
...🍁Belum pernah kurasakan dunia seindah ini, ketika kulihat senyum di bibir manismu.🍁...
Hara
Aku tak habis pikir dengan tingkah Jenar. Tadi pagi, dia terlihat bete dan tidak bersemangat. Nyaris seperti kain kusut yang tidak pernah disetrika. Namun, sekarang dia nampak melambaikan tangan ke luar jendela mobil dengan ceria. Seolah lupa jika tadi pagi ia berlebihan memikirkan sesuatu yang belum pasti.
Aku menoleh ke samping sekilas, Jenar masih memandang ke luar. Hingga bangunan rumah kost mewah tak terlihat lagi di belakang, gadis itu baru mengalihkan pandangan.
“Udah lega sekarang?” aku bertanya, sambil menyalakan audio mobil.
Dari ekor mata, aku melihat Jenar menoleh sambil mengangguk. Lalu-lintas ramai lancar di daerah Mlati, sehingga aku bisa memacu kendaraan tanpa halangan berarti.
“Jadinya gimana? Aina marah sama kamu atau tidak?”
Tadi pagi, Jenar minta diantar ke kampus. Siangnya dia menelpon katanya Aina tidak masuk lagi, lalu ingin ke kostan Aina setelah kuliah. Lucunya, dia tidak tahu alamat lengkap dan jalan menuju kostan Aina, hanya hafal ciri-ciri rumahnya saja.
Gadis yang aneh! Sebenarnya aku yang lebih aneh, karena tidak bisa membiarkannya pergi sendiri. Seperti orang kurang kerjaan saja, aku menanyakan alamat Aina pada Gus Hafidz, menjemput Jenar di kampus, lalu mengantarnya. Tidak sampai di situ, aku juga menunggu sampai dia puas menuangkan isi hati kepada Aina.
“Ternyata Aina nggak marah sama saya, Pak.” jawab Jenar. Nada suaranya lebih riang dibanding tadi pagi, “Dia sakit beneran, lemes, sampai nggak kuat bangun kemarin. Tadi saja masih pucet. Dia tidak jawab pesan saya karena pusing kalau lihat layar hp.”
“Artinya kekhawatiranmu tidak terbukti, dong?”
Jenar menggeleng, lalu bertanya, “Saya lebay, ya, Pak Hara?”
Mendengar pertanyaan itu, aku jadi ingin menasehatinya. Akan menyusahkan diri sendiri dan orang lain juga, kalau dia selalu punya kekhawatiran berlebihan.
“Khawatir itu wajar, boleh. Yang nggak boleh kalau kekhawatiranmu terlalu berlebihan, sehingga kamu menghabiskan energi untuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya nggak penting. Seperti kamu mikirin sikap Aina sampai marah-marah, nangis, nggak enak sarapan, sampai nggak bersemangat pergi ke kampus. Padahal yang sebenarnya terjadi, apa? Dia nggak marah sama kamu, kan?”
Kulirik sebelah kiri, Jenar nampak menunduk sambil memainkan jemari. Aku mulai terbiasa dengan sikapnya ketika sedang gelisah dan merasa kecil hati. Gadis ini mudah sekali terbawa perasaan, cenderung overthinking. Mungkin karena trauma yang pernah dialami, dia jadi terlalu khawatir akan sesuatu yang bisa membuatnya sakit hati.
“Saya nyebelin, ya, Pak?” suara Jenar lirih, tapi terdengar jelas di telingaku.
“Nggak nyebelin, sih, tapi nyusahin!” ketusku. Bermaksud menyadarkan bahwa sebenarnya kebiasaan terlalu khawatir, bisa menyusahkan diri sendiri dan orang lain.
Namun, Jenar justru merasa bersalah. Ternyata aku belum begitu mengerti akan sifatnya yang terlalu terbawa perasaan.
“Maafkan saya, ya? Pak Hara jadi susah dan repot gara-gara saya.” lirihnya lagi.
Aku mengalihkan pandangan ke samping sejenak, berusaha keras agar fokus menyetir tidak terganggu. Bingung harus bagaimana bicara dengan gadis lugu ini, agar tidak salah paham. Padahal aku hanya bermaksud membuatnya sadar dan berhenti berlebihan memikirkan hal-hal yang tidak penting.
