
🌹Setiap orang punya sifat yang berbeda-beda, ada yang suka berbagi cerita, ada yang sebaliknya. Aku adalah seorang perempuan yang lebih suka mengatasi masalahku sendiri, tanpa bercerita kepada orang lain.🌹
Jenar.
Setelah mendengar penjelasan Kak Danish dan Kak Varen, aku merasa sedikit lega. Meskipun belum sepenuhnya bisa menghilangkan rasa khawatir, tapi setidaknya sedikit berkurang. Aku jadi memikirkan kemungkinan untuk mengatasi phobia yang kualami dan butuh menemukan caranya.
Kalau saja Kak Neesha belum menikah dan kami masih tinggal serumah, pasti aku sudah bertukar cerita dengannya. Seperti dulu, aku dan Kak Neesha bisa bebas bercerita tentang banyak hal. Tentang sekolah, teman-teman, buku yang sedang dibaca, berita yang sedang hits, bahkan pria yang sedang kami sukai.
Namun, kini keadaan telah berbeda. Semenjak Kak Neesha menikah dan kami berjauhan, aku jadi sungkan berbagi isi hati. Khawatir kalau-kalau akan mengganggu, karena aku tidak tahu bagaimana keadaan kakak di sana. Padahal hanya Kak Neesha yang selalu bisa memahami dan aku merasa nyaman bertukar pikiran dengannya.
Saat tahu Mas Ghufron sakit, pertama kali yang kutelepon adalah Kak Neesha. Kuceritakan semua padanya, karena waktu itu aku tidak tahu siapa yang bisa membantu. Namun, sekarang rasanya tidak mungkin menelpon dan merepotkan kakakku lagi. Dia sedang hamil, aku tidak ingin menambah beban pikirannya.
Jadi ingat, waktu pertama kali aku memberanikan diri bercerita kepada Mas Ghufron. Berawal dari dia yang bertanya kenapa aku selalu membawa kopi bubuk kemasan sachet di dalam tas. Bahkan dia pernah memergokiku saat sedang menghirup kopi bubuk.
Dia tidak mendesak, tapi kesungguhan yang diperlihatkan, membuatku berani untuk bercerita. Meski tidak semua kuceritakan, hanya garis besarnya saja. Awalnya aku takut dia akan menjauh, ternyata Mas Ghufron malah menawarkan bantuan. Dia berjanji akan mengajakku ke psikiater, tapi Tuhan tidak mengijinkan janji itu terlaksana.
Sekarang aku tidak tahu kepada siapa harus berbagi cerita. Tidak mudah menemukan orang yang dapat dipercaya dan nyaman untuk mengungkapkan perasaan. Nasib memang menjadi perempuan yang tidak punya banyak teman sepertiku.
Aku menengadah, menatap langit kelam bertabur bintang-bintang. Seperti taburan intan di atas selembar kain pekat. Indah sekali malam ini, bintang-bintang terlihat jelas. Meski rembulan tidak nampak, tapi tidak mengurangi indahnya pemandangan di angkasa.
Suara binatang malam terdengar nyaring, sahut menyahut bak melodi alam yang unik. Nyanyian kodok yang terdengar dari area persawahan di sebelah rumah, membuat suasana malam tidak lagi terasa begitu sunyi. Kurentangkan tangan ke belakang, untuk menyangga tubuh. Menghayati irama musik alam dalam kesendirian.
“Diundang-undang ora semaur, jebul bocahe ngalamun ning kene!” Aku menoleh sejenak, melihat Mbak Sayumi mendekat sambil bersungut-sungut. (Dipanggil tidak jawab, ternyata anaknya melamun di sini.)
“Anak gadis tidak boleh keseringan melamun, sendirian lagi. Rawan dirasuki jin, loh.” tutur Mbak Sayumi yang kini sudah duduk di sampingku.
“Saya tidak melamun, Mbak. Hanya sedang menikmati pemandangan langit malam yang cerah.” jawabku menyanggah, “Ada apa mencari saya?”
“Makan malam sudah siap,” jawab Mbak Sayumi.
Aku mendengar helaan napas panjang, lalu bunyi papan gazebo berderit. Mbak Sayumi mengangkat kaki, menggeser duduk jadi sedikit ke tengah, bersandar pada tiang gazebo.
