daerah teritori. Aina mengulurkan gelas berisi teh hangat padaku. Segera aku menerima dan meminumnya untuk membasahi tenggorokan yang panas dan perih seperti terbakar api.


“Jenar bisa keburu lewat kalau kalian malah saling berdebat seperti itu terus,” sindir Gus Hafidz.


Sontan dua pria itu mendadak diam dan akhirnya meminum minuman masing-masing. Aku menatap keduanya bergantian, mereka saling lirik dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Masing-masing menampilkan wajah yang tidak menyenangkan, sama-sama bersiap saling menyerang dalam diam.


Aku beringsut, mungkin lebih baik pergi dari sana, meski makanan belum habis. Tidak nyaman rasanya berada di antara orang-orang yang sedang marah, padahal aku tidak tahu penyebabnya.


.


.


.


Bersambung ....


Nggak ingin minta maaf karena baru sempat up, tidak sesuai janji. hehe. Untuk menebusnya, saya up dua bab ya. Semoga reviewnya nggak lama.


*Kluban : macam-macam sayuran direbus diberi parutan kelapa dengan bumbu rempah-rempah.