Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
63. Bermain dengan Hati.


💕 Jangan mencoba bermain-main dengan hati, kalau belum siap jatuh hati. Terbalas atau tidak, akan sama sakitnya.💕


Jenar.


Gemerisik suara daun bambu yang tertiup angin, mengusir sepi yang membelukar. Derit batang bambu yang saling beradu, terdengar ngilu seolah menusuk kalbu. Kumpulan awan mendung di atas sana, sama seperti yang kurasakan saat ini.


Aku duduk di tepi gazebo, menatap pintu pagar yang terbuka lebar. Jejak roda mobil jeep pada tanah kering, terlihat memudar karena disapu angin. Kuembuskan napas kasar, seraya tersenyum masam menatap kantong plastik hitam besar dan kumpulan tanaman hias dalam pot yang semuanya bagus.


Why? Mengapa perasaan ini kembali hadir sekarang? Rasa yang harus terbiasa kurasakan sejak kecil, karena menjadi anak nomor dua. Bagaimana rasanya dibandingkan dengan kakak dan sering dianggap punya kegemaran yang sama dengan kakak.


Kak Neesha yang punya kulit putih, mata sipit dan rambut lurus. Sementara aku berkulit coklat, mata bulat dan rambut bergelombang, cenderung keriting. Banyak orang bilang, lebih cantik Kak Aneesha dari pada aku. Bahkan tetangga menyebut bunda dengan panggilan Bundanya Aneesha, bukan Bundanya Jenar.


Manusiawi bukan kalau aku iri? Meski bukan berarti benci pada kakakku, sebab aku sangat sayang padanya, seperti dia juga sangat menyayangiku. Namun, perlakuan orang-orang yang sering membandingkan antara aku dan Kak Neesha, tentu saja membuat perasaanku tidak nyaman.


Seperti Kak Lion yang membawa barang-barang kesukaan kakak sebagai oleh-oleh untukku. Kalau boleh jujur, hal ini menyakiti perasaan. Sama saja dia menganggapku sebagai Kak Neesha, padahal kami adalah dua manusia berbeda yang kebetulan memiliki hubungan darah. Wajah, sifat, sikap dan kegemaran kami hampir tidak ada yang sama. Salah jika Kak Lion menganggap aku bisa menggantikan posisi kakak di hatinya. Aku tidak ingin hanya dijadikan pelampiasan kasih tak sampai.


Dasar Kak Lion! STTS, sok tahu tapi salah. Harusnya aku meminta dia membawa kembali semua barang-barang ini tadi. Sayangnya, aku tidak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Rasanya tidak enak jika bersikap menyakiti orang yang baik padaku. Lagi pula masih bisa diberikan kepada orang lain, agar lebih bermanfaat.


Aku memutus pandangan dari menatap pintu pagar, lalu menunduk. Dalam hati aku mengasihani diri sendiri. Apakah terlalu tragis nasib yang sedang kualami? Ditinggal pergi calon suami untuk selamanya, hingga Kak Lion menganggap aku butuh sandaran pengganti? Kalau pun itu yang dia pikirkan, kenapa tidak mencoba mengenalku, dari pada menganggapku sama dengan Kak Neesha?


Embusan angin menerpa tubuh, mengibarkan jilbab dan ujung rok yang kupakai. Udara terasa dingin dan lembab, pasti karena mendung makin pekat. Aku menunduk kian dalam, suasana mendukung untuk merenung sejenak.


“Anak gadis siang-siang mendung begini duduk termenung sendirian.” Sebuah suara berhasil membuatku mendongak, “Hati-hati, lho. Weduse pa’e wingi mati (kambingnya bapak kemarin mati).” ucap Mbak Nanda lengkap dengan senyum bercandanya. Entah sejak kapan dia berdiri di hadapanku.


“Karena bengong, ya, Mbak?” tanyaku ingin tahu.


“Bukan, sih. Memang disembelih sama pa’e,” jawab Mbak Nanda sambil tertawa kecil, reflek aku pun ikut tertawa mendengar gurauannya.


“Kapan datang, Mbak?”


“Tuh, kan? Sampai nggak tahu kakaknya datang.” jawab Mbak Nanda seraya duduk di sebelahku.


