
...🌵Kakak perempuan adalah manusia paling perhatian, sekaligus penuh kasih sayang.🌵...
Nabila
Sudah beberapa bulan Hara tinggal bersama kami. Sejak awal, aku berharap dia tinggal dengan nyaman dan bisa berbaur dengan keluarga ini. Aku tahu sangat sulit bagi dia yang terbiasa dengan berbagai kemewahan, harus menyesuaikan diri hidup sederhana seperti kami di kampung yang sepi. Namun, dia tampak menikmatinya.
Hara tidak pernah protes tentang makanan. Apapun yang tersedia, dia pasti memakannya. Dia juga tidak keberatan harus berbagi tempat tidur dengan bapak, bahkan kadang-kadang bertiga dengan Naufal. Saat kuminta membantu pekerjaan di kebun, dia menyanggupi dengan senang hati. Sungguh aku sangat bahagia ada dia yang menyempurnakan keluarga kami.
Walau berbeda keyakinan, tapi kami tidak pernah saling bersinggungan. Dia ikut bangun setiap kali seruan salat tahajud berkumandang dari pengeras suara masjid. Jika kami sedang salat, dia ikut berdo’a menurut keyakinannya sendiri. Dia berteman dengan para santri di pesantren, meski tidak melakukan ibadah yang sama. Saat mengantar Kyai Ali, Hara tidak keberatan mendengar lagu-lagu islami sepanjang perjalanan yang diputar pada audio mobil. Bahkan dia juga tidak keberaran saat Kyai Ali minta singgah di masjid dan setia menunggu sampai selesai salat.
Malam itu Hara pulang sangat larut. Bukan baru sekali, tapi malam ini ada yang berbeda. Entah hanya perasaanku saja, atau memang dia sedang tidak baik-baik saja. Langkahnya tampak lesu, rambutnya kusut dan wajahnya pun seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.
Kecurigaanku mengerucut ketika kulihat dia banyak melamun sambil mengutak-atik hp, kegiatan yang tadinya sangat jarang dia lakukan. Memang Hara adalah laki-laki yang tidak banyak bicara, tapi melamun, jelas bukan kebiasaannya. Dia seperti sedang memiliki masalah pelik.
Karena ingin tahu, aku mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Hara. Akhirnya dia mau bercerita, walau tidak secara gamblang. Dugaanku benar, bahwa dia sedang memiliki masalah dengan seseorang. Pantas saja dia terlihat frustasi, masalah dengan perempuan memang selalu rumit.
Aku cukup terkejut saat tahu dia sedang memiliki masalah dengan Jenar, sungguh di luar dugaan. Kupikir Hara sedang berselisih paham dengan pacarnya, karena terlihat sangat bingung. Sama sekali tak kuduga, jika yang sedang mengusik pikiran Hara adalah gadis cantik yang berpenampilan muslimah, Jenar.
Aku sempat memberi Hara saran untuk menyelesaikan masalah. Namun, sepertinya belum berhasil karena wajahnya tetap terlihat kusut. Bahkan hari ini dia bilang akan kembali ke Jakarta memenuhi panggilan pekerjaan. Sepertinya aku harus bertanya sebelum dia pergi.
“Mbak, nanti sampaikan pamit saya sama bapak, ya! Sepertinya saya tidak sempat menunggu bapak pulang ziarah." Suara Hara menarik kesadaranku dari lamunan.
Kuhentikan gerakan melipat baju, lalu kuberikan tumpukan baju yang telah rapi kepada Hara. Aku memang sedang membantunya berberes.
“Beneran sudah tega kamu mau pergi?” tanyaku seraya melirik barang-barang di atas tempat tidur, siap untuk dimasukkan ke tas.
Hara menoleh, “Penginnya, sih, nggak usah kembali ke Jakarta. Gimana ya? Mbak, kan, tahu saya ini hanya seorang pesuruh yang harus menuruti perintah majikan. Kalau bos sudah kasih mandat, pantang ditolak. Nanti urusannya jadi panjang.”
