
🌹Ketika kita merasa hidup kita baik-baik saja dan semua keinginan kita terkabul, nyaris tanpa hambatan, waspadalah! Bisa jadi Alloh sedang menyiapkan kejutan untuk kita. Karena sejatinya, tidak ada manusia yang tidak diuji.🌹
Jenar.
Aku baru saja selesai menemani dua putra-putri om Dito mengerjakan tugas sekolah. Sudah menjadi kebiasaan, dua anak yang masih duduk di bangku SMP dan SMA itu meminta bantuanku jika mengalami kesulitan belajar. Mereka bilang lebih senang bertanya padaku dibanding dengan guru les privat yang datang setiap seminggu dua kali. Mungkin karena jarak usia kami tidak terlalu jauh, jadi kami lebih nyaman bertukar pendapat.
Masuk ke dalam kamar, aku duduk di kursi yang menghadap meja belajar. Kusandarkan punggung pada sandaran kursi sembari mengambil ponsel yang sejak tadi kubiarkan tergeletak begitu saja di atas meja.
Kubuka layar ponsel, tidak ada notifikasi pesan pribadi masuk. Hanya obrolan di beberapa grup yang ramai, tapi aku malas bergabung. Iseng kubuka akun sosial media untuk membunuh waktu karena belum mengantuk. Membaca postingan teman-teman yang biasanya menghibur.
Ada yang mengirim status galau, curahan hati yang panjang lebar seperti cerita bersambung, ada juga yang hanya mengirim foto tanpa caption. Inilah dunia maya dengan segala hiruk-pikuk semunya.
Aku membuang napas panjang, menyudahi selancarku di dunia maya. Kuletakkan hp, tetiba pandanganku tertuju pada tangan kiri. Liontin emas berbentuk huruf R menggantung pada gelang tali yang melingkar di pergelangan tangan. Cincin berukiran unik nan cantik tersemat di jari manisku. Satu kata yang ingin kuucapkan untuk memuji dua benda itu, manis.
Kumainkan cincin yang merupakan tanda ikatan kasih mas Ghufron padaku itu seraya menyunggingkan senyum. Tangan kananku terulur, mengusap liontin berhiaskan permata, simbol huruf pertama nama depanku. Dua barang yang saat ini sangat berharga untukku, akan kujaga seperti aku menjaga cinta untuk sang pemberinya.
Baru saja aku hendak melepas jilbab, ketika layar ponsel yang semula gelap, kini menyala terang. Menunjukkan tanda ada pesan masuk. Kuusap layar untuk membuka kunci dengan segera, sebab aku tahu siapa yang mengirim pesan. Tak lain dan tak bukan dia adalah seseorang yang sejak tadi kutunggu kabarnya.
Kuletakkan ponsel setelah mengirim balasan pesan terakhir dari tunanganku itu. Kulepas jilbab, sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudlu. Dua hal penting yang selalu aku lakukan sebelum beranjak tidur.
Sudah dua hari ini mas Ghufron menjalani pendidikan profesinya sebagai dokter muda. Ia mendapat tugas co-asst di rumah sakit akademik, satu yayasan dengan kampus tempat kami belajar. Aku senang ia ditempatkan di rumah sakit yang dekat, jadi kami tidak harus tinggal berjauhan.
Aku tahu sebagai dokter muda, mas Ghufron memang terlalu sibuk. Sebab ia bukan hanya mendapat tugas dari dokter residen, akan tetapi dari semua dokter yang ada di rumah sakit itu.
Ia harus berhadapan langsung dengan pasien serta mempraktekkan langsung teori yang didapat selama kuliah. Hal itu menyebabkan jam kerja dokter muda, tidak menentu. Sering kali ia harus pulang larut malam, atau berangkat lebih pagi dari pada dokter residennya.
Tak heran jika selama dua hari ini, intensitas berkirim kabar mas Ghufron denganku jadi berkurang. Walau ada rasa kecewa saat aku tidak mendapat chat darinya, tapi aku maklum. Toh ia tidak sengaja mengabaikanku, kalau sempat pasti mas Ghufron mengirim pesan atau menelponku.
Malam ini ia mengirim foto dirinya dengan background nurse station rumah sakit. Letih sudah bisa kupastikan menghinggapi badan mas Ghufron, tergambar dari raut wajah lesu hampir pucat yang tertangkap oleh kamera ponsel. Sungguh besar perjuangannya untuk menjadi seorang dokter.