“Sama siapa, Mbak?” tanyaku segera mengambil alih bayi lucu dari gendongan Mbak Nanda. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak segera menggendong bayi perempuan itu, setiap kali dia datang.


“Sama mas Faiz dan pa’e juga. Tuh! Langsung ngecek tukang renovasi, nyari Hara mungkin.” jawab Mbak Nanda setelah menyerahkan putri kecilnya.


“Pak Hara baru saja pulang,” jelasku.


“Oya? Kok, mobilnya masih di sini?” Mbak Nanda seolah tidak percaya padaku.


“Dia pulang bareng Kak Lion, katanya disuruh sama Kak Reyfan mobilnya ditinggal,” jelasku lagi


Mbak Nanda mengernyit, sepertinya dia tidak yakin dengan penjelasanku. Wajar, sih. Aku saja tidak yakin Kak Reyfan meminta Pak Hara meninggalkan mobil itu.


Aku bercerita kepada Mbak Nanda tentang kedatangan Kak Lion dan Pak Hara yang tiba-tiba bersikap aneh. Mbak Nanda tertawa setelah mendengar ceritaku, bahkan sampai terbahak.


“Ini Lion temannya Aneesha yang sering datang ke sini itu, kan?” Aku mengangguk menjawab pertanyaan Mbak Nanda.


“Bayangin wajah dia waktu diajak pergi sama Hara, pasti be te banget.” ucap Mbak Nanda di sela tawa.


“Tapi aku nggak habis pikir, ya, Mbak. Barang-barang yang dia kasih ke aku, itu kesukaan Kak Neesha semua. Kan, aku jadi sebel, Mbak.” aku menggerutu, menumpahkan kekesalan yang sejak tadi kupendam. Namun, Mbak Nanda malah makin tertawa.


“Eh! Kamu seharusnya berterima kasih sama Hara, lho. Kalau nggak ada dia, mungkin Lion masih di sini sampai sekarang dan kamu pasti bingung bagaimana cara mengusirnya.” ujar Mbak Nanda membuatku sadar akan sesuatu.


Dengan satu tangan, segera kuambil ponsel dari saku gamis. Beruntung putri kecil Mbak Nanda selalu nyaman dan tenang di pangkuan, jadi aku bisa leluasa mengirim pesan. Tidak menunggu lama setelah pesan yang kukirimkan terbaca, satu notifikasi balasan datang.


Terima kasih saja tidak cukup, kamu berhutang dua kali traktiran sama saya.


aku mengembuskan napas kasar setelah membaca pesan dari Pak Hara. Semoga dia tidak minta ditraktir yang mahal, uangku tidak akan cukup nanti. Membayangkan Pak Hara minta ditraktir makan di restorant berbintang membuat kepalaku mendadak pusing.


“Kenapa kamu malah bengong lagi, Jen?” tanya Mbak Nanda, pasti dia bisa membaca mimik wajahku yang mendadak lesu.


“Nggak apa-apa, Mbak. Cuma lagi mikirin sesuatu.” jawabku asal.


“Sesuatu atau seseorang, hayo?” aku tersenyum kecil menanggapi kelakar Mbak Nanda.


Yang dikatakan Mbak Nanda benar, aku memang sedang memikirkan sesuatu dan seseorang. Tentang bagaimana besok jika Kak Lion datang lagi, juga tentang hutang traktiran kepada Pak Hara. Sungguh lebih pusing dari pada memikirkan soal ujian.


***


Hara


Bukan baru pertama kali aku melihat interaksi antara pria dan wanita. Juga sudah biasa bertemu dengan sepasang manusia yang sedang melakukan pendekatan. Namun, saat Lion bicara dengan Jenar, entah mengapa konsentrasi pada pekerjaan jadi terbelah. Satu sisi ingin fokus menyelesaikan laporan, sedangkan sisi yang lain ingin mendengarkan pembicaraan mereka dengan lengkap.


Bukan seperti diriku saja, sejak kapan aku ingin ikut campur urusan orang lain? Apakah karena melihat Jenar menanggapi obrolan Lion dengan enggan? Atau karena semua barang yang dibawa oleh Lion adalah barang kesukaan Aneesha, bukan Jenar? Pria itu memang aneh, mendekati adiknya tapi yang diingat memori tentang kakaknya, miris.


