Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
86. Sikap Impulsif


🍁Secuek apapun, seorang laki-laki selalu punya sisi ingin melindungi.🍁


Hara.


Demi cinta yang menyala, kurela menggenggam bara api


Demi kasih yang mengharu, sungguh aku rela


Biar pun padam pandangan, seperti bunga yang layu terbuang


Namun kau pasti tahu, semua karena …


Aku masih lagi, setia padamu ….


Biarku menangis seumpama pengemis.


(Rela-Inka Chisty)


Terdengar Mbak Sayumi bersenandung dengan nada yang amburadul. Para pekerja renovasi bukan terganggu, tapi malah ikut bernyanyi, mengikuti lagu nostalgia jaman dulu yang diputar oleh asisten rumah tangga itu. Musik membuat mereka bekerja dengan riang.


“Ganti dangdut, Mbak Say!” pinta seorang pekerja.


Mbak Sayumi mencibir, “Dangdutan terus, bosen!”


“Lha ket mau wes kuwi, ganti-lah!” seru pekerja yang lain.


“Yo sak senengku, kok. Sing nyetel aku, yo! Dilarang protes!” ketus Mbak Sayumi yang sedang duduk di gazebo sambil melipat pakaian yang baru saja diangkat dari jemuran. Ia melarang para pekerja memprotes lagu yang diputarnya.


Baru kali ini aku menemui seorang asisten rumah tangga yang berlagak melebihi empunya rumah. Dia seolah paling berkuasa di sini, yang memegang wewenang secara penuh. Bahkan Jenar pun tunduk pada perintahnya.


Jenar … kalau dipikir gadis itu memang penurut. Bukan hanya pada Mbak Sayumi, tapi dengan siapa saja. Lugu, jarang menolak, dan cenderung menghindari perdebatan. Beberapa kali kami terlibat beda pendapat, dia yang selalu mengalah. Bahkan tadi malam, dia tidak mendebatku tentang masalah chat yang salah alamat.


Kala cinta berlabuh di dermaga, kutelusuri karang terjal berliku


Tak peduli pasir yang melukai, aku pasrah dalam rangkulNya


Bila cinta berlumur dusta, aku tenggelam dalam gelombang


Sebab Dia memberi surya, walau Dia perih penyalibku


(Misteri Cinta-Nicky Astria)


Musik slowrock yang dilantunkan oleh lady rocker tahun 90an masih terdengar. Kali ini Mbak Sayumi bukan hanya bergumam, tapi sampai berteriak dengan suara yang benar-benar fals. Dia terbawa suasana seperti sedang berada di depan panggung konser. Aku hanya bisa menggeleng dengan kelakuannya yang kadang tidak jelas.


Suasana menjelang sore yang ramai, mampu mengalihkan fokusku dari melihat deretan foto yang dikirimkan oleh Alex. Puluhan foto yang ia kirim, tapi tidak ada satu pun yang membuatku tertarik. Padahal semuanya cantik dan tentu saja se-xy, tapi tidak cukup untuk membangkitkan keinginanku sebagai laki-laki.


Sejak tinggal di Yogya, aku tidak pernah punya keinginan bermain dengan perempuan. Mungkin karena sering mengantar Kyai Ali mengisi kajian di tempat-tempat lokalisasi. Melihat langsung kehidupan pagi para wanita tuna susila yang jauh dari dunia gemerlap pada malam hari. Membuatku sadar, bahwa tidak semua pe la cur itu hidup tenang karena bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat dan dengan pekerjaan yang menyenangkan. Sebagian besar dari mereka justru melakukan dengan terpaksa, karena terhimpit berbagai masalah. Paling banyak karena dasakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.


Lingkungan pesantren, keluarga Pak Wawan, dan rumah Aneesha telah mengajarkanku banyak hal. Kebahagiaan yang tidak hanya bisa didapat karena memiliki harta berlimpah, hidup tenang bukan karena kemewahan dan semua kebutuhan terpenuhi. Kepuasan batin pun tidak bisa diperoleh setelah menghamburkan uang untuk melampiaskan hasrat semalam dengan banyak wanita.


