
🌹Kalau hati sudah bicara, maka sikap tidak bisa dikendalikan oleh logika🌹
Jenar.
Sebenarnya aku lebih suka belanja online dari pada harus datang langsung ke toko. Karena waktu untuk keluar-masuk toko demi mendapat barang yang sesuai dengan permintaan Kak Neesha, bisa kugunakan untuk tidur. Namun, tentu saja aku tidak bisa menolak permintaan kakak tersayangku itu.
Aku harus rela menahan rasa capek dan lapar sepulang kuliah. Membeli keperluan kamar bayi bersama Pak Hara, ternyata sangat menguras emosi. Bukan hanya karena dia tidak banyak tahu tentang barang-barang yang akan dibeli, tapi juga karena berkali-kali kami dikira pasangan yang sedang mempersiapkan kelahiran bayi. Menyebalkan sekali.
Mendengar kata-kata pramuniaga toko yang mengira aku sedang hamil, sangat mengganggu. Memangnya badanku kelihatan gendut banget, sampai mirip orang hamil begitu? Sungguh menyebalkan! Menyebabkan mood belanjaku hilang sudah.
Alhamdulillah Pak Hara tidak memaksa untuk melanjutkan belanja, setelah tahu semangatku hilang. Dia menawari istirahat, makan, lalu pindah tempat belanja. Namun, karena hari sudah sore aku memilih untuk melaksanakan salat asar lebih dulu. Khawatir akan terlewat waktu, kalau tidak segera salat. Barangkali setelah salat nanti, suasana hati dan pikiranku sudah membaik.
Aku mendapat panggilan telepon dari Nalini, waktu baru saja selesai salat. Dia memberi kabar bahwa akhir pekan nanti akan diadakan tasyakuran pembukaan cafe. Bukan kabar mengejutkan bagiku, karena sebelumnya Mas Akbar sudah mengirimkan pesan singkat tentang hal tersebut. Membicarakan tentang cafe selalu membuat hatiku nyeri. Harus merelakan sebuah harapan tentang masa depan yang pernah kubangun bersama seseorang. Kini telah menjadi kenyataan milik orang lain. Apalah daya kita hanya bisa berencana tanpa bisa mengendalikan takdir.
Saat kembali dari musola, aku harus menghadapi kenyataan lain yang tidak menyenangkan. Di tempat tadi aku dan Pak Hara berpisah sebelum salat, dia sedang mengobrol dengan seorang wanita bertubuh tinggi semampai, dengan bentuk badan mirip biola. Mereka tampak akrab sekali, walau aku hanya melihat dari kejauhan. Sebentar kemudian Pak Hara beranjak, mereka melangkah bersama dengan wanita itu menggandeng mesra bahkan bergelayut manja di lengan Pak Hara. Siapa wanita itu? Kekasih Pak Hara, kah? Sepertinya begitu.
Aku tidak tahu kekuatan apa yang mendorong kakiku untuk mengikuti mereka. Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar. Tanpa berhenti aku segera mengambilnya, sebuah pesan masuk, nama Papan Tulis tertera di deretan chat teratas. Aku membuka dan membaca sederet kalimat sederhana, tapi mampu membuat sesak di dada itu pelan.
Saya pindah menunggu di food court, kalau kamu sudah selesai nanti, menyusul saja.
Aku terus mengikuti Pak Hara dan wanita itu. Mereka benar menuju food court, memesan makanan, lalu duduk bersisian, persis seperti dua sejoli yang sedang berbagi rasa kasih. Pak Hara tampak sangat perhatian dan sayang kepada wanita itu. Hanya beberapa menit aku mengawasi mereka, interaksi diantara keduanya membuatku tidak nyaman.
Lama-lama aku merasa ada yang bergejolak di dalam sana, ada gemuruh di dalam dada yang tak terdengar oleh telinga, entah perasaan apa. Seperti kesal dan marah yang tidak bisa kuluapkan. Memaksa kaki untuk melangkah menjauh demi menetralkan degup jantung yang terlalu kencang memompa darah.