“Pak Hara marah?”
Aku menoleh sejenak, mendapati wajah Jenar penuh rasa bersalah. Dia mengiba menatapku, astaga … mata itu! Segera kualihkan pandangan lurus ke depan, demi menghindari sorot mata tajam yang sebening kristal.
Kalau dia menatapku terus seperti itu, bisa-bisa kami berdua tidak sampai rumah, tapi malah masuk rumah sakit. Aku tidak tahan dengan detak jantung yang kencang tak beraturan, hingga menyebabkan fokus menyetirku berantakan.
“Maaf, ya, Pak Hara. Ini terakhir kali saya ngrepotin bapak, be-”
Aku segera memotong kalimat Jenar dengan tegas, “Saya nggak marah!”
“Bohong! Pak Hara diam dari tadi, pasti marah, kan?” Jenar merajuk. Aku melirik spion dalam, wajahnya lucu kalau sedang merajuk dan itu membuatku terhibur.
“Ya, saya marah! Puas?”
“Nah, kan? Pak Hara beneran marah, pake bohong segala.” Jenar mengemu. Kalau tidak sedang menyetir, pasti sudah kutarik bibirnya yang cemberut itu. Gadis ini terlalu lugu atau bagaimana, sih? Mana mungkin dia tidak tahu kalau aku sedang ingin menjaga perasaannya?
“Saya minta ma-”
“Stop bilang maaf! Sudah lebih dari 59 kali hari ini kamu bilang maaf hari ini, saya capek maafin.” aku berbicara ketus, memotong kalimat Jenar.
Gadis itu terlihat bingung, seperti sedang mengingat-ingat sambil menghitung jemari. Lihat! Setiap tingkah lakunya, ada saja yang membuatku ingin tertawa. Beruntung aku masih cukup lihai menyembunyikan ekspresi hati.
“Perasaan baru tiga kali saya minta maaf, deh. Pak Hara salah ngitung, ya?”
Kali ini aku tidak bisa bertahan lagi, lepas sudah tawa yang sejak tadi kusembunyikan. Astaga, Jenar! Ternyata dia benar-benar menghitung kata maaf yang diucapkan. Padahal aku hanya mengarang.
“Pak Hara bercanda, ya?” Jenar bersungut-sungut, karena aku terus tertawa.
“Ihh! Pak Hara garing banget bercandanya, nggak lucu!” gadis itu menggerutu sambil membuang wajah, tapi sejenak kemudian dia menoleh lagi sambil berkata ketus, “Ketawa saja terus, Pak. Puas-puasin ngetawain saya, mumpung gratis!”
“Saya lapar, mampir makan dulu, ya!” cetusku, sambil menoleh kanan-kiri mencari tempat makan terdekat.
“Udah magrib, Pak. Nanti kemalaman sampai rumah, saya nggak mau jelasin ke Mbak Sayumi kalau pulang telat.” Jenar menolak usulku.
“Saya nggak bisa konsentrasi nyetir kalau lapar. Mbak Sayumi pikir nantilah,” tegasku.
Sebenarnya aku tidak terlalu lapar, hanya rasanya tidak ingin cepat mengantarkan gadis ini pulang. Sebab, aku mulai nyaman bersamanya. Seperti ingin kuhentikan waktu agar tidak cepat berlalu.
“Saya nggak mau telat salat. Waktu magrib hanya sebentar, lho, Pak.” Jenar masih saja mengajak negosiasi.
“Cari tempat makan yang ada musolanya, atau saya antar dulu kamu ke masjid. Setelah itu gantian kamu temani saya makan, gimana?” aku mengutarakan ide yang tidak terlalu cemerlang.
“Nggak praktis banget, Pak? Makin lama, dong, sampai rumahnya.” gerutu Jenar. Memang itu tujuanku, agar bisa memperlama perjalanan.
“Saya yang nyetir, antar-jemput kamu dari pagi sampai sekarang, nanti juga yang bayarin makan. Masih mau nolak? Kebangetan kalau masih banyak mikir,” ketusku dengan nada kesal yang tentu saja dibuat-buat, memancing agar Jenar tidak kelamaan berpikir.