Lion memang banyak bicara dan selalu punya akal untuk memancing obrolan dengan Jenar. Meski ditanggapi dengan malas, tapi Lion pantang menyerah. Makin lama Lion yang tidak paham dengan sikap Jenar, membuatku jengah. Laki-laki memang identik dengan sifat cuek, tapi bukan berarti tidak bisa membaca bahasa tubuh lawan bicara. Kalau begitu jatuhnya jadi tidak tahu malu.


Sebuah ide konyol tiba-tiba terlintas di kepala. Segera kuselesaikan pekerjaan, kemudian mengajak Lion pergi dengan alasan ingin menumpang mobilnya. Tentang alibi Reyfan meminta mobil ditinggal, muncul begitu saja tanpa direncana. Sungguh, ini kali pertama aku bersikap absurd dan mencampuri urusan orang lain. Kalau Reyfan dan Hamzah tahu, mereka pasti akan menertawakanku.


Aku berhasil mengajak Lion pergi, walau dia terus menggerutu sepanjang perjalanan. Aku memilih sibuk dengan ipad, tidak menghiraukannya. Namun, pertanyaan yang dia ajukan sambil menunjukkan sebuah foto pada layar ponsel berhasil menarik perhatian.


Aku melirik foto pada layar, lalu beralih menatap wajah Lion yang sedang fokus menyetir. Tangannya masih memegang ponsel seraya menoleh ke samping kiri sebentar.


“Itu foto tahun lalu, beberapa waktu setelah Aneesha dan Reyfan menikah. Saya sering ke Yogya, terus mampir ke kampus Jenar.” jelas Lion, padahal aku tidak meminta.


“Jenar manis, ya?” Lion bertanya dengan layar ponsel terus dihadapkan kepadaku.


Aku memerhatikan foto sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk di sebuah bangku taman. Di dalam foto itu, Jenar dan Lion duduk berjarak, tapi saling menatap seperti sedang berbicara hal yang menyenangkan.


“Saya sempat putus asa waktu Jenar dikhitbah orang lain, tapi sekarang saya merasa kesempatan itu datang lagi. Mungkin Alloh mengambil calon suami Jenar, karena Dia ingin menjodohkan kami. Ghufron meninggal, karena sebenarnya jodohnya Jenar adalah saya,” ujar Lion penuh percaya diri.


Aku menepis tangan Lion yang memegang ponsel sambil tersenyum sinis. Kata-kata yang diucapkan Lion membuatku ingin tertawa, tapi tentu saja kutahan agar tidak menyinggung perasaannya.


Bisa saja dia bicara dengan penuh percaya diri seperti itu, padahal strategi pendekatannya saja sudah salah sejak awal. Kurasa Tuhan tidak akan sebercanda itu menjodohkan sepasang manusia.


“Pak Hara tahu tidak, hadiah yang pas untuk cewek seperti Jenar?” Aku sedang berpikir, tapi Lion sudah menjawab pertanyaannya sendiri, “Ah! Pak Hara pasti tidak tahu. Soalnya saya tidak pernah lihat Pak Hara punya hubungan sama perempuan.”


Seperti ini memang kalau jadi orang punya tingkat percaya diri di atas rata-rata. Suka mengira sesuatu yang tidak benar-benar diketahui, istilah singkatnya sok tahu yang sering salah.


Aku tidak menanggapi dengan serius kata-kata Lion. Tidak terlalu penting penilaiannya terhadapku. Dia mau mengantarku pulang saja sudah cukup, sebab kami memang tidak begitu akrab.


Mbak Nabila sedang berdiri di teras rumah, saat aku turun dari mobil Lion, sepertinya dia baru saja pulang dari bepergian. Dia melihat kepergian Lion dengan tatapan ingin tahu.


“Diantar siapa kamu?” tanya Mbak Nabila dengan tidak melepas pandangan dari mobil Lion yang makin menjauh.


“Teman, Mbak,” jawabku singkat.


“Tadi pagi bukannya kamu bawa mobil sendiri? Kok, pulangnya diantar teman?” tanya Mbak Nabila lagi. Mungkin sudah menjadi sifat perempuan, selalu ingin tahu sampai detail terkecil.


“Saya tinggal di rumah Jenar, Mbak.” jawabku sambil melangkah masuk ke rumah.