Selang sehari setelah mas Ghufron mengirim foto malam itu, aku mendapat kabar dari Nalini bahwa tunanganku itu sedang masuk angin. Namun, saat aku dan om Dito menjenguknya, mas Ghufron justru sedang siap-siap berangkat ke rumah sakit mengerjakan tugas co-asst nya yang tertunda.
“Alhamdulillah sudah sehat, Nduk. Sudah dikerok sama ibu, nih,” ia menunjukkan lehernya padaku.
Terdapat garis-garis merah bekas kerokan, tapi yang membuat tanganku terulur mengusap tengkuknya adalah ada memar yang sangat kentara. Di sekitar bekas kerokan terlihat kulit yang berwarna biru gelap, seperti baru saja terkena hantaman benda tumpul.
“Ini kenapa memar, Mas?”
“Oh! Itu biasa muncul kalau aku kecapekan, di sini juga ada.”
Mas Ghufron menggulung lengan kemejanya, memperlihatkan memar yang terdapat di bagian lengan atas. Memang tidak terlalu kentara seperti yang kulihat di bagian tengkuk, warna biru keunguan itu sudah sedikit memudar. Ia juga menunjukkan memar yang terlihat di dekat lututnya, juga di dekat siku kiri.
Aku memerhatikan memar tersebut, lalu ingat kalau itu memar yang kulihat beberapa waktu yang lalu saat mas Ghufron mengantarku pulang ke Magelang. Memar yang kukira karena aku mencubitnya. Entah mengapa perasaanku mengatakan itu bukan memar biasa yang sering muncul kalau kondisi badan sedang capek. Memar itu seperti sebuah petunjuk bahwa tubuh mas Ghufron tidak sedang baik-baik saja.
Namun, aku tidak ingin menerka sesuatu yang belum jelas. Lagi pula waktu itu mas Ghufron terlihat sehat, meskipun wajahnya sedikit pucat tapi ia tetap energik, tetap banyak bercanda dan tertawa seperti biasanya. Aku sampai mengabaikan ucapan om Dito setelah pulang dari rumah mas Ghufron waktu itu.
“Bukannya Om ingin sok tahu, ya, Jen. Om ini memang bukan tenaga kesehatan, tapi om merasa sakitnya Ghufron bukan penyakit sepele karena masuk angin.”
“Tapi mas Ghufron terlihat sehat-sehat saja, Om.”
“Kalau karena capek, biasanya hanya muncul satu atau dua memar, Jen. Yang Ghufron perlihatkan tadi memarnya lebih dari tiga tempat dan semuanya jelas. Om lihat wajah Ghufron juga sedikit pucat, tidak segar seperti biasanya. Coba kalian ngobrol, nggak ada salahnya kapan-kapan periksa ke dokter. Kalau ada masalah biar segera tertangani.”
Aku membiarkan hari demi hari berlalu tanpa membicarakan masalah memar itu dengan mas Ghufron. Meskipun aku telan melakukan pencarian di mesin pencari informasi. Aku terlalu sibuk dengan tugas kuliah yang banyak dan aktivitas jualan online ku yang mulai ramai. Jadi tidak sempat bertanya tentang kondisi terkini tunanganku itu.
Ditambah berita mengejutkan tentang Om Dito yang akan dipindah tugaskan ke Ternate. Membuat aku harus siap-siap pindah tempat tinggal karena Om Dito akan mengajak seluruh keluarganya ikut pindah ke kota tempatnya bertugas.
Komunikasiku dengan mas Ghufron baik-baik saja, meskipun tidak sesering sebelumnya. Aku sering terlambat membalas pesan, atau melewatkan panggilan video darinya. Tapi hal itu tidak menjadi masalah bagi hubungan kami, sebab kami saling memahami satu sama lain.
Jika ada waktu luang, mas Ghufron mengajakku makan siang bareng di luar. Sebagai gantinya, jika kami sedang sama-sama sibuk, aku mengirim makanan untuknya melalui aplikasi pesan antar. Jaman sekarang ada banyak cara menunjukkan perhatian kepada yang tersayang jika sedang tidak bisa bertatap muka secara langsung.
Siang ini aku sedang duduk di kantin bersama tiga sahabatku. Mengisi perut sambil berbincang melepas penat karena sejak pagi mengikuti kelas. Sudah menjadi hukum alam jika wanita pasti ramai saat berkumpul, apa saja bisa menjadi bahan perbincangan yang mengundang tawa.