“Sing uwes, yo, uwes. Rasah digetuni, kabeh mau wes dadi dalane, Gusti Alloh preso opo sing apik kanggo sampeyan.” (Yang sudah, ya, sudah. Tidak usah disesali, semua sudah menjadi jalannya, Alloh tahu apa yang baik untuk kamu.)
Aku tersenyum miris, mendengar nasehat bijaksana Mbak Sayumi. Dia seolah tahu apa yang sedang kupikirkan. Perempuan ini walaupun sok tahu, tapi setiap ucapannya sering terselip wejangan yang bermakna.
“Mbak Sayumi sok tahu, ih.” Aku mencibir sambil menggoyangkan kaki, memainkan sandal.
“Saya ingat, waktu keluarga Mas Ghufron mau datang untuk melamar. Bu Riani cerita sama saya, kalau Mbak Jenar mimpi melihat pohon pisang setelah salat istikharah.” Aku berhenti menggoyangkan kaki, fokus pada penuturan Mbak sayumi.
“Mbak Jenar tahu artinya apa?” tanya Mbak Sayumi. Aku menggeleng, walaupun dalam hati bisa menebak jawabannya.
“Kalau sekarang mungkin Mbak Jenar mengartikan mimpi itu sebagai firasat tentang kematian Mas Ghufron. Waktu itu, saya dan Bu Riani tidak berpendapat seperti itu. Karena pohon pisang itu banyak manfaatnya, dari buah, daun, jantung, sampai pelepahnya … semua bisa dimanfaatkan. Pohon pisang juga mudah sekali berkembang biak, kita menanam satu pelepah pisang saja, bisa jadi tumbuh puluhan tunas lain.” Mbak Sayumi menjeda kalimat untuk mengambil napas.
“Sayangnya, pohon pisang itu umurnya pendek. Hanya berbuah sekali lalu dia mati, setelah itu tumbuh tunas baru. Mas Ghufron itu seperti pohon pisang yang hidupnya sangat bermanfaat untuk banyak orang, termasuk Mbak Jenar. Tapi umurnya tidak panjang,” tutur Mbak Sayumi.
“Saya bisa melihat, jika kehadiran Mas Ghufron sangat bermanfaat. Bukan hanya untuk Mbak Jenar, tapi semua orang. Pak Fares saja sampai getun (kecewa) banget, waktu Mas Ghufron meninggal.”
Aku membuang napas seraya menengadah, menghalau bulir-bulir air yang hendak mendesak keluar dari pelupuk mata. Semilir angin malam menerpa wajah, menyapu kaca-kaca bening sehingga tidak sampai jatuh ke pipi. Dada ini masih saja terasa sesak jika mengingat kepergian Mas Ghufron, masih terasa nyeri di dalam sana. Luka itu belum juga tertutup rapat, rupanya. Ah, kenapa juga Mbak Sayumi harus berbicara tentang dia malam ini?
“Yang penting, sekarang Mbak Jenar harus yakin. Jika Alloh mengambil sesuatu yang sangat berharga dari kita, itu artinya Dia sudah menyiapkan sesuatu lain yang lebih baik.” Mbak Sayumi menepuk pundakku.
Aku menoleh ke arahnya, tersenyum. Suasana malam yang tenang, sepertinya membuat Mbak Sayumi jadi lebih bijaksana. Pantas Kak Neesha betah tinggal di sini dulu, karena yang menemani orangnya asyik.
“Mbak Say tidak sedang kesambet jin pohon bambu, kan?” aku mencoba bercanda.
“Bukan jin pohon bambu, Mbak. Tapi jin batu besar yang ada di sawah sana!”
Mbak Sayumi menunjuk ke depan, sisi halaman yang berbatasan langsung dengan area persawahan. Tanpa pagar, hanya ditanami pohon-pohon kersen yang berjajar. Memungkinkan untuk bisa melihat pemandangan sawah dari tempat kami duduk.
Aku tertawa, mendengar Mbak Sayumi berkelakar. Mungkin kalau Kak Neesha yang diajak bercanda seperti ini, sudah pasti dia lari ketakutan. Namun, tidak denganku. Aku tidak takut gelap seperti Kak Neesha, yang kutakutkan justru suatu hal sepele yang bagi orang lain adalah hal menyenangkan.
“Mbak Say?” aku memanggil Mbak Sayumi.
Mbak Sayumi mengarahkan wajah, lurus menatapku. Aku pun segera mengutarakan pertanyaan yang tadi bekelebat dalam otak, “Mbak Say pernah punya phobia? Ehm … maksud saya takut sama apa gitu?”