Sebab, pada kenyataannya tanpa memiliki semua kemudahan seperti di Jakarata pun sekarang aku bisa hidup lebih tenang. Mungkin ini juga yang membuatku jarang punya keinginan menghabiskan malam di kelab lalu menikmati tubuh indah kupu-kupu malam.


Aku merasakan embusan angin pelan membelai tubuh. Derit batang bambu dan gemerisik daun-daun, berpadu dengan alunan musik mendayu. Hari menjelang sore, sebentar lagi para pekerja pasti menyudahi aktivitasnya. Waktunya untuk pulang, cukup bagiku hari ini mengawasi pekerjaan mereka.


Bagaimana aku tidak hidup nyaman di sini. Pekerjaan mudah, tanpa target, tidak perlu memikirkan jadwal harian Reyfan, berbagai macam meeting dan harga saham yang naik-turun. Mungkin aku akan mempertimbangkan tawaran Mas Akmal untuk tidak kembali ke Jakarta. Mulai bisnis di sini sepertinya tidak terlalu buruk, karena aku sudah punya modal di cafe milik almarhum Ghufron dan teman-temannya.


Kumasukkan ponsel ke dalam saku, setelah menghapus semua chat dari Alex. Dulu, aku tidak pernah khawatir menyimpan foto, video atau chat dari siapa saja. Namun, sekarang karena ponselku sering dimainkan Naufal, tentu saja aku harus berhati-hati. Jangan sampai anak itu melihat tontonan orang dewasa yang tidak pantas untuk anak-anak.


“Mas Hara, kamar yang sebelah selatan sudah selesai.” lapor Pak Mandor.


Aku beranjak, hendak mengecek sendiri hasil kerja mereka. Agar tidak hanya menerima laporan tanpa bukti, sebagai tanggung jawabku. Bagian terpenting dari renovasi rumah Aneesha ini adalah membuat kamar bayi di sisi selatan yang desainnya dibuat sendiri oleh Aneesha.


“Tinggal diisi ini, Mas.” ucap Pak Mandor.


Kuamati ruangan berukuran sedang yang masih bau semen ini. Pembangunan memang sudah selesai, tapi belum siap ditempati. Sebab, belum ada perabotan dan dinding masih harus dipasang wallpaper seperti keinginan Aneesha. Aku mengambil beberapa gambar ruangan, mengirimkannya kepada Reyfan sebagai laporan progres renovasi.


Tak perlu menunggu balasan dari Reyfan, dia pasti sedang sangat sibuk. Kabar yang kuterima, Mahardika Group sedang mengerjakan sebuah tender raksasa. Beruntung aku sedang cuti, kalau tidak, bisa-bisa aku adalah orang yang paling sibuk di perusahaan itu.


Ponsel bergetar, saat aku baru saja hendak memasukkan ke saku. Kupikir balasan pesan dari Reyfan, ternyata bukan.


‘Hara! Jangan lupa tempat minumnya dicari, ketinggalan di mana.’


Seperti itu bunyi pesan dari kontak yang kuberi nama ‘Kakak Cerewet’. Aku tak habis pikir dengan Mbak Nabila. Perkara aku lupa membawa pulang botol minum saja bisa menjadi masalah besar. Aku benar-benar lupa kalau botol minum itu dibawa Jenar kemarin, baru ingat setelah pagi tadi Mbak Nabila menanyakannya. Sebaiknya segera kucari, dari pada kakak cerewetku marah jika nanti aku pulang dengan tangan kosong.


“Golek opo?” (Cari apa?) tanya Mbak Sayumi, saat aku sedang celingukan di dapur. Dia baru saja masuk dengan membawa keranjang berisi pakaian.


“Ada botol minum warna hijau tidak di sini, Mbak?” aku memutuskan bertanya pada asisten rumah tangga yang biasanya serba tahu itu.


“Oh! Botol tapukwer ijo?”


Dahiku otomatis berkerut mendengar Mbak Sayumi menyebut nama yang asing di telinga. Aku tidak tahu merk botol minum milik Mbak Nabila, hanya ingat warna dan bentuknya saja.


“Tadi pagi tidak sempat tanya sama Mbak Jenar botolnya siapa, keburu berangkat ke kampus dia.” tutur Mbak Sayumi seraya meletakkan keranjang di atas meja begitu saja, lalu menghampiri rak tempat penyimpanan perkakas dapur.