***
Walau jari terasa kaku dan keringat dingin membasahi telapak tangan, kupaksa untuk mengirimkan pesan singkat kepada Pak Hara. Aku tahu dia sedang asyik bercengkerama dengan kekasihnya, tapi aku merasa harus memberi kabar. Terserah itu penting atau tidak untuknya.
Dadaku kian sesak, keramaian pengunjung departement store semakin membuatku kesulitan menghirup oksigen. Kuhentikan langkah sejenak, dengan tangan gemetar kubuka aplikasi untuk memesan taksi online. Namun, baru saja aplikasi terbuka, ada sebuah panggilan telepon. Aku harus menghela napas berulang kali, sebelum mengangkatnya.
Suara Pak Hara terdengar memburu dari seberang telepon. Seperti chat yang dia kirimkan, menyuruhku menyusul ke food court. Kenapa harus telepon, sih? Tidak bisakah dia membiarkanku pulang sendiri dengan tenang? Aku ingin sendiri dan butuh menenangkan diri untuk saat ini.
Aku hanya bisa mengatakan ingin segera pulang. Tak mungkin menceritakan tentang gejolak batin yang tiba-tiba melanda, sedangkan aku belum tahu pasti penyebabnya.
Bukan Pak Hara jika percaya alasanku begitu saja. Dia memintaku untuk tidak menutup telepon dan menunggunya datang. Namun, aku terlalu keras kepala untuk mengikuti perintahnya. Aku hanya ingin sendiri, tanpa diganggu oleh siapa pun dengan pertanyaan apa pun.
Kuhembuskan napas kasar untuk melegakkan sesak yang menyiksa, ketika pintu keluar sudah terlihat di depan mata. Namun, baru saja hendak melangkah melewati pintu, seseorang mencekal pergelangan tanganku dengan kuat. Aku sontan menoleh seraya menarik tangan, tapi pegangan itu justru bertambah kuat. Sehingga aku harus menggunakan tangan yang lain untuk melepasnya pun, tidak berhasil.
Pak Hara menarik tanganku, memaksaku berbalik arah dan mengikuti langkahnya. Genggamannya berpindah dari pergelangan ke telapak tanganku, erat sekali sampai rasanya jari-jariku hampir patah. Berkali-kali aku mencoba melepaskannya, tapi dia justru makin mengeratkan genggaman. Sampai akhirnya aku pasrah, terseok-seok mengikuti langkah kaki panjang pria itu.
Aku memerhatikan wajah Pak Hara dari samping, ketika kami berada di dalam lift yang hanya terisi beberapa orang saja. Lalu pandanganku beralih pada genggaman tangan kami. Malu dan tak enak hati rasanya bergandengan tangan di dalam lift seperti ini.
Perlahan kulepaskan genggaman tangannya. Dia reflek menoleh sambil mengeratkan cengkeraman, ketika aku menarik tangan.
Pak Hara mengendurkan cekalan, membiarkan tanganku lepas dari genggamannya. Membuatku bisa bernapas lega seraya mengusap pergelangan tangan dan jemari yang terasa nyeri, persis yang kurasakan di dalam hati.
Pak Hara kembali menatap ke depan tanpa mengatakan apa pun. Hingga pintu lift terbuka di basement dia meraih tanganku lagi, kali ini genggamannya tidak terlalu kencang. Hanya masih sedikit memaksaku agar mengikuti langkahnya, kutebak dia pasti mengajakku menuju ke tempat parkir mobil.
“Shitt!” umpat Pak Hara saat membuka pintu mobil bagian penumpang. Seperti ada sesuatu yang membuatnya marah.
Aku terkejut, apakah kata umpatan itu ditujukan padaku? Karena hanya ada aku dan dia di sini, tapi dia tidak melihat ke arahku saat mengumpat tadi. Lalu untuk siapa kata ungkapan kasar itu.
“Masuklah! Tunggu di sini, jangan pergi ke mana-mana! Saya ambil belanjaan dulu, hanya sebentar.” perintahnya membuka lebih lebar pintu mobil.
Aku ingin menolak, tapi wajah Pak Hara yang terlihat marah dengan rahang mengeras membuatku terpaksa menurutinya. Kuhempaskan punggung begitu dia menutup pintu mobil, sejenak kemudian terdengar suara pintu terkunci. Ya Alloh! Ternyata Pak Hara mengurungku. Apa dia khawatir aku nekat pergi?