“Phobia?” Mbak Sayumi bertanya, aku menggangguk sebagai jawaban.
“Kalau takut, ya, takut hantu mungkin. Walaupun sampai sekarang saya belum pernah lihat hantu itu seperti apa,” jawab Mbak Sayumi ragu.
“Bukan takut yang seperti itu, Mbak. Maksud saya, Mbak pernah nggak takut sama sesuatu yang sampai parah banget, gitu. Misalnya takut sama ular sampai cuma denger kata ular saja takut gitu, padahal belum lihat wujudnya,” jelasku.
Aku memilih bertanya kepada Mbak Sayumi, satu-satunya orang yang sering kutemui saat ini. Mungkin dari sosok sederhana ini aku bisa menemukan jawaban tentang bagaimana mengatasi phobiaku. Jujur saja, sudah lama aku ingin bisa berbaur dengan banyak orang seperti dulu, tanpa ada rasa khawatir trauma itu datang.
Aku melihat Mbak Sayumi mengerutkan dahi, seperti orang yang sedang berpikir.
Aku mengerti. Memang jarang orang yang punya trauma sampai ketakutan. Kebanyakan mereka masih mampu mengatasi rasa takut yang wajar, tidak sepertiku.
“Memangnya kenapa, Mbak? Mbak Jenar takut apa?” tanya Mbak Sayumi ingin tahu.
Aku menggeleng seraya memaksakan senyum, “Nggak, Mbak. Bukan saya, kok.”
Aku berusaha bersikap biasa saja, jangan sampai Mbak Sayumi curiga. Sebab, aku masih belum ingin orang lain tahu tentang keadaanku. Lebih baik kusembunyikan, sampai bisa menemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini.
“Masuk, yuk, Mbak!” ajakku seraya berdiri.
“Lho! Wes rampung to iki, mau le takon?” ujar Mbak Sayumi. (Sudah selesai, to, ini pertanyaannya?)
Aku tersenyum sambil menarik tangan Mbak Sayumi, “Sampun, Mbak. Monggo dahar riyen, pun lesu.” (Sudah, Mbak. Ayo makan dulu, sudah lapar).
Lebih baik cukup sampai di sini membahas tentang phobia dengan Mbak Sayumi. Percuma, karena aku tidak akan mendapat jawaban darinya. Mungkin aku harus bertanya kepada orang lain, atau mencari jawaban dengan caraku sendiri.
***
Ada orang yang dengan mudah bisa menceritakan isi hatinya kepada orang lain, ada juga yang tidak. Aku termasuk orang yang sulit berbagi cerita. Sudah kucoba menyampaikan isi hati, tapi setiap kali akan terucap, susunan kalimat yang telah kusiapkan seolah buyar. Enggan untuk dikeluarkan, bahkan hanya tertahan di kepala. Ada rasa takut, khawatir, juga malu, jika sampai orang lain tahu tentang keadaanku.
Kubuka buku harian, salah satu cara untuk mengungkapkan isi hati tanpa rasa khawatir orang lain akan tahu. Pandanganku beralih ke layar laptop di hadapan, membaca deretan-deratan kalimat yang tertera di sana. Sudah kali ke sekian aku membacanya, pun banyak artikel serupa yang tersimpan di folder, tapi belum ada satu pun yang kupraktekkan.
Kuhela napas dalam-dalam, menyalin satu demi satu kalimat yang tertera di layar laptop ke dalam buku. Artikel yang paling relevan diantara puluhan artikel serupa, hasil pencarian semalaman. Ditulis oleh seorang Psikolog dengan judul : Gangguan Stress Pasca Trauma.
Artikel ini paling lengkap dibanding yang lain. Menjelaskan apa yang disebut Post Traumatic Syndrome Disorder (gangguan mental pasca trauma). Tidak hanya dialami oleh korban pelecehan se ks ual saja. Namun, bisa juga karena kecelakan, perampokan, atau bencana alam. Ada juga penjelasan tentang bagaimana cara mengatasi gangguan mental setelah mengalami trauma.
Ya, aku memutuskan untuk mencari jawaban dengan caraku sendiri, tidak bertanya kepada orang lain. Jaman sekarang, apa pun bisa dicari di internet, tapi harus bisa menyaring informasi yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Bukan hanya artikel asal-asalan yang bisa jadi malah menambah parah keadaan.
