
🌵Kadang ada dorongan untuk bersikap tidak sesuai dengan logika, tapi justru biasanya dorongan itu berasal dari hati yang paling dalam.🌵
Author.
“Apa kabar, Pak Hara?” Lion melepas sepatu, naik ke gazebo lalu duduk di sebelah Hara yang tidak mengalihkan perhatian dari layar laptop.
“Sibuk banget, Pak?” tanya Lion, yang hanya dijawab dengan gumaman oleh Hara.
Lion mengambil sebuah kantong kresek berukuran besar yang ia letakkan di dekat gazebo, melongok isinya sebentar kemudian meletakkannya begitu saja di sebelahnya. Hara mencuri pandang sejenak, lalu fokus kembali pada pekerjaannya. Kedua pria itu saling diam. Hara sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Lion sibuk dengan menatap barang bawaannya.
Tak berselang lama, Hara beranjak dari duduk. Melihat hal itu, Lion mendongak sambil bertanya, “mau ke mana, Pak?”
“Bikin kopi, ngantuk saya,” jawab Hara singkat seraya mengambil cangkir yang hanya tersisa ampas kopi di bagian dasarnya saja.
Lion menatap kepergian Hara sampai menghilang di balik pintu. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana, pasti hendak mengambil gambar yang bisa di pasang sebagai status di sosial media. Dia memang aktif membagikan moment di sosial media, apa pun dipamerkan kepada khalayak dunia maya.
Sementara itu, langkah Hara terhenti di depan dapur karena melihat Jenar dan Mbak Sayumi yang sedang berbincang di sana. Dua perempuan itu tidak menyadari keberadaan Hara, sampai ia berdehem, menginterupsi.
“Eh! Juragane sarkem. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Mbak Sayumi. Hanya karena obrolan singkat dengan Reyfan dulu, ia jadi terbiasa memanggil Hara dengan sebutan juragan pasar kembang. Padahal sekali saja Hara belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu.
Hara mengangkat cangkir yang dia bawa, “kopi saya habis.”
“Oh! Ya, sini, tak buatkan!” Mbak Sayumi mengulurkan tangan, meminta cangkir kepada Hara.
Namun, Hara menggeleng seraya menjawab, “saya bikin sendiri saja. Mbak Sayumi bikin kopinya terlalu manis. Maaf, saya tidak suka.”
“Whela, yo wis nek ngunu. Aku ne lakyo manis, to. Dadi gawe kopi, yo kudu manis, (Ya, sudah kalau begitu. Saya ini, kan, manis. Jadi bikin kopi juga harus manis, dong.)” ujar Mbak Sayumi penuh percaya diri. Ia lalu bergeser ke belakang Jenar, memberi akses kepada Hara.
Tanpa mengatakan apa-apa, Hara melangkah mendekati kitchen island dan mengambil cangkir bersih. Karena sudah terbiasa membuat minuman sendiri di rumah itu, tentu saja ia hafal di mana tempat menyimpan kopi. Jemarinya bergerak menyentuh toples bertuliskan jenis kopi yang tertata rapi pada lemari penyimpanan. Ia memilih toples bertuliskan kopi gayo, segera mengambil dua sendok bubuk kopi lalu menuangkannya pada cangkir.
“Hati-hati! Air panasnya baru saja mendidih.” ucap Mbak Sayumi memberi peringatan.
Hara hanya mengangguk, dengan hati-hati ia menyeduh kopi tanpa memberi tambahan gula. Harum aroma kopi menguar, saat air panas bercampur dengan bubuk coklat kehitaman itu.
Tanpa sadar, Jenar menghirup aroma menenangkan itu dalam-dalam sambil memejamkan mata. Ia sangat menyukai bau seduhan kopi, karena bisa menenangkan pikiran.
“Tehnya nggak dibawa keluar?” tanya Hara, melirik cangkir berisi teh yang sudah siap di atas nampan.
Seketika Jenar membuka mata, suara Hara berhasil menyadarkannya. Ia menggaruk kepala yang tertutup jilbab, tentu saja bukan karena gatal.