“Memangnya bos kamu galak, ya?” tanyaku penasaran.
“Nggak galak, sih, Mbak. Tapi dia killer.” jawab Hara sambil memasukkan baju ke tas.
“Kalau gitu kenapa kamu nggak resign saja? Nanti buat salah dikit, kamu dibunuh sama bosmu itu.” aku jadi khawatir dengan pekerjaan yang dilakukan adikku, kalau bosnya adalah seorang pembunuh.
“Nggak sampai dibunuh juga kali, Mbak. Bos saya itu walau kelihatannya killer tapi merusak sarang laba-laba saja dia pakai permisi dulu, mana berani dia membunuh.” jelas Hara.
Ah, bagaimana, sih? Tadi dia bilang bosnya killer, sekarang malah kasih penjelasan kalau tidak berani membunuh. Sungguh membingungkan.
“Kalau kerja di sini gajinya kecil, ya? Jadi pasti berat melepas pekerjaan di sana, padahal kamu di sini juga sudah kerja jadi sopirnya Kyai Ali.” aku menggerutu meski masih tidak paham dengan ceritanya.
“Bukan hanya karena gaji, sih, Mbak. Saya senang jadi sopirnya Kyai Ali. Tapi ini lebih karena tanggung jawab sebenarnya. Pekerjaan yang saya lakukan di Jakarta bukan seperti yang mbak bayangkan.” sepertinya Hara tahu aku bingung, memangnya dia bekerja sebagai apa, sih?
“Iya, deh. Mbak memang tidak tahu banyak tentang pekerjaanmu, yang penting jaga diri baik-baik.” aku menghela napas berat, “Kalau sudah sampai sana, semoga kamu tidak lupa untuk jenguk kami di sini.”
“Nggaklah, Mbak. Masih boleh menginap di sini, kan?”
Aku mencebik mendengar pertanyaan Hara, lalu menjawab ketus, “Tentu saja boleh, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu.”
Hara membuang napas, “Belum pergi, tapi rasanya sudah kangen saja, nih.”
Kulihat dia meraih kepala Naufal yang sejak tadi ikut berberes, lalu memeluknya. Pemandangan yang berhasil memupuk cairan bening di pelupuk mata. Kehadiran Hara selama beberapa bulan di rumah ini telah melahirkan kasih sayang diantara kami. Dia sangat akrab dengan Naufal, pasti mereka akan saling merindukan nanti.
“Om kapan balik?” belum juga berangkat, Naufal sudah bertanya kapan Hara akan pulang.
Kulihat Hara mengacak rambut Naufal, “Asal kamu nggak nakal, om pasti segera kembali.”
“Naufal ora nakal, om janji ya cepet bali!” Naufal meminta Hara berjanji padanya supaya lekas pulang.
Hara kembali memeluk Naufal. Selama beberapa saat mereka saling bicara random, lalu tertawa. Sementara aku sedang sibuk menyusut sudut mata yang basah. Walau berat, tapi aku tidak bisa menahan kepergiannya. Hanya do’a tulus yang kupanjatkan untuk melepasnya. Sebab seberapapun jauhnya jarak, akan terkikis dengan do’a yang menembus langit.
“Nggak usah ditangisi, Hara hanya kembali ke Jakarta bukan ke hadirat Ilahi.” cetus suara berat yang sangat kukenal.
“Kalau bercanda bisa lihat situasi nggak, Mas? Lagian ucapan itu do’a, jadi bicaralah yang baik atau diam.” aku bersungut-sungut karena Mas Akmal bercanda pada saat yang tidak tepat. Namun, justru dia dan Hara malah tertawa.
“Oke, maaf.” ucap Mas Akmal seraya mengusap lenganku, “Jangan nangis! Malu dilihat anak, tuh.”
Aku melirik tajam ke arahnya. Suamiku ini memang tidak pernah bisa serius, bagaimanapun situasinya selalu dibikin bercanda. Kualihkan pandangan ke dua manusia beda usia yang sedang tertawa. Kubuang napas berat. Para laki-laki ini memang kadang menyebalkan.