“Botolnya Mas Pak Hara, to? Pantesan asing. Wong saya hafal betul ada berapa macam tapukwer di rumah ini.” Mbak Sayumi mengambil botol, lalu memberikannya padaku, “Keri yo wingi, Mas?” (Ketinggalan ya, kemarin, Mas?)


“Tak kiro nek Mbak Jenar sing gowo, gon sopo ngunu. Lha wong dek’e ora tau sangu mimik. Botol minum sak ndayak nganggur ning rak.” gerutu Mbak Sayumi. (Tak pikir Mbak Jenar yang bawa, punya siapa gitu. Soalnya dia tidak pernah bawa minum. Botol minum banyak hanya tergeletak di rak.)


Aku hanya mengangkat bahu. Mbak Sayumi memang sangat perhatian, hafal dengan kebiasaan majikannya.


“Oya, Mas. Tadi malam sampai rumah jam berapa? Makasih, yo, wes nganter Mbak Jenar.” tutur Mbak Sayumi dengan logat jawa bagian Magelang yang khas.


Aku mengangguk. Belum sempat menjawab, perempuan itu sudah lebih dulu melanjutkan kalimat, “Sebenarnya saya kasihan sama Mbak Jenar. Repot tenan menyang-mulih (pulang-pergi) ngebis. Padahal di sini banyak kendaraan, tapi dia ndak berani pakai.”


“Kenapa memangnya, nggak boleh sama Aneesha?” aku jadi penasaran dengan cerita Mbak Sayumi.


Perempuan itu menggeleng keras, menyandarkan punggung pada pintu kulkas sambil melipat tangan, “Bukan sama Mbak Aneesha, tapi sama Pak Fares. Katanya bahaya naik kendaraan sendiri. Padahal Mbak Jenar sering pulang malam, bukannya lebih bahaya kalau naik kendaraan umum, ya?”


Aku mengangkat bahu, persis seperti yang pernah Jenar ceritakan padaku. Nggak masuk akal memang kekhawatiran Pak Fares, malah jadi menyusahkan anaknya saja.


“Mbak Jenar yo ngunu, manut wae aturane pakne. Iya kalau ada teman yang bisa antar-jemput, kalau tidak? Kan, repot banget.” (Mbak Jenar juga begitu, menurut saja aturan bapaknya.)


Penuturan Mbak Sayumi membuatku ingat akan satu hal yang belum sempat kutanyakan pada Jenar. Mungkin asisten rumah tangga ini tahu jawabannya.


“Jenar sering diantar-jemput sama temannya, Mbak?” tanyaku demi mengusir rasa penasaran.


Mbak Sayumi menggeleng, “Kalau dulu waktu tinggal di rumah Pak Dito, Mbak Jenar diantar-jemput sama Pak Dito. Sekarang kadang-kadang diantar Mbak Aina sampai terminal, atau kalau lagi bosen di kost dia nginep sini.”


“Ghufron pernah antar-jemput Jenar?” Mbak Sayumi nampak berpikir sejenak, kemudian menggeleng.


“Kalau Lion?”


Mbak Sayumi berpikir lagi, mengangguk kemudian menggeleng, “Kalau ajak pergi sering, nawarin antar-jemput juga sering, tapi Mbak Jenar nggak pernah mau. Sama Mas Faiz juga nggak boleh, apalagi Pak Teguh … sebel banget sama Mas Lion.”


Kalau mendengar penuturan Mbak Sayumi, Pak Teguh dan Mas Faiz protektive terhadap Jenar. Namun, percuma jika mereka tidak ada di rumah ini setiap saat. Pak Teguh hanya sesekali datang berkunjung, sedangkan Mas Faiz malah hanya seminggu sekali pun tidak sepanjang hari. Kapan mereka bisa mengawasi Jenar? Bagaimana jika sewaktu-waktu ada yang datang mengganggu, seperti Lion misalnya?


“Jadi Jenar setiap hari berangkat ke kampus naik bus?” Aku masih belum puas dengan jawaban Mbak Sayumi, mungkin karena terprovokasi ucapan reseptionist klinik kemarin.