“Minuman buat Lion, kan?” tanya Hara lagi yang dijawab dengan mengangguk oleh Jenar.
“Keburu dingin kalau tidak segera dihidangkan.” ucap Hara tanpa mengalihkan fokus dari mengaduk kopi.
Entah mengapa Jenar tiba-tiba merasa kikuk. Otaknya memerintah untuk mengambil nampan, tapi tangan kanannya bergerak membetulkan jilbab yang masih terpasang rapi membingkai wajah.
“Ehm … Pak Hara mau dibawakan sekalian kopinya?” tanya Jenar.
Hara menggeleng, menjawab dengan singkat, “terima kasih, saya bisa bawa sendiri.”
“Oh, ya.” gumam Jenar sedikit terbata, sangat terbaca kalau dia sedang gugup.
Hara melirik Jenar yang tidak segera mengambil nampan, tapi malah seperti orang yang sedang salah tingkah. Berhasil membuat sudut bibir kanannya terangkat sedikit.
“Kamu kenapa?” tanya Hara dengan menoleh sempurna ke samping kiri, tempat Jenar berdiri.
“Ng-gak, sa-ya ti-dak apa-apa,” jawab Jenar terbata, kali ini ia benar-benar merasa gugup.
Hara mengangkat bahu, sedangkan Mbak Sayumi menutup mulut dengan telapak tangan agar tidak tertawa. Diantara mereka bertiga hanya Jenar yang terlihat salah tingkah. Mbak Sayumi tahu pasti apa yang menyebabkan majikannya bersikap seperti itu. Pasti karena sedang di dekat Hara, Jenar pasti malu karena ingat kejadian kemarin waktu diantar pulang oleh Hara.
Ia menyikut lengan Jenar, lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan, “lek uwes, mumpung wonge ning kene!” (Gegas, mumpung orangnya di sini!)
Antara malu dan ragu ingin mulai bicara, justru Jenar terlihat menjadi makin salah tingkah. Ditambah Mbak Sayumi yang terus menyikut dan memberi kode agar Jenar segera bicara, Jenar jadi makin merasa gugup.
Hara bukan tidak tahu tingkah aneh dua perempuan itu, tapi dia berlagak tidak ingin menghiraukan. Bahkan setelah selesai membuat kopi, ia segera membawanya pergi. Namun, baru beberapa langkah, Jenar menahan kepergian Hara.
“Pak Hara, tunggu!” seru Jenar ketika tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala.
Hara berhenti, berbalik badan sambil menyesap sedikit kopi yang masih mengepulkan asap panas. Ia melihat Jenar ragu-ragu mendekat dengan jemari saling bertaut, khas kalau gadis itu sedang merasa canggung.
“Sa-ya ingin bicara sebentar, bisa?” ucap Jenar ragu-ragu.
“Bicara sama saya?” tanya Hara sok tidak tahu sambil menoleh kanan kiri. Sudah jelas hanya ada dia, Jenar dan Mbak Sayumi di dapur sempit itu. Mana mungkin Jenar ingin bicara dengan Mbak Sayumi tapi nama Hara yang dipanggil? Sungguh pertanyaan yang konyol.
Jenar mengangguk, tapi tidak segera mulai berkata. Sampai Hara menyesap kopi untuk kedua kali, Jenar pun masih diam dengan terus memainkan pertautan jemari.
“Bicara apa?” tanya Hara, setelah beberapa detik Jenar terus bergeming.
“Ehm …,” Jenar berusaha sekuat tenaga agar bisa bicara dengan lancar, “soal kemarin lusa, saya belum ngucapin terima kasih sama bapak.”
Hara belum menjawab, sebab Jenar terlihat masih ingin melanjutkan kalimat. Sedikit terbata, gadis itu berkata, “saya juga minta maaf, sudah merepotkan Pak Hara.”