Jemariku terhenti, saat akan menulis bagian kesimpulan dari artikel sebanyak delapan halaman itu. Sekali lagi kuhela napas, membaca ulang dua paragraf terakhir artikel tersebut.
Cara pertama adalah dengan pengobatan secara farmakorapi (terapi obat) dan pskoterapi (terapi mental).
Perlahan kubaca macam-macam terapi mental untuk mengobati gangguan setelah trauma, ternyata banyak sekali. Obat yang digunakan juga beragam jenisnya, bukan hanya cukup obat anti depresan saja. Sesuai dengan keadaan pasien, setelah sesi konsultasi dengan psikiater.
Ya, Alloh! Ternyata rumit sekali. Kupikir tadi ada cara yang lebih mudah, tanpa berkonsultasi dengan psikiater. Kalau ke psikiater, pasti mahal. Dari mana aku bisa mendapat uang? Mengandalkan kiriman bunda dan Kak Neesha? Atau tabungan hasil jualan online? Sepertinya tidak akan cukup, sebab belum pasti berapa lama pengobatan, berapa kali sesi pertemuan dengan psikiater.
Kuusap wajah kasar, meletakkan kedua telapak tangan pada wajah yang terasa dingin. Pandanganku belum lepas dari layar laptop, pikiran pun masih mencerna tulisan-tulisan yang tertera.
Dapat juga diatasi dengan terapi bicara. Dengan berbagi cerita, bisa meringankan beban pikiran yang dipendam.
Kuhempaskan punggung pada sandaran kursi, bersama embusan napas panjang. Memikirkan kembali tentang kalimat yang baru saja kubaca. Sudah sangat jelas penjelasan di artikel itu, prakteknya juga sebenarnya tidak terlalu sulit. Namun, aku tidak yakin bisa melakukan cara-cara itu.
Aku tidak punya banyak uang untuk konsultasi ke psikiater. Tidak mungkin minta kepada ayah, karena aku tidak punya alasan yang tepat. Biaya yang dikeluarkan untuk kuliahku saja sudah cukup besar, belum lagi sekolahnya Lingga. Rasanya tidak bijak jika aku menambah beban pengeluaran ayah.
Sedangkan untuk berbagi cerita, juga tidak bisa kulakukan. Dengan siapa? Aku tidak punya tempat mencurahkan hati selain kepada buku harian. Ya, Alloh! Apakah tidak ada cara lain yang lebih sederhana dan tidak membutuhkan banyak biaya? Aku ingin sembuh, tanpa merepotkan orang lain, tapi bagaimana caranya?
.
.
.
Hai, teman-teman! Maaf, kemarin tiba-tiba menghilang dari peredaran tanpa pamit dan tanpa pesan. Persis seperti hujan yang datang tiba-tiba, pergi juga mendadak ... cie ...
*Menjelang pertengahan bulan ramadhan kemarin, alhamdulillah ada banyak kesibukan di dunia nyata, jadi benar-benar tidak punya waktu untuk ngetik. Bahkan buka aplikasi dan sosmed juga tidak sempat. Jadi maaf, kalau pada mencari saja, (Ih pedenya)😂 Maaf kalau ada dm, inbok, komen dan pesan di GC yang belum terbalas. hehe. *
.
*Selanjutnya saya mohon ijin untuk slow up lagi, ya. (Ih, mulai deh. lagi-lagi slow up, nyebelin.)😊 *
Begini, ada naskah yang harus segera saya selesaikan. Saya tipe orang yang tidak bisa garap naskah lebih dari satu judul dalam satu waktu. Nggak akan dapat feel sama keduanya, jadi saya putuskan untuk sementara ijin dulu dari sini. Insyaalloh nggak akan lama, kok. Paling lama tiga bulan, ha ha ha.
.
*Itu juga masih akan saya usahakan up setiap kali ada waktu, jadi jangan ditunggu, biar jadi kejutan saja, ya. 😍 *
*Saya tidak akan pindah ke lain hati, beneran! Kalau selingkuh, sih, bisa jadi.😂 Pokoknya bukan maksud saya mengecewakan kalian, ya. Namun, saya juga tidak bisa membahagiakan semua orang. Jadi, harap maklum dengan segala keterbatasan saya. Karena saya bukan Andra and the Backbone yang punya sempurna. *
*Sekali lagi, mohon maaf yang sebesar-besarnya ... hehe. *
*Salam Sayang, *
Desi Desma/ La Lu Na.