Mbak Sayumi mengangguk, lalu berkata yakin, “Lhayo, kata Mbak Jenar setiap pagi dia nunggu tebengan.”


Aku mengernyitkan dahi mendengar jawaban Mbak Sayumi yang ambigu. Antara mengiyakan pertanyaanku, tapi juga mengemukakan hal yang berlawanan. Jadi mana yang benar, naik bus atau menunggu tumpangan?


“Jenar sering dapat tumpangan?” tanyaku ingin mendapat kejelasan.


Mbak Sayumi mengangguk, “Ya setiap hari dapat tumpangan, to. Kadang Mas Han, Mas San, paling sering Mas Rama. Kalau pulangnya ada Mas Ragil dan Mas Cemara.”


“Itu semua temannya Jenar?” Aku benar-benar tidak mengira Jenar sering mendapat tumpangan dari laki-laki. Apa dia tidak malu sengaja menunggu tebengan untuk berangkat ke kampus?


“Ho oh. Teman paling setia, sahabat karib.” jawab Mbak Sayumi yakin.


Sebuah fakta yang baru kuketahui tentang Jenar. Jangan-jangan kemarin yang menjemputnya di klinik juga salah satu dari yang disebutkan Mbak Sayumi itu. Tahu begitu, aku tidak perlu buru-buru menjemputnya ke klinik. Kenapa semalam dia tidak minta dijemput oleh salah satu dari mereka saja? Menyesal aku telah merasa khawatir, ternyata banyak yang bersedia memberikan tumpangan untuknya.


Ponsel dalam saku bergetar, ketika pikiranku hampir mengerucut. Kurogoh saku, mengambil benda pipih yang menggelepar tanda ada panggilan masuk. Sebuah nama yang baru saja menjadi topik pembicaraan tertera pada layar, panjang umur juga gadis ini. Segera kuangkat, ingin tahu untuk apa dia menelponku sesore ini.


[Pak Hara harus tanggung jawab, sekarang Aina marah sama saya!]


Aku menjauhkan ponsel dari telinga, memastikan suara siapa yang bicara dari seberang sana. Tumben Jenar bicara tanpa basa-basi, bahkan tanpa mengucapkan salam. Aku menunggu beberapa jenak, Jenar tidak melanjutkan kalimat. Justru samar-samar terdengar isak kecil, tanda bahwa gadis itu sepertinya sedang menangis.


“Are you oke?” tanyaku pelan.


[Aina marah sama saya gara-gara Pak Hara!] nada bicara Jenar meninggi, tapi terbata dan bergetar.


Ada apa ini? Memangnya aku melakukan apa sampai harus tanggung jawab? Bicara dengan Aina saja tidak, kenapa aku jadi yang disalahkan? Isak terdengar makin jelas. Tiba-tiba aku membayangkan Jenar sedang menangis sendirian di suatu tempat yang sepi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya?


“Sekarang kamu di mana?”


[Kampus, mau pulang.]


“Tunggu di situ, jangan ke mana-mana!”


Tanpa menunggu jawaban, aku mengakhiri panggilan secara sepihak. Entah dari mana asalnya, ada rasa khawatir datang begitu saja. Apa mungkin karena mendengar Jenar menangis, sedangkan aku tidak tahu dia sedang apa dan dengan siapa.


“Mas Hara, botole!”


Aku yang sudah beberapa langkah meninggalkan dapur, terpaksa kembali untuk mengambil botol. Dengan setengah berlari aku bergegas menuju mobil, segera tancap gas pergi dengan kecepatan maksimal.


.


.


.


Bersambung ....


Hayo, siapa yang penasaran sama mas-mas yang nebengin Jenar? Pejuang laju Magelang-Jogja pasti sudah hafal banget, nih. Sebenarnya mau up 2 bab, ternyata yang ini saja reviewnya lama jadi tertunda dulu, ya. Oya! sudah masuk bulan maulud, nih. Bulan kelahiran baginda nabi Muhammad SAW, jangan lupa banyak-banyak salawat, ya. 


Pengen tahu apa yang akan dilakukan Hara? Tunggu part selanjutnya, ya. 😉