Jenar sudah harap-harap cemas, kira-kira jawaban apa yang akan dikatakan oleh Hara. Ternyata Hara hanya menggumamkan kata ‘oh’ lalu kembali menyesap kopinya. Padahal wajah Jenar sudah bersemu merah, menahan malu. Keringat pun membasahi ujung jilbab karena berusaha dengan keras agar bisa bersikap normal, tidak gugup.
“Tunggu, Pak!” cegah Jenar, ketika Hara telah berbalik badan hendak melangkah, ia berkata dengan nada pelan, “saya belum selesai bicara.”
Hara mengernyit, menunggu apa yang akan dikatakan gadis lugu di hadapannya itu. Dia pikir Jenar hanya ingin mengatakan terima kasih dan minta maaf, tapi ternyata masih ada yang lain.
“Kalau boleh saya mau minta tolong sekali lagi,” pinta Jenar.
“Minta tolong apa?” tanya Hara.
Ragu-ragu Jenar berkata, “Tolong, Pak Hara temani Kak Lion ngobrol, ya?”
“Kenapa saya yang harus temani dia ngobrol? Bukannya dia datang untuk menemui kamu?”
Jenar menundukkan kepala, khawatir jika permintaan absurdnya menyinggung Hara. Dia juga heran kenapa ide tidak jelas itu muncul begitu saja saat memikirkan bagaimana cara menghindar dari Lion.
“Di rumah ini ada banyak orang, kenapa harus saya yang menemani Lion? Lagi pula saya tidak akrab dengan dia,” jelas Hara. Setelah mengatakan itu, ia pergi begitu saja, tanpa menunggu Jenar menjelaskan tentang permintaannya.
Jenar membuang napas kasar, lalu berbalik badan. Ia mengambil beberapa toples yang baru saja diisi makanan ringan oleh Mbak Sayumi, meletakkannya di atas nampan. Kemudian ia membawa nampan itu keluar dari dapur.
“Mbak, temani, ya?” pinta Jenar dengan sorot mata penuh permohonan kepada Mbak Sayumi.
“Iyo,” jawab Mbak Sayumi, lalu mengekor langkah Jenar.
Begitu melihat Jenar datang membawa nampan berisi sebuah cangkir dan beberapa toples kecil, Lion segera menyambut. Ia mengambil alih nampan dari tangan Jenar, seolah tidak ingin gadis itu repot membawanya.
“Harusnya asisten rumah tangga yang bawa nampan ini, bukan kamu,” ucap Lion seraya melihat remeh ke arah Mbak Sayumi.
Jenar merasa tidak enak hati dengan Mbak Sayumi, karena ucapan Lion. Mbak Sayumi memang asisten rumah tangga di rumah itu, tapi bukan berarti semua pekerjaan harus dia yang melakukan. Apalagi hanya sekedar menyajikan minuman dan makanan ringan untuk tamu.
Namun, Jenar tidak ingin membahas masalah tersebut. Ia justru mengalihkan topik pembicaraan ke hal lain. Sebab, ia tidak suka membahas hal sepele yang nantinya akan menjadi perdebatan panjang.
“Bawa tanaman hiasnya banyak sekali, Kak?” tanya Jenar sambil melirik bermacam-macam tanaman hias yang dibawa Lion.
Lion mengangkat sebuah pot tanaman hias daunnya berbentuk seperti hati dan berwarna merah gradasi hijau, “Lihat! Ini namanya caladium, biasa disebut keladi. Ada banyak macamnya, semakin cerah warna daunnya, semakin mahal harganya.”
“Kalau yang ini suplir,” Lion mengangkat pot lain tanaman hias lain. Bentuk daun tanaman itu rimbun kecil-kecil dan dikelilingi bintik-bintik hitam di bagian bawah.
“Yang ini calathea, ini aglonema, ini …,” Lion menjelaskan nama-nama tanaman hias yang ia bawa. Jenar yang tidak begitu tahu tentang tanaman hias, hanya mendengarkan dengan sesekali mengangguk.
“Ini semua spesial saya bawakan buat kamu, bisa ditaruh di taman atau depan rumah sana. Kamu pasti suka, deh. Pasti jadi semangat berkebun, iya, kan?” Lion menggerakkan kedua alis, sebagai isyarat bahwa dia memberi hadiah yang tepat kepada Jenar.