Masih bisa kulihat Pak Hara berjalan melewati deretan mobil terparkir. Punggung tegap itu perlahan menjauh, menuju ke arah lift. Namun, tiba-tiba dia berhenti sebelum sampai di ujung lorong. Pak Hara nampak berpapasan dengan seorang perempuan, lalu mereka nampak berbincang serius.
Aku tahu perempuan itu adalah orang yang sama dengan yang kulihat di food court tadi. Dia menyerahkan barang-barang kepada Pak Hara, sambil entah membicarakan tentang apa. Mungkin melanjutkan obrolan mereka yang terputus karena Pak Hara mencariku tadi.
Mataku tak bisa lepas dari menatap dua sejoli itu. Keakraban dan kedekatan mereka membuatku bisa melihat sisi lain dari Pak Hara. Dia yang terlihat cuek, dingin, terkesan galak bahkan kaku seperti papan tulis, ternyata bisa selembut dan semanis itu dengan seorang perempuan. Pasti perempuan itu sangat spesial untuk Pak Hara, sehingga diperlakukan dengan sangat baik.
Kutarik sedikit sudut bibir, heran! Bisa-bisanya pikiranku berkelana sampai ke ranah pribadi orang lain. Memangnya ada urusan apa aku dengan mereka? Namun, kenapa rasanya tidak suka, ya, melihat mereka ngobrol lama begitu? Ah! Sepertinya aku sedang iri, mungkin karena selama ini Pak Hara tidak bersikap baik padaku. Atau justru karena akhir-akhir ini dia cukup perhatian padaku, jadi aku iri ketika ada orang lain yang dia perhatikan.
Sekali lagi kuhembuskan napas kasar. Baru saja hendak memutus pandangan, tapi mata ini seperti sulit mengalihkan perhatian. Begitulah sifat asli perempuan, selalu ingin tahu, walau bukan urusannya sekali pun. Bahkan jika hal itu membuat sakit, tetap saja rasa ingin tahu itu mendesak harus dipuaskan.
Selanjutnya sesak di dada yang tadi hampir hilang, kini kembali hadir. Aku melihat perempuan itu memeluk pinggang Pak Hara erat, meski hanya sejenak. Lalu Pak Hara, yang hanya kulihat punggungnya menunduk, mencium pipi kiri-kanan perempuan itu dan mengacak rambutnya. Mungkin itu cara mereka berpamitan. Entah kenapa nyeri terasa di dalam sana, seperti tertusuk sembilu tajam. Tanpa terasa cairan bening menetes dari pelupuk mata, meluncur ke pipi begitu saja. Ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba menangis?
Segera kuusap wajah, meski air mata masih terus mendesak ingin keluar. Tidak, tidak! Kok aku jadi cengeng begini, sih? Mengapa hanya melihat adegan mesra seperti itu saja aku bisa menangis? Dasar aku!
Tidak sempat mengambil tissue, ujung jilbab pun kugunakan untuk menghapus air mata. Dari belakang terdengar suara Pak Hara membuka bagasi dan menata barang-barang. Aku harus bisa menghentikan tangis, sebelum Pak Hara masuk mobil. Namun, rasa nyeri ini tak kunjung hilang, menyebabkan air mata pun enggan berhenti menetes. Apakah ini yang dikatakan bahwa yang dirasakan hati, akan mengalahkan jalannya logika? Semoga Pak Hara tidak tahu dan tidak ingin tahu kenapa aku menangis, karena aku sedang tidak ingin menjawab pertanyaan apa pun saat ini. Jika dia diam saja, itu lebih baik. Agar aku tidak perlu menjelaskan apa pun padanya.
.
.
.
.
Bersamubung....
.
Hai teman-teman! Hayo kemarin siapa yang menebak Jenar cemburu? Ternyata benar, loh. Perempuan memang cenderung punya rasa iri dan cemburu, meskipun belum punya ikatan spesia. Eh, karena ini awal bulan, aku boleh minta vote dan hadiah nggak? Nggak boleh, ya? Ya, sudah, hehe. Have a nice day teman-teman .......