Mbak Nabila mengekor di belakang, rupanya dia belum puas dengan jawabanku. Sebab, dia bertanya lagi, “kenapa ditinggal? Rusak, ya? Mogok, nggak bisa jalan?”


“Bukan, Mbak. Ya, saya tinggal di sana saja.” jawabku asal, karena hampir tidak bisa menemukan jawaban yang tepat. Mana mungkin aku mengatakan bahwa aku ingin mengajak pergi Lion dengan alasan Reyfan meminta mobil ditinggal? Mbak Nabila tidak akan paham situasi yang terjadi tadi, kan?


Aku baru saja akan melangkah ke belakang, saat ponsel dalam saku bergetar tanda ada pesan masuk. Segera kuambil, melihat kalau-kalau pesan penting dan harus segera dibalas.


Aku memicingkan mata saat membaca beberapa baris pesan dari Jenar.


Pak Hara, saya mau ngucapin makasih sama bapak karena telah mengajak Kak Lion pergi. Kalau tadi tidak ada bapak, mungkin sekarang Kak Lion masih di sini dan saya tidak enak hati mengusirnya.


Terbersit ide nakal untuk mengerjai gadis itu. Kuketik pesan balasan, tanpa berlama-lama segera mengirimkannya. Tanpa sadar dua sudut bibirku terangkat, saat membaca kembali pesan yang kukirimkan. Mungkin sekarang gadis itu sedang menggerutu karena permintaanku.


“Chat dari siapa? Bacanya, kok, senyum-senyum gitu?” Suara lirih itu membuatku terkejut dan reflek menoleh ke samping. Mbak Nabila sedang memanjangkan leher, hendak mengintip isi pesan pada ponselku.


Tanpa keluar dari roomchat, segera kumatikan layar dan memasukkan kembali ponsel ke saku celana. Lalu aku bergegas pergi sambil menjawab singkat, “bukan dari siapa-siapa, Mbak.”


“Ah! Masa? Jarang sekali kamu baca chat sambil senyum gitu, lho. Pasti chat spesial dari orang spesial. Iya, kan?” tanya Mbak Nabila sebelum aku masuk ke kamar mandi.


“Nggak ada orang spesial, Mbak.” jawabku.


“Ada juga nggak salah, kok. Kamu, kan, masih lajang.”


Aku menggelengkan kepala, mengurungkan niat masuk ke kamar mandi. Mbak Nabila tidak akan berhenti bertanya kalau belum mendapat jawaban seperti yang diinginkan. Lihat! Dia masih saja mengejar dengan pertanyaan bernada rayuan.


“Beneran nggak mau kasih tahu Mbak?”


“Kenapa mbak jadi penasaran? Mbak tahu tidak? Kalau punya rasa ingin tahu yang terlalu tinggi, bisa berujung kecewa, lho.” ucapku dengan nada mengintimidasi agar Mbak Nabila berhenti ingin tahu.


“Itu kalau terlalu penasaran. Mbak, kan, cuma pengen tahu, bukan pengen tahu banget.” Bukan Mbak Nabila kalau tidak punya sejuta cara agar aku membuka rahasia. Namun, kali ini aku tidak akan goyah. Sebab, memang tidak ada orang spesial apalagi chat istimewa.


“Hara?”


Aku membuang napas kasar sebelum menjawab, “Memang tidak ada yang spesial, Mbak. Tadi cuma chat dari teman, bukan siapa-siapa.”


“Oh, teman perempuan?”


Ya, Tuhan! Bagaimana bisa Engkau kirimkan seorang kakak perempuan yang jiwa keingintahuannya besar sekali? Parahnya, aku hampir tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Mbak Nabila. Beruntung Naufal datang, berhasil menginterupsi serangan kepo dari Mbak Nabila. Aku tidak pernah menyangka, jika akan mengalami hidup yang selucu ini.


Dari semua peristiwa hari ini, terselip sebuah pertanyaan dalam benak. Sikap responsif yang cenderung aneh, tanpa sadar terbawa oleh perasaan. Apa yang sedang kulakukan? Apakah aku sedang bermain-main dengan hati?


.


.


.


Hai teman-teman ....


Ijin libur sampai sabtu, ya. Biar bisa bagi waktu sama yang di sana, hehe. Penasaran, kan? Kira-kira di bab selanjutnya sudah ada sparkling love belum? Tunggu, ya. 😊