“Ternyata Mbak Nabila cengeng, ya?” ucap Hara dengan nada serius. Aku jadi ingin tertawa karena dia mengucapkannya dengan ekspresi wajah datar.
“Eh, jangam salah!” seru Mas Akmal, “Dia ini walau bisa marah dengan nada suara naik sepuluh oktaf, tapi perasaannya sehalus jaring laba-laba.”
“Mas!” kupukul lengan Mas Akmal, agar dia berhenti bercanda. Sebab aku masih harus mengobrol serius dengan Hara.
Kulihat Hara sudah selesai memasukkan baju ke travel bag, artinya dia sudah siap berangkat. Aku harus segera mencari tahu sebelum dia benar-benar pergi.
“Oya, Hara! Kamu sudah jadi ketemu sama Jenar?” tanyaku memberanikan diri.
Hara menggeleng, membuang napas sejenak lalu memakai jaketnya.
“Jadi masalah antara kalian belum selesai, dong?” aku mengerutkan dahi, bisa-bisanya Hara akan pergi sedangkan masalahnya dengan Jenar belum selesai.
Kudengar embusan napas berat sebelum Hara menjawab, “Bagaimana mau selesai kalau dia tidak mau ketemu saya, Mbak. Saya sudah berusaha menemuinya, tapi dia selalu menghindar. Bahkan dia sengaja tidak pulang ke rumah agar tidak ketemu saya.”
“Ya, Alloh! Artinya kamu akan pergi dengan menyimpan masalah yang belum selesai?" sesalku.
“Masalahnya besar sekali, ya, sampai dia betah diemin kamu?” aku masih penasaran sebenarnya kesalahan apa yang dilakukan oleh Hara sehingga Jenar tidak mau bertemu dengannya.
Hara mengangkat bahu, “Menurut saya biasa saja, sih, dia saja yang terlalu berlebihan.”
Kulihat raut wajahnya berubah sendu, seperti sedang menyesali sesuatu. Aku ini seorang perempuan yang telah menjadi ibu, sedikit tahu jika ekspresi wajah seseorang menunjukkan isi hatinya.
“Hara!” aku memanggil, agar adikku itu menatapku.
“Boleh mbak tanya sesuatu? Agak menyinggung privasimu, sih. Tapi mbak benar-benar ingin tahu.” aku melanjutkan pertanyaan.
Sempat aku melirik Mas Akmal yang mencebik, dia memang sudah hafal kalau aku punya rasa ingin tahu yang tinggi.
“Tanya apa, Mbak?” Hara menatapku intens.
“Jangan tersinggung, ya? Mbak ingin tahu, apa kamu suka sama Jenar?” aku langsung memberi pertanyaan tanpa basa-basi.
“Ehm …,” Hara menerawang, “Suka?” dia mengalihkan pandangan padaku, lalu menerawang lagi, “Nggak tahu, mbak”
“Gimana, sih, cuma ditanya begitu saja jawabnya susah. Tinggal jawab iya atau tidak, gitu susah amat.” gerutuku.
Hara tertawa, tapi terdengar sumbang, “Entahlah, Mbak. Saya cuma merasa ada yang kurang kalau nggak lihat dia sehari saja.”
Mendengar jawaban Hara entah mengapa aku ingin tersenyum. Padahal tanpa bertanya pun aku tahu kalau dia sudah jatuh cinta dengan Jenar. Kalau tidak punya perasaan lebih, mana mungkin dia frustasi hanya karena Jenar marah.
“Kenapa harus Jenar, sih?” tiba-tiba sebuah pikiran terlintas dalam benak.
“Memangnya kenapa dengan Jenar, Mbak? Mbak nggak suka sama dia?" Hara ingin tahu alasan pertanyaanku.