Mbak Sayumi yang berdiri di belakang Jenar mengangkat kedua bahu. Ia sangat tahu, bahwa Jenar tidak suka berkebun. Jangankan berkebun, menyiram tanaman saja tidak pernah dilakukan oleh majikannya itu. Memberi hadiah berupa tanaman hias kepada Jenar, hanya akan menambah pekerjaan Mbak Sayumi saja.
“Oh, ya! Saya juga bawa eskrim buat kamu. Sebentar! Semoga belum mencair, ya.” Lion mengambil mengambil kantong plastik yang diletakkan di gazebo.
Ia mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil yang permukaannya sedikit basah, “Untung belum mencair. Sengaja saya beli di minimarket sana, agar sampai sini masih beku.”
Ragu-ragu Jenar menerima pemberian Lion. Sudah jelas apa isi kantong plastik itu, pasti eskrim coklat-vanila dalam box besar. Sebab, bukan baru kali ini Lion membawakan eskrim yang sama sekali tidak ia sukai.
“Cepat dimakan, keburu mencair, lho. Tidak enak, nanti!” perintah Lion.
Jenar tersenyum sebelum menjawab, “nanti saja, Kak. Nggak akan habis kalau segini saya makan sendiri, lagi pula sudah lama sekali saya tidak makan eskrim.”
“Oya? Bukannya kamu suka banget sama eskrim?” tanya Lion, seolah tidak percaya dengan ucapan Jenar.
“Mungkin kakak lupa, kalau yang suka eskrim itu Kak Neesha, bukan saya.” jawab Jenar seraya mengulurkan kantong plastik kepada Mbak Sayumi, “tolong simpan di kulkas, ya, Mbak.”
Tanpa menjawab, Mbak Sayumi menerima eskrim dan segera melesat pergi. Lion jadi sedikit merasa bersalah, tapi ia tidak kehabisan akal untuk memperbaiki keadaan. Segera ia mengambil kantong plastik yang masih tergeletak di gazebo, memberikannya kepada Jenar.
“Kalau coklat kamu pasti suka, kan? Saya beli banyak coklat, ada juga coklat bubuk yang bisa dibuat minuman. Kamu pasti suka, kan?”
Jenar menerima kantong plastik sambil menunduk dan menipiskan bibir. Lalu ia menjawab setelah berhasil menahan senyum, “Kak Lion lupa lagi kalau yang suka coklat itu Kak Neesha, bukan saya.”
Lion menggaruk kepala yang tentu saja tidak gatal. Ia menatap kantong plastik di tangan Jenar dan tanaman hias secara bergantian. Makin terbersit rasa bersalah dalam hati, karena salah membawakan oleh-oleh.
“Kamu juga tidak suka tanaman hias, ya?” tanya Lion yang sudah bisa menebak jawabannya.
Jenar menggeleng, menipiskan bibir lagi untuk menahan senyum. Walau ia tahu semua barang yang dibawa Lion bukan barang kesukaannya, tapi ia tetap ingin menghargai pemberian pria itu.
“Maaf, ya! Saya pikir kamu suka,” ucap Lion dengan nada penuh sesal.
“Nggak apa-apa, Kak. Terima kasih sekali kakak bawakan banyak oleh-oleh buat saya, semua ini manfaat banget, kok.” jawab Jenar tulus, tapi terdengar seperti sindiran di telinga Lion.
“Diminum tehnya, Kak. Masa dianggurin dari tadi,” ujar Jenar ingin mencairkan suasana, agar Lion tidak merasa malu.
Lion dan Jenar masing-masing duduk di sudut gazebo, di depan Hara. Mereka berdua berbincang, seolah tidak ada orang lain di gazebo itu. Sementara, Hara pun sibuk dengan pekerjaannya, meski kadang tidak sengaja mendengar pembicaraan dua manusia di depannya.