Seketika tawa kami berhenti saat ada seseorang yang datang tanpa permisi, duduk di kursi kosong sebelahku. Kami menatap pria yang memakai topi itu dari atas sampai bawah. Tak bisa kutahan sudut bibirku yang tertarik ke atas.
“Assalamu’alaikum semuanya ….”
“Wa’alaikum salam …” Jawab kami bertiga hampir bersamaan.
“Mas, kok, di sini?” mulutku hampir ternganga karena terkejut. Tiba-tiba saja mas Ghufron datang dan duduk di sebelahku, tanpa memberi kabar lebih dulu.
“Memangnya nggak boleh mas ke sini? Ya, sudah kalau gitu. Mas pergi, nih!”
“Eh!” aku menarik lengan kemejanya karena ia hendak beranjak. Membuat mas Ghufron kembali duduk, “kok bisa, sih? Emang mas nggak ada jadwal jaga shift hari ini?”
“Ada, Nduk. Tapi nanti malam. Ini juga mas habis urus administrasi, jadi bisa mampir sini.”
“Kok bisa tahu saya di sini?”
“Nebak aja, sih, tadi. Kebetulan pas, surprise, kan?”
Aku menggelengkan kepala, benar-benar kedatangan mas Ghufron membuatku terkejut. Kejutan yang membuatku senang, sebab rasa rinduku akhirnya terobati.
“Masih ada kelas?”
Aku mengangguk seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, “masih sekitar 40 menit lagi, sih, Mas.”
“Alhamdulillah ada waktu buat ngobrol.”
Aku tersenyum sekilas saat menyadari mas Ghufron sedang menatapku, membuatku menundukkan kepala merasa malu. Tiga sahabatku saling sikut seraya berbisik-bisik , mereka pasti gatal ingin menggodaku tapi sungkan karena ada mas Ghufron.
Aku dan mas Ghufron berbincang seperti hanya ada kami berdua di bangku kantin itu. Mengabaikan keberadaan Aina, Addis dan Ratri yang seolah hanya sebagai pendengar dan penonton setia.
Selayaknya sepasang insan yang saling melepas rindu karena lama tak bersua, aku dan mas Ghufron asyik ngobrol. Tunanganku ini memang selalu menjadi teman bicara yang asyik. Namun, aku menyadari sesuatu yang lain dalam dirinya, mas Ghufron terlihat pucat meskipun tetap bersemangat dan banyak tertawa.
Membuatku tergerak untuk mencari tahu, “mas capek, ya? Kelihatan lemes gitu?”
“Iya, nih. Akhir-akhir ini mas mudah lelah dan sering ngantuk. Gula darah mas naik kali, ya?”
“Udah dicek belum?”
“Mas nggak pernah cek gula darah, Nduk.”
“Coba kapan-kapan dicek, Mas! Kalau tahu, kan, bisa diantisipasi sejak awal.”
“Kapan-kapan Mas cek, deh. Kalau inget.”
“Jangan kalau inget, Mas. Tapi harus niat beneran, demi kesehatan, lho.”
“Ya, gimana, Nduk? Kadang udah niat, tapi beneran lupa. Kamu, kan, tahu sendiri mas pelupa. Tapi mas nggak akan lupa cara mencintaimu, Nduk.”
Aku memukul pelan bahu mas Ghufron yang terguncang karena tertawa. Begitulah, ia selalu punya celah untuk bercanda pada saat kami berbincang sangat serius sekali pun. Sukses membuat aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan karena malu. Ketiga sahabatku kompak bersorak menggodaku dan mas Ghufron.
Siang itu aku sangat bahagia, mas Ghufron dan tiga sahabatku juga terlihat bahagia. Mungkin ini yang dinamakan perasaan bahagia bisa menular. Dekat dengan orang yang memancarkan rona bahagia, maka akan ikut bahagia pula.
Namun, aku lupa bahwa tidak ada yang abadi di dunia fana ini. Termasuk kebahagiaan yang kurasakan pun tidak berlangsung selamanya. Sebab Alloh telah mengatur kapan kita diuji dengan perasaan senang, kapan pula kita akan diuji dengan perasaan sedih. Suka pasti akan berganti sedih, begitu pula sebaliknya, sebab roda dunia akan terus berputar.
.
.
.
Bersambung....
Gantung, ya? Emang sengaja, sih. hehe