“Sejak pertama bertemu, mbak langsung suka sama Jenar. Dia anak baik, anggun, sopan, dan mbak tahu dia berasal dari keluarga terpandang. Bukannya mbak pesimis, tapi sepertinya dia tidak cocok sama kamu.” jelasku.
“Nggak cocoknya di bagian mana, Mbak? Saya kurang tampan, atau kurang kaya?”
Aku menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Hara, “Bukan soal itu, Hara."
“Lalu?” Hara mengejar penjelasanku.
“Kalau kamu memang suka sama dia, harus serius. Kalau hanya main-main kasihan dia. Meski mbak tidak begitu kenal dia dan keluarganya, tapi perempuan seperti Jenar tidak pantas dipermainkan.” aku memberi pengertian yang terdengar seperti nasehat.
“Mbak benar, ayahnya Jenar itu sahabatnya Kyai Ali waktu muda dulu. Sampai sekarang mereka masih saling bertukar kabar." Hara menjeda sejenak kalimatnya.
“Oya?” aku terbelalak kaget, kekhawatiranku makin besar.
"Mana mungkin saya berani main-main sama dia, Mbak. Sedangkan kakaknya adalah pemilik perusahaan tempat saya kerja. Jika saya berani mempermainkan dia, maka hidup saya tidak akan tenang." lanjut Hara.
“Kalau begitu lebih baik kamu pikirkan lagi, mau serius atau sampai di sini saja sama Jenar. Sebelum kamu kecewa dan merana karena sakit hati." usulku.
“Sakit hati?” tanya Hara.
“Iya, sakit hati karena ditolak oleh orang tuanya Jenar.” jelasku.
“Mbak kenapa belum-belum sudah pesimis, sih? Belum juga berjuang sudah disuruh menyerah.” gerutu Hara.
"Kamu ini gimana, sih, Nduk. Belum-belum sudah punya pikiran orang tuanya Jenar nggak setuju sama Hara. Kayak cenayang saja." Mas Akmal ikutan nimbrung.
"Pendapatku berasalasan, Mas." aku menatap Hara dan Mas Akmal bergantian.
“Orang tua Jenar pasti tidak akan melepas anak perempuannya dipersunting oleh laki-laki beda agama. Kamu tidak hanya akan berjuang mendapatkan cintanya Jenar dan restu orang tua, tapi ridho Alloh juga. Cinta dengan berbeda keyakinan tidak akan berhasil, Hara!” aku sengaja menekankan di beberapa kata dalam kalimat itu.
Hara tampak berpikir, semoga dia sadar bahwa yang akan dihadapi dengan menyukai Jenar adalah jembatan panjang dan terjal. Meski dalam hati aku berharap mereka berjodoh. Namun, tidak mungkin aku memaksakan kehendak pada mereka. Apalagi meminta Hara untuk pindah agama demi mengejar cinta, jelas bukan sifat seorang muslim.
Malam itu Hara pergi dengan membawa pertanyaan yang belum terjawab. Semoga dia kembali dengan membawa jawaban dan kabar gembira.
.
.
.
Bersambung ....
Hai, teman-teman .... semoga selalu dalam lindungan Alloh SWT.
panas sekali cuaca hari ini, semoga tidak sepanas hati Hara yang sedang dirundung gelisah.
Kemarin saya lihat jumlah komentar di bab yang lalu. Ya, Alloh seneng banget rasanya. setahun off tanpa kabar, ternyata masih banyak yang nunggu. maafkan saya yang tidak punya perasaan. 😁
Terima kasih para pembaca yang sudah meninggalkan like, komen, kasih gift. sungguh merupakan mood booster paling menyenangkan di saat kondisi dan situasi tidak stabil.😍😍😘
Seperti janji saya, saya akan berusaha up 1 bab tiap minggu, harinya nggak pasti. kalau bisa ngetik cepet, up cepet. begitu juga sebaliknya.
Sekian saja, Selamat menbaca dan tunggu bab selanjutnya. Kira2 bagaimana ya setelah Hara sampai Jakarta. apakah dia merindukan saya? 😄😄