“Sebenarnya masih mau mikir, sih. Tapi karena Pak Hara ngomong gitu, jadi mikirnya diskip aja. Oke! Terserah kata Pak Hara saja, asal saya diantar sampai rumah dengan selamat.” tutur Jenar sambil mengeluarkan ponsel. Mungkin hendak memberi kabar pada Mbak Sayumi.
Dalam hati aku merasa lega, sekaligus heran. Sejak kapan aku punya pikiran memanipulasi waktu hanya demi bisa lebih lama dengan seorang gadis? Bukankah bagiku satu detik sangat berharga, sehingga sayang untuk dibuang percuma? Namun, sore ini justru aku sengaja mengulur waktu demi sesuatu yang belum jelas manfaatnya.
“Eh, tunggu!” Jenar mengangkat tangan, membuatku hampir terkejut. Kupelankan laju kendaraan guna mendengarnya melanjutkan kalimat, “Ini Pak Hara antar-jemput saya nggak minta bayaran, kan? Tadi pagi Pak Hara sendiri yang mau nganter saya, loh. Terus waktu sampai kampus, Pak Hara sendiri juga yang bilang gini, ‘kalau butuh apa-apa telepon saya!’. gitu, kan?”
Astaga! Gadis ini memang selalu overthinking, ya? Padahal aku sama sekali tidak punya pikiran untuk minta bayaran. Justru karena dia bicara seperti itu, aku jadi memikirkan imbalan.
“Enak saja nggak minta bayaran, jelas tidak ada yang gratis di dunia ini.” ketusku.
“Sudah saya duga, pasti Pak Hara punya maksud tersembunyi. Saya harus bayar berapa? Jangan mahal-mahal, uang saya nggak banyak!”
Ternyata menikmati overthinkingnya Jenar sangat menyenangkan. Aku menoleh sekilas demi menjawab pertanyaannya, “Saya tidak butuh dibayar pakai uang?”
“Terus?” Jenar benar-benar terpancing, tidak tahu kalau aku hanya ingin mengerjainya.
“Pay with your smile!” aku menjawab asal, datang dari pikiran yang tiba-tiba melintas di otak.
“Cuma itu? Gampang banget.” ucapnya yakin.
“Ya, sudah. Bayar sekarang!”
“Beneran cuma pakai senyum?”
“Iya, tapi yang ikhlas. Kalau pura-pura senyum, saya nggak terima.”
Aku mengarahkan kemudi masuk ke halaman masjid yang terletak di pinggir jalan Magelang-Yogya. Masjid yang cukup besar dengan bangunan sederhana. Sudah ada beberapa mobil dan motor yang terparkir di sana, pasti milik orang-orang yang taat ibadah seperti Jenar. Khawatir terlambat salat kalau nekat melanjutkan perjalanan.
“Seperti ini sudah ikhlas, kan?” aku menoleh sambil menarik rem tangan.
Sinar lampu dari luar sedikit menjadi penerang dalam mobil yang gelap. Terlihat jelas wajah Jenar walau hanya dengan pencahayaan temaram. Lesung pipi di kedua sisi wajah terbentuk sempurna, indah melengkapi kecantikannya yang alami, polos tanpa polesan make-up. Senyum yang melengkung di bibir, mengakibatkan mata menyipit, membentuk kerutan halus di sekitarnya.
Astaga! Dia yang tersenyum, tapi mengapa dadaku yang terasa membuncah. Seperti ada kuntum bunga warna-warni mekar di dalam sana, hangat, indah dan damai.
.
.
.
Bersambung ....
*note : Mengemu \= berbicara tanpa membuka mulut.
Hai, teman-teman!
Di bab sebelumnya, pasti pada sebel karena jenar overthinking ya? Siapa yang pernah mengalami overthinking? Pasti rata-rata pernah, dong, ya?
Kebiasaan ini sebenarnya tidak buruk, ya? Namun, kalau terjadi terus-menerus dan sering, harus segera diatasi. Karena bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Melelahkan loh, terlalu mikirin apa saja berlebihan. Nanti jadi su'udzon sama orang lain, bahaya lagi kalau sampai su'udzon sama takdir. Jangan sampai, ya.
Jadi, yuk! kendalikan emosi agar tidak overthinking berlebihan😁*