Lama-kelamaan Hara jengah mendengar Lion yang terus bicara, sedangkan Jenar hanya menanggapi dengan enggan. Gadis itu seperti hanya menjaga sopan santun agar tidak menyinggung perasaan Lion. Padahal dari gestur tubuh sangat terbaca jika Jenar sudah enggan berbincang lebih lama lagi.
Hara yang telah menyelesaikan pekerjaan, segera membereskan barang-barang. Ia menutup laptop sambil menginterupsi Lion yang sedang bicara dengan Jenar, “Li! Kamu mau ke Yogya, kan?”
“Iya. Ada apa memangnya?” tanya Lion ketus sebab keasyikan ngobrolnya terganggu.
“Saya bareng, ya?” pinta Hara.
“Memangnya Pak Hara mau ke mana?” tanya Lion.
“Mau pulang,” jawab Hara singkat.
“Pak Hara, kan, bawa mobil sendiri. Ngapain bareng saya?” Lion melirik mobil MPV hitam yang terparkir di dekat jeepnya. Sudah bisa dipastikan itu mobil yang biasa dikendarai oleh Hara.
“Reyfan minta mobil itu ditinggal di sini. Dari pada saya naik taksi, lebih baik bareng kamu. Boleh, kan, nebeng?”
“Boleh saja, sih. Tapi saya belum mau pergi, Pak. Masih pengin ngobrol sama Jenar.” jawab Lion jujur.
“Jenar sebentar lagi mau ngajar ngaji, lebih baik kita pergi sekarang. Sudah mau hujan juga, ini!” ucap Hara dengan nada memaksa. Ia memberikan map kepada Jenar sambil berkata, “tolong ini berikan ke Pakde Teguh, ya. Bilang, kalau upah tukang untuk minggu ini sudah saya bayar.”
Jenar mengangguk sambil menerima map. Mulutnya sudah terbuka ingin bertanya, tapi Hara lebih dulu menepuk bahu Lion, sebagai isyarat mengajak pergi.
“Ah! Pak Hara ganggu orang ngobrol saja, deh. Saya, kan, masih ingin di sini, Pak.” ucap Lion keberatan.
“Besok ngobrol lagi, kan, bisa? Sekarang antar saya pulang, keburu hujan,” jawab Hara tidak ingin menerima sanggahan, seraya menunjuk langit yang memang sudah mendung.
“Ini namanya pemaksaan!” gerutu Lion.
Namun, dia tidak bisa menolak permintaan Hara. Dengan terpaksa Lion berpamitan kepada Jenar, padahal sebenarnya ia masih ingin berlama-lama duduk berdua dengan gadis itu. Kesenangannya terganggu karena Hara.
“Nanti saya chat kalau sudah sampai Yogya, ya. Assalamu’alaikum …,” pamit Lion.
“Wa’alaikum salam. Hati-hati, ya, Kak.” jawab Jenar.
Sambil berjalan mundur, Lion menggerakkan bibir tanpa suara, “besok saya mampir lagi.”
Jenar hanya menjawab dengan senyum tipis. Walau merasa lega, tapi sebenarnya ia menyimpan pertanyaan dalam hati. Mengapa tiba-tiba Hara mengajak Lion pergi, padahal sejak tadi pria itu sibuk bekerja, sama sekali tidak peduli dengannya maupun Lion. Soal mobil, pasti itu hanya alasan Hara saja. Tidak mungkin Reyfan minta mobil perusahaan ditinggal, sedangkan di rumah itu garasi sudah penuh dengan mobil koleksinya. Alasan dan sikap aneh yang berhasio membuat Jenar penasaran.
.
.
.
Hai-hai, kejutan di hari minggu😁
Kira-kira setelah ini, apa yang akan terjadi diantara Hara, Jenar dan Lion? Rupanya Lion sudah melancarkan serangan PDKT, nih. Walaupun yang dia lakukan adalah kesalahan besar. Masa bawa oleh-oleh barang kesukaan kakaknya, sih? Bagaimana itu Lion? Mungkin nggak, ya, dia bisa membuat Jenar membuka hati?
Tunggu kelanjutannya, ya